Metalmorfosis

Metalmorfosis
BAB 40. Untuk Sesaat Melupakan Luka.


__ADS_3

“Zinnia!!!” Panggil Ren yang tak kenal lelah terus mengejar gadis itu.


“Ya ampun. Kenapa dia cepet banget sih larinya?” Dengus Ren yang sudah terengah-engah nafasnya.


Ren berhenti sejenak untuk mengejar Zinnia yang masih mengejar idolanya. Ia menumpu tubuhnya dengan kedua lengan di lututnya. Namun pandangannya tetap mengikuti ke mana Zinnia berlari sambil mengatur nafas.


Woak!!! Woak!! Woak!!


Si angsa langsung berteriak histeris setelah Zinnia menubruk salah satunya dan berhasil menangkapnya. Gadis itu langsung mendekap angsa kedalam pelukannya.


“Ya ampun Mbak April, suaramu merdu bangetttt... Ayo, nyanyi lagi. Terus, terus,,,” kata Zinnia dengan kesadaran yang sudah mengambang entah kemana.


woak!! Woak!! Woak..!


Angsa terus berteriak dan memberontak. Angsa itu bahkan sudah berkali-kali menyosor pipi Zinnia dengan sangat kuat sebagai bentuk perlawanan.


Zinnia bersila di atas tanah begitu saja sambil terus memeluk angsa dalam dekapannya. Kemudian ia mengeluarkan ponsel dan berselfie dengan ‘April Lavinge’ itu sampai berkali-kali. Ia bahkan mengambil video juga dengan ponselnya.


Sosoran angsa dianggap sebagai kecupan sayang dari April oleh Zinnia. Karna itu ia malah memberikan pipinya dengan suka rela kepada si angsa.


“Makasih banyak ya, Mbak April. Udah mau dateng dan foto bareng aku.” Ujar Zinnia dengan semakin memeluk erat angsa itu.


“Ya ampun, Zinnia! Lepasin!” Ren yang sudah tiba langsung memaksa Zinnia melepaskan angsa yang di peluknya.


Setelah di tolong oleh Ren, angsa itu langsung berlari terbirit-birit menjauhi Zinnia. Sepertinya dia trauma sekali dengan manusia bernama Zinnia itu.


“Aaaaaahh!!! Mbak april!! Jangan pergi! Aku belum puas pelukin Mbak April!!” Rengek Zinnia seperti anak kecil. Ia bahkan menggasut-gasutkan kedua kakinya di tanah sampai mengotori seluruh celananya.


“Zinnia!! Hei!” Teriak Ren untuk menyadarkan Zinnia. Ia mengguncang-guncangkan kedua bahu Zinnia.


Tiba-tiba tubuh Zinnia seperti mematung. Ia memandang ke arah depan dengan tatapan kosong.


“Zinnia kamu kenapa?! Hei!” Ren masih berusaha menggoncangkan bahu Zinnia.


“Aku mic-nya April.” Lirih gadis itu.


Ren mengernyit heran. Ia menghela nafas kesal bercampur khawatir.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama, Ren segera membopong tubuh Zinnia dan membawanya masuk ke dalam villa. Tubuh Zinnia yang kaku membuat pria itu kesulitan membawanya. Namun ia berhasil juga menidurkan Zinnia di kamarnya dengan di bantu oleh Ramadhan.


“Dhan, tolong panggilkan dokter ya, Dhan.” Pinta Ren.


“Iya, Den.” Jawab Ramadhan yang langsung pergi dari sana.


Ren mendudukkan diri di lantai di samping tempat tidur dengan menahan tubuh dengan satu lengan yang bertumpu di pinggir tempat tidur. Nafasnya masih memburu dan ia masih berusaha untuk menetralkannya. Ia menatap kepada ayah dan ibunya yang nampak khawatir namun juga nampak sedang menahan tawa.


“Ya ampun, Zinnia. Ada-ada aja.” Seloroh Rai sambil mengu lum senyum. Dan ujarannya itu  mendapat lirikan setengah tajam dari Ren.


“Mas..” Bisik Esta menyenggol lengan suaminya.


Ponsel Esta yang tiba-tiba berbunyi membuat suasana jadi sedikit teralihkan. Wanita itu langsung mengangkatnya dan berbicara. Tidak berapa lama kemudian, ia sudah selesai menelfon dan mematikan telfonnya.


“Siapa, sayang?” Tanya Rai.


“Leka. Mereka udah sampai di rumah.” Jawab Esta.


“Oh ya?”


“Kamu beneran gak apa-apa?” Tanya Esta memastikan.


“Iya, Ma. Aku gak apa-apa. Bentar lagi juga dokter datang.”


“Ya udah kalau gitu. Kami duluan ya... Gak enak sama Om Akash dan yang lainnya.” Pamit Rai.


Rai dan Esta segera meninggalkan kamar Ren. Dengan di bantu oleh istrinya Mang Bardi, Esta membereskan barang-barang mereka untuk di bawa pulang.


Bertepatan dengan kepergian mobil Rai, Ramadhan tiba dengan sudah membonceng dokter wanita di motornya. Pria itu segera mengajak dokter itu untuk masuk ke dalam villa.


Dokter wanita bernama Sinta itu hanya mematung begitu sampai di depan pintu kamar Ren. Tatapannya pias menatap pria yang sedang duduk di tepian tempat tidur sambil memandang khawatir kepada gadis yang terbaring di atasnya. Ada tatapan kerinduan yang terpancar di netra Sinta.


Sinta sangat mengenali sosok pria itu. Karna ia dan Ren sempat menjalin hubungan saat mereka masih kuliah dulu. Sinta adalah pacar kedua dan cinta pertama Ren.


“Cepetan, Dok!” Panggil Ramadhan yang membuat Ren langsung menoleh kepada mereka.


“Sinta?” Ren tak kalah terkejut dengan kemunculan cinta pertamanya itu. Ada kilasan kenangan yang memenuhi ingatannya.

__ADS_1


Sinta berusaha untuk bersikap profesional dan langsung mendekati Zinnia. Ia langsung memeriksa Zinnia dengan seksama. Ia sudah mendengar penjelasan Ramadhan kalau Zinnia mabuk karna memakan buah kecubung.


Sambil membersihkan luka di wajah Zinnia, sesekali Sinta mencuri pandang kepada Ren yang serius memperhatikan pekerjaannya. Ia bisa melihat kalau mantan kekasihnya itu sangat mengkhawatirkan keadaan pasiennya. Ia juga bisa merasakan kalau gadis yang sedang melamun di atas tempat tidur itu berarti istimewa bagi Ren. Karna Ren pernah menatapnya dengan tatapan yang sama.


Sinta menyuntikkan jarum infus di punggung tangan Zinnia setelah selesai mengobati luka akibat sosoran angsa di wajah gadis itu. Luka yang lumayan parah ia balut dengan perban kecil.


“Gimana?” Tanya Ren.


“Gak parah, kok. Cuma efek halusinasinya aja yang agak lama hilangnya. Untungnya dia gak banyak makannya. Nanti malam kalau infusnya udah mau habis, cepet telfon aku, ya.” Jelas Sinta.


“Oke. Makasih, Sinta.” Ujar Ren.


“Sama-sama...dia siapa kamu?” Selidik sinat dengan berani.


Ren hanya tersenyum sebagai jawabannya. Dan Sinta sangat tahu arti dari senyuman itu.


“Dari tadi belum nanya kabar. Gimana kabarmu? Baru tau aku kalau kamu dinas disini.” Ren membelokkan arah pembicaraan mereka.


“Aku baru sekitar tiga tahunan disini. Buka praktek juga di klinik Azzalia.” Jelas Sinta.


“Ooh, gitu.”


“Jangan lupa telfon nanti. Kalau gitu aku pamit dulu soalnya banyak pasien di klinik.” Ujar Sinta memberi alasan seraya memberikan selembar kartu nama yang berisikan nomor telfonnya.


“Iya. Sekali lagi makasih banyak ya, Sinta.”


Sinta mengangguk tersenyum kemudian menyambar tas berisi peralatan medisnya dan keluar dari kamar dengan di antar oleh Ramadhan. Meninggalkan Ren yang kembali fokus memperhatikan wajah Zinnia yang masih menatap kosong dengan kelopak mata sayu.


Saat ini, Zinnia sedang cosplay menjadi microphone April Lavinge. Jadi ia tidak akan bergerak kalau tidak di gerakkan.


Sebenarnya Ren sangat tidak kuasa menahan tawa. Tapi rasa kasihan dan khawatirnya masih mendominasi perasaannya. Apalagi saat melihat perban yang menempel di pelipis gadis itu.


“Hhhffhhhh...” Hela Ren saat teringat kelakuan Zinnia yang tidak terduga itu.


Zinnia sungguh luar biasa. Membuat Ren jungkir balik karna kelakuannya. Tapi Ren sama sekali tidak merasa terganggu. Ia tidak keberatan meladeni tingkah Zinnia yang tidak terduga itu.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2