
Zinnia kembali ke pekerjaannya setelah dari kantor Ren. Ia masih teringat dengan tatapan tajam Navya tadi.
“Jin!!!”
Zinnia yang sedang berjalan mendekati lapak sambil menunduk, langsung mendongakkan kepalanya. Ia bisa melihat Joham yang sedang melambaikan tangan padanya dengan wajah sumringahnya.
“Joo? Ngapain kesini?”
“Ketemu kamu, lah. Kangen udah berapa hari gak ketemu. Sekarang, mau ketemu kamu itu lebih susah dari ketemu Presiden.”
“Ganggu aku kerja.”
“Emang mau ganggu kamu kerja. Nih, gantinya aku udah abisin dua porsi demi nungguin kamu.”
Pak Jaya yang mendegar perseteruan kecil itu hanya ikut terkekeh saja. Joham memang sudah sering datang untuk sekedar mengantarkan atau menjemput Zinnia. Jadi ia sudah faham dengan kedekatan mereka.
“Darimana sih?”
“Dari sana.” Tunjuk Zinnia ke arah gedung FD Corp. Zinnia ikut mengambil duduk di depan Joham. Saat itu, lapak sedang sepi. Jadi ia akan menemani Joham mengobrol saja. Itung-itung untuk mengalihkan kekesalannya karna Navya.
“Gimana liburannya?”
“Seruu dong.”
“Sama siapa sih kesana?”
“Sama keluarganya Kak Ren.”
“Ren? FD Corp?”
Zinnia mengangguk.
“Sejak kapan kamu deket sama keluarganya?”
“Sejak, sajak, sejuk.” Kekeh Zinnia.
“Ditanyain serius juga.”
“Tumben banget kepo. Kenapa?”
“Ya cuma nanya doang.”
“Biasanya di curhatin aja malah marah. Sekarang mancing-mancing nih?” Tanting Zinnia.
“Gak jadi, deh. Udah nyaman aku belakangan ini tidur nyaman di kasurku.”
“Hahahaha. Sialan.”
“Jin?”
“Apa?”
“Bantu aku dong buat nembak Navya. Lagi.”
“Astaga, Jooo... Kok gak kapok juga? Udah delapan kali di tolak, masih belum nyerah juga?”
“Kamu harusnya bangga punya temen kayak aku yang gak pantang menyerah.”
“Males banget bangga sama kamu. Gak ada hubungannya juga sama aku.”
__ADS_1
“Yaaaahhh... Kok gitu sih, Jin?”
“Ogah.” Tolak Zinnia mentah-mentah.
“Kali ini aku yakin bakalan di terima, Jin. Soalnya belakangan ini kami semakin deket.”
Zinnia hanya mencibir. Seperti biasa, itu hanya perasaan Joham saja.
“Malam ini, ya? Pleaseeee....?” Mohon Joham.
“Gak bisa. Aku ada jadwal kencan malam ini.”
Joham langsung terbelalak saat mendengar kata kencan.
“Kencan? Sama siapa? Makhluk astral darimana?” Ejek Joham sambil terkekeh.
“Enak aja makhluk astral.”
“Ya kamu kan Jin. Emangnya kamu punya pacar, gitu? Sok-sokan mau kencan.”
“Ya ada dong.” Jawab Zinnia santai.
“Serius?” Joham mendelik tidak percaya.
“Ya serius.”
“Siapa?”
“Kak Ren.” Jawab Zinnia santai.
Joham berhasil ternganga dengan seringai mengejek di sebelah bibirnya. Ia tidak percaya dengan ucapan Zinnia.
“Terserah mau percaya atau enggak. Gak ngaruh sama hidupku.”
Joham menelisik ekspresi wajah Zinnia untuk menemuka kejujuran dari sahabatnya itu.
“Kamu beneran?!” Teriak Joham tiba-tiba.
“Ngagetin, ih!” Dengus Zinnia. “Udah pulang sana. Ganggu aku kerja aja.”
“Bilang ganggu. Gak ada pelanggan juga.”
“Bakal calon adik ipar, maaf banget ya, bakal calon kakak iparmu ini gak bisa bantuin kamu kali ini. Hehehehhe.” Zinnia menepuk-nepuk pundak Joham sambil terkekeh.
Joham hanya menghela nafas kesal saja. Tapi itu hanya ekspresi kosong yang di tunjukkan oleh Joham. Dalam hati ia bersyukur dan ikut merasa senang dengan status baru Zinnia sebagai kekasih Ren. Itu tandanya, ia tidak akan di recoki lagi oleh sahabatnya itu.
“Oke. Karna kamu lagi baru dapet pacar, aku gak akan ganggu kamu. Balik, ya.” Pamit Joham yang langsung berdiri dan berjalan ke arah sepeda motornya.
“Semangat, Joo! Walaupun akhirnya sama mengecewakannya sama yang udah-udah!” Teriak Zinnia yang kemudian terkekeh lucu.
Joham menunjukkan jari tengahnya kepada Zinnia lantas melajukan sepeda motornya meninggalkan lapak Pak Jaya. Gadis itu membalasnya dengan mecibiri Joham yang sudah jauh darinya.
“Kalian itu, kalau ketemu tengkar mulu.” Seloroh Pak Jaya.
“Dia yang buat gara-gara, Pak. Bapak kan lihat sendiri itu orang modelannya kayak gimana.”
“Biasanya yang modelannya begitu yang baiknya malah gak ketulungan.”
Zinnia mengangguk. Ia sudah membuktikan. Joham tak pernah pamrih saat membantunya. Pun tak pernah protes saat ia mengadu tentang permasalahannya. Joham adalah pendengar yang baik. Itu kenapa ia sebenarnya tidak ingin Joham dan Navya berpacaran.
__ADS_1
Rasa berat hati saat memikirkan Joham bersama Navya yang sifatnya cenderung menyepelekan appun yang ada di depannya. Ia takut jika Joham akan tersinggung dengan sifat Navya yang sebenarnya. Walaupun ia sudah sering memberitahu Joham, tapi sahabatnya itu terlalu buta untuk melihat siapa Navya yang sebenarnya.
Joham terlalu baik untuk Navya.
Sebenarnya Zinnia merasa tidak sepatutnya ia ikut campur tentang siapa yang berhasil mendapatkan perasaan Joham. Ia hanya sedang membela fikirannya sendiri atas rasa tidak teganya kepada sahabatnya itu.
Hari ini, dagangan bakso lumayan sepi. Yang biasanya jam setengah empat sore sudah ludes. Hari ini sampai hampir pukul lima sore baru dagangan Pak Jaya habis terjual.
Setelah membantu Pak Jaya membereskan dagangannya, Zinnia duduk di pembatas taman untuk menunggu Ren. Ia mengirim pesan kepada Ren dan memberitahunya kalau ia sudah selesai bekerja.
Mendapat pesan dari kekasihnya, Ren langsung menelfon Zinnia.
“Ya kak?”
“Tunggu sebentar, ya? Ini aku lagi mau turun.” Ujar Ren.
“Iya.”
Sambungan telfon sudah terputus. Dan Zinnia hanya mengedarkan pandangan saja mengikuti kendaraan yang melintas di depannya.
Tin! Tin!
Mobil yang di kemudikan Ren berhenti tepat di depan Zinnia. Ia menurunkan kaca mobil dan tersenyum kepada kekasihnya itu.
Zinnia langsung masuk dan duduk manis di samping Ren. Ia membalas senyuman Ren dengan hati yang masih berdebar.
“Kok gak sama Ariga, Kak?” Tanya Zinnia saat mobil sudah mulai melaju.
“Dia masih ada kerjaan. Lagian masak kencan mau ajak Ariga? Gak seru dong.” Jawab Ren santai.
“Kencan?” Tanya Zinnia sambil tersenyum senang.
“Ya kita kan lagi kencan. Mau makan apa?”
“Terserah Kak Ren aja.” Jawab Zinnia diplomatis.
“Jawabanmu bikin aku pusing.”
“Lha kok?”
“Kata terserah itu banyak artinya. Nanti aku ajak kamu ke tempat kesukaanku, kamunya gak mau.”
“Hahahahahaha. Ya udah, kita makan ayam geprek aja.” Jawab Zinnia akihrnya.
“Ayam geprek. Aku tau tempat yang enak.” Ujar Ren yang kemudian membelokkan mobilnya ke arah selatan.
Ren terus menyusuri jalanan menuju ke warung langganan keluarganya. Di sepanjang pinggir jalan, nampak deretan tenda-tenda penjual berbagai makanan yang tidak pernah sepi pengunjung.
Mobil berhenti tepat di depan sebuah warung makan yang berada di antara jajaran tenda-tenda pinggir jalan. Di depan tenda itu tepampang sebuah tulisan besar di spanduknya.
‘Pecel Lele Pakde Karya’
Ren mengajak Zinnia turun setelah memarkirkan mobil dengan sempurna. Warung tenda itu adalah yang paling ramai di antara warung yang lainnya. Itu pasti karna makanan di sana terkenal dengan
kelezatannya.
“Kita makan disini, gak apa-apa ya?” Tanya Ren. Ia sangsi jika Zinnia akan menolak karna mereka makan di pinggir jalan.
“Yang penting kenyang.” Jawab Zinnia santai dan langsung negloyor masuk ke dalam begitu saja. Meninggalkan Ren yang terkekeh gemas kepada kekasihnya itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....