Metalmorfosis

Metalmorfosis
BAB 54. Besar Kepala Karna Kesempurnaan.


__ADS_3

Pukul sebelas malam, konser musik itu telah berakhir. Dan semua penonton sedang berbondong-bondong untuk keluar dari aula konser.


Ren masih setia menggenggam tangan kekasihnya. Ia khawatir kalau Zinnia akan menghilang jika ia tidak mengeratkan genggamannya.


Namun ia tetap harus melepaskan tangan Zinnia dengan terpaksa saat gadis itu di tarik oleh Navya menjauhinya.


“Apa sih, Nav?!” Tanya Zinnia kesal karna ulah Navya.


“Ikut aku sebentar.” Navya terus menarik tangan sang kakak ke arah kamar mandi. Setelah sampai di depan kamar mandi, barulah Navya melepaskan tangannya.


Ren sempat mengikuti kedua gadis itu bersama dengan Joham juga. Keduanya menatap khawatir kepada dua kakak beradik itu.


“Ngapain sih? Pakai narik-narik segala?” Protes Zinnia menatap marah kepada adiknya.


“Aku mau ngomong sesuatu.” Tegas Navya.


“Apa perlu pakai acara narik-narik begini? Tanganku jadi sakit, tau.” Dengus Zinnia.


“Jangan bilang sama Mama Papa kalau aku pacaran sama Kak Joham.”


Ucapan itu membuat Zinnia langsung menatap adiknya. Ia mengernyit tidak mengerti akan maksud dari ucapan Navya.


“Kenapa? Malu karna pacarmu sama gesreknya kayak aku? Kalau malu kenapa di terima?”


“Kak...”


“Kamu kan begitu? Suka malu sendiri sama orang-orang di sekitarmu karna mereka gak seanggun kamu. Kamu ngerasa seolah kedudukanmu lebih bermartabat dengan sikapmu itu. Sama aku juga begitu, kan?” Sindir Zinnia.


Navya terdiam. Ia hanya menatap tajam kepada kakaknya. Seolah tidak terima dengan penghakiman yang baru saja disebutkan oleh Zinnia.


“Ya, aku malu karna Kakak sama sekali gak mencerminkan status keluarga kita. Gak bisa menjaga sikap dan selalu berbuat sesuka hati.”

__ADS_1


“Terus apa hubungannya sama Joo?”


“Aku gak mau Mama sama Papa ngerendahin Kak Joham karna latar belakangnya. Terlebih karna Kak Joham itu temen Kakak.”


Entah kenapa Zinnia merasa semakin tersinggung dengan ucapan Navya. Seolah adiknya itu sedang melampiaskan kesalahan padanya.


“Waaaahhh. Terus kalau kamu malu kenapa diterima?”


“Ya karna aku juga suka sama Kak Joham. Selama ini aku nolak dia cuma karna dia temen Kakak. Aku gak mau dia di hina sama Mama. Kalau Mama sampai tau aku pacaran sama Kak Joham, Mama pasti nyama-nyamain Kak Joham sama Kakak. Aku gak suka.”


Zinnia kehabisan kata-kata. Ia hampir mengangkat tangan untuk menampar adiknya itu. Untung saja masih ada sedikit kasih sayangnya kepada adiknya itu sehingga ia tidak jadi melakukannya.


“Memangnya apa salahku? Kenapa kamu seolah nyalahin aku padahalaku sama sekali gak ada hubungannya  sama Joham? Memangnya aku ngapain sampai kamu semalu itu sama aku dan melampiaskannya sama aku?”


“Ya! Aku memang konyol, arogan, kekanak-kanakan, suka buat onar, gak tau malu. Pokoknya semua yang buruk-buruk itu ada di aku. Yang baiknya ada di kamu semua. Tapi karna siapa aku begini?! Karna kamu! Karna Mama sama Papa cuma lihat kamu! Kamu anak paling sempurna yang buat mereka bangga.”


“Karna itu! Karna itu tolong jangan kasih tau mereka. Aku gak mau ngecewain Mama sama Papa yang udah berharap besar sama aku.” Ujar Navya.


Saat ini, hati Zinnia sedang sangat terluka. Navya seolah menyalahkannya karna Joham bergaul dan berteman dengannya.


“Kamu.... Gak pernah ngerasain tamparan dari Mama kan? Kamu gak pernah ngerasain bentakan dari Papa? Kamu juga gak pernah ngerasain cubitan di sekujur tubuhmu sampai kulitmu mengelupas dan membiru sampai berdarah? Aku udah ngerasain semua itu, Navya. Dan yang lebih konyolnya, aku gak tau apa salahku sampai aku diperlakukan begitu sama kedua orangtuaku sendiri.” Suara Zinnia berubah lirih. Ia sedang menahan diri untuk tidak meledak dan menekan emosinya sedalam mungkin.


“Apa kamu pernah sekali aja, bayangin kalau kamu ada di posisiku? Kamu bayangin kalau kamu di sepelekan sama semua keluargamu. Gak di anggap. Di kucilkan. Gak di perhatikan. Bahkan hal kecil dan sepele yang kamu lakuin pun, bisa dapet hadiah tamparan dari Mama. Kamu gak pernah bayangin kan? Karna kamu udah besar kepala sama kesempurnaan yang di ciptakan Mama sama Papa buat kamu.” Zinnia sedang meluapkan semua yang selama ini ia rasakan.


“Aku sama sekali gak pernah iri sama kecantikan kamu, Navya. Sama kepintaran kamu, sama pekerjaan kamu. Aku cuma iri sama perlakuan orangtua kita. Kenapa mereka begitu sama aku? Aku buat salah apa sampai aku di benci sampai segininya? Kamu gak akan pernah ngerti sakitnya fisik dan psikisku. Kamu jangan nambah-nambahin seolah aku yang salah karna Joo temenan sama aku. Memangnya aku ngapain? Hah?!”


Zinnia tidak bisa membendung emosinya. Ia menatap marah dengan linangan airmata yang sudah meleleh di pipinya. Menyihir Navya yang tidak bisa berkata apa-apa lagi setelah melihat luapan emosi sang kakak.


Dua pria yang sedang memperhatikan mereka menjadi khawatir setelah melihat Zinnia berteriak begitu. Ren dan Joham segera berlari untuk melerai keduanya. Takut jika sampai terjadi apa-apa kepada Zinnia dan Navya.


“Zinnia!” Panggil Ren. Ia menarik lengan kekasihnya itu untuk menghadap padanya.

__ADS_1


Sementara Joham menghampiri Navya yang masih menatap pias kepada Zinnia yang kini sudah menenggelamkan wajah di dada Ren.


Zinnia tergugu di pelukan Ren. Tidak peduli kalau mereka sedang menjadi pusat perhatian bagi sebagian orang yang ada di sana.


“Kami duluan ya, Pak Ren.” Pamit Joham yang menarik lengan Navya menjauh dari Ren dan Zinnia.


Ren masih mendekap tubuh Zinnia kedalam pelukannya. Ia ingin menenangkan gadis itu. Ia mendengar semua yang diucapkan oleh Zinnia. Hatinya ikut teriris membayangkan betapa besar rasa sakit yang ditanggung olehnya.


Sebuah rasa ingin melindungi membuncah memenuhi dada Ren. Ia mengelus-elus belakang kepala Zinnia dengan lembut. Tidak memaksa Zinnia untuk berhenti terisak. Ia hanya akan menunggu gadis itu tenang dengan sendirinya.


Dan beberapa saat kemudian, Zinnia sudah berhasil mengendalikan kesedihannya. Ia menarik wajahnya dari dada bidang Ren dan mendongak menatap kepada pria itu.


Ren langsung mengusap bekas airmata di pipi Zinnia dengan ibu jarinya. Ia menebarkan senyuman seolah ingin Zinnia tersenyum juga.


“Kita pergi sekarang?” Lirih Ren.


Zinnia mengangguk. Ren menggenggam tangannya kemudian mengajaknya keluar dari dalam gedung.


Zinnia hanya mengikuti tanpa banyak bicara. Melirik ke arah tangannya yang sedang di genggam mesra oleh Ren yang berjalan sedikit di depannya.


“Maaf, Kak. Aku pasti buat kak Ren malu.” Lirih Zinnia saat mereka sudah sampai di dekat mobil.


“Malu kenapa?” Ren berbalik dan menatap Zinnia.


“Aku kayak anak kecil, ya? Ribut di tempat umum. Pakai acara nangis-nangis segala.”


“Aku gak malu, kok. Aku biasa aja.” Hibur Ren. Ia membukakan pintu untuk Zinnia dan hendak membantu gadis itu. “Auh!” Pekik Ren lirih. Ternyata ada ranting pohon yang menggores belakang lehernya hingga berdarah.


Ren memegangi tengkuknya kemudian segera masuk ke dalam mobil. Melajukan mobil meninggalkan area parkir gedung konser itu.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


*warga... maap ya kalau aku jarang nyapa kalian. gak tau mau nyapa gimana. hehehehee.. semoga kalian sehat selalu yak. jangan lupa like sama komennya. selamat hari libur buat bapack-bapack. buat mak-mak. gak ada hari libur yaaa.. apalagi dirumah. kerjaan gak ada habisnya. tetep semangat mak!


__ADS_2