Metalmorfosis

Metalmorfosis
BAB 44. Sakit Akibat Praduga Yang Salah.


__ADS_3

Ren masih mematung dan belum mengerti apa yang baru saja di ucapkan oleh Zinnia. Satu kalimat yang terus bergelayut di kepalanya adalah,


“Kak Ren buat hatiku terus berdebar!”


Pandangan Ren masih tertuju ke arah pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Ia sedang menanti gadis yang juga terus membuat hatinya berdebar itu untuk keluar dari sana.


Tapi, apa yang dimaksud Zinnia dengan ‘sudah punya calon’? Batin Ren. Zinnia seperti kesal saat menyebutkannya tadi.


Pintu kamar mandi terbuka setelah lebih dari lima menit Zinnia berada di dalamnya. Nampak ia sudah selesai mengoleskan salep di wajahnya. Gadis itu lantas berjalan mendekati tasnya yang berisi pakaian miliknya kemudian keluar dari kamar begitu saja tanpa mempedulikan Ren.


Bingung, itulah yang sedang di rasakan oleh Ren sekarang. Ia hanya menatapi punggung Zinnia yang mulai menjauh darinya dan menghilang di balik pintu.


Sekarang ia sangat yakin kalau Zinnia sedang marah padanya. Tapi kenapa? Ren tidak bisa menemukan alasannya.


Apa karna Ren membuat hatinya berdebar hingga ia marah pada Ren? Tapi itu sangat tidak masuk akal.


“Huffhhh..” Ren menghela nafas dalam untuk menenangkan fikirannya. Kemudian ia turun dan langsung menyambar kunci mobil dari dalam mangkuk kecil yang memang biasa untuk meletakkan kunci disana.


Zinnia menunggu Ren di samping mobil dengan melipat tangan di depan dada. Ia membuang wajahnya dan tidak mau memandang kepada Ren. Nampak sekali kalau dia sedang marah kepada Ren.


Sebenarnya, Zinnia tidak suka bersikap begini. Ia tidak punya hak untuk cemburu kepada Ren dan calonnya. Tapi entah kenapa ia seperti tidak bisa mengendalikan hati dan perbuatannya. Ia sedang berusaha untuk meredam suara kesal yang mengganggunya.


“Udah, cepetan masuk!” Teriak Ren yang sudah berada di dalam mobil dan bersiap di balik kemudi.


Bibir Zinnia masih mengerucut. Bahkan saat ia sudah duduk manis di sebelah Ren. Tangannya masih konsisten terlipat di depan dadanya. Memandang lurus kedepan tanpa menoleh sedikitpun kepada Ren.


Ren hanya menoleh dengan tatapan ingin tau kenapa Zinnia marah padanya. Ia menghadapkan tubuhnya kepada gadis itu. Mendekat, dan semakin mendekat kepada Zinnia.


Zinnia sadar akan pergerakan Ren yang kini hanya berjarak beberapa centi darinya. Dalam keadaan begitu, entah kenapa kemarahan yang di rasakan oleh Zinnia seolah semakin menjadi. Ia mendengus kesal kemudian menoleh kepada Ren.


“Cepetan jalan, Kak. Nunggu apa lagi?” Zinnia kesal karna Ren tak kunjung menyalakan mobilnya.


Ren tidak menjawab. Ia hanya terus mendekatkan tubuhnya dan mengulurkan tangan melewati tubuh Zinnia. Ternyata ia meraih sabuk pengaman dan langsung memasangnya.


“Gimana mau jalan? Kamu gak denger alarm seatbelt bunyi dari tadi?” Ujar Ren yang sontak membuat Zinnia di serang perasaan malu yang tak terbilang.

__ADS_1


Wajah Zinnia berubah merona. Bukan karna sikap manis Ren yang mengancingkan sabuk pengaman padanya. Tapi karna ia sudah kalah malu dan salah menafsirkan sikap Ren.


Mobil mulai melaju perlahan keluar dari halaman villa. Dan Zinnia masih setia dengan bibirnya yang mengatup rapat.


“Kamu kenapa, sih? Marah sama aku? Emangnya aku ada buat salah apa?” Tanya Ren memberanikan diri.


Mobil yang di kemudikan Ren sudah memasuki jalan tol yang nampak lebih lengang dari biasanya.


Zinnia masih terdiam. Ia membuang pandangan ke luar jendela. Dia ingin menjawab, tapi rasa malasnya tengah mendominasi.


“Zinnia?”


“Hm?” Zinnia menjawab seadanya.


“Kamu kenapa?”


“Gak apa-apa.”


“Gak ada apa-apa tapi ngambek gitu. Bilang dong, kenapa? Kamu sakit lagi? Pusing? Mual?” Ren mencerca pertanyaan.


“Enggak.”


“Apa sih Kak?! Kak Ren bawel ih. Kan udah ku bilang aku gak apa-apa. Kenapa masih nanya terus?” Zinnia mulai melampiaskan kekesalannya. Ia menghadap Ren dengan kening yang berkerut sebal.


Ren terdengar menghela nafas pelan. Ia mengemudikan mobil ke luar tol untuk menuju ke sebuah restoran dan mengajak Zinnia makan siang disana.


“Kita makan siang dulu, ya?” Tawar Ren.


“Gak usah. Aku gak laper.” Dengus Zinnia.


Sudah, Ren sudah tidak bisa menahan diri akibat rasa penasarannya. Ia menepikan mobil di bahu jalan dan menghentikan mobilnya.


“Kamu kenapa sih? Marah-marah gak jelas kayak gini? Kayak anak kecil tau gak?” Ren juga sudah berada diambang rasa sabarnya. “Manalah ditanyain gak jawab apa masalahnya.”


“Iyalah, bagi Kak Ren aku kan cum anak kecil, jadi kenapa heran kalau aku ngambek kaya anak kecil.” Jawab Zinnia. “Beda sama calonnya kak Ren yang dewasa itu.”

__ADS_1


“Calon? Maksud kamu apa sih, Zinnia? Calon apa?”


“Ya calon istri kak Ren lah.”


Sungguh, sebenarnya Zinnia sangat gengsi mengakui kecemburuan itu kepada Ren. Tapi ia benar-benar tidak bisa mengendalikan hatinya yang seperti sedang di sengat lebah. Sakit dan membengkak akibat praduganya terhadap Ren.


Sebenarnya rasa cemburunya itu berasal dari kesalah fahaman semata. Seperti halnya yang pernah dialami oleh Ren yang cemburu saat mengira Zinnia berpacaran dengan Joham.


“Calon istri apa? Ngomong yang jelas.” Ren beralih menghadap Zinnia.


“Tadi pagi yang dateng ke villa itu, calon istri Kak Ren kan? Yang pernah kakak bilang kemarin? Kak Ren udah punya calon tapi deket jugasama aku. Yang tegas dong jadi cowok tuh.”


Ren mengernyit. Ia berusaha mengingat-ingat kapan tepatnya ia bilang sudah punya calon kepada Zinnia.


Sedang berfikir, tiba-tiba seutas senyuman muncul perlahan di kedua sudut bibir Ren. Ia mengu lum senyumannya kemudian kembali ke posisi semula. Menghadap arah depan. Ia lucu setelah menyadari kalau Zinnia sedang merasa cemburu dengan Sinta.


“Fuuhhhh hahahahha..” Ren tidak bisa menahan tawa.


Zinnia mengernyit. Kini kekesalannya semakin bertambah. Ia merasa di rendahkan setelah mendengar tawa Ren. Merasa di ejek oleh pria itu.


“Jadi ceritanya kamu lagi cemburu, gitu? Jadi marah-marah gak jelas?”


“Siapa yang cemburu? Enak aja. Ngapain juga aku cemburu? Kayak gak ada kerjaan aja.” Dengus Zinnia malu karna sikapnya sudah terbaca oleh Ren.


“tapi aku gak masalah kalau kamu cemburu. Aku malah suka. Itu berarti kamu gak bercanda waktu bilang suka sama aku.”


Zinnia melengos. Ia masih belum mencerna seutuhnya apa yang baru di ucapkan oleh Ren. Namun kemudian ia kembali merengut kesal.


“Emang aku bercanda kok. Ngapain juga aku suka sama orang yang udah punya calon.”


“Hahahahahahaha. Ya udah, sekarang gini aja. Kalau kamu gak jadi ngakuinnya, aku aja deh yang ngakuin.” Ujar Ren yang masih tidak bisa menahan tawa. Ia senang karna Zinnia cemburu padanya.


“Zinnia, orang yang aku suka itu, kamu. Aku sama sekali gak punya calon apa itu? Calon presiden? Ada-ada aja kamu ini. Aku perhatian sama kamu ya karna emang aku suka sama kamu. Aku khawatir karna aku sayang sama kamu. Dan yang dateng tadi pagi itu, dokter yang udah ngerawat kamu semalam. Aku cuma bilang makasih aja sama dia karna udah ngerawat kamu.” Jelas Ren. Ia tidak berani menceritakan perihal hubungan masa lalunya bersama Sinta. Karna ia tidak ingin menghancurkan momen mendebarkan itu.


Padahal sebenarnya Ren tidak ingin mengungkapkan perasaannya saat ini. Ia sedang menunggu waktu yang tepat dan ingin memberikan kejutan untuk gadis itu. Tapi apalah daya situasinya ternyata tidak mendukung.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


*ayo, klik suka dan komentar di bawah...


__ADS_2