Metalmorfosis

Metalmorfosis
BAB 28. Tingginya Keegoisan Hingga Menutupi Fikiran.


__ADS_3

Tadi siang di kantor FD Corp.


Navya keluar dari kamar mandi setelah Zinnia keluar dengan pakaian yang basah kuyup serta rambut yang sudah berantakan tidak karuan. Ia langsung berjalan menuju ke ruangannya dan duduk di mejanya dengan tatapan kosong ke depan komputer. Namun kemudian ia mengambil tasnya dari sana kemudian pergi lagi.


Anggota timnya bahkan tidak diberikan kesempatan untuk sekedar menanyakan keadaannya. Mereka hanya bisa menatap heran kepada Navya sambil melihat gadis itu pergi.


Keluar dari lift, Navya bertemu dengan Ren dan Ariga. Kedua pria itu nampak terkejut dengan penampakan Navya yang seperti kunti. Orang-orang yang ada di lobi juga melihatnya dengan aneh. Dengan keadaan Navya yang seperti itu, tidak ada yang berani mentertawakannya. Mereka bahkan merasa kasihan dengan gadis itu. Penasaran apa yang sudah terjadi kepadanya.


“Navya, kamu gak apa-apa?” Tanya Ren mendekati gadis itu.


“Saya gak apa-apa, Pak. Permisi.” Ujar Navya kemudian pergi ke arah basement. Meninggalkan Ren dan Ariga yang hanya bisa saling tatap saja.


Navya membanting pintu mobilnya dengan sangat kuat. Ia melampiaskan kekesalannya dengan memukuli klakson mobil berkali-kali. Beberapa orang yang ada di tempat parkir itu bahkan sampai terkejut dan mencari sumber suara. Namun saat melihat kalau itu adalah ulah Navya, tidak ada yang berani mengganggu.


“Arrggghh!!!!” Pekik Navya lagi. Nafasnya naik turun akibat terlalu emosi. Dalam hati, ia akan memberi pelajaran kepada duo uler keket itu dan menendangnya dari FD Corp.


Navya mengambil ponselnya dari dalam tas kemudian menghubungi seseorang.


“Kak Jo.” Panggil Navya setelah telfon terhubung.


“Oh, Navya. Ada apa?”


“Bisa temenin aku, gak?”


“Pasti bisa dongg.. Temenin kemana?”


“Kemana aja. Sekarang tolong kesini, ya. Aku tunggu di kantor. Nanti langsung ke basement aja.”


Belum sempat Joham meng-iyakan, Navya sudah mematikan ponselnya terlebih dahulu.


Sementara menunggu Joham datang, Navya mengganti pakaiannya yang ia simpan di bagasi mobil. Ia memang selalu membawa pakaian cadangan untuk hal-hal yang tidak terduga. Biasanya pakaiannya itu hanya akan berguna saat ia bertemu dengan klient penting di luar kantor.


Lima belas menit kemudian, Joham sudah datang dengan mengendarai sepeda motornya. Ia memarkirkan sepeda motornya kemudian mengedarkan pandangannya untuk mencari Navya.


TIINN!!


Navya yang melihat Joham hanya membunyikan klaksonnya saja. Ia malas untuk keluar.

__ADS_1


Joham menghampiri Navya di dalam mobil. Melihat kepada gadis itu dari luar jendela kemudian mengernyit heran karna Navya duduk bukan di kursi pengemudi, melainkan di kursi penumpang.


“Buruan masuk, Kak.” Pinta Navya setengah memerintah.


Joham segera masuk dan duduk di balik kemudi.


“Navya cantik.. Kamu kenapa? Kok mukanya jutek begitu? Acak-acakan lagi.”  Tanya Joham.


“Lagi sebel. Cepetan kita pergi dari sini, Kak.” Pinta Navya kemudian.


“Pergi? Lha terus motorku gimana?”


“Di tinggal aja disini. Gak bakalan hilang juga.” Navya nampak sangat kesal. Ia menyilangkan tangan di depan dada sambil menatap lurus ke depan.


“Oke lah. Apapun buat dedek Navya. Hehehehe.”


Joham melajukan mobilnya menuju ke jalan raya. Sebenarnya dia bingung dengan tujuan mereka. Karna Navya tidak mau memberitahu kemana dia mau pergi.


“Navya, kita mau kemana, nih?”


“Ke bar.” Jawab Navya langsung.


“Udah deh. Kak Jo gak usah bawel kenapa? Turutin aja mauku.” Hardik Navya.


Joham hanya bisa menarik nafas untuk menekan kesabarannya. “Oke. Siap nona cantik.”


Mobil sudah memasuki kawasan bar milik teman Joham. Sebenarnya bar itu belum buka, tapi karna Joham yang meminta, akhirnya mereka di perbolehkan untuk masuk.


Navya segera mengambil duduk di depan meja bartender dan memesan minuman untuk dirinya.


“Jangan, Mas. koktail aja.” Joham mencegah Navya untuk minum.


“Apa sih? Kak Jo reseh banget.”


“Masih siang kok udah minum? Mana seru.” Joham beralasan demi mencegah gadis itu.


“Bodo amat mau seru apa enggak. Minuman, Mas.” Navya memaksa sang bartender untuk menurutinya. Dan pada akhirnya Joham hanya bisa mengalah saja. Ia memberikan kode kepada bartender untuk memebrikan minuman dengan kadar alkohol yang rendah untuk Navya.

__ADS_1


“Kamu kenapa, sih? Ada masalah apa di kantor? Atau di rumah?”


Navya menenggak habis minumannya dan meminta tambah.


“Lagi kesel sama orang, Kak. Masak aku di bilang kegatelan dan suka goda atasan. Cuma karna aku cantik dan lebih cerdas dari mereka dan atasanku selalu ramah sama aku.”


“Hah? Kurang ajar! Siapa yan berani ngatain kamu penggoda? Hah? Kasih tau aku, biar aku hajar dia sampai mampus.” Dengus Joham yang ikut kesal mendengarnya.


“Mereka cewek, yakin kak Joham mau menghajar mereka?”


Joham ternganga. “Oh, cewek? Ya gimana, ya? Soalnya aku udah janji sama diri aku sendiri kalau gak akan pernah mukul apalagi menghajar cewek. Hehehehehe.”


“Cchhh. Apaan itu. Katanya mau belain aku.” Dengus Navya sambil tersenyum. Ia merasa terhibur dengan tingkah Joham.


“Hehehehehe.”


Navya menceritakan detail kejadian yang baru saja dia alami di kamar mandi kantor tanpa ada yang terlewat sedikitpun.


“Kak Joham tau apa yang lebih nyebelin daripada mereka? Zinnia! Entah kenapa tiba-tiba dia ada disana. Manalah pake acara mau misahin segala. Harusnya dia itu gak perlu ikut campur urusanku. Mau aku berantem, kek. Mau aku tinju-tinjuan, kek. Harusnya dia gak udah ikut campur. Bukannya dia itu gak suka sama aku? Kenapa harus ikut-ikutan? Buat aku jadi malu aja.” Dengus Navya.


“Jangan begitu. Biar gimanapun, dia tetep kakakmu. Mana ada kakak yang tega ngelihat adiknya di jelek-jelekkin sama orang lain. Aku faham betul gimana sikap Zinnia. Dia gak pernah nganggap kamu orang lain. Dia menyayangi kamu layaknya seorang kakak. Dia gak pernah gak suka sama kamu. Dia cuma iri aja sama perhatian orang tua kalian.”


Entah kenapa ucapan itu terdengar sangat menohok ke dalam hati Navya. Namun ke egoisannya masih tinggi dan menutupi fikirannya. Hingga tetap mengedepankan emosinya saat ini.


“Kak Jo gak usah terus-terusan belain Zinnia. Apa jangan-jangan kakak suka ya sama Zinnia?” Tebak Navya.


“Hah? Suka sama Jin? Enak aja. Ya enggak lah. Kamu kan tau kalau aku itu sukanya sama yang cantik kayak kamu. Zinnia kan gak cantik. Gak masuk levelku dia. Hahahahahahaha.”


Navya ikut tertawa. Tidak salah dia memanggil Joham. Karna pria itu benar-benar bisa menghiburnya.


“Udah minumnya. Udah abis satu gelas.” Joham memperingatkan.


“Baru satu gelas kok. Aku gak akan mabuk, Kak kalau cuma minum beberapa gelas. Aku kebal sama alkohol. Hehehehe”


“Bilang begitu. Gak inget udah berapa kali aku gendong kamu karna mabuk?”


“Ya gampang. Kak Jo tinggal gendong aku lagi kalau aku mabuk. Hahahahahaha.”

__ADS_1


“Hadeuh,,, hadeuh..” Joham mengelus belakang kepala Navya dengan lembut. Membuat Navya tidak jadi melanjutkan minumanya dan melepaskan gelas yang ia pegang.


__ADS_2