
Ren sengaja memperlambat langkahnya setelah tau kalau Zinnia kesulitan menyusulnya. Sesekali ia menoleh kepada Zinnia yang berada beberapa langkah di belakangnya.
“Kak belok kiri.” Ujar Zinnia memberitahu arah rumah Pak Jaya.
“Kita istirahat sebentar, ya?” Pinta Ren yang ternyata sudah kelelahan.
Zinnia setuju. Ia mengangguk kemudian mengikuti Ren duduk di tembok trotoar. Kakinya juga terasa semakin berdenyut nyeri.
“Masih jauh rumahnya?” Tanya Ren sambil mengipas-ngipasi wajahnya yang terasa panas.
“Setengah jalan lagi.” Jawaban itu membuat Ren langsung menghela nafas dalam.
“Kak Ren mau es cincau? Biar aku yang traktir.” Ujar Zinnia penuh percaya diri.
Ren terkekeh mendengar tawaran itu. “Hahahahaha.” Kemudian Ren mengangguk.
Baru saja Zinnia bangun dari duduknya dan hendak berjalan menuju penjual es cincau yang tak jauh dari mereka, namun tiba-tiba si penjual es cincau lari terbirit-birit sambil mengayuh sepeda dagangannya. Melewati Zinnia yang hanya bisa menatap heran saja.
“Buruan lari! Ada Satpol!” Pekik penjual cincau.
Zinnia yang bingung hanya melihat saja. Namun ia segera sadar saat melihat mobil petugas Satpol-PP berhenti di tempat yang tidak jauh dari mereka.
Otak Zinnia langsung bekerja cepat. Memahami situasi kalau sedang ada razia disana. Dan akan bahaya kalau sampai mereka tertangkap. Ia tidak ingin menimbulkan masalah untuk Pak Jaya.
“Kak! Buruan lari!” Pekik Zinnia membuat Ren kebingungan. “Cepetan!!” Pekik Zinnia lagi dengan menarik-narik lengan Ren dan memerintahkannya mendorong gerobak dan berlari ke arah sebaliknya.
Setengah bingung, namun Ren tetap ikut berlari sambil mendorong gerobak menjauh dari para petugas. Beberapa orang nampak mengejar mereka membuat Zinnia dan Ren semakin mempercepat langkahnya.
“Kenapa kita lari?” Tanya Ren bingung. Ia merasa tidak melakukan kesalahan.
“Aku juga gak tau, Kak. Tapi daripada di tangkep. Ikut lari aja.” Jawab Zinnia konyol.
“Kok gitu?? Tinggal aja gerobaknya.”
“Gak bisa, Kak. Nanti kalau ini gerobak diangkut petugas, kasihan Pak Jaya. Cepetan larinya, Kak!”
“Kamu itu yang cepetan. Aku mau cepet tapi kakimu sakit.” Protes Ren.
Mereka sudah jauh berlari, namun masih ada petugas yang mengejar mereka. Ren bahkan sampai masuk ke dalam gang-gang sempit untuk menghindari pengejaran.
Akhirnya, ada sebuah gudang kecil tempat pengumpulan kardus bekas milik warga. Dan Ren mendapat ide untuk bersembunyi disana. Ia langsung membelokkan gerobak ke sudut gudang dan menutupi bagian gerobak dengan tumpukan kardus untuk menyamarkan gerobak.
__ADS_1
Zinnia sedang terengah-engah mengatur nafasnya di pintu gudang. Ia tidak ingat kalau masih ada petugas yang mengejar mereka. Untung saja Ren langsung menariknya hingga Zinnia masuk ke dalam. Sialnya, Ren hilang keseimbangan karna kakinya tersandung tumpukan kardus. Dan membuat mereka langsung terjatuh setengah berbaring di antara kardus dengan posisi Zinnia berada di atas tubuh Ren.
“Aduh!” Pekik Zinnia yang terkejut.
Nafas Ren terhenti. Ia menggigit bibir bawahnya karna sebuah situasi yang sangat tidak terduga. Tangan Zinnia mendarat tepat di atas Gerry.
“Eeehhhhh!” Zinnia yang menyadari tangannya yang sudah kurang ajar itu langsung menariknya. “Maaf, Kak. Gak sengaja.” Ujarnya kemudian. Ren hanya mengangguk saja dengan wajah yang sudah merah padam.
Namun saat ia hendak menarik tubuhnya untuk bangun, Ren menahannya hingga membuat Zinnia kembali terjatuh ke dada bidang Ren. Seketika jantung Zinnia hampir melompat dari tampatnya.
“Tunggu sebentar.” Bisik Ren.
Dan ternyata ada petugas yang lewat di depan gudang dan salah seorang diantaranya bahkan sempat melongok ke dalam gudang itu. Untungnya, petugas tidak menyadari keberadaan mereka dan segera pergi dari sana.
“Zinnia?” Panggil Ren.
“Hem?”
“Kamu udah bisa bangun. Orangnya udah pergi.” Ren mengingatkan.
“Oh... Ehhmm. Maaf Kak.” Lirih Zinnia yang wajahnya sudah merona.
Perlahan, Zinnia mengangkat tubuhnya untuk terbangun. Begitu juga dengan Ren. Namun Zinnia hampir saja terjatuh lagi karna ia salah menggerakkan kakinya hingga kakinya kembali terasa sakit.
“Kamu gak apa-apa?”
“Sakit banget, Kak.” Adu Zinnia sambil meringis. Ia meijiti kakinya dengan perlahan.
Wajah Zinnia masih merona. Debaran di hatinya masih bisa ia rasakan. Bola matanya bahkan menjadi tidak fokus dan cenderung menghindari menatap langsung kepada Ren.
“Masih jauh gak rumahnya Pak Jaya?” Tanya Ren.
“Enggak. Itu di gang depan sana.” Tunjuk Zinnia.
“Kamu masih kuat jalan?”
Zinnia mengangguk. Ia harus segera mengantarkan gerobak ke rumah Pak Jaya.
“Ya udah, ayo. Kita pelan-pelan aja jalannya.”
Zinnia kembali mengangguk dengan masih belum berani menatap langsung kepada Ren. Kali ini, ia memilih untuk memimpin jalan dan berjalan di depan gerobak yang di dorong oleh Ren.
__ADS_1
Sepuluh menit berjalan, mereka akhirnya sampai di depan sebuah rumah semi permanen sederhana bercat biru. Itu adalah rumah Pak Jaya.
“Taruh di situ aja, Kak.” Zinnia menunjuk teras kecil Pak Jaya. Dan Ren segera memarkirkan gerobak disana.
Nyeri di kaki Zinnia semakin menjadi. Berdenyut luar biasa. Akhirnya ia duduk di bangku bambu yang ada di depan rumah Pak Jaya sekaligus untuk melepas lelah.
“Ayo kita ke rumah sakit.” Ajak Ren yang sudah berdiri di hadapan Zinnia.
“Ngapain ke rumah sakit?”
“Kamu mau biarin kakimu begitu? Nanti malah gak bisa jalan.”
“Gak usah ke rumah sakit. Ini di kusuk sama Mbak Lida juga udah sembuh.” Tolak Zinnia.
Ren mendengus kesal karna Zinnia keras kepala dengan sarannya. Tapi ia juga tidak bisa memaksa gadis itu untuk menurutinya. Ia merasa tidak pantas menurutinya.
“Ya udah, tunggu disini bentar.” Perintah Ren yang kemudian berbalik. “Jangan kemana-mana.” Tegasnya kemudian sebelum berlalu menghilang entah kemana.
Beberapa saat kemudian, Ren sudah kembali dengan menjinjing kantung plastik berwarna putih di tangannya.
“Nah. Minum dulu.” Ujar Ren menyodorkan botol minuman es teh kepada Zinnia.
“Kakak dari mana sih?” Tanya Zinnia setelah menerima minuman.
Ren diam saja. Ia justru malah berjongkok dan mengangkat kaki kanan Zinnia lantas meletakkannya di atas pahanya. Zinnia yang terkejut langsung menarik kakinya. Tapi tangan Ren terus menahannya.
“Kak Ren mau ngapain?!” Tanya Zinnia heran.
Ren masih terdiam. Ia mengeluarkan botol spray untuk cidera dan langsung menyemprotkannya ke pergelangan kaki Zinnia. Setelah selesai, ia menurunkan perlahan kaki Zinnia kemudian mengambil sebuah plaster kecil dari dalam plastik.
Kali ini, ia beralih duduk di sebelah Zinnia. Mengangkat paksa siku Zinnia kemudian membersihkan luka yang ada disana dan mengoleskan betadine. Ren meniupi luka kecil itu dengan perasaannya. Membuat dada Zinnia kembali bergemuruh luar biasa. Hatinya sedang digelitik oleh perasaan aneh yang menyenangkan.
Setelah obat itu mengering, kemudian Ren menutup luka itu dengan plaster. Ia melakukannya dnegan sangat hati-hati.
“Ayo, aku antar kamu pulang. Itu Ariga udah nungguin depan gang. Mobilnya gak bisa masuk.” Jelas Ren kemudian. Ia bangun dan berdiri di depan Zinnia.
“Kak Ren?” Panggil Zinnia.
“Apa? Mau di gendong?”
“Pacaran yuk, Kak.”
__ADS_1
Ren ternganga dengan sempurna. Tidak menyangka dengan ajakan nyeleneh dari si ayam cemani. Membuatnya jadi salah tingkah saja.