
“Zinnia!!” Panggil Ren yang langsung mengejar Zinnia. “Zinnia!!”
Zinnia sama sekali tidak menggubris panggilan Ren. Ia sedang dilanda malu saat ini. Memergoki perselingkuhan ayahnya saat ia sedang bersama dengan Ren, bukanlah sesuatu yang bisa ia atasi saat ini. Yang jelas, hatinya sedang hancur berkeping-keping. Di hancurkan oleh perasaan malunya yang tidak bisa di ibaratkan dengan kata-kata.
“Zinnia!!!” Ren terus memanggil gadis itu. Namun Zinnia yang sudah berlari malah menghilang dari pandangannya.
Dalam keadaan bingung, Ren menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari jejak Zinnia. Nafasnya yang sudah ter engah tidak menyurutkan langkahnya. Ia terus berusaha mengejar Zinnia yang sudah entah ada dimana.
Zinnia terus berlari dan tidak mempedulikan keadaan di sekitarnya. Ia tidak menangis. Kali ini, hatinya terlalu membatu untuk sekedar mengeluarkan airmata. Yang ada, ia sedang di liputi oleh perasaan marah yang hampir tak terbendung.
Setelah berada lumayan jauh dari hotel, Zinnia melambatkan langkahnya. Ia baru sadar kalau sudah tidak mendengar panggilan Ren lagi. Rasa lapar yang tadi menyerbu sudah menghilang entah kemana. Digantikan oleh deru nafas yang memburu akibat terlalu jauh berlari.
Di kejauhan, nampak segerombolan pemuda dan pemudi yang sedang berpesta minuman keras. Mereka sesekali tertawa karna sedang dibawah pengaruh alkohol. Di tempat yang tidak jauh dengan mereka, ada seorang wanita berpakaian seksi yang baru saja keluar dari dalam sebuah mobil. Zinnia tau kalau wanita itu adalah pekerja malam.
Dengan tidak tau malunya, pria yang baru keluar dari dalam mobil itu lantas menghampiri wanita itu kemudian menciumnya begitu saja. Melihat hal itu Zinnia jadi bergidik jijik. Mengingatkannya kepada ayahnya sendiri.
Entah keberanian itu datang darimana, Zinnia menatap tajam kepada wanita itu dan berjalan melewatinya.
“Aduh!” Pekik wanita yang sudah selesai berciuman itu saat Zinnia sengaja menabraknya dengan keras. Dan sepersekian detik kemudian, sebuah dompet sudah berpindah ke tangan Zinnia.
“Oh, maaf. Gak sengaja.” Ujar Zinnia dengan seringai di bibirnya. Ia mengangguk untuk ‘meminta maaf’ kemudian berbalik dan kembali berjalan meninggalkan sejoli itu.
“Hei! Tunggu! Dompetku!” Pekik wanita itu yang langsung mengejar Zinnia.
Menyadari kalau sudah ketahuan, Zinnia segera berlari tunggang langgang menghindari pengejaran wanita beserta kekasihnya itu. Sialnya, langkah kakinya yang biasanya cepat, kini kalah cepat oleh kekasih wanita itu. Sampai...
“Aaggrrhhh!” Pekik Zinnia saat tangan pria itu sudah menarik rambutnya. Dompet yang ia pegangpun jatuh ke atas trotoar dan langsung di ambil oleh si wanita pemiliknya. Ia langsung memeriksa isi dompet yang untungnya masih utuh itu.
BUG!
Si wanita meninju pipi Zinnia dengan sangat keras. Zinnia bisa merasakan bagian dalam pipinya yang pecah dan mengeluarkan darah.
“Dasar pencuri!” Bentak pria yang masih mencengkeram rambut Zinnia kuat.
“Lepasin!” Pekik Zinnia berusaha untuk melepaskan diri. Namun cengkeraman pria itu jauh lebih kuat dari pemberontakannya.
__ADS_1
“Sialan kamu. Berani-beraninya nyuri dompet pacarku?!” Pekik pria itu lagi dengan marah. Ia semakin menarik rambut Zinnia sampai kepala gadis itu mendongak ke atas. Sementara Zinnia berusaha melepaskan rambutnya sebisanya.
Pria itu terus menarik rambut Zinnia dan menyeberangi jalan raya yang sudah sepi itu. Ternyata, ia dibawa ke polsek yang ada disana. Sungguh sial nasib Zinnia malam ini.
“Lepasin! Baji ngan!” Pekik Zinnia.
“Ada apa?” Tanya seorang petugas kepolisin yang melihat kegaduhan di depan kantornya.
“Ini, Pak. Cewek ini nyuri dompet pacar saya.” Adu si pria. Ia melepaskan jambakannya dengan mendorong tubuh Zinnia ke arah petugas.
Zinnia hampir tersungkur. Untung saja petugas sigap menahannya.
“Dia nyuri dompet saya, Pak.” Timpal si wanita.
“Masuk aja. Jelasin di dalam.” Paksa petugas itu yang segera menggiring Zinnia untuk masuk ke dalam kantornya.
Zinnia duduk terdiam sambil menumpu tubuhnya dengan lengan di atas lutut. Menatap tajam ke arah pria dan wanita yang sedang membuat laporan kepada petugas di hadapannya.
“Hufh!” Hela Zinnia dengan kesal. Ia hanya membiarkan saja rambutnya yang acakadul tak karuan. Persis seperti kemoceng.
“Cuh!” Zinnia meludah ke sembarang tempat. Ia bisa melihat ada darah di salivanya.
Zinnia bergeming.
“Tuli apa gimana?”
Masih bergeming.
Ternyata sikap tak acuh Zinnia membuat petugas berang. Ia kemudian berdiri dan menghampiri Zinnia.
“Namamu siapa?”
Dan Zinnia tetap bergeming. Ia malah melihat petugas dengan tatapan menantang.
Saat ini Zinnia sedang bersembunyi di dalam gua pribadinya. Mencari masalah adalah jalan pelariannya. Seperti yang selalu ia lakukan. Padahal sifat itu sudah berhenti semenjak ia bertemu dengan Ren.
__ADS_1
“Kalau mau di penjara, penjara aja. Gak usah banyak tanya.” Dengus Zinnia.
“Gila ni orang. Mana KTP-mu?”
“Gak ada.”
“Bawa HP, gak?”
Zinnia baru tersadar. Ia tidak membawa apapun. Ponselnya ada di dalam tas dan sepertinya tasnya tertinggal di mobil Ren.
Sempurna.
Zinnia kembali membuang wajah tidak peduli.
“Kamu beneran mau di penjara?” Tanya petugas.
“Udah, Pak. Penjara aja. Orang model begitu gak bakalan sadar walaupun di penjara juga. Dasar miskin. Bisanya cuma nyuri.” Dengus wanita.
“Bodo. Dari pada jual *****.” Balas Zinnia. Dan ucapannya itu tentu saja membuat si wanita semakin berang.
Wanita itu hendak merangsek dan menghajar Zinnia. Untung saja kekasihnya menahannya.
“Udah, udah. Jangan ribut disini!”
Karna Zinnia tidak kooperatif, akhirnya petugas itu memasukkan Zinnia kedalam sel yang ada di bagian belakang polsek.
Tempat itu agak gelap dan lembab. Pun sepi. Aroma basah hampir mendominasi tempat itu. Tapi sama sekali tidak membuat Zinnia gemetar ketakutan. Ia malah langsung meringkuk di pojok ruangan dan berusaha membuat dirinya senyaman mungkin.
Hari sudah menjelang fajar. Dan Zinnia masih betah meringkuk di lantai beralaskan karpet sederhana itu. Ia memeluk tubuhnya untuk mengusir hawa dingin.
Sebenarnya, pori-porinya sudah meremang sejak tadi. Dia hanya berusaha bertahan dari siksaan udara dingin yang menusuki tulang-tulangnya. Ia berusaha mengabaikan rasa sakitnya. Rasa sakit yang masih kalah dari rasa sakit yang sedang bersarang di hatinya.
Perlahan, Zinnia mulai mengutuki dirinya sendiri saat ia teringat dengan Ren. Pria itu pasti sedang mengkhawatirkannya sekarang. Dan tiba-tiba hatinya menjadi pias. Butiran airmata perlahan turun melewati telinganya. Dia sedang di landa rasa bersalah yang tak berkesudahan. Pun malu yang masih menggunung tak terkendali.
“Maafin aku, Kak Ren...” Lirihnya dalam kesunyian. Hanya suara nyamuk yang membisingkan telinga yang menemaninya pagi itu.
__ADS_1
Suara nyamuk yang perlahan mengantarkannya ke alam mimpi. Yang merupakan tempat pelarian yang sempurna dari semua masalah yang ada. Disana, ia leluasa melakukan apapun yang ia inginkan. Termasuk beristirahat dengan nyaman dan tenang di sebuah ayunan yang terbuat dari awan yang lembut.
BERSAMBUNG.....