
“Kak Ren sering ya kerja sampe kelupaan makan bagini?” Ada nada tidak suka yang di tunjukkan Zinnia.
“Sesekali.” Elak Ren.
“Jangan kebiasaan ya. Sesibuk apapun, jangan sampei lupa makan.” Peringatan dari Zinnia.
Ren hanya mengangguk sambil tersenyum saja. Ia senang mendapat perhatian begitu.
Ren merebahkan kepalanya ke sandaran sofa. Memerlihatkan dengan jelas jenjang jakun yang menempel di lehernya. Mempertegas garis wajah maskulin yang ia miliki.
“Kak Ren...” Lirih Zinnia yang kini mendekatkan wajahnya kepada Ren.
“Hem?”
“Jakunmu menggoda, Kak.” Ujar Zinnia yang langsung meraba bagian leher Ren.
Tentu saja tubuh Ren langsung meremang seketika. Membuat hasrat yang ia tahan mati-matian bergejolak tak terkendali. Ia terkejut dan langsung menegakkan tubuhnya. Menatap kepada Zinnia dengan tatapan penuh nafsu.
“Lama-lama aku halalin juga kamu. Jangan buat aku gak tahan.” Kesal Ren.
“Kenapa memangnya? Sakit kah kalau di pegang?”
“Sakit! Buat sakit sekujur tubuh.” Ren langsung berdiri dan kembali ke meja kerjanya.
Padahal ia ingin berlama-lama berada di samping Zinnia. Tapi sepertinya ia tidak akan sanggup menahan diri kalau terus-menerus membiarkan Zinnia mengobrak-abril sel-sel libidonya.
Zinnia yang heran, malah mengikuti Ren dan berdiri di depan mejanya. Menatap menyelidik kepada kekasihnya itu.
Ren mengalihkan perhatiannya kepada layar komputer dan berpura-pura mengetikkan sesuatu disana. Padahal otaknya sedang blang saat ini. Ia saja masih nampak mengendalikan alur pernafasannya untuk kembali normal. Tapi sepertinya Zinnia sama sekali tidak tanggap dengan hal itu.
“Kak Ren sibuk banget, ya?” Tanya Zinnia.
“Lumayan.” Alasan Ren.
“Ya udah deh kalau gitu. Aku juga mau balik kerja lagi.” Ujar Zinnia yang sedikit mengerucutkan bibirnya. Ia juga masih ingin bersama Ren.
“Nanti aku antar pulang. Tunggu aku, ya. kita makan malam bareng.” Kali ini Ren telah berhasil menguasai dirinya dan menatap dengan senyuman kepada Zinnia.
__ADS_1
Tok. Tok. Tok.
Pada saat yang bersamaan, terdengar pintu ruangan Ren di ketuk. Membuat keduanya sontak menoleh ke arah pintu.
“Masuk!” Perintah Ren.
Pintu terbuka dan muncullah Navya dari baliknya. Gadis itu menghentikan langkah sesaat saat mengetahui kalau ada Zinnia di depan meja Ren. Seketika rasa tidak sukanya langsung muncul. Menatap marah kepada Zinnia. Ia lupa kalau tindakannya itu di perhatikan oleh Ren.
Suasana hati Zinnia juga langsung berubah begitu melihat Navya memarahinya dengan tatapan. Ia jadi kesal setengah mati. Tapi ia tidak ingin memulai pertengkaran saat ada Ren di antara mereka. Sudah cukup ia memperlihatkan sisi kerapuhan hubungannya dengan Navya dan ia tidak mau Ren melihat sisi kehancuran hubungan mereka.
“Kak, aku balik kerja dulu, ya.” Pamit Zinnia akhirnya mengalah.
Ren hanya mengangguk sambil menebarkan pesona senyumannya kepada Zinnia. Ia mengantarkan Zinnia dengan ekor matanya yang terus menempeli punggung Zinnia yang semakin berjalan menjauhinya.
Zinnia hanya melengos tidak peduli saat melewati Navya. Tapi adiknya itu melirik tajam padanya. Kekesalan Navya seolah berada di puncaknya saat ini.
“Kenapa, Nav?” Tanya Ren membuyarkan kebencian Navya. Zinnia sudah tidak ada di ruangannya lagi
“Oh, ini, Pak.” Navya berjalan mendekati meja Ren dan meletakkan berkas ke atas meja di hadapan pria itu.
“Ini contoh desain tampilan untuk halaman utama aplikasi perbankan kita.” Jelas Navya.
Ren hanya membuka halaman pertama dari tumpukan berkas itu. Ia kembali menutup dan meletakkan berkas itu ke atas meja kemudian berdiri dari kursinya. Ia kemudian duduk di sofa ruangannya.
“Duduk, sini.” Perintah Ren kepada Navya. Gadis itu hanya menurut saja dan mengambil duduk di hadapan Ren.
“Navya, boleh kan kalau aku mau bahas masalah pribadi disini?”
Navya agak terkejut mendengarnya. Kenapa Ren butuh persetujuannya?
“Silahkan, Pak.”
“Aku mau minat tolong sama kamu. Bisa?”
“Minta tolong apa, Pak?” Navya semakin penasaran.
“Tolong jangan salahin Zinnia. Dia sama sekali gak pernah cerita tentang hubungan kalian sebelum aku datang ke rumah kalian waktu itu.”
__ADS_1
Mendengar Ren membahas Zinnia, gadis itu nampak menghela nafas kesal walaupun samar.
“Dia juga gak pernah bilang ke siapapun kalau kamu itu adiknya. Di kantor ini, mungkin cuma aku yang tau hubungan kalian. Jadi please, tolong jangan benci Zinnia hanya karna aku tau kalau kalian itu kakak beradik.”
Navya tidak tau harus menjawab apa. Saat ini, sepertinya Ren sudah sangat faham dengan baik buruknya hubungannya dengan Zinnia. Dan ia tidak menemukan celah untuk mengutarakan alasannya atau sekedar menampik ucapan Ren.
“Kayaknya Zinnia udah cerita banyak sama Bapak.”
“Sedikit. Lebihnya, aku tau sendiri dari sikap kalian.”
“Saya mohon maaf, Pak. Tapi bukan ranah Bapak mengurusi masalah pribadi kami.” Tegas Navya. Kekesalannya mendorong keberaniannya untuk menyanggah ucapan Ren.
“Aku tau. Karna itu aku diam aja. Zinnia itu, orang berharga bagiku, Nav. Aku gak mau lihat dia gak nyaman saat ketemu sama kamu. Padahal dia gak ngelakuin kesalahan apa-apa. Dari yang aku lihat, dia sama sekali gak peduli dengan hubungan kalian. Mungkin kalau aku gak kerumah kalian kemarin itu, sampai sekarang aku juga gak akan tau kalau kalian kakak beradik. Segitu gak pedulinya Zinnia sampai dia gak pernah bahas kamu sama orang lain. Tapi kalau dari pandanganku, dia bukan gak peduli. Dia itu, menghormati keinginan kamu untuk menyembunyikan hubungan kalian. Dia tau kamu gak nyaman karna keberadaannya.”
Navya terdiam. Ia mencerna setiap kata yang diucapkan Ren.
“Kalau kamu gak mau hubungan kalian di ketahui, seenggaknya, kamu gak usahlah melirik-lirik tajam ke dia. Buat orang lain semakin curiga aja.”
Hati Navya semakin panas mendengar kata-kata Ren. Selama ini, ia mengira kalau Zinnia sudah mengumbar hubungan mereka kepada Ren. Dan hanya tinggal menunggu waktu saja sampai semua rekan-rekannya tau. Hal itulah yang membuat ia semakin kesal kepada kakaknya itu.
“Navya? Boleh aku kasih saran?”
Navya mengiyakan dengan diam dan tatapannya.
“Gak perlu malu punya kakak kayak Zinnia. Gak ada hal yang memalukan dari dia. Semua normal. Jadi apa yang buat kamu malu sama dia?”
Entahlah, Navya tidak bisa menjawab pertanyaan sederhana itu.
Apa yang membuatnya malu jika mengakui Zinnia?
Perasaan malu itu, sudah bersarang hampir di seluruh hidupnya. Kalau di fikir-fikir, ia sendiri tidak tau alasan jelasnya kenapa ia malu mengakui Zinnia sebagai kakaknya.
Benar seperti yang di katakan oleh Ren, Zinnia tidak punya hal yang memalukan untuk di akui. Zinnia sama seperti gadis normal pada umumnya. Hanya saja kesukaannya kepada musik metal yang menonjolkan sisi lain dari dirinya dari tampilannya. Itu saja.
Entah sejak kapan persisnya perasaan malu itu lahir di dalam hatinya. Sejauh yang Navya ingat, ia selalu menirukan sikap ibunya yang menyepelekan Zinnia. Dan akhirnya ia tetap melakukannya sampai sekarang dan menganggapnya sebagai sebuah kewajaran.
BERSAMBUNG...
__ADS_1