
Sejak pulang menonton konser semalam, Navya tidak bisa memejamkan matanya barang sedetikpun. Ia terus teringat dengan ucapan Zinnia yang sangat menohok itu. Matanya seolah terbuka tentang apa yang selama ini dirasakan oleh kakaknya itu.
Bahkan saat sarapanpun, ia hanya memainkan sendok di atas piring tanpa berniat untuk menyantapnya.
“Kamu kenapa, Nak?” Tanya Arsa yang sudah hampir menyelesaikan sarapannya.
“Gak selera makan, Ma.” Jawab Navya.
“Kenapa? Ada masalah?” Selidik Arsa. Nampak raut khawatir di wajahnya.
“Cuma masalah kerjaan aja kok, Ma.” Navya berbohong kepada ibunya. “Zinnia gak pulang, Ma?”
Arsa nampak tidak peduli dengan pertanyaan itu.
“Papa juga gak pulang?”
“Papa lagi banyak kerjaan. Kalau kakakmu itu udah sering gak pulang. Palingan juga nginep di tempatnya Joham.” Terdengar nada kurang suka dari Arsa saat menyebutkan nama Joham.
Navya menyadari hal itu. Dan hatinya semakin pias dan takut. Membayangkan saat ibunya itu mengetahui hubungannya dengan Joham. Ibunya selalu menganggap kalau Joham yang membawa pengaruh buruk untuk Zinnia.
Tidak tau kalau semua pelarian Zinnia adalah karna sikap Arsa sendiri.
“Hari ini Mama libur, gimana kalau kita jalan-jalan ke mall? Tawar Arsa.
“Navya capek, Ma. Mau istirahat aja di rumah.” Tolak Navya dengan halus.
Arsa mengernyit. Merasa aneh dengan sikap putri kebanggannya itu. Tidak biasanya Navya akan menolak ajakannya. Dan ia tau ada yang tidak beres dengan sikap Navya pagi ini.
“Pagi, Bu.” Sapa Selvi yang baru saja masuk dan bergabung di dapur. Ia berdiri di samping Arsa dengan wajah pias.
“Oh, Selvi. Kenapa?” Tanya Arsa kepada sekretaris pribadinya tersebut.
“Ehm, ,,,” Selvi ragu untuk menyampaikan maksud kedatangannya.
Dan Arsa sangat tau. Kalau Selvi sudah ragu seperti itu, pastilah itu masalah Zinnia. Tidak ada yang lain. Karna kalau masalah pekerjaan saja Selvi tidak pernah ragu menyampaikannya.
“Kenapa lagi Zinnia?” Tanya Arsa yang menyuapkan suapan terakhir ke mulutnya.
“Zinnia sekarang ada di polsek, Bu. Ketangkap basah mencuri.”
Arsa hanya menghela nafas saja. Ia nampak santai dengan kabar itu. Seperti sudah menduga kalau Zinnia pastilah membuat masalah.
__ADS_1
Berbeda halnya dengan ibunya, kali ini Navya nampak terkejut bukan main. Tentu saja ia terkejut. Semalam Zinnia pergi bersama dengan Ren. Bagaimana bisa Zinnia melakukan kebodohan itu saat sedang bersama dengan Ren?
Apa yang sudah terjadi? Apa yang difikirkan Zinnia? Kenapa ia bisa melakukan itu saat sedang bersama kekasihnya? Apa Zinnia sudah gila? Itulah yang terlintas di fikiran Navya saat ini.
“Terus sekarang gimana, Mbak?” Tanya Navya kepada Selvi.
“Biarin aja.” Sergah Arsa. Membuat Selvi dan Navya terkejut.
“Ya? Dibiarin, Bu?” Tanya Selvi memastikan.
Karna selama ini Arsa akan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mengeluarkan Zinnia dari kantor polisi.
“Maa?” Navya juga nampak memprotes keputusan ibunya tersebut.
“Sekali-sekali dia perlu di kasih pelajaran. Biarin aja dia di penjara. Kamu urus supaya namaku gak terseret-seret. Semakin di belain semakin ngelunjak itu anak. Aku fikir setelah berkasus sama FD Corp bakalan sadar. Ternyata enggak.” Arsa merepet panjang lebar.
Selvi dan Navya saling pandang. Saling melemparkan perasaan khawatir satu sama lain.
“Tapi, Bu. Kalau ada yang tau tentang Ibu, gimana?”
“Makanya kamu urus biar gak ada yang tau.” Ujar Arsa yang kemudian bangun dari duduknya. Ia melemparkan serbet yang baru saja ia gunakan untuk membersihkan mulut ke atas meja begitu saja. Kemudian pergi dari meja makan.
Selvi mengikuti Arsa di belakangnya. Ia masih ragu untuk melaksanakan perintah bosnya itu. Ia merasa akan ada masalah nanti.
Arsa berhenti tiba-tiba membuat Selvi juga langsung berhenti. Arsa membalikkan badan dan menatap tajam kepada Selvi.
Tatapan itu mengultimatum Selvi untuk tidak banyak melakukan protes terhadap perintahnya. Dan Selvi sangat faham hal itu. Ia lantas mengangguk mengerti dan membiarkan Arsa pergi meninggalkannya.
Dari belakang, Navya menghampiri Selvi yang nampak berat untuk membiarkan Zinnia di penjara.
“Mbak?” Panggil Navya.
“Apa, Nav?”
“Mbak mau ke polsek?”
Selvi mengangguk.
“Aku ikut.”
Selvi mengernyit heran. “Ikut?”
__ADS_1
“Iya. Aku ikut. Boleh?”
Selvi nampak bingung. Tidak pernah-pernahnya Navya mencampuri urusan Zinnia seperti ini.
“Gak usah. Nanti Ibu marah.” Tolak Selvi dengan menggunakan Arsa sebagai alasan. Ia tidak mau situasinya menjadi rumit jika Navya ikut campur.
“Mbak.” Protes Navya.
“Navya. Aku gak ada waktu ngurusin kamu. Kamu gak denger Ibu marah, tadi?”
Navya tak bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa menghela nafas kecewa seraya menatap punggung Selvi yang sudah berjalan menuju ke luar rumah.
“Mbak kabarin aku ya!” Pekik Navya yang masih berdiri di tempatnya.
Ucapan Zinnia terus terngiang di ingatan Navya. Entah kenapa, kali ini, ia seolah bisa merasakan sakit saat membayangkan dirinya diperlakukan seperti Zinnia. Ternyata kakaknya itu tidak sekuat yang ia fikir.
Ya, Navya memang tidak pernah merasakan cubitan, tamparan bentakan, bahkan pukulan dari kedua orangtuanya. Sejak kecil, ia sudah di selubungi dengan kehangatan akan kasih sayang kedua orangtuanya. Kenapa baru sekarang ia menyadari kalau ada sebongkah hati yang tersakiti saat ia mendapatkan kehangatan itu?
Lamunan Navya terhenti saat melihat sosok ayahnya yang baru memasuki rumah. Pria paruh baya itu nampak sangat lelah.
“Dimana Kakakmu?” Tanya Hanafi.
Navya mengernyit. Tidak pernah-pernahnya ayahnya menanyakan kakaknya saat baru pulang ke rumah seperti ini.
“Belum pulang, Pa.” Jawab Navya. Ia sedang menyelidik apa ayahnya itu sudah tau kalau Zinnia sedang ada di kantor polisi sehingga menanyakannya?
“Belum pulang?” Hanafi terkejut. Lalu iapun melangkah masuk ke dalam kamar melewati Navya begitu saja.
Navya terhenyak saat mencium aroma parfum yang menyengat di hidungnya. Sekilas ia juga bisa melihat bekas lipstik yang ada di tengkuk sang ayah.
Gadis itu hanya bisa menghela nafas saja. Ia kesal setengah mati dengan sikap sang ayah. Tapi ia tidak punya keberanian untuk menghentikan kekacauan yang terjadi di rumahnya itu.
Sebenarnya apa yang salah dengan keluarganya? Keluarga yang dikenal harmonis oleh orang lain itu, padahal sudah hancur lebur di dalamnya.
Biasanya Navya tidak peduli dengan hal ini. Tapi kali ini, hatinya seolah melunak dan merasa kesal sendiri.
Navya menghentakkan kakinya dan naik ke atas kemudian masuk ke dalam kamar Zinnia yang memang tidak pernah terkunci. Ia duduk di sofa dan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
Kamar itu terlalu berantakan kalau menurut versinya. Soalnya kamarnya selalu rapi dan terlihat sempurna.
Perlahan Navya mulai berjalan dan memperhatikan satu-persatu barang yang ada di kamar kakaknya itu. Kamar yang terlihat suram karna di dominasi oleh warna gelap itu, membuat Navya seolah sedikit banyak bisa merasakan kepedihan yang dirasakan kakaknya. Kali ini ia benar-benar pias melihatnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...