
Setelah menyelesaikan kesalah fahaman dengan pengunjung, Ren dan Zinnia memilih untuk mendinginkan kepala dengan mampir ke sebuah restoran soto Betawi.
Zinnia hanya terdiam saja bahkan setelah beberapa saat duduk di dalam restoran. Sedangkan Ren, ia menjadi canggung dan bingung hendak memulai obrolan darimana.
Tapi setelah melihat wajah Zinnia yang murung, akhirnya Ren memberanikan diri untuk bertanya. Ia mengesampingkan rasa tidak enaknya kepada kekasihnya itu.
“Udah, gak usah di fikirin.” Ujar Ren membuka percakapan.
“Emangnya penampilanku ini selalu buat orang salah faham ya, Kak?”
“Itu udah jadi masalah sosial tersendiri. Stigma itu udah melekat di masyarakat kita. Kita cenderung melihat seseorang itu dari penampilannya terlebih dahulu. Dan saat mereka menemukan ketidak sesuaian ekspektasi, ya mereka gak segan-segan buat menuduhnya.”
Zinnia mendengarkannya dengan seksama. Entah kenapa ia merasa tidak terima saat mendapat perlakuan tidak adil seperti itu. Padahal ia memang pernah beberapa kali melakukannya.
“Tapi mereka gak salah kok, Kak. Kan aku memang pencuri.”
“Dan mulai sekarang, kamu udah bisa menghilangkan kebiasaan buruk itu. Aku tau kalau semua itu cuma cara kamu melarikan diri dari situasi yang menyakitkan. Sekarang kan udah ada aku, jadi kamu boleh lari ke aku kapanpun kamu mau. Aku akan selalu ada buat kamu, Zinnia.”
“Emangnya Kak Ren gak malu jalan sama aku?”
“Kenapa aku harus malu?”
“Gak ada hal baik dari aku, Kak. Aku pencuri. Keluargaku hancur. Aku bahkan gak tamat sekolah. Kayaknya kita gak cocok bersama, Kak. Penampilanku juga kayak gini, terkesan nakal.”
Ren nampak terkejut dengan ucapan Zinnia barusan. Ia menatap tidak terima kepada gadis yang duduk di hadapannya itu.
“Kamu ini kok malah ngomong ngelantur gitu, sih? Keadaan keluargamu itu bukan salahmu. Berapa kali aku bilang, Zinnia? Dan soal kamu gak tamat sekolah, kamu bisa kejar paket nanti. Itu urusan gampang. Fisik kamu kan tinggal di ubah kayak semula lagi. Dan masalah mencuri, aku akan buat kamu berhenti mencuri.” Tegas Ren. Matanya menjadi berapi-api. Antara kesal dan tegas akan sebuah rencana masa depan yang sudah mulai ia susun rapi.
Zinnia hanya bisa menatap dalam kepada Ren yang juga menatapnya. Ketulusan dan kesungguhan yang di tunjukkan oleh Ren mengobrak abrik relung hatinya. Pria itu mampu mengubah rasa rendah dirinya menjadi harapan masa depan yang bahagia.
“Kak Ren seserius itu ya sama aku?”
“Masih ditanya lagi? Emangnya kamu gak bisa ngerasain?”
__ADS_1
Zinnia tersenyum. Ia hanya berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Kalau mendapatkan perhatian sebesar ini bukanlah mimpinya saja. Sosok pria yang mencurahkan segala ketulusan itu ada di hadapannya saat ini.
Ren berbeda dari mantan-mantan kekasih Zinnia yang dulu. Dan perbedaan itu sangat besar ia rasakan.
Kalau dulu, kekasihnya hanya bersikap biasa saja layaknya orang pacaran pada umumnya. Tapi dengan Ren, hatinya terus menerus berdebar tanpa henti.
Hatinya yang terjebak di padang kakus berduri itu, kini mulai menampakkan harapan. Meluluhkan hati yang sudah membatu akibat rasa sakit yang sudah lama ia rasakan.
Dan Ren, pria yang bersedia membabat padang kaktus berduri itu dengan segala kekuatannya. Dengan perasaan tulusnya, ia akan menyelamatkan Zinnia dan membawa gadis itu ke padang savana yang di penuhi oleh bunga-bunga yang indah. Ia sudah bertekad akan memastikan kebahagiaan untuk gadis yang di sayanginya dengan tulus itu.
“Ren?” Suara panggilan yang berasal dari seorang wanita muda yang tinggi semampai dan cantik yang sedang berdiri di samping Ren.
Zinnia dan Ren sontak menatap kepada wanita itu.
“Sinta?!” Pekik Ren yang nampak senang. Sementara Zinnia hanya bingung menatap antara keduanya. Ia seperti pernah melihat wanita itu. Ia sedang mengingat-ingatnya.
“Kalian ngapain disini?” Tanya Zinta ramah.
“Iya, jenguk Mama. Katanya kangen.” Jelas Sinta.
Wanita itu lantas langsung duduk di dekat Ren tanpa di minta. Ia kemudian menoleh kepada Zinnia.
“Udah sembuh? Jangan makan kecubung lagi, ya. Bahaya lho itu.” Ujar Sinta sambil tersenyum.
Ah, Zinnia baru mengingatnya. Dia adalah dokter yang tempo hari merawatnya. Pantas ia seperti familiar dengan wajahnya.
“Makasih banyak, Dok. Udah ngerawat saya waktu itu.” Ujar Zinnia yang berusaha bersikap ramah.
Padahal dalam hati, Zinnia merasa curiga dengan keakraban antara Sinta dengan Ren.
“Mamamu masih suka ya sama soto disini?” Tanya Ren tiba-tiba. Tidak sadar kalau pertanyaannya itu memantik tatapan tajam dari Zinnia.
“Hehehehe. Iya. Kamu masih inget rupanya. Ini makanya kau mampir kesini dulu sebelum ke rumah.” Jelas Sinta lagi.
__ADS_1
Dan suasana di meja itu berubah menjadi tidak enak. Walaupun mungkin hanya Zinnia yang merasa begitu. Ia tidak suka melihat Ren akrab dengan Sinta. Apalagi sepertinya mereka mempunyai suatu hubungan sampai Ren mengetahui kesukaan mamanya Sinta segala.
“Kalian akrab banget. Temenan?” Tanya Zinnia langsung.
“Emangnya Ren gak pernah cerita tentang aku, ya?”
“Apa?” Selidik Zinnia. Nadanya berubah tegas. Apalagi air mukanya yang nampak mengerut tidak suka.
Ren baru menyadari kalau situasi menjadi tidak kondusif bagi mereka. Ia baru hendak mengubah arah pembicaraan. Tapi Sinta keburu menjawab pertanyaan Zinnia.
“Kayaknya dia bener-bener gak cerita tentang cinta pertamanya ya...” Ujar Sinta sambil mengembangkan senyuman licik. Tidak peduli saat mendapatkan tatapan protes dari Ren.
Zinnia mengkerut. “Cinta pertama? Jadi dokter cinta pertamanya Kak Ren?”
Sinta malah tersenyum. Dan senyuman itu menibulkan berbagai spekulasi di dalam fikrian Zinnia.
“Mama!!!” Pekik seorang anak perempuan yang berumur sekitar 4 tahunan. Berlari menuju ke arah Sinta dan langsung bergelayut manja disana. “Udah di tungguin Papa.” Ujar anak itu lagi.
“Oh, iya? Pesenannya belum jadi. Tunggu sebentar, ya.” Ujar Sinta lembut kepada putrinya.
Kedatangan putri Sinta tidak serta merta membuat rasa cemburu Zinnia menguap. Fikirannya sudah terlalu sibuk dengan berbagai macam praduga yang membuat hatinya memanas.
“Udah gede aja anakmu.” Puji Ren menambah suasana hati Zinnia semakin buruk.
“Makanya buruan nyusul.”
“Hehehe. Gak lama lagi. Doain aja.”
“Oke. Aku tunggu undangannya.” Jelas Sinta. “Kalau gitu aku duluan, ya. Itu pesenanku udah siap.” Kemudian Sinta langsung ngeloyor pergi begitu saja. Tidak merasa bersalah setelah mengacaukan suasana hati seorang gadis dan membuatnya cemburu.
Dan alhasil, setelah kepergian Sinta sampai selesai makan, Zinnia hanya mengunci mulutnya saja. Tidak mau menanggapi ocehan Ren yang mengajaknya berbicara.
Sungguh Zinnia kesal setengah mati. Ia tau kalau Sinta merupakan bagian dari masa lalu Ren. Tapi hatinya seolah menolak untuk berdamai dengan kenyataan itu. Rasa cemburunya menohok saat membayangkan kalau Ren pernah menjadi milik wanita lain sebelum menjadi miliknya. Padahal itu merupakan hal yang wajar bagi setiap pasangan.
__ADS_1