Metalmorfosis

Metalmorfosis
BAB 63. Hati Yang Masih Terjebak Di Masa Anak-Anak.


__ADS_3

Selesai mencoba wahana yang memacu adrenalin, kini Zinnia dan Ren tengah duduk manis di dalam bianglala yang berputar. Tangan Ren tak mau lepas dari menggenggam tangan Zinnia. Sesekali ia akan mengusap-usapnya pelan.


“Udah sore, abis ini kita plang, ya. Aku gak mau kamu kenak marah sama mamamu.” Lirih Ren.


“Gak ada pengaruhnya, Kak. Aku itu gak bakalan di cariin walaupun gak pulang sebulan, juga.”


“Jangan begitu. Aku gak mau kamu kenapa-napa. Jangan bikin masalah lagi ya? Please.”


Zinnia memandang lurus ke dalam netra Ren. Lantas ia mengangguk dan tersenyum. Menyandarkan kepalanya ke pundak Ren adalah hal yang paling ia suka sekarang. Rasanya sangat nyaman dan hangat.


“Tapi sbelum itu, kita makan dulu.”


“Oke.”


Kini keduanya sudah turun dan sedang duduk beristirahat di sebuah kursi taman. Walaupun hari sudah sore, tapi matahari masih bersinar dengan teriknya. Sepertinya, sore ini awan enggan membagi kesejukannya dengan warga ibukota.


Ren sedang asyik memandangi wajah kekasihnya dari samping. Zinnia sedang fokus melihat ke suatu tempat. Gadis itu bahkan nampak menebarkan senyuman samarnya dengan mata yang tidak berkedip.


Karna penasaran, Ren mengikuti arah pandang Zinnia. Gadis itu sedang fokus melihat kepada sebuah keluarga dimana terdapat dua anak perempuan yang hampir sama tingginya. Kedua anak itu mengenakan pakaian yang sama. Dari topi, tas, hingga sepatupun, sama. Keduanya juga memegangi balonhelium dengan karakter kartun  yang sama berupa kepala doraemon.


Seorang pria nampak sibuk memegangi tas bawaaan sambil memegangi dua cup minuman. Sementara istrinya sibuk membenahi tali sepatu salah satu anaknya yang terlepas.


“Kembar, lucu banget ya, Kak?” Lirih Zinnia.


Sebenarnya bukan itu. Bukan karna kelucuan dari dua gadis kecil itu yang menarik perhatian Zinnia. Tapi rasa iri yang memaksanya tak mau berpaling dari menatap mereka.


Di dalam sudut hatinya yang paling dalam, Zinnia sedang membayangkan dan menempatkan diri menjadi salah satu diantara mereka. Mendapatkan perhatian manis dari ibunya dan senyuman hangat dari ayahnya.


Zinnia, hatinya benar-benar masih terjebak dalam masa kanak-kanak. Hanya raganya saja yang dewasa. Sedangkan hatinya masih rapuh karna merindukan akan kebahagiaan masa kecil yang tidak pernah ia kecap.


“Andaikan doraemon itu nyata ya, Kak.” Ujar Zinnia.


Ren bisa merasakan kepedihan dari nada bicara Zinnia. “Kenapa memangnya?”


“Aku mau sewa dia supaya bawa aku ke masa lalu. Apa kira-kira aku bisa merubah takdirku?”


“Takdir apa yang mau kamu ubah?”


Zinia terdiam. Ia juga bingung mana kira-kira yang ingin ia rubah? Ia memikirkan awal dari semua rasa sakitnya itu. Dan Zinnia hanya bisa menghela nafas dalam.


Rasa sakitnya itu bermula saat ia lahir dan hampir membuat ibunya meninggal. Jadi bagaimana dia bisa mengubahnya?

__ADS_1


“Kalau kamu mau ngubah masa lalu, kamu gak akan ketemu sama aku. Karna sedikit saja melenceng dari alur cerita yang udah disiapin takdir, maka kita gak akan bisa kayak sekarang.”


“Cuma mengandai-andai, Kak.” Kata Zinnia. Kali ini ia mengalihkan tatapannya ke bawah. Ia sedang memainkan kakinya di lantai.


Ren tersenyum. Ia membelai belakang kepala Zinnia dengan lembut.


“Gak usah sewa doraemon. Fokus aja ke masa depan. Aku yang bakal buat hidupmu jauh lebih baik. Aku akan pastikan airmatamu gak akan keluar buat hal-hal yang gak berguna.” Lirih Ren.


Zinnia menolehkan wajahnya kepada Ren. Lagi-lagi, pria itu sedang menawarkan sebuah janji akan rasa nyaman untuk dirinya. Ia ingin menyambutnya dengan tangan terbuka.


“Kak?” Panggil Zinnia. Ia masih menatap dalam kepada Ren.


“Hem?” Raut wajah Ren nampak teduh.


“Kok bisa sih, Kak Ren punya kata-kata begitu? Jantungku rasanya mau melompat keluar, Kak.”


“Hah? Hahahahahaha.” Ren menggaruk tengkuknya karna grogi. “Romantisya?”


“Gak romantis sih, tapi dalem.”


“Sama aja dong. Keren kan aku?”


“Cuma satu kurangnya.”


“Kak Ren terlalu pede. Hahahahhaa.”


“Ya harus dong. Itu namanya aku sadar betul apa yang aku punya.”


“Gak usah pamer.” Dengus Zinnia pura-pura.


“Hehehehehehe. Udah yuk.” Ajak Ren kemudian.


“Bentar aku mau ke kamar mandi dulu.” Pamit Zinnia. Gadis itu lantas beranjak meninggalkan Ren menuju ke kamar mandi yang terletak tak jauh dari mereka duduk.


Ren membunuh bosan sambil bermain ponsel. Membaca beberapa pesan dari Ariga yang menanyakan kepulangannya ke kantor. Pria itu tak lantas membalasnya. Ia hanya membiarkannya saja.


Namun tiba-tiba ia mendengar suara keributan yang berasal dari luar kamar mandi. Ren segera menaruh ponselnya ke dalam saku kemudian beranjak menghampiri. Karna ia bisa melihat rambut pirang Zinnia berada di antara kerumunan ibu-ibu itu.


“Ngaku aja kamu. Kamu kan yang nyopet dompetku?” Tanya seorang wanita yang menunjuk-nunjuk tepat di depan wajah Zinnia.


“Saya gak ada, bu. Sumpah.” Ujar Zinnia membela diri. Raut wajahnya berubah panik.

__ADS_1


Berbeda dengan saat ia benar-benar melakukan pencurian, Zinnia tidak punya kegentaran sama sekali. Tapi kali ini, ia panik dan takut. Itu nampak jelas di wajahnya.


“Kenapa ini?” Tanya Ren yang merangsek ke samping Zinnia.


“Ini, Mas. Cewek ini, nyuri dompet saya.” Ujar si ibu dengan nada ketus.


Ren menoleh kepada Zinnia dengan tatapan bertanya. DanZinnia buru-buru menggelengkan kepala dengan keras.


“Enggak, Kak. Aku gak ada. Bukan aku.” Zinnia mencoba meyakinkan Ren. Entah kenapa ada rasa takut luar biasa yang sedang membumbung di hati gadis itu. Ia takut jika Ren tidak mempercayainya.


“Ibu punya buktinya kalau dia yang ngambil?” Pertanyaan Ren itu sontak langsung membuat para ibu berang.


“Lihat aja modelannya begini, mas. Pasti tukang nyopet.”Dengus salah satu ibu-ibu.


“Memangnya penampilan bisa membuktikan pencuriannya, Bu?”


Seketika semua orang langsung terdiam.


“Kalau gak punya bukti, tolong jangan menuduh sembarangan. Apalagi berdasarkan penampilan seseorang.” Tegas Ren. Ia mempercayai Zinnia. Karna gadis itu tidak mungkin berbohong padanya. Ia tahu dari sorot mata Zinnia. “Saya bisa laporin ibu-ibu semua atas dasar pencemaran nama baik.”


“Apa ini dompet yang ibu cari?” Tanya seorang wanita muda yang baru muncul di kerumunan. Ia menunjukkan sebuah dompet berwarna coklat kepada mereka.


Si ibu pemilik dompet langsung menyambar dompet itu dan langsung memeriksa isinya.


“Saya nemu itu di bawah washtafel.” Jelas wanita muda itu lagi.


Raut wajah orang-orang yang menuduh Zinnia berubah masam dan  kaku. Mereka merasa tidak enak hati karna sudah menuduh Zinnia.


“Minta maaf, Bu.” Paksa Ren. “Atau mau saya laporin?” Ancamnya kemudian dengan tatapan tajam.


Zinnia nampak menarik lengan kemeja Ren. Ia tidak ingin masalah ini berlanjut. “Kak, udah.” Bisiknya.


Si ibu yang sudah menuduh Zinnia nampak salah tingkah. Namun akhirnya ia bersedia untuk meminta maaf kepada Zinnia.


“Maaf ya, Mbak.” Hanya itu yang keluar sebagai permintaan maaf dari si ibu. Nampak sangat tidak tulus karna sudah kalah malu.


Ren menunggu tanggapan Zinnia. Karna ia benar-benar akan melaporkan mereka kalau Zinnia tidak memaafkan mereka.


“Ya udah, Bu. Jangan begitu lain kali.”


Sebenarnya Zinnia hendak protes atas penilaian mereka terhadap penampilannya. Tapi, ia tidak punya hak melakukannya karna memang ia seorang pencuri.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2