
Sinar matahari jingga mulai naik perlahan ke atas cakrawala. Cahaya keemasannya menerpa tepat di wajah Zinnia yang sedang melamunkan sesuatu. Menebarkan kehangatan yang membasuh seluruh wajahnya.
“Mikirin apa, sih?” Tanya Ren yang sejak tadi memperhatikan Zinnia.
“Banyak...” Lirih Zinnia.
“Salah satunya?”
“Kek Ren. Hehehehehhehe.”
Ren mengernyit. Ia sama sekali tidak bisa mengartikan ekspresi Zinnia saat ini. Bibirnya memang sedang tersenyum lebar, namun kenapa tatapannya mengatakan hal yang sebaliknya?
“Kenapa? Ada apa sama aku?”
“Kak Ren baik banget sama aku. Aku bersyukur bisa kenal Kakak.”
“Kamu lagi ada masalah?” Selidik Ren.
“Masalah? Kayaknya tiap hari deh aku bermasalah.. Hehehe.”
Nada suara Zinnia semakin menunjukkan kalau ia sedang bersedih.
“Kak Ren pasti bahagia banget ya punya hubungan yang baik sama keluarga Kakak. Kata Tante, Kak Ren akrab banget sama Ranu. Bener?”
Ren mengangguk. “Karna dia saudaraku satu-satunya. Kalau aku gak baik sama dia, siapa yang bakalan baik sama aku nanti. Kenapa kamu nanya gitu?”
“Aku iri, Kak.” Jujur Zinnia.
“Iri gimana?”
“Kak Ren udah tau kan kalau hubunganku sama Navya kurang bagus? Tapi bukan cuma sama Navya aja hubunganku buruk. Tapi sama Papa dan sama Mama juga.”
Ren mengernyit heran. Ia tau kalau Zinnia sedang membuka diri padanya. Dan ia siap mendengarkan apapun yang di kisahkan oleh gadis itu.
Zinnia bahkan belum memulai ceritanya, tapi airmata sudah membendung di pelupuk matanya. Bendungan yang siap tumpah hanya dengan goncangan kecil saja.
“Kak?”
“Hem?”
“Menurut Kak Ren, gimana aku?” Tanya Zinnia lagi. Ia ingin tau bagaimana pandangan Ren terhadap dirinya. “Jujur, ya. Awas kalau bohong.” Ancam Zinnia kemudian.
__ADS_1
“Kamu? Cewek paling riang yang pernah aku temuin. Kamu lucu dan sering buat orang ketawa. Kamu apa adanya dan gak jaim di depanku.”
“Apa yang paling Kak Ren suka dari aku?”
“Aku paling suka lihat kamu ketawa.”
Zinnia menoleh kepada Ren yang masih setia menatap kepada jingga.
“Memangnya apa yang Kak Ren lihat dari tawaku?”
Pertanyaan kali ini, membuat Ren langsung menoleh kepada Zinnia yang juga sedang menatapnya. Saat pandangan mereka bertemu, barulah Ren benar-benar menyadari kalau di sana ada luka yang menganga sangat lebar.
“Karna kamu kelihatan cantik kalau ketawa.” Ujar Ren yang sudah kembali menatap ke depan.
“Hemph...” Zinnia tersenyum pias.
“Tapi kalau di lihat lagi, tawamu itu cuma kedok buat nutupin lukamu.”
Zinnia kembali menoleh kepada Ren. Ia mengernyit heran kenapa Ren bisa menebak isi hatinya seakurat itu?
Bendungan itu sudah bertambah debit airnya. Sedikit lagi, hanya sedikit lagi dan bendungan itu akan tumpah ruah ke pipinya.
Zinnia membuang muka ke arah yang berlawanan. Berusaha memaksa masuk kembali airmata yang sudah berdesakan itu. Ia tidak ingin terlihat menangis di depan Ren. Ia malu memperlihatkan sisi terlemahnya kepada Ren.
Bendungan yang sudah di tahan mati-matian itu, sudah hancur tak terkendali. Kini airmata sempurna meleleh di kedua pipi Zinnia. Membuatnya terisak dengan tertahan.
Ren benar-benar menempatkan dirinya sebagai pohon. Sedikitpun ia tidak mengganggu gadis yang sedang sesenggukan itu. Ren sedang menawarkan sebuah kenyamanan untuk Zinnia bercerita.
“Aku, udah gak inget kapan terkahir kali Mama peluk aku. Aku udah lupa kapan terakhir kali Papa bilang sayang sama aku. Yang ada dimata mereka, cuma Navya. Mereka semua menganggapku sebagai beban. Gak peduli kalau aku sakit, luka, celaka, bahkan aku putus sekolahpun mereka sama sekali gak peduli.” Zinnia mulai membuka dinding besar dihatinya dan menerima penawaran Ren.
“Awalnya aku ragu kalau aku ini anak Papa sama Mama. Jadi aku melakukan tes DNA. Dan hasilnya.... Sangat menyakitkan. Aku mungkin bakalan maklum kalau ternyata aku ini anak pungut. Aku terima di perlakukan gimanapun sama mereka kalau memang aku bukan anak kandung mereka. Tapi kenyataan kalau aku ini memang bener-bener anak kandung mereka, dan mereka memperlakukanku seperti sampah.
Aku dibenci hanya karna aku hampir buat Mama meninggal pas ngelahirin aku. Memangnya apa salahku? Aku gak minta di lahirkan. Apa salahku kalau Mama hampir meninggal karna aku?
Kak Ren pasti gak pernah ngerasain di tampar, di tendang, apalagi sampai di maki berkali-kali sama om dan tante.
Bekas tamparannya sih cuma sebentar, tapi sakitnya seumur hidup. Sakit yang aku gak tau kapan bisa sembuh.
Orang-orang yang gak kenal aku, mereka fikir aku hidup suka-suka dan selalu memberontak. Tapi mereka gak tau kalau aku hidup kayak gini tuh, cuma biar aku bisa ngelindungi hatiku sendiri. Aku gak mau hatiku bertambah hancur setiap harinya.”
Zinnia bercerita panjang lebar. Ia tau ia salah karna sudah membuka aib keluarganya sendiri kepada orang lain. Ia sedang membenarkan alasannya agar tidak merasa bersalah karna sudah menceritakan perihal keluarganya kepada Ren. Hal yang seharusnya tidak ia lakukan.
__ADS_1
Karna seburuk apapun, mereka tetap keluarganya.
Rasa sakit di hati Zinnia sudah membatu. Entah apa dia bisa menghancurkan batu itu nantinya. Tapi untuk sekarang, ia hanya akan membiarkan saja batu itu tetap mengeras di tempatnya untuk melindungi intinya. Karna dengan begitu, ia akan tetap baik-baik saja.
Memang ada kalanya saat Zinnia ingin lari dari keadaan itu. Ingin lari dari rumah dan tidak pernah kembali lagi. Tapi ia tidak punya keberanian untuk melakukannya. Sesakit apapun, ia tetap bergantung pada keluarganya. Lagipula, Zinnia tidak punya tujuan yang bisa ia tuju sebagai tempat pelariannya.
Isak tangis Zinnia semakin santer terdengar. Punggungnya semakin kencang bergoyang. Membuat Ren tidak tega melihatnya.
“Kamu baik-baik aja?” Lirih Ren pada akhirnya. Ia tidak sanggup mendengar isak tangis Zinnia yang terdengar sangat pilu itu.
“Aku baik-baik aja.” Jawab Zinnia sambil mengusap airmata yang bahkan tidak mau berhenti mengalir.
Ren terdengar menghela nafas lirih. Kemudian ia kembali membiarkan Zinnia berkutat pada kesedihannya.
“Bohong.” Ujar Ren pelan. “Kalau gak baik, bilang gak baik. Apa gunanya berbohong?”
Ya, Zinnia tau. Kalau ia sedang membohongi dirinya sendiri di balik kalimat ‘aku baik-baik saja’. Yang bahkan dirinyalah yang lebih tau arti dari kalimat itu sendiri.
‘Aku baik-baik saja’. Kebongongan yang paling banyak di ucapkan oleh manusia untuk menutupi luka mereka. Berharap kalimat itu akan memberikan sebuah keajaiban dan membuat keadaan semakin membaik.
Tapi tidak, kata itu hanyalah sebuah kebohongan. Kalimat itu, membuat kita menekan rasa sakit kita sendiri yang pada akhirnya akan menyebabkan luka yang semakin mendalam. Luka yang menumpuk dan pada akhirnya meledak tak terkendali.
BERSAMBUNG...
*****
Dari PiEl:
Hei kalian! Jangan berbohong dan berkata kalau kalian baik-baik saja. Tidak perlu membohongi diri sendiri dengan kalimat tak berguna itu. Kalau sakit, katakan sakit. Kalau lelah, katakan lelah. Kalau sudah tidak sanggup, katakan tidak sanggup. Karna dengan mengatakan itu, bukan berarti kalian lemah.
Dengan begitu, kalian bisa memilih untuk maju, mundur, atau bahkan menyerah untuk mencari jalan lainnya.
Tidak perlu membuat diri kalian terlihat kuat. Kalau kalian memaksakan diri, itu hanya akan membuat kalian semakin sakit.
Ingatlah, tidak ada yang lebih berarti dari diri kalian sendiri. Setelah kalian menemukan cara dan berdamai dengan diri sendiri, tersenyumlah. Agar anakmu, suamimu, istrimu, orangtuamu, dan keluargamu, bisa melihat kalau kalian butuh bantuan mereka untuk sekedar menjalani kebahagiaan dengan ‘normal’.
Jadi, jangan takut untuk bilang, “Aku tidak baik-baik saja.”
Lup yuuu ya wargaaa..
Salam hangat dari PiEl.~~~~
__ADS_1
*Jangan lupa like sama komentarnya yaaa....