Metalmorfosis

Metalmorfosis
BAB 31. Hitam Adalah Benteng Pertahanan.


__ADS_3

Mobil yang di kemudikan oleh Ren terus melaju menembus jalan tol. Bahkan sudah beberapa lama mereka berada dalam satu mobil, namun baik Zinnia dan Ren tidak ada yang membuka suara.


Zinnia masih sibuk dengan rasa malu akibat pengakuannya. Sementara Ren tidak berani membuka mulut karna mengira Zinnia sedang merasa sedih karna Navya.


Ren menyadari kalau ia tidak seharusnya muncul di depan dua gadis itu. Mungkin itu termasuk kelebihan yang dimiliki oleh Ren, ia bisa membaca situasi dengan baik disaat-saat tertentu.


Namun kesunyian itu membuat suasana menjadi canggung satu sama lain. Ren jadi bosan karna mereka harus saling terdiam seperti itu.  Dan ternyata, Zinnia juga merasakan hal yang sama.


“Kak Ren?” Panggil Zinnia.


“Hem?”


“Kenapa Tante udah pergi duluan?” Tanya Zinnia. Ia ingin memecah kesunyian yang membosankan itu.


“Katanya mau mampir-mampir dulu. Mama sama Papa mau pacaran. Gak mau di ganggu mungkin.” Jawab Ren.


“Kirain Kakak gak ikut.”


“Ya gak mungkin lah gak ikut. Kan aku pernah cerita sama kamu. Kalau sebulan sekali, kami wajib ngumpul. Acara keluarga begini rugi kalau di lewatin.”


“Acara keluarga? Tapi kan aku bukan keluarga kalian.”


Ren terdiam. Tidak tau harus menjawab apa.


“Kamu, kenapa gak pernah cerita kalau Navya itu adikmu?” Akirnya Ren membicarakan hal yang sejak tadi mengganggu fikirannya.


Zinnia terdengar menarik nafas dalam. Entahlah, ia seperti enggan menceritakan lubang besar yang ada di keluarganya. Ia malu menceritakan kekurangan keluarganya sendiri. Tapi, ia juga tidak bisa berbohong. Ia takut jika Ren tau kebenarannya nanti, akan membuat keadaan menjadi canggung untuk mereka. Dan ia tidak mau itu terjadi.


“Hubunganku sama Navya gak begitu baik. Walaupun kami tinggal di bawah atap yang sama, tapi kami seperti orang asing. Dia melarangku untuk memberitahu rekan-rekan kerjanya dikantor kalau kami bersaudara.” Jelas Zinnia.


“Kenapa begitu?” Ternyata apa yang di perkirakan Ren benar.


“Gak tau. Mungkin dia malu punya Kakak kayak aku. Udah bodoh, jelek lagi. Beda banget sama dia yang cantik plus pinter. Kakak aja bilang aku kayak ayam cemani, kan?” Zinnia berusaha mengubah topik pembicaraan.


“Aku bilang begitu, karna kamu selalu pakainya hitam-hitam. Coba deh pakai warna lain, kamu pasti kelihatan cantik.”


Zinnia tersenyum. Akhirnya ia berhasil membelokkan arah pembicaraan mereka.


“Karna aku nyaman pakai hitam-hitam. Apa peduliku sama pendapat orang lain? Yang penting aku suka, dan nyaman.” Jawab Zinnia lagi.


Karna hitam membuat Zinnia seolah terlindungi. Hitam membuatnya seperti punya benteng pertahanan sendiri untuk berlindung dari kekacauan hidupnya. Seolah warna hitam menutupinya dengan sempurna kalau ia punya banyak celah dan kekurangan.


“Iya, bener, sih. Selama kita nyaman, kenapa harus mikirin pendapat orang lain. Tapi, ada baiknya kalau kamu coba warna lain. Siapa tau kamu jauh lebih nyaman. Ya kan?”

__ADS_1


“Kak Ren bawel.” Dengus Zinnia yang mulai bosan dengan pembahasan itu.


“Aku cuma kasih saran. Kan.....” Ren tidak jadi melanjutkan kalimatnya karna terpotong oleh bunyi ponsel milik Zinnia.


“Joo!!!” Pekik Zinnia girang. “Kangenn...” Rengeknya kemudian. Membuat Ren hanya melirik tajam padanya tanpa ia sadari.


“Kamu dimana, Jin? Entar malem keluar yuk. Malam minggu bosan sendirian.”


“Aku? Lagi mau ke puncak.”


“Hah? Ke puncak? Ngapain? Sama siapa?”


“Jalan-jalan dong. Sama temen.”


Ren kembali menoleh dan menatap tajam. Ia menelan salivanya karna tiba-tiba teggorokannya terasa kering.


“Temen? Jangan ngadi-ngadi, Jin. Kamu gak punya temen selain aku.”


“Enak aja. Aku punya. Udah ah. Ngajak yang lain aja. Hhehehehe.. Maaf ya Jooo. Da...”


Tut.


Zinnia langsung mematikan ponselnya dan menaruhnya ke dalam tas


“Udah berapa lama pacaran?” Tanya Ren tiba-tiba. Entah kenapa hatinya memanas mendengar ke’in tim’an antara Zinnia dan Joham.


“Kalian.”


“Kalian siapa?”


“Ya kamu.”


“Maksud Kak Ren aku? Sama... Joo?!” Tanya Zinnia terkejut.


“Kayaknya kalian udah pacaran lama, ya? Sampe sedeket itu.”


“Ya ampun. Mana ada kami pacaran. Aku sama Joo itu cuma sahabatan aja, Kak.” Jelas Zinnia sambil terkekeh geli. Ternyata selama ini Ren mengira Joham adalah kekasihnya.


“Antara cewek sama cowok itu gak ada istilahnya sahabatan tanpa punya rasa.”


“Ada. Buktinya kami bisa sahabatan tanpa melibatkan perasaan.” Tegas Zinnia.


“Oh ya?” Ren masih tidak percaya.

__ADS_1


“Gak penting juga Kak Ren mau percaya apa enggak. Yang penting aku udah bilang kalau kami itu gak ada hubungan apapun yang melebihi sahabat.”


Ada sebuah senyuman samar yang muncul di kedua sudut bibir Ren. Entah kenapa ia merasa senang sekali mendengar ucapan Zinnia itu. Hatinya lega sudah.


Ah, tiba-tiba Ren menyesal karna sudah menolak ajakan Zinnia untuk berpacaran.


“Kak Ren kenapa senyum-senyum begitu?” Pertanyaan Zinnia membuat Ren sampai gelagapan sendiri.


“Siapa yang senyum? Aku gak senyum kok.” Elak Ren dengan suara terbata hingga menimbulkan kecurigaan dari Zinnia.


“Hayoo. Kak Ren lagi mikirin apa sampai senyum-senyum begitu? Pasti lagi mikirin yang aneh-aneh, kan? Ngaku deh.”


“Enak aja. Mikirin aneh gimana?”


“Hiiiih. Gak mau ngaku. Udah ketauan juga. Kakak pasti lagi mikirin yang mesum-mesum.” Tebak Zinnia.


“Apa? Enak aja ini anak. Nuduh sembarangan. Fitnah itu.”


“Kalau enggak kenapa Kak Ren senyum-senyum sendiri? Kan aku jadi ngeri lihatnya.”


“Ya udah gak usah di lihat. Repot amat.” Hardik Ren kemudian sambil meneruskan senyumanya.


“Oh, aku tau. Pasti lagi mikirin pacar, ya?” Padahal kalimat itu sama sekali tidak ingin ia lontarkan.


“Bukan pacar. Tapi calon.”


“Calon istri? cieee. Rupanya diem-diem punya gebetan.” Ujar Zinnia dengan suara yang sedikit bergetar.


Rasa malu yang sempat menghilang muncul kembali di dada Zinnia. Sumpah, kalau ia tau Ren sudah punya wanita incaran, ia tidak akan bersikap konyol dengan menyatakan perasaannya kepada Ren. Pantas saja Ren langsung menolaknya waktu itu.


Astaga. Ia ingin menguliti wajahnya dan menyimpannya ke dalam saku.


“Kak, aku ngantuk. Mau tidur. Nanti kalau udah sampai bangunin, ya?” Pintanya kemudian dengan langsung memejamkan matanya.


“Iya udah, sana tidur.”


Zinnia tidak benar-benar mengantuk. Ia hanya ingin melarikan diri dari situasi memalukan itu dengan berpura-pura tidur.


Sepertinya, Zinnia harus menyerah disini. Padahal perjuangannyapun belum di mulai. Tapi ia sudah punya saingan. Mulai sekarang, Zinnia harus menetapkan batasan untuk mereka. Ia tidak ingin merusak hubungan Ren dengan wanita incarannya. Ia hanya akan puas dengan kedekatan mereka sebagai teman.


Memangnya apa sulitnya berteman dnegan Ren? Kalau dengan Joham saja Zinnia bisa bersahabat selama bertahun-tahun.


Jadi, Zinnia pasti bisa menahan diri untuk tidak melewati batas. Ia hanya akan menikmati kesempatan yang di berikan oleh waktu untuk berada dekat dengan Ren dan keluarganya. Anggap saja mereka adalah keluarga barunya. Dengan begitu, ia pasti tidak akan salah menganggap kalau semua perhatian dan kebaikan Ren padanya merupakan hal yang biasa dilakukan oleh keluarga. Dan dia pasti bisa menekan rasa sukanya terhadap pria itu. Semoga itu tidak sesulit yang dibayangkannya.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


*Jangan lupa like sama komentarnya yaaa....


__ADS_2