
Sejak semalam Ren tidak bisa memejamkan mata barang sedetikpun. Ia terus mencoba menghubungi ponsel Zinnia tapi tidak terhubung.
Semalam, navya menelfonnya dan menceritakan semua yang telah terjadi di rumah kekasihnya itu. Navya bercerita sedetail-detailnya.
Hari sudah lewat siang dan Ren belum menemukan kabar tentang Zinnia. Padahal dia sudah menyuruh Ariga dan Pak Heru untuk membantu mencari tau keberadaan Zinnia tapi belum membuahkan hasil.
Ren terus berkomunikasi dengan Navya yang juga sedang mencari Zinnia bersama dengan Joham. Hatinya semakin pias karna tidak ada satupun petunjuk mengenai keberadaan Zinnia.
Ren terus menggenggam ponselnya erat-erat. Ia mencoba untuk menghubungi nomor Zinnia kembali.
Sebuah harapan muncul saat pangilan itu terhubung.
“Halo?” Sapa suara wanita.
“Zinnia?! Kamu dimana? Kenapa hapemu gak aktif?” Ren segera memberondong dengan pertanyaan.
“Ehm, maaf. Zinnia siapa, ya?”
Ren mengernyit. Ia kembali melihat nomor itu. Benar itu adalah nomor Zinnia.
“Ini siapa?” Tanya Ren kembali.
“Ini Indah. Ini siapa?”
“Indah? Kenapa hape ini ada di kamu?”
“Tadi ada orang yang jual hape ke aku.”
Ren segera menanyakan alamat Indah dan bergegas untuk pergi ke sana.
Sesampainya di sebuah konter ponsel, Ren segera keluar dari mobil dan berjalan menghampiri penjaga konter.
“Indah?” Tanya Ren.
“Iya.”
“Aku yang nelfon tadi. Bisa kamu ceritakan gimana kamu bisa dapet hape itu?”
Dan Indahpun mulai menceritakan detailnya kepada Ren. Sampai dengan Ren yang menelfonnya saat ia baru selesai mengisi daya ponsel yang baru di belinya itu untuk melihat-lihat apa yang ada di dalamnya.
“Jadi, kamu tau kemana cewek itu pergi?” Tanya Ren.
“Dia masuk ke perumahan itu.” Tunjuk Indah.
“Terus?”
“Abis itu aku gak tau lagi dia kemana.”
“Oke, Indah. Makasih banyak.” Ujar Ren yang langsung kembali masuk ke dalam mobilnya dan pergi ke arah perumahan yang di tunjuk oleh pegawai konter itu.
Ren kembali menghentikan mobilnya di depan pos Ronda. Disana, nampak beberapa pria paruh baya sedang mengobrol dengan beberapa pemuda. Ren segera turun dan menghampiri mereka.
__ADS_1
“Permisi, Pak.” Sapa Ren.
“Oh, iya. Ada apa?”
“Saya mau tanya. Apa bapak pernah lihat orang ini?” Ren menunjukkan foto Zinnia yang ada di ponselnya kepada mereka.
Kebanyakan mereka menggeleng setelah memperhatikan dengan seksama foto itu.
“Gak pernah lihat, Mas.”
Ren nampak kecewa mendengarnya.
“Oh? Ini kan yang kemarin gak bayar mie ayamku.” Celetuk seorang pria sambil menunjuk ponsel Ren.
Ren segera mendekati pria itu.
“Abang pernah lihat dia? Dimana?”
“Kemarin dia beli daganganku tapi uangnya gak cukup. Untung aja ada Pak Burhan yang bayarin.”
“Pak Burhan?” Ren mengernyit.
“Iya. Terus Pak Burhan nawarin kerjaan sama nih orang. Coba aja cari ke rumahnya Pak Burhan.”
“Dimana rumahnya?”
“Itu, dekat lapangan voly yang cat rumahnya warna coklat kemerah-merahan.” Jelas pria itu kembali.
Ren segera masuk kembali ke dalam mobil dan mengarahkan mobil menuju ke arah yang di tunjuk oleh pria tadi.
Setelah menghentikan mobil di dekat lapangan, Ren segera mencari rumah dengan warna cat coklat ke merah-merahan. Setelah mendapatkannya, dia segera berlari ke rumah itu.
Rumah itu nampak sepi dengan pintu yang tertutup rapat. Ren segera memencet bel yang ada di samping pintu pagar.
Ding-dung...
“Permisi!” Teriak Ren. Ia terus melonggokkan kepala ke atas pagar besi. Berusaha mengintip ke dalam.
Ren segera tersenyum saat melihat pintu yang terbuka dan muncullah Zinnia dari dalamnya.
“Zinnia!” Panggil Ren. Ia tersenyum lega melihat kekasihnya itu.
Zinnia nampak linglung. Wajahnya pucat dengan pandangan kosong kearah Ren.
Melihat hal itu, Ren segera menggeser pintu gerbang dan menghampiri Zinnia.
“Zinnia? Kamu kenapa?” Tanya Ren bingung.
“K kk kak Ren. Aku,, aku,, udah bunuh Roni.” Lirih Zinnia dengan wajah yang semakin pucat pasi.
“Hah?”
__ADS_1
Pruk.
Zinnia jatuh terduduk di lantai carport.
“Zinnia?”
Zinnia berusaha memberitahu Ren dengan menunjuk ke dalam rumah. Tangannya gemetar.
Ren membantu Zinnia untuk berdiri dan memapahnya masuk ke dalam rumah. Ia kemudian mendudukkan Zinnia di atas kursi rotan di depan tv.
Ren terkejut saat melihat ke arah meja makan yang sudah pecah dan berantakan. Lebih terkejut lagi saat dia melihat seorang pria yang sedang terkapar tak sadarkan diri di lantai dengan bersimbah darah. Ren segera memahami situasinya. Ia melihat pias kepada Zinnia.
Tak menunggu waktu lama, Ren segera menghubungi Pak Heru. Ia memberitahu alamat keberadaan dan situasi di rumah itu.
Lewat telfon, Pak Heru memberitahu Ren untuk tidak gegabah dan menunggu kedatangannya bersama dengan polisi.
“To... Lo...ng.” Lirih sura Roni.
Ren segera mendekat kepada Roni. Ia sedikit lega saat mengetahui Roni masih hidup. Padahal dia sudah takut setengah mati kalau ternyata pria itu sudah tewas.
“Hei! Kamu dengar aku?” Tanya Ren kepada Roni.
Mata Roni terpejam. Namun ia berusaha menganggukkan kepalanya.
Segera Ren menghubungi ambulan kemudian memberitahu Pak Heru.
Hal pertama yang harus Ren lakukan adalah menyelamatkan nyawa pria itu bagaimanapun caranya. Ia tidak mau Zinnia menjadi pembunuh. Gadis itu tidak akan sanggup mengatasinya.
“Zinnia? Hei. Lihat aku.” Ujar Ren mengalihkan pandangan Zinnia dari Roni untuk menatap kepadanya.
“Aku, udah, bunuh dia, ,, Kak.” Zinnia terbata. Kesadarannya masih mengambang.
“Dia gak mati, oke? Sadarkan dirimu, Zinnia. Jangan takut. Ada aku.” Ren merengkuh tubuh Zinnia ke dalam pelukannya dengan sangat erat.
Kemalangan bertubi-tubi singgah ke dalam hidup gadis itu. Seolah tak mau berhenti untuk memberikan cobaan.
Tidak berapa lama kemudian, Pak Heru sudah datang bersama dengan beberapa polisi yang langsung bergerak cepat mengamankan situasi. Begitu juga dengan para tetangga yang langsung mengerubungi rumah itu. Dan Pak RW segera menelfon si pemilik rumah yaitu Pak Burhan.
Saat ambulance datang, paramedis segera memindahkan Roni untuk di bawa ke rumah sakit. Sementara Ren terus menemani Zinnia yang masih linglung. Gadis itu hanya terdiam saja menatapi lantai.
“Gimana, Pak?” Tanya Ren saat Pak Heru menghampirinya.
“Lebih baik dia di bawa ke rumah sakit dulu, Pak. Saya sudah berkoordinasi dengan petugas. Saat kondisi Mbak Zinnia pulih, dia baru akan di mintai keterangan.” Jelas Pak Heru.
Tidak menunggu waktu lama, Ren segera membopong tubuh Zinnia keluar dari rumah. Menerobos kerumpulan warga yang berkerumun di depan rumah Pak Burhan. Kemudian memasukkan Zinnia ke dalam mobil.
Ren segera melajukan mobil menuju ke rumah sakit terdekat. Fikirannya kalut luar biasa. Di tengah rasa bahagianya karna sudah menemukan keberadaan Zinnia, situasi menyulitkanlah yang justru dia hadapi.
Sesekali Ren menoleh kepada Zinnia yang masih memandang kosong. Ia menarik dan menggenggam tangan Zinnia dengan erat. Berusaha memberikan kekuatan kepada kekasihnya itu.
BERSAMBUNG...
__ADS_1