Metalmorfosis

Metalmorfosis
BAB 65. Hal Umum Namun Tidak Pernah Di Dapatkan.


__ADS_3

Hasil dari pertemuan mereka dengan Sinta tadi adalah, Zinnia terus mengunci mulutnya rapat-rapat. Ia tidak berhasil menguasai rasa cemburunya yang tidak pada tempatnya itu.


Bahkan setelah dua hari berlalu, dan rencana untuk mengajak Zinnia ke rumahnya, membuat Ren kesulitan. Gadis itu masih marah pada Ren.


Sore itu, Ren sudah menunggui Zinnia yang nampak masih membantu Pak Jaya membereskan barang dagangannya. Ia memarkirkan mobil di dekat tempat berjualan.


Zinnia tau namun ia hanya melengos saja. Ia masih kesal dengan Ren yang nampak akrab dengan mantan kekasihnya. Cinta pertamanya.


“Udah selesai?” Tanya Ren menghampiri Zinnia yang sudah selesai membantu Pak Jaya.


Gadis itu hanya mengangguk sekali dengan masih enggan menatap langsung kepada Ren. Lantas masuk begitu saja ke dalam mobil Ren.


Zinnia masih marah. Tapi ia tetap tidak melupakan janjinya kepada Esta.


“Kamu masih marah?” Tanya Ren membuka percakapan saat mereka sudah berada di dalam mobil dan Ren sudah melajukan mobilnya. “Maafin aku. Udah dong ngambeknya. Aku tuh udah gak ada hubungan apa-apa lagi sama dia.”


“Tau. Aku tau, Kak. Tapi ya gak seakrab itu juga kali. Ada aku, lho. Kak Ren gak mikirin gimana perasaan aku apa gimana?” Protes Zinnia.


“Iya. Aku salah. Aku kan udah minta maaf. Janji gak ngulangin lagi.” Tegas Ren. Menoleh sesaat dengan tatapan memohon.


Zinnia bergeming. Pokoknya ia masih kesal.


“Zinnia sayang, jangan ngambek lagi dong. Nanti ketahuan Mama. Aku malu. Masak baru pacaran aja udah ngambek-ngambekan.” Rayu Ren lagi.


“Aku tau kalau dia itu bagian masa lalumu, Kak. Tapi ya gimana? Aku gak bisa ngendaliin perasaanku. Aku kesel lihatnya.”


“Iya, janji gak di ulangin. Jangan ngambek lagi, ya...” Ren nampak senang karna sepertinya kemarahan Zinnia sudah lumayan mereda.


Mobil Ren sudah memasuki halaman rumah mewah milik keluarga Ren. Ia segera memarkirkan mobil di depan garasi kemudian mengajak Zinnia turun.


“Zinnia!” Pekik Esta yang sedang duduk di depan rumah. Ia memang sedang menunggu kedatangan Ren dan Zinnia. Wanita itu langsung menghampiri Zinnia yang bahkan baru keluar dari dalam mobil.


“Tante, apa kabar?” Tanya Zinnia setelah menyalami dan mencium tangan Esta.

__ADS_1


Esta memeluk hangat Zinnia sebentar. Kemudian memperhatikan dengan teliti wajah kekasih putranya itu.


“Baik, kamu sehat, kan?” Tanya Esta.


“Sehat, Tante.”


“Maaf, ya. Tante suruh kamu datang. Soalnya Tante gak ada temen mau ke percetakan undangan. Bisa kan, temenin Tante?” Pinta Esta.


“Bisa, Tante.”


“Ya udah, kita berangkat sekarang aja ya. Takut nanti kemaleman.” Ujar Esta. Dan disambut dengan anggukan kepala oleh Zinnia.


“Nak, kamu mau ke kantor lagi apa gimana?” Tanya Esta kepada Ren.


“Aku ikut anterin Mama aja. Kerjanya gak banyak, kok.” Ren berbohong. Padahal pekerjaannya sedang menumpuk dan menunggu untuk di selesaikan. Ia hanya tidak ingin melewatkan waktu untuk menemani dua wanita itu.


“Ya udah. Ayo.”


“Ya ampun. Nyesel aku ikut. Aku jadi kayak sopir taksi.” Gerutu Ren saat ia tidak di ajak bergabung dalam obrolan.


Dua wanita itu tidak mempedulikan. Mereka malah cekikikan menertawakan Ren.


Mobil Ren berhenti di depan sebuah perusahaan percetakan. Esta lantas mengajak Zinnia turun. Wanita paruh baya itu bahkan terus menggandeng erat Zinnia. Melihat keakraban mereka, orang pasti berfikir kalau mereka adalah ibu dan anak.


Lama mereka berada disana untuk mendiskusikan undangan pernikahan ranu dan istrinya. Tidak tanggung-tanggung, Esta memesan hampir seribu undangan dengan desain mewah dan tentunya harganya juga mahal. Belum lagi souvenir pernikahannya yang berupa parfum mahal dengan kupon ekslusif bagi yang ingin mencuci pakaian di laundry miliknya yang sekarang sudah menyebar ke seluruh Indonesia. Ada juga perlengkapan dapur dengan kualitas terbaik.


“Kenapa gak Tante Hera aja sih Ma yang ngurusin ini?” Protes Ren setelah mereka kembali dari perusahaan percetakan itu. Kini mereka sedang menuju ke salah satu pusat perbelanjaan karna sejak tadi Esta memaksa untuk mengajak Zinnia berbelanja.


“Tante Hera udah banyak kerjaan. Mana mungkin di ganggu lagi. Kasihan. Lagian cuma begini doang, mama juga bisa ngurusin sendiri. Gak melulu perintah sana sini.”


Ren hanya mengangguk saja. Ia tidak berani membalas ucapan ibunya itu.


“Tante keren.” Puji Zinnia tiba-tiba.

__ADS_1


“Hah? Keren apanya?”


“Pokoknya keren. Kebanyakan orang kaya tuh, suka perintah sesuka hati. Terus kalau gak sesuai, dimarahin deh.” Seloroh Zinnia. Ia teringat dengan ibunya sendiri yang sering melakukan hal itu kepada Selvi, sekretaris pribadinya.


“Hehehehe. Gak semua begitu. Memang ada beberapa. Soalnya Tante lebih suka ngerjain sendiri. Biar lebih puas gitu.” Ujar Esta.


Mobil Ren sudah memasuki area parkir basement gedung pusat perbelanjaan. Setelah mobil berhenti dengan sempurna, lantas mereka semua turun. Dan Esta masih setia menggandeng Zinnia. Nampaknya, ia benar-benar senang dengan kedatangan Zinnia.


“Zinnia mau beli apa? Bilang aja. Nanti biar Ren yang bayar.” Seloroh Esta sambil terkekeh.


Ren yang berjalan di belakang mereka nampak melotot tidak percaya dengan pengaruh ibunya terhadap kekasihnya tersebut.


“Kok aku?” Protes Ren.


“Ya kan kamu pacarnya Zinnia. Masak Mama yang beliin.” Padahal Esta hanya bercanda saja.


“Hehehehehe. Gak suah repot-repot, Tante. Aku gak kepengen apa-apa, kok.” Ujar Zinnia.


Ucapan Zinnia itu megejutkan Ren dan juga Esta. Mereka fikir, Zinnia tersinggung dengan candaan mereka.


Padahal, Zinnia memang benar-benar tidak menginginkan barang apapun. Ia hanya ingin berada lama bersama mereka. Merasakan kehangatan Esta yang layaknya ibu baginya. Ia suka menerima semua perlakuan Esta yang bahkan tidak pernah ia dapatkan dari ibunya sendiri.


“Gak apa-apa, Zinnia. Aku cuman bercanda, kok. Kamu boleh ambil apapun yang kamu mau.” Ren merasa bersalah terhadap ucapannya.


“Enggak kok, Kak. Aku memang gak kepengen apa-apa. Aku udah seneng bisa nemenin Tante jalan-jalan begini.” Jawab Zinnia yang kini ganti menggandeng erat lengan Esta.


Wanita paruh baya itu tersenyum sambil mengusap-usap tangan Zinnia yang melingkar di lengannya.


Bersama dengan Ren dan keluarganya, Zinnia merasa menjadi seorang putri seutuhnya. Perlahan, rasa sakit di hatinya mulai berkurang. Di gantikan oleh kehangatan yang mampu melelehkan hatinya yang membeku. Ia seperti bisa menemukan obat yang selama ini ia cari. Dan obat itu ada di Ren dan keluarganya.


Ya, Zinnia hanya ingin menikmati waktu sebagai seorang anak. Hal yang umum di lakukan orangtua terhadap anaknya. Tapi hal umum itu bahkan tidak didapatkan oleh Zinnia. Jadi baginya, perhatian kecil semacam ini adalah hal yang sangat istimewa sekali.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2