Metalmorfosis

Metalmorfosis
BAB 79. Keputusan Tergesa-Gesa. Semoga Menjadi Baik.


__ADS_3

“Ma, Pa. Aku mau nikahin Zinnia sekarang juga.”


Ucapan Ren itu sontak membuat Esta, Rai, Joham dan Navya langsung melihat kepadanya. Semuanya kompak mengernyit tidak mengerti.


Mereka sedang berada di sofa ruang VIP sebuah rumah sakit untuk menunggui Zinnia yang sedang tertidur setelah apa yang menimpanya tadi sore.


Sementara di luar kamar sedang di jaga oleh tiga orang polisi yang memang menunggu Zinnia bangun untuk dimintai keterangan.


Tidak ada Arsa ataupun Hanafi. Yang ada hanya Navya dan Joham disana. Kedua orangtua Zinnia sedang mengurung diri di rumah. Takut jika kabar putri mereka membunuh seseorang akan tersebar dan menghancurkan karir mereka. Lagipula, Navya melarang mereka untuk ikut ke rumah sakit karna ia khawatir akan memperburuk keadaan. Mengingat seperti apa sifat keduanya.


“Maksud kamu apa?” Tanya Rai. Seolah mewakili semua orang yang ada disana.


“Aku serius mau nikahin Zinnia, Pa. Secepatnya. Kalau bisa sekarang.” Ujar Ren kembali dengan tatapan mantap. Dia tidak sabar untuk melindungi gadis itu. Ia takut membayangkan kalau znnia akan terlibat sesuatu yang lebih mengerikan lagi.


“Kamu udah yakin, Nak?” Tanya Esta lagi. Dan Ren kembali mengangguk pasti.


“Tapi menikah itu butuh persiapan, Ren.” Rai masih berusaha untuk menasehati putranya. Ia tidak ingin Ren mengambil keputusan yang tergesa-gesa dan menyesal nantinya.


“Ren udah yakin, Pa. Ren udah lama yakin. Ren mau menikah sama Zinnia.”


Semua menjadi terdiam dengan keputusan Ren. Mencoba memahami dan menghargai apa yang dia katakan.


“Gimana sama Zinnia?” Tanya Esta kemudian.


“Lebih baik kita tunggu Zinnia bangun dulu. Baru kita dengar gimana pendapatnya.” Rai memberikan argumennya.


Semua yang ada di ruang tunggu itupun menganggukkan kepala. Menyetujui ucapan Rai.


Ren kembali ke ranjang Zinnia. Gadis itu masih tertidur. Nafasnya terdengar teratur. Ia terus memandangi wajah Zinnia yan terpejam.


Ren sudah mengerahkan segala kemampuannya untuk membantu Zinnia. Pak heru dibantu oleh selvi, tengah mengumpulkan bukti-bukti yang  bisa meringankan Zinnia. Ren memerintahkan agar Zinnia terbebas dari jeratan hukum. Bagaimanapun caranya.


Satu masalahnya, di rumah pak burhan tidak ada cctv sama sekali. Pun tidak ada saksi yang menyaksikan kejadian tersebut. Hal ini menyulitkan posisi Zinnia.

__ADS_1


Kini, kekuatan dua keluarga sedang bersatu untuk menyelamatkan Zinnia. Tapi bedanya, ua Zinnia melakukan itu demi nama baik mereka. Bukan tulus demi putri mereka.


Hati kedua orangtua Zinnia sudah membatu. Tidak peduli dengan apa yang menimpa putri mereka, yang mereka pedulikan hanya karir dan kedudukan sosial yang sebenarnya bisa hilang setiap saat.


“Zinnia?” Panggil Ren saat Zinnia mengerjap-ngerjapkan mata.


Sesaat, Zinnia sedang mengumpulkan kesadarannya. Menatap atap ruangan dengan mata sayu.


“Kamu di rumah sakit.” Jelas Ren sebelum Zinnia bertanya. “Gimana? Mana yang sakit?” Tanya Ren kemudian.


Namun Ren terkejut saat tiba-tiba Zinnia bangun terduduk. “Roni. Gimana Roni?” Tanya Zinnia yang teringat dengan roni.


“Roni.  Masih di ICU.” Jawab Zinnia.


Seketika tubuh Zinnia melemas. Ren segera merengkuh tubuh kekasihnya itu ke dalam pelukannya. Ia ingin memberikan sedikit kekuatannya kepada Zinnia.


Zinnia tergugu di pelukan Ren. Mendapati kenyataan kalau dia bisa saja menjadi pembunuh, meruntuhkan keberaniannya. Suara tergugunya bahkan sampai terdengar ke ruang tunggu. Sehingga Esta, Rai, Navya dan Joham segera menghampirinya.


“Zinnia? Kamu udah bangun?” Tanya Esta yang langsung mengelus kepala Zinnia pelan.


“Kamu gak usah khawatir. Ren udah ngurus semuanya.” Ujar Esta lembut.


“Kamu fokus aja buat sembuh. Ya?” Imbuh Rai dengan mengembangkan senyuman meyakinkan.


Ah, kasih sayang seperti ini yang harusnya dia dapatkan dari ibunya. Perhatian begini yang harusnya ia dapat dari ayahnya. Bukan malah dari orang lain yang seharusnya tidak perlu memberikan itu semua pada Zinnia.


“Makasih, Tante, Om.” Lirih Zinnia dengan memaksakan suaranya untuk keluar.


“Gimana keadaan Kakak?” Navya yang sejak tadi diam dan memperhatikan kini membuka suara. Ia mendekati kakaknya itu kemudian memeluknya. “Maafin aku, Kak.. Maafin aku. Harusnya aku ikut Kakak kemarin. Maafin aku.” Lirih Navya. Air mata sudah mengaliri kedua pipinya.


Dan Zinnia semakin tidak bisa menahan bendungan air di pelupuk matanya. Ia kembali tergugu di pelukan Navya.


“Ehm, Zinnia?” Panggil Esta.

__ADS_1


Mendengar panggilan itu, Zinnia dan Navya saling melepaskan pelukan. Zinnia menatap kepada Esta yang sepertinya ingin menyampaikan sesuatu.


“Mungkin ini bukan waktu yang tepat Tante tanya ini. Tapi kalau Ren mau nikahin kamu, apa kamu mau?”


Tubuh Zinnia merinding mendengar pertanyaan itu. Ia lantas mengalihkan pandangan kepada Ren yang tersenyum kemudian mengangguk padanya.


“Maksud Tante?” Bukan Zinnia tidak dengar, dia hanya ingin memastikan kalau ia tidak salah tangkap tentang ucapan Esta.


“Kita nikah, ya?” Ren merangsek ke samping Zinnia. Memandang gadis itu dengan tatapan memohon serta kepastian akan ketulusan ucapannya.


“Kak?”


“Aku udah yakin, Zinnia. Aku mau nikahin kamu. Secepatnya.” Pasti Ren kembali.


“Tapi aku.... Keadaanku kayak gini. Emang kakak gak malu keluargaku hancur?”


“Yang aku nikahin itu kamu, bukan keluargamu. Yang aku lihat itu, cuma kamu. Bukan latar belakang keluargamu.”


Zinnia terdiam. Ia melihat kepada satu-persatu orang-orang yang ada disana. Mereka semua kompak mengangguk untuk meyakinkannya.


“Iya, Zinnia. Bagi kami, itu semua gak penting. Yang penting, kamu dan Ren, sama-sama saling mencintai satu sama lain.” Kata Esta.


Entah. Zinnia masih belum yakin bagaimana harus merespon ini semua. Ia terkejut, bahagia, dan juga takut serta malu. Semua perasaan itu bercampur di dadanya. Mendominasi rasa ragu yang muncul setelahnya.


“Kakak gak usah mikirin yang lain. Mulai sekarang, fikirin kebahagiaan Kakak sendiri. Pak Ren gak keberatan dengan masalah keluarga kita. Jadi Kakak juga harus mengesampingkan itu. Udah saatnya Kakak fokus sama masa depan Kakak. Waktu-waktu menyakitkan itu, biar berhenti disini.” Navya ikut meyakinkan Zinnia.


Semua orang menunggu tanggapan Zinnia. Saat ia melihat kepada Joham, sahabatnya itu mengangguk dan tersenyum kepadanya.


Zinnia kembali memandangi Ren. Tatapan pria itu sangat teduh. Menawarkan sebuah ketulusan hati yang mengguncang hati Zinnia. Meruntuhkan perasaan ragu yang sempat hinggap di dadanya.


Kini, perasaan yakin mulai tumbuh di hatinya. Tumbuh dengan sangat cepat. Perlahan, Zinnia menganggukkan kepalanya. Dan segera disambut oleh senyum kebahagian semua yang ada disana.


Terlebih Ren. Ia langsung merengkuh Zinnia ke dalam pelukannya. Tidak peduli lagi dengan keadaan kalau tidak hanya ada mereka di ruangan itu. Ren hanya ingin meluapkan seluruh perasaan lega dan bahagianya saat ini. Menyalurkan rasa bersyukurnya karna Zinnia bersedia menikah dengannya.

__ADS_1


“Makasih, Zinnia. Makasih. Aku mencintaimu.” Bisik Ren di telinga Zinnia hingga menebarkan bunga indah di seluruh padang hati Zinnia.


__ADS_2