
Zinnia fikir, keadaan sudah mulai membaik setelah polisi menyatakan dia tidak bersalah. Itu semua berkat kerja keras pek Herudan Selvi. Mereka bahkan hanya butuh satu malam untuk menyelesaikan kasus itu.
Entah apa yang terjadi, yang jelas, kini roni sudah berubah statusnya dari korban menjadi tersangka.
“Kok bisa, kak?” Selidik zinnia.
“Rupanya, mantam-mantan pembantu merka yang dulu juga mengalami hal sama kayak kamu. Dan untungnya mereka mau bersaksi. Dan Pak Burhan pun bersaksi atas kejahatan yang sering di lakuin sama anaknya. Kayaknya Pak Burhan udah capek sama anaknya sendiri.”
Zinnia trenyuh terhadap sikap Pak Burhan. Sepertinya, dia sudah sangat lelah menghadapi sifat buruk anaknya.
Kini Ren hanya tinggal mengurus satu hal penting lagi, yaitu menemui kedua orangtua Zinnia untuk meminta ijin menikahi gadis itu.
“Belum ada kabar dari Navya?” Tanya Ren pada Joham. Mereka sedang ada di ruang tunggu sambil menonton tv.
Joham menggeleng. “Belum.”
“Breaking news. Semalam, seorang wakil menteri berinisial H, tertangkap dalam operasi tangkap tangan yang di lakukan oleh komisi pemberantasan korupsi. Bersamaan telah di sita bukti berupa uang senilai 5 milyar rupiah. H tertangkap saat sedang bersama dengan perwakilan perusahaan konstruksi. Perusahaan itu di duga memberikan fee kepada H untuk memuluskan jalan sebagai pemenang tender pembangunan jalan tol.”
Begitulah kata news anchor yang membawakan berita. Di TV, sedang di tayangkan detik-detik penangkapan wakil menteri itu.
“Papa....” Lirih Zinnia yang ternyata sudah ada di belakang sofa.
Awalnya Zinnia hendak ke kamar mandi saat sekilas ia melihat penayangan berita di tv, kemudian ia mendekat untuk melihat lebih jelas. Dan ternyata benar itu adalah ayahnya.
Ren dan Joham segera menoleh. Kemudian Joham segera mematikan tv walaupun sudah terlambat.
“Zinnia?” Ujar Ren.
“Itu Papa, kan? Tadi itu Papa, kan?”
Joham dan Ren hanya terdiam saja.
“Apa yang terjadi, Joo?”
“Ehm, Jin. Kamu tenang dulu. Aku juga gak tau apa yang terjadi. Kita cari informasi yang jelas dulu.”
“Kurang jelas apa? Itu tadi Papa.”
Di saat yang bersamaan, Navya muncul dengan nafas yang terengah-engah. Gadis itu segera menghampiri Zinnia.
“Kak...” Ujar Navya sambil mengatur nafas.
__ADS_1
“Mama, Kak. Mama.. Hufhh, hufhh,.”
“Di media sosial, Mama ramai di perbincangkan.” Ujar Navya. Ia segera merogoh ponsel dari sakunya. Mencari sesuatu kemudian menunjukkannya kepada Zinnia.
Disana, terpampang jelas beberapa foto Arsa yang sedang menggandeng seorang pria muda tampan. Di bawah foto-foto itu, terdapat kalimat penjelasan.
‘Pacarku selingkuh sama nenek-nenek hakim!’
Dan kalimat itu langsung di banjiri oleh beragam komentar yang mengecam Arsa dan kekasihnya yang ternyata merupakan artis pendatang baru.
Lutut Zinnia melemas. Ia langsung berjongkok di belakang sofa.
Melihat itu, Ren segera bangkit dan memutari sofa kemudian memapah Zinnia dan mendudukkannya di sofa.
Zinnia nampak syok mendengar kabar itu. Sebenci-bencinya dia kepada ayah dan ibunya, mereka tetap orang tuanya. Dan kabar ini, sangat mengejutkannya.
“Kamu gak apa-apa?” Tanya Ren. Ia mengelus punggung Zinnia untuk menenangkan gadis itu.
“Dan lagi, Papa....” Navya tidak berani melanjutkan kalimatnya.
“Aku udah tau. Udah nonton berita.” Potong Zinnia cepat.
“Sekarang kita gimana, Kak?” Airmata sudah merembang di mata Navya.
“Kalian jangan terlalu khawatir. Aku akan bantu.” Ren memberi solusi untuk kekhawatiran dua gadis itu.
“Makasih, Kak.”
Ren segera menghubungi Pak Heru. Sementara Navya menghubungi Selvi untuk menanyakan keadaan ayah dan ibunya.
“Gimana?” Tanya Zinnia kepada Navya.
“Papa udah di bawa ke kantor KPK. Kalau Mama di rumah.”
Tidak menyangka. Pukulan telak menghantam Arsa dan hanafi dalam waktu yang bersamaan. Karir dan status sosial yang kini di lindungi dengan mengorbankan anak mereka, justru hancur akibat ulah mereka sendiri.
Karna tidak selalu datang dalam waktu singkat. Butuh bertahun-tahun bahkan puluhan tahun untuk karma mempersiapkan diri dengan pukulan terbaiknya. Dan itulah yang sedang terjadi kepada Arsa dan Hanafi.
Orang tua yang tidak menganggap anak mereka dan memperlakukan anak mereka dengan buruk. Ternyata takdir sudah menyiapkan seuntai kekejaman sebagai balasan dari rasa sakit.
Seketika, jabatan dan karir langsung lenyap di telan kenyataan akan buruknya sikap. Dan penyesalan, adalah hukuman paling menyakitkan yang di terima oleh manusia.
__ADS_1
Kalau saja bisa memutar waktu. Kalau saja kemarin tidak begitu. Kalau saja waktu itu tidak begini.
Itu hanyalah sekumpulan bentuk dari pecahan penyesalan setelah hal buruk berlaku. Padahal ada pilihan yang lebih baik. Yaitu mencegah sebelum semuanya terlambat.
Kita bisa memilih jalan mana yang akan kita ambil. Seburuk-buruknya pilihan, pun sebaik-baiknya pilihan, ada konsekuensinya masing-masing. Yang baik saja belum tentu berakhir baik.
*****
Butuh waktu dua hari untuk Zinnia dan Navya agar bisa menemui ayahnya. Sedangkan ibunya sudah mengungsi ke luar kota karna rumah mereka terus menerus di datangi para pencari berita.
Kabar sudah menyebar kemana-mana. Secara resmi, Arsa sudah di tangguhkan jabatannya sebagai hakim. Sementara Hanafi, masih di proses di kantor Komisi Pemberantasan Korupsi.
Zinnia dan Navya hanya bisa menguatkan satu sama lain. Berusaha semaksimal mungkin untuk membantu menyelesaikan masalah ini.
Navya dan Zinnia sedang berada di sebuah ruangan di kantor KPK bersama dengan Pak Heru dan beberapa penasihat hukum kenalan Hanafi. Sementara Selvi sibuk mengurusi kasus Arsa.
Di hadapan mereka, duduk hanafi yang nampak lesu dan kucel. Rambut acak-acakan dengan kemeja yang sudah lusuh dimana-mana. Pria paruh baya itu hanya bisa menundukkan kepalanya saja.
“Boleh saya bicara dengan Zinnia saja?” Pinta Hanafi kepada Pak heru.
Pak Heru segera mengintruksikan rekan-rekannya untuk keluar dari ruangan itu. Termasuk Navya.
Kini, hanya tinggal Zinnia bersama dengan ayahnya.
“Kabarnya, kamu dan cucunya Pak Fandi mau nikah? Kapan?” Hanafi memulai pembicaraan. Zinnia bisa merasakan kecanggungan yang mengelilingi mereka.
“Gimana aku bisa nikah sementara keadaan masih kayak gini? Keluarga terpandang apa? Aku malu sama keluarganya kak Ren, Pa. Aku malu banget.” Lirih Zinnia.
“Maafin Papa, Zinnia. Papa sadar udah nempatin kamu di posisi sulit.”
“Kenapa sekarang baru sadar? Papa sama Mama selalu nempatin aku di posisi sulit dan memalukan. Andai hubungan darah bisa di hapus, udah dari lama aku hapus.”
Mendengar itu Hanafi langsung mengangkat wajahnya. Menatap pias kepada putri sulungnya itu.
“Aku, masih bingung kenapa kalian gak bisa sayang sama aku sementara orang lain menyayangiku?”
Hanafi terdiam. Sepertinya kejadian ini sangat memukulnya.
“Aku berusaha tumbuh sendiri sebaik yang aku bisa, Pa. Menekan rasa sakit di hatiku karna aku di perlakukan kayak sampah sama keluargaku sendiri. Tapi lihat. Aku berhasil sampai di titik ini. Itupun, kalian masihhhh aja buat masalah.”
“Kalau kamu mau nikah sama pacarmu, Papa beri kalian restu.” Lirih Hanafi kemudian. Ada guratan rasa malu di wajah kusamnya. “Kalau bisa, sebelum Papa di pindahkan ke penjara.”
__ADS_1
Entah kenapa, ucapan itu terdengar seperti permohonan dari Hanafi untuk kebahagiaan putrinya. Seolah itu adalah satu-satunya hal baik yang ingin dia berikan sebelum semuanya hilang.
Hanafi menerima seluruh tatapan kekecewaan yang terbias dari netra Zinnia.