
Sabtu sore.
Matahari seperti enggan beranjak untuk meninggalkan hari. Terus bersinar menembusi kabut asap polusi yang mengelilingi ibukota.
Sejak pukul 4 sore, Zinnia sudah bersiap dengan ‘pakaian dinasnya’. Yaitu kaus hitam dan celana jeans hitam. Hanya rambutnya yang berwarna.
Dengan girangnya gadis itu berlari menuruni anak tangga di rumahnya. Rambutnya nampak terombang-ambing seperti gelombang.
“Mau kemana?” Tanya Asra yang nampak sedang mengobrol dengan Selvi.
“Mau nonton konser, Ma.”
“Dimana?”
“Di daerah Kelapa Gading.”
“Sama siapa?” Selidik Arsa.
“Sama temen.”
“Jangan macem-macem.” Arsa menekankan ucapannya dengan setengah mengancam. Padahal wanita itu berbicara tanpa melihat ke arah Zinnia sedikitpun.
“Iya, Ma. Zinnia pergi dulu.”
Zinnia melenggang dengan senyuman. Ia merasa mendapat sedikit perhatian dari sang ibu. Mendengar ancaman Arsa bahkan membuat hatinya senang bukan main. Soalnya jarang-jarang ibunya akan memperingatkannya seperti itu. Peringatan itu adalah tanda bahwa ibunya mengkhawatirkannya.
Memikirkan hal itu, membuat hati Zinnia meleleh. Ia senang bukan main.
Zinnia belum berani mengungkapkan identitas Ren dan hubungannya dengan pria itu. Entah kenapa ia ragu untuk memberitahu ibunya.
Perkara awal pertemuan Zinnia dengan Ren yang tidak biasalah yang menjadi ganjalannya.
Zinnia menunggu kedatangan Ren di depan gerbang rumahnya. Tidak peduli kalau Pak Tio terus melihat kepadanya dengan penasaran.
“Nunggu taksi, Non?” Tanya Pak Tio menghampiri.
“Enggak, Pak. Nunggu jemputan.”
“Udah cantik. Mau kemana sih, Non?”
“Ini malam minggu, Pak.” Zinnia memberitahu secara tidak langsung.
“Ooh. Iya. Saya lupa. Hehehehe.”
Sebuah mobil sedan mewah berhenti tepat di depan Zinnia. Ia tau kalau itu adalah mobil Ren. Tidak menunggu lama, ia langsung masuk saja ke dalam mobil itu dan duduk manis di samping kekasihnya.
“Kenapa nunggu di luar?” Tanya Ren sambil kembali melajukan mobilnya. Ia membunyikan klakson dua kali kepada Pak Tio.
__ADS_1
“Udah gak sabar ketemu Kakak.” Seloroh Zinnia.
“Iddihh...” Ren jadi mesem-mesem sendiri. “Acaranya masih jam 8 nanti. Kita makan dulu, gimana?”
“Boleh.”
“Mau makan apa?”
“Pasta aja.”
“Oke.”
Dan Ren segera meluncurkan mobil menuju ke sebuah restoran Italia yang tidak jauh dari tempat di adakannya konser musik yang akan mereka lihat.
Baru setelah selesai makan sambil membunuh waktu, Ren dan Zinnia kembali berangkat menuju tempat konser itu.
Tempat parkir mobil sudah hampir penuh. Di dalam lobi gedung konser, sudah banyak orang yang mengantri untuk masuk.
Ren dan Zinnia segera menempatkan diri pada antrian.
“Jin!” Sebuah teriakan yang sangat familiar di telinga Zinnia. Dan teriakan itu sontak menarik perhatian orang-orang yang ada disana.
Dari tempat yang tak jauh, nampak Joham yang sedang berlari kecil menghampiri Zinnia dan Ren.
PLAK!
Zinnia langsung memukul punggung Joham dengan kesalnya.
Joham hanya terkekeh kecil. Ia melemparkan pandangannya kepada Ren yang menatap dingin padanya. Tapi Joham tetap melemparkan senyuman ramahnya dan mengangguk kepada Ren.
“Sama siapa?” Tanya Zinnia.
“Tuh!” Tunjuk Joham kepada Navya yang berdiri menatap dingin ke arah mereka.
Nampak raut terkejut dari wajah Zinnia. “Kemarin aja kamu bilang gak dapet tiket buat aku. Rupanya bisa dapet tiket buat Navya.” Sindir Zinnia kesal.
“Ya gimana ya... Soalnya aku juga mau ngajak pacarku nonton konser.”
“Pacar?!” Zinnia mengernyit.
Lagi-lagi, Joham mengangguk sambil tersenyum lebar. “Kami udah pacaran.” Joham mendeklarasikan keberhasilan atas perjuangannya.
Mendengar itu, Zinnia sempurna ternganga. Tidak menyangka kalau Joham dan Navya akhirnya berpacaran juga.
“Gak usah melongo begitu. Kaget ya?”
“Kayaknya Navya salah makan deh. Aneh banget tiba-tiba dia nerima kamu.”
__ADS_1
“Enak aja. Selama ini juga Navya sukanya sama aku, tau. Dia sendiri yang bilang kok.”
“Udahlah. Gak penting bahas kalian.” Dengus Zinnia yang kemudian melingkarkan tangannya ke lengan Ren. Ia balik memunggungi Joham sementara Ren sempat melirik ke arah Joham dan Navya bergantian.
Dengan langkah canggung, Navya terpaksa ikut mengantri bersama Joham di belakang Zinnia dan Ren. Ia tidak berani bersuara sedikitpun. Masih ada tatapan malas di netranya saat melihat Ren dan Zinnia.
‘Jadi ini yang di maksud Pak Ren kalau Zinnia itu istimewa buat dia?’ bathin Navya.
“Jin!” Colek Joham dari belakang.
“Apa sih?”
“Aku penasaran. Kok kamu bisa dapet tiketnya, sih?” Selidik Joham.
“Ya bisa dong. Kamu aja bisa dapet tiket buat pacarmu. Pacarku juga bisa kali dapetin tiket buat aku.” Jawab Zinnia. Ia masih merasa kesal dengan Joham karna berbohong dan tidak mau membagi tiketnya.
Joham hanya mencibir dengan jawaban itu. Sementara Ren nampak tersenyum simpul mendengar jawaban Zinnia.
Kini, Ren melepaskan tangan Zinnia dari lengannya kemudian berganti menggenggamnya dengan erat. Ia sengaja memamerkan kemesraan itu kepada pasangan yang ada di belakang mereka.
Setelah mengantri cukup lama, akhirnya mereka berhasil masuk ke dalam aula konser. Ren terus menggenggam tangan Zinnia dan mencari tempat duduk untuk mereka. Berada jauh dengan Joham dan Navya.
Hal itu membuat Zinnia sedikit bisa bernafas lega. Perlahan rasa kesalnya mulai berganti menjadi perasaan antusias dan tidak sabar akan pertunjukan konser itu.
Sebenarnya, banyak sekali pertanyaan yang muncul di kepala Ren saat ini. Perihal Joham dan Navya. Tapi ia malas mengusik kesenangan Zinnia yang sedang berJingkrak-Jingkrak mengikuti alunan musik yang memekakkan telinga itu.
Ren sama sekali tidak mengerti kenapa Zinnia sangat menyukai musik yang bahkan hampir membuat gendang telinganya pecah itu. Apa bagusnya dari musik itu, fikir Ren. Ia sama sekali tidak bisa mencerna apa yang sedang di nyanyikan oleh musisi di atas panggung.
Hanya saja, ia ingin manyenangkan hati kekasihnya itu. Tidak apa ia mengalah dan mengikuti kesenangan Zinnia sesekali. Dia ingin menunjukkan sisi romantis yang ia punya kepada Zinnia.
“Kak Ren kenapa kok duduk aja?” Teriak Zinnai di sela-sela suara musik.
“Gak apa-apa. Capek aja.”
“Ih, gak seru. Ikut Joget dong. Biar stresnya hilang.” Ajak Zinnia.
“Kamu aja. Aku gak biasa.” Tolak Ren.
“Ya udah.” Zinnia kembali dengan euforianya menikmati musik kesukaannya.
Sementara Ren hanya duduk manis sambil melihat kekasihnya yang sedang berjJingkrak-Jingkrak tak terkendali dan ikut berteriak-teriak seperti kebanyakan orang yang ada di sana.
Sesekali, ia akan tersenyum saat melihat Zinnia bertingkah atau sekedar berekspresi konyol sambil mengekspresikan dirinya. Dan Ren semakin menyadari kalau ia semakin menyayangi gadis itu. Deguban dihatinya masih konsisten. Sejauh ini, perasaan itu masih terjaga dengan baik.
Zinnia kembali duduk saat jeda lagu. Ia tersenyum lebar sambil menoleh kepada Ren. Nafasnya naik turun akibat kelelahan karna berJingkrak-Jingkrak tak karuan.
Ren mambalas senyumannya sambil membukakan botol minuman yang ia ambil dari bawah kursi mereka. Kemudian menyodorkannya kepada Zinnia. Dan gadis itu langsung saja menenggaknya sampai habis setengah.
__ADS_1
Ingatan Ren sedang melalang buana saat pertemuan ketiga mereka. Saat Zinnia tidak ragu untuk menenggak minuman teh sisa miliknya setelah ia membagikan makanan yang ia bawa dari restoran Limma. Dan kali ini, Ren membalas dengan menenggak habis minuman sisa Zinnia. Dengan seutas senyuman bahagia yang terus bergelayut di bibirnya.
BERSAMBUNG...