
Persahabatan, bagai kepompong.
Merubah ulat menjadi kupu-kupu.
Persahabat bagai kepompong.
Hal yang tak mudah berubah jadi indah.
Persahabatan, bagai kepompong.
Keeeeeppoooommmpppooooonngggggg!!!
Zinnia asik berdendang menyusuri trotoar jalan raya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia memang penggemar berat musik metal. Tapi bukan berarti ia tidak tau lagu-lagu domestik beraliran pop.
Gadis itu baru saja keluar dari kantor Joham dan sedang berjalan-jalan di trotoar. Setelah mendapatkan rentetan kekesalan dari Joham karna dia sudah menjadikan wajah pria itu sebagai kanvas lukisnya.
Begitulah Zinnia. Ia suka sekali berjalan-jalan sendirian menyusuri trotoar jalan raya untuk sekedar menghirup udara segar.
Udara segar?
Saat perutnya terasa lapar, ia melihat ada seorang penjual bakso gerobak yang mangkal di trotoar. Segera saja ia berjalan kesana dan memesan semangkuk bakso untuk dirinya.
Selesai makan, ia menghampiri bapak penjual sambil memberikan mangkuk bekasnya.
“Pak, butuh karyawan, gak?” Tanya Zinnia langsung.
Si bapak hanya melihat penuh heran kepadanya.
“Kalau ada lowongan saya mau daftar, Pak.” Ucap Zinnia lagi untuk meyakinkan penjual.
Si bapak hanya memperhatikan Zinnia dari ujung kepala hingga kaki.
“Butuh, sih. Memang lagi cari karyawan. Tapii...” Si bapak ragu untuk menerima Zinnia karna penampilannya yang terkesal asal-asalan.
“Jangan lihat luarnya, Pak. Saya rajin kok, Pak. Terima saya ya, Pak?” Paksa Zinnia sambil memasang senyum paling lebar yang ia miliki.
“Oke, lah.”
“Gajinya berapa, Pak?”
Si bapak tertawa melihat keterusterangan Zinnia. Ia merasa kasihan karna sepertinya Zinnia benar-benar sedang butuh uang.
“Gaji perhari 30ribu. Kerja dari jam 10 sampai jam 4 sore. Gimana?”
__ADS_1
Zinnia menaikkan bola matanya. Otaknya sedang berputar untuk mengira-ngira hasil kerja kerasnya jika dikumpulkan salam sebulan.
30.000x30 hari. Dalam sebulan ia bisa mengantongi uang 900 ribu. Masih jauh dari uang saku yag ia terima dari ibunya. Tapi tak apa. Ini sudah merupakan awal yang baik sebagai langkah kemandiriannya.
“Oke. Deal! Kalau gitu, saya mau memperkenalkan diri dulu. Nama saya Zinnia, Pak. Pake z, bukan j.” Tegas Zinnia.
“Hahahahaha. Ya, ya. Saya Pak Jaya.”
“Makasih banyak udah nerima saya, Pak Jaya.” Zinnia menyalami tangan Pak Jaya sampai menggoyang-goyangkannya dengan semangat. Beberapa pelanggan memperhatikan mereka
“Jadi saya udah boleh kerja hari ini, pak?” Tanya Zinnia.
“Udah nanggung. Bentar lagi juga udah tutup. Besok aja.”
“Siap, Pak!” Zinnia memasang pose hormat bendera kepada Pak Jaya. Membuat pria paruh baya itu hanya terpingkal-pingkal dengan kelakuan Zinnia yang seperti anak SD saja.
Zinnia pamit pulang setelah mendapat kepastian dari Pak Jaya. Sepanjang jalan, ia senang sekali karna ini adalah pekerjaan pertamanya. Ia berjanji akan melakukan semuanya dengan sangat baik dan bekerja keras dalam usahanya.
Zinnia terus berdendang dalam hati bahkan saat ia sedang berada di dalam taksi yang akan mengantarkannya pulang ke rumah.
Hari ini adalah hari yang baik. Pertama, tuntutannya sudah di cabut. Dan ia mendapat pekerjaan pertamanya. Hari ini adalah hari tebaik baginya.
“Selamat sore, Pak!” Ujar Zinnia menyapa security di rumahnya begitu ia turun dari taksi.
Begitu pula saat sudah memasuki rumahnya. Zinnia langsung menuju ke dapur dan mencari buah.
“Cari apa, Non?” Tanya Lida, asisten rumah tangganya.
“Gak ada buah kah, Mbak?”
“Ada. Mangga di kulkas. Mau di kupasin?”
Zinnia segera mengangguk. Ia menunggu di kursi meja makan sambil bermain ponsel. Lima menit kemudian mangga sudah siap di piring dan ia segera membawa piring mangga ke dalam kamarnya.
Sambil menikmati mangga, Zinnia meneruskan bermain ponsel. Lama kelamaan, kelopak matanya mulai terasa berat dan iapun terlelap.
Zinna terkejut saat mendengar pintu kamarnya di ketuk dari luar. Karna terbangun dengan buru-buru, ia sampai menyenggol piring mangga dan membuat mangga berserakan di atas spreinya. Meninggalkan noda kuning disana.
Tok, tok, tok.
Pintu kembali di ketuk untuk yang ke sekian kalinya. Zinnia segera turun dari tempat tidur dan membuka pintu. Di depan pintu sudah berdiri Navya, adiknya yang sedang menatap dingin kepadanya.
“Lama banget, sih.” Dengus Navya yang langsung merangsek masuk ke dalam kamar Zinnia begitu saja. Gadis itu langsung masuk ke ruang ganti Zinnia tanpa permisi dan langsung membuka lemari dan menelisik satu persatu pakaian Zinnia. Sama sekali tidak ada sopan santun yang di tunjukkan untuk sang kakak.
__ADS_1
“Apa, sih?” Tanya Zinnia kesal.
“Pinjem baju. Baju kakak kan hitam semua. Aku mau pergi pesta ulang tahun temen dan dress codenya kaus hitam. Aku gak punya baju hitam.” Jawab Navya dengan masih terus mengobrak abrik gantungan baju kakaknya.
“Hei!” Teriak Zinnia yang sudah kesal setengah mati menahan emosi.
Navya sama sekali tidak menggubrisnya dan masih melakukan aksinya.
Dengan tidak sabar, Zinnia mencengkeram lengan adiknya kuat-kuat hingga membuat Navya terkejut dan berhenti. Ia menatap adiknya itu dengan tatapan marah dan tidak terima.
Bukan ia tidak mau meminjamkan bajunya. Tapi Navya tidak permisi kepadanya terlebih dahulu dan langsung merangsek masuk ke dalam kamarnya. Itu membuatnya kesal.
Itu membuat Zinnia merasa tidak di hargai sebagai kakak. Navya terlalu memandang remeh dirinya.
Karna begitulah yang di ajarkan oleh kedua orangtua mereka. Bahkan Navya sama sekali tak memiliki rasa hormat kepada kakaknya. Dan cenderung menyepelekannya. Karna apapun yang ia lakukan, akan mendapat pembelaan dari ayah atau ibunya. Itu membuat sikap Navya menjadi arogan terhadap kakaknya sendiri.
Navya merasa hebat dan Zinnia bukanlah apa-apa jika di bandingkan dirinya.
“Apa, sih. Aku cuma mau pinjem baju doang.” Navya menapiskan tangan Zinnia hingga terlepas. Kemudian ia kembali mengobrak abrik gantungan untuk mencari baju.
Brak!
Zinnia menutup pintu lemari dengan paksa hingga menimbulkan suara keras. Membuat Navya terkejut bukan main. Untung saja ia cepat menarik tangannya. Kalau tidak tangannya pasti sudah terluka.
“Hei! Tanganku!!!!”
“Begitukah caramu meminjam barang sama orang lain?” Tanya Zinnia yang nampak sedang menahan diri.
“Pelit banget, sih! Baru juga di minta pinjam baju!” Dengus Navya.
“Kenapa sih, ribut-ribut?” Suara Arsa mengejutkan Zinnia dan Navya. Kedua gadis itu langsung menoleh
ke arah pintu. Di sana, Arsa sudah berdiri dengan masih mengenakan pakaian dinas lengkap. Sepertinya ia baru saja pulang dari kantor saat mendengar putri-putrinya meributkan sesuatu dan langsung naik ke lantai dua.
“Ini, Ma. Navya mau pinjem baju aja pelitnya minta ampun.” Navya langsung mengadu kepada ibunya.
“Tinggal di pinjemin aja kenapa harus pada ribut dulu, sih.” Arsa bukannya menengahi malah membuat Zinnia semakin kesal.
“Ya abisnya dia langsung nyelonong aja kayak di kandang binatang. Langsung obrak abrik bajuku juga tanpa permisi. Siapa yang gak kesal, Ma.” Zinnia juga mencoba mengadu.
“Kamu ini sebagai kakak ngalah sedikit kenapa, sih. Cuma di selonongin gitu aja, marah. Dewasa sedikit jadi orang tuh.”
Zinnia hanya bisa menatap mereka dengan kesal. Ia masih menahan diri untuk tidak memulai perdebatan malam ini. Yang bahkan pemenangnya sudah bisa di tentukan sejak pertengkaran itu belum terjadi.
__ADS_1
Hari indahnya berubah buruk.