Metalmorfosis

Metalmorfosis
BAB 45. Ilusi Dari Sebuah Jurang Yang Nampak Menakutkan.


__ADS_3

Zinnia masih ternganga mendengar pengakuan Ren barusan. Tidak yakin dengan pendengarannya, ia memajukan wajahnya lebih dekat kepada Ren.


“Kak Ren bilang apa barusan?”


“Pura-pura gak denger nih ceritanya?”


“Bukan gak denger, cuma mau memastikan aja kalau kupingku gak lagi rusak.”


“Kupingmu gak rusak.”


“Kak Ren bercanda, kan? Cuma mau hibur aku supaya gak ngambek lagi, kan?” Tebak Zinnia. Membuat Ren sangat frustasi menghadapai makhluk satu ini.


Ren menghela nafas kemudian melepas sabuk pengamannya agar ia bisa leluasa bergerak. Ia mendekatkan wajahnya kepada Zinnia yang sedang menatapnya menyelidik.


Cup.


Ren mendaratkan kecupan singkat di kening Zinnia. Kemudian ia tersenyum dan membelai pipi gadis itu.


Setelah mendapatkan kecupan singkat itu, sel-sel dalam diri Zinnia langsung mogok bekerja. Membuat tubuh Zinnia sulit untuk di gerakkan. Ia hanya bisa merasakan debaran jantungnya yang seakan minta keluar dari dadanya. Pun nafasnya sudah tersengal akibat perlakuan Ren yang tiba-tiba itu. Ia mengerjap-ngerjapkan mata memandang wajah Ren yang mulai merenggang darinya.


“Udah? Sekarang udah yakin belum?” Tanya Ren.


“Maksudnya apa ya, Kak?” Tanya Zinnia dengan masih terbengong menatap Ren.


“Hahahahhaa. Ya ampun. Kamu kok gemesin banget sih jadi orang. Jadi pengen ku makan.”


“Kak Ren kanibal? Kak Ren bilang sayang sama aku cuma mau makan aku? Gitu?”


“Iya, makan kamu semalaman sampai habis gak bersisa. Hehehehehe.” Kekeh Ren. Di fikirannya sedang berputar bayangan menggelikan tentang adegan mesra di atas ranjang bersama dengan Zinnia. Otaknya tiba-tiba menjadi mesum.


Suasana kembali menegang saat Ren kembali menatap Zinnia dengan intens. Tatapan yang menyiratkan sebuah rasa tulus yang dimiliki oleh pria itu terhadap lawan jenis yang sedang menatapnya juga.


“Kamu ini di tembak kok malah bingung gitu, sih? Buat aku malu aja.” Desis Ren.


“Bentar, Kak. Aku masih kaget. Otakku masih belum nyambung ini.” Jawab Zinnia sekenanya. Sikap polosnya itu membuat Ren kembali tersenyum lucu. Rasa gemasnya meningkat pesat.


“Jadi, Kak Ren suka sama aku?”


Ren mengangguk.


“Dan ternyata Kak Ren gak punya calon istri?”


“Hahahahah. Kapan aku bilang punya calon istri? Yang ku maksud kemaren itu ya, kamu. Kamunya salah tangkap melulu.”

__ADS_1


“Ya abisnya Kak Ren bukannya ngejelasin malah cuma senyam-senyum aja. Gimana aku gak salah sangka?”


“Iya, deh. Maaf. Anggap aja ini memang salahku karna kurang terbuka tentang perasaanku. Tapi sekarang kamu udah ngerti, kan? Kalau yang aku suka itu ya cuma kamu. Gak ada yang lain.”


Zinnia terdiam. Ia menatap netra Ren untuk mencari kesungguhan. Dan ia tersenyum setelah menemukannya.


“Jadi kita pacaran, nih?” Tanya Zinnia lagi.


Ren mengangkat bahu. “Ya gak tau. Kamunya belum jawab. Nerima atau nolak aku aja, aku gak tau.” Pancing Ren.


“Kenapa aku jadi malu gini ya sama Kakak? Ya ampun...” Gumam Zinnia kembali menghadapkan tubuhnya ke arah depan. Ia bisa merasakan wajahnya yang memanas dan pastinya sudah merona.


“Jadi gimana? Diterima apa enggak nih?”


“Pake nanya segala lagi. Padahal aku yang duluan nembak Kak Ren. Tapi waktu itu Kak Ren langsung nolak aku mentah-mentah.”


“Ya karna waktu itu aku ngira kalau kamu masih sama Joham.”


“Masih? Kami gak pernah pacaran ya, Kak. Kok masih, sih? Kak Ren tuh yang salah sambung.”


“Hehehehehe. Ya udah, jadi sekarang gimana? Jadi mau pacaran apa gimana nih? Kan salah fahamnya udah kelar.”


“Ya udah, pacaran.” Seutas senyuman bahagia nampak di bibir Zinnia. Ia menunduk dengan tersipu malu.


Zinnia hanya tersenyum. Ada rasa bahagia luar biasa yang sedang menyerang lubuk hatinya saat ini. Kalau tidak menahan malu, rasanya ia akan menubruk pria itu dan menenggelamkan diri dalam pelukannya.


“Gak mau peluk?” Tanya Ren yang seakan mengerti apa yang sedang di inginkan oleh Zinnia.


Zinnia menutup wajah dengan kedua tangannya sambil menggelengkan kepala. “Enggak ah. Malu.” Jujur sekali Zinnia.


“Hadeuuh,, sekarang bilang malu. Semalam aja, langsung nyosor kayak angsa. Gak bisa lihat bibir nganggur.” Kelakar Ren.


Zinnia langsung menurunkan tangannya dan menoleh kepada Ren yang sedang mengaitkan sabuk pengamannya kembali. Ucapan Ren itu seolah meruntuhkan kepercayaannya tentang mimpinya semalam.


“Jadi, semalam aku gak mimpi?!” Tanya Zinnia terkejut sekaligus malu.


“Tega banget kamu nganggap itu mimpi. Padahal bibirku udah hampir monyong.” Seloroh Ren. Ia mulai melajukan mobilnya kembali.


“Kak Ren ih!” Dengus Zinnia kesal.


“Hahahahahaha. Tapi gak apa-apa. Aku seneng kok.”


“Kenapa tadi pagi Kak Ren gak bilang apa-apa? Kan aku jadi percaya kalau itu mimpi.”

__ADS_1


“Ya udah, mau di ulangin apa gimana? Sini..” Goda Ren yang mendekatkan pipi ke arah Zinnia.


“Apaan sih! Ih!” Zinnia mendorong tubuh Ren menjauh darinya. “Fokus aja nyetir. Gak usa macem-macem.” Ancamnya kemudian.


“Hahahahahaha. Kamu ini. Gemesin banget tau gak?”


“Tapi Kak, aku minder jadi pacarnya Kak Ren.” Lirih Zinnia tiba-tiba.


“Kenapa begitu?”


“Gak ada satu hal pun yang mahir aku lakukan. Aku ini udah bodoh, jelek, aneh, kekanak-kanakan, jualan bakso lagi. Manalah gak tamat sekolah. Kak Ren gak malu punya pacar kayak aku?”


“Gak apa-apa. Aku yang akan menutupi semua kekuranganmu itu. Kan aku pintar di semua hal. Hahahaha.”


“Ternyata Kak Ren sombong ya.”


“Hehehehehehe. Kamu ini mikirnya kejauhan. Padahal aku sendiri gak mikir sampe kesana. Memangnya kenapa kalau kamu jelek? Kan bisa di poles pake make-up.”


“Tuh, kan. Ngejek lagi. Berarti aku memang jelek dong?”


“Kamu cantik kok di mata aku...”


“Gombal.”


“Tapi seneng kan di gombalin?”


“Ih. Udah lah. Buruan cari tempat makan. Aku laper.” Zinnia mengalihkan pembicaraan hangat itu.


Sebenarnya hati Zinnia sedang melompat kegirangan saat ini. Tidak menyangka kalau perasaannya ternyata bersambut walaupun di warnai drama salah sangka segala.


Tapi rasa minder itu benar adanya. Ia merasa jauh berada di bawah standar seorang Ren. Pria mendekati sempurna yang tampan plus kaya. Ditambah dengan keluarganya yang sangat baik itu, membuat Zinnia merasa berkecil hati.


Seolah mereka berada di dua sisi jurang yang berseberangan. Walaupun jurang itu tidak dalam sama sekali, tapi ilusinya membuat tidak ada yang berani melewatinya.


Itu adalah sebuah angan akan bayangan yang terlintas di fikiran Zinnia. Dari semua kelebihan yang dimiliki oleh Ren, keluarga pria itulah yang paling membuat Zinnia minder. Mereka seolah berada di kasta yang sama tapi berbeda kenyamanan.


Entah apa yang membuat Ren menyukainya, iapun tak tau.


“Laper banget ya? Jadi diem begitu?”


“He’em. Laper banget.”


“Sebentar ya, bentar lagi sampe kok.”

__ADS_1


Zinnia mengangguk. Selebihnya, ia hanya menatapi wajah pria yang kini sudah resmi menjadi kekasihnya itu dengan seksama. Mengukir siluetnya dalam bayangan di kepalanya dan menyimpannya rapi di dalam hati.


__ADS_2