Metalmorfosis

Metalmorfosis
BAB 69. Pujian Tapi Kok Menyakitkan.


__ADS_3

Setelah mengambil kado dari mobil, Ren mengajak Zinnia untuk menemui Ranu dan istrinya yang masih di make up di dalam kamar. Zinnia nampak sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Ranu. Adik kekasihnya yang seorang konten kreator terkenal.


“Isinya apa sih? Gede banget.” Tanya Ren sambil menempelkan telinga ke kotak kado yang ia bawa.


“Rahasia dong.”


Ren mencibir. Padahal ia sangat penasaran dengan isi kado yang lumayan besar itu.


Tok, tok, tok.


Ren mengetuk pintu kamar. Setelah itu ia membukanya dan melongokkan kepalanya.


“Boleh masuk gak, nih?” Ujar Ren.


“Ya elah. Pakai tanya lagi. Masuk aja, Bang.” Ujar Ranu yang sudah siap dengan penampilannya. Sementara Mia, istrinya masih di poles oleh MUA.


Ren tersenyum dan menggandeng Zinnia masuk ke dalam. Mereka di sambut oleh tatapan antusias Ranu kepada Zinnia.


“Wiiih. Ini baruuu..” Seloroh Ranu yang langsung bangun dari duduknya dan berjalan mendekati Ren dan Zinnia.


“Kenalin, calon kakak iparmu. Dan ini kado dari dia.” Ujar Ren yang menyerahkan kado yang ia bawa kepada Ranu.


“Wahhh. Makasih banyak calon kakak ipar. Hehehehe. Aku Ranu.” Ranu memperkenalkan diri dengan menyalami Zinnia.


Zinnia menyambutnya dengan tersenyum lebar. Terus menatap dengan tatapan berbinar kepada Ranu.


“Aku Zinnia. Salam kenal, Ranu. Wahh ternyata aslinya lebih ganteng dari di TV dan foto.”


“Udah kenalannya.” Hardik Ren yang memaksa Zinnia dan Ranu mengakhiri salaman mereka. Ia menarik tangan kekasihnya itu.


“Ya ampun. Gitu doang...” Gerutu Ranu sambil terkekeh geli.


Zinnia ikut tertawa. Kemudian ia berjalan ke arah Mia yang baru saja selesai di make-up.


“Selamat ya, Mia. Atas pernikahannya.” Ujar Zinnia ramah.


Mia juga tak kalah ramah. Wajah ayu dalam balutan pakaian adat jawa menambah kesan keanggunanya.


“Makasih banyak, Kak. Semoga cepet nyusul ya.” Doa tulus dari Mia.


“Amin. Hehehehe.”


“Udah, jangan lama-lama ganggu bumil.” Seloroh Ren lagi.

__ADS_1


Zinnia jadi ternganga mendengarnya. “Udah hamil? Ya ampun. Selamat lagi deh.” Kali ini Zinnia memegang tangan Mia dengan erat. Tiba-tiba ia merasa sangat senang.


“Sehat-sehat ya baby. Sampai ketemu beberapa bulan kemudian.” Ujar Zinnia tidak malu-malu mengusap bagian perut Mia.


Semua orang yang melihat tingkah Zinnia hanya bisa tertawa saja. Gadis cantik itu tetaplah Zinnia walaupun dengan ‘casing’ yang berbeda.


Selesai memberi selamat, Ren dan Zinnia lantas keluar dari kamar Ranu dan Mia. Karna mereka juga sudah harus di pajang di pelaminan.


“Istrinya Ranu cantik banget ya, Kak.”


“Bagi aku biasa aja. Lebih cantik kamu.”


“Idiih. Di ajak ngomong serius juga.”


“Ya ini juga serius.”


Zinnia melengos dan memeprcepat langkahnya masuk ke dalam ballroom pesta. Namun tiba-tiba ia menghentikan langkahnya saat di hadapannya ada ayah dan ibunya yang nampaknya juga baru saja datang.


“Navya mana?” Tanya Arsa kemudian. Ia mengedarkan pandangannya untuk mencari anak kesayangannya itu.


“Lagi sama temen-temennya, Ma.” Jawab Zinnia.


Sekilas, Ren yang berdiri di samping Zinnia mengangguk hormat kepada kedua orangtua gadis itu. Ia mengembangkan senyuman ramah kepada mereka. Walaupun Hanafi nampak celingukan membuang pandangannya. Ia merasa malu dengan Ren rupanya.


Arsa dan Hanafi hanya mengangguk sambil tersenyum.


Seseorang menepuk punggung Ren dan membuat pria itu langsung menoleh. Ternyata itu adalah Arnav dan Haris.


“Zinnia, aku kesana sebentar ya.” Pamit Ren kemudian. Sebenarnya ia ingin mengajak Zinnia untuk ikut serta. Tapi ia merasa sangat tidak sopan saat ada orang tua Zinnia disana.


“Iya, Kak.” Zinnia mengangguk setuju.


Zinnia hanya mengikuti Ren dengan ekor matanya. Merasa canggung atas keberadaannya bersama dengan orang tuanya sendiri.


“Mama sama Papa baru datang?” Zinnia mencoba memecah kecanggungan.


“Dari dulu kamu begini kan cantik. Bukan kayak anak gak di urus.” Celetuk Arsa. Entah itu pujian atau apa? Tapi kok rasanya menyakitkan hati Zinnia.


“Itu tadi siapa?” Tanya Hanafi. Kali ini, suara yang keluar dari mulut pria itu terdengar nyaman di telinga Zinnia. “Pacar kamu?”


Zinnia hanya tersenyum saja. Tidak ingin menjawab karna ingatan malam itu kembali berseliweran di kepalanya.


Kalau mengingat kejadian malam itu, ia malu saat melihat pertemuan ini. Ia malu kepada Ren. Entah,  bagaimana ia akan menghapus rasa malu yang bahkan masih brecokol di dalam hatinya hingga kini.

__ADS_1


“Pak Hanafi!” Pekik suara seorang pria yang datang dari arah samping. Pria tua yang mengenakan pakaian formal sambil memegangi tongkat itu mengangkat tangan ramah kepada Hanafi. Ia tersenyum lantas menyalami Hanafi.


“Oh, Pak Fandi. Apa kabar, Pak?” Tanya Hanafi yang terlihat akrab dengan Fandi. Ia menyambut uluran tangan Fandi sambil tertawa Renyah.


“Baik, baik. Cuma ya begini. Maklum sudah tua.” Seloroh Fandi lagi.


“Ya, ya. Tidak apa-apa. Yang penting sehat. Sudah tenang kan sekarang udah ada yang ngurus bisnis.” Seloroh Hanafi lagi.


“Ya begitulah. Tapi ya itu, masih belum mau nikah-nikah.”


Pembahasan antara dua pria itu sangat membosankan. Hubungan pebisnis dan politisi itu ternyata cukup dekat. membuat malas mendengarkan. Itulah yang dirasakan Zinnia. Ia hanya memperhatikan saja tanpa berniat untuk menyapa Fandi. Ia masih takut Fandi akan menggertaknya lagi.


“Wah, cantik sekali. Ini siapa?” Tanya Fandi. Di luar dugaan ia menanyakan tentang Zinnia. Gadis itu hanya mengernyit heran. Bukankah mereka sudah pernah bertemu? Lantas kenapa Fandi malah menanyakannya? Apa ia begitu berbeda malam ini?


“Oh, ini putri sulung saya, Pak.” Hanafi memperkenalkan.


“Gak nyangka Pak Hanafi masih punya putri yang cantik begini. Saya cuma taunya Navya. Wajarlah ya mereka cantik-cantik, soalnya bibitnya juga udah unggul. Latar belakangnya juga baik dan hebat.” Celetuk Fandi lagi.


Entah kenapa mendengar itu rasanya Zinnia ingin  tertawa terbahak-bahak.


Bibit unggul?


Latar belakang hebat?


Astaga, itu lucu sekali. Padahal waktu itu Fandi sangat meremehkannya karna penampilannya.


Niat jahil muncul di benak Zinnia. Ia ingin mengerjai orang tua itu dan berpura-pura tidak mengenalnya. Ia ingin memberi pelajaran kepada orang yang hanya melihat penampilan dan latar belakang seseorang.


Lalu, Zinnia tersenyum dan mengangguk ramah kepada Fandi.


“Kakek punya cucu yang ganteng, gak? Kenalin dong, Kek.” Ujar Zinnia dengan menahan senyum.


“Ooh. Ada, ada. Nanti Kakek kenalin. Dia ganteng, baik, pinter. Dia juga sekarang yang jadi Direktur Utama di perusahaan Kakek.” Fandi menceritakan dengan berapi-api. Ia melihat kemungkinan perjodohan disini.


Lagi-lagi, Zinnia mengu lum senyum geli. Bisa-bisanya Fandi sama sekali tidak mengenalinya.


“Ya ampun. Maafin anak ini ya, Pak. Ngomongnya memang selalu ceplas ceplos begini.” Ujar Arsa yang merasa malu dengan tingkah Zinnia. Sisi anggunnya keluar. Seperti yang selama ini orang lain lihat.


“Oh, gak apa-apa. Malah bagus itu. Dia tipe anak yang menyenangkan.”


Sudah, Zinnia hampir tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa terbahak-bahak. Tapi ia masih ingin mengerjai pria tua itu. Kesal sekali rasanya kalau mengingat ia dua kali di sepelekan oleh Fandi.


__ADS_1


__ADS_2