Metalmorfosis

Metalmorfosis
BAB 68. Pengakuan Atas Hak Milik.


__ADS_3

Mobil Navya sudah memasuki area hotel tempat diadakannya acara ngunduh mantu pesta pernikahan Ranu. Tempat parkir nampak sudah di penuhi oleh kendaraan.


“Aku gak pede.” Ujar Zinnia yang merasa ragu untuk turun dari mobil.


“Jadi mau disini aja?” Tanting Navya.


Dengan berkali-kali menghela nafas, akhirnya Zinnia memberanikan diri untuk turun.


Berdua berasma dengan Navya, Zinnia berjalan masuk ke dalam hotel menuju ke ballroom. Sesampainya di depan ballroom, nampak Ren yang sedang menyapa para tamu dengan ramah bersama dengan ayahnya.


Zinnia menghentikan langkahnya. Namun Navya terus menggeretnya.


“Pak, Ren.” Panggil Navya.


Sementara Zinnia tidak berani menatap Ren. Ia malu dengan penampilannya yang seperti ini. Hatinya deg-degan luar biasa.


“Oh, Navya. Udah datang? Langsung masuk aja.” Ren mempersilahkannya.


Lama kelamaan, Zinnia mengangkat wajahnya. Melihat kepada Ren yang sama sekali tidak mempedulikannya. Hatinya jadi pias dan kesal setengah mati. Senyuman yang tadi bergelayut perlahan menghilang.


Sepertinya Ren tidak mengenali Zinnia. Pria itu bahkan berjalan melewatinya untuk menyapa tamu yang lain.


Hal itu langsung membuat Navya ikut syok melihatnya.


“Kalian marahan, apa Pak Ren gak kenal sama Kakak?” Gumam Zinnia.


Zinnia terdengar hanya mendengus kesal saja. Melirik tajam kepada Ren yang sama sekali tidak mempedulikannya.


“Navya!” Pekik salah seorang rekan kerja Navya. Dua gadis itu langsung berjalan mendekati Navya.


“Kalian juga udah datang?” Sapa Navya.


“Udah. Ini siapa? Kayak pernah lihat?”


“Ini Kakakku.”


“Kakakmu? Apa kita pernah ketemu? Kok wajahnya familiar gitu ya?”


“Ya jelas pernah ketemu. Yang jualan bakso di Pak Jaya.” Jelas Navya.


Hal itu sontak membuat Zinia menoleh kepada Navya. Mengalihkan perhatiannya karna kesal dengan Ren.


“Ooh. Itu Kakakmu? Ya ampun. Pantesan kayak familiar gitu.”

__ADS_1


Zinnia memaksa senyumannya untuk muncul. Heran dengan yang Navya katakan. Sepertinya adiknya itu benar-benar sudah berubah. Tidak lagi gengsi mengakuinya sebagai kakaknya.


Rasa bahagia seketika muncul di dalam hati Zinnia. Ia bangga di perkenalkan sebagai kakak oleh Navya. Ternyata rasanya semenyenangkan ini. Seutas senyum tersungging di bibir ranumnya.


“masuk, yuk.” Ajak Navya kemudian.


Walaupun canggung, Zinnia mengikuti Navya dan teman-temannya. Ia berjalan di belakang sambil menundukkan wajahnya. Masih kecewa dengan reaksi Ren yang nampak tak acuh padanya. Seketika ia menyesal karna sudah datang kesana.


Kenapa Ren mengacuhkannya? Tidak menyambutnya hangat seperti tamu yang lain? Tidak mungkin Ren tidak mengenalinya, kan?


Zinnia asyik dengan fikirannya sendiri. Merasakan kecewa yang membuat nyeri di ulu hatinya.


Saat tiba-tiba sebuah tangan menggenggam erat tangannya. Membuat Zinnia menoleh kesamping.


“Ayo, udah di tungguin Mama dari tadi.” Ujar Ren dengan senyum mematikannya.


Zinnia ternganga. Otaknya sedang kacau. Sesaat yang lalu ia sedang sibuk dengan kecewanya. Dan saat ini ia heran melihat Ren sudah ada di sampingnya dan menggenggam tangannya. Zinnia hanya bisa menatap Ren bingung.


Ren terus menggenggam tangan kekasihnya itu untuk masuk ke dalam ballroom. Beberapa orang nampak memperhatikan mereka tapi Ren tidak menggubrisnya.


Zinnia masih merasa kesal pada Ren. Ia menarik tangannya sampai terlepas dari genggaman Ren. Menghentikan langkah dan menatap sambil merengut kepada pria itu. Untungnya mereka sedang berada di lorong menuju ke ruangan tempat Esta berada. Jadi tidak ada yang memperhatikan mereka.


“Kenapa?” Tanya Ren heran. Ia berbalik mendekati Zinnia.


“Hehehehe. Mana mungkin aku gak kenal sama kamu. Tadi tuh aku cuma lagi berusaha buat nenangin hatiku aja.”


“Nenangin?”


“Soalnya jantungku hampir lompat pas lihat kamu datang bareng Navya. Mana cantik banget begini lagi. Aku kelabakan, tau. Daripada aku pingsan disana, mending aku perhatikan hal lain dulu.” Jelas Ren panjang.


Wajah kesal Zinnia berubah menjadi merona. Ia tersenyum simpul sambil menundukkan wajahnya.


“Lagian, siapa suruh sih, dandan secantik ini? Buat aku makin berdebar aja. Mana orang pada lihatin kamu lagi.”


“Gombal.”


“Kali ini serius. Bukan gombal.” Ujar Ren. “Sini, peluk dulu. Biar orang tau kalau kamu itu punyaku.” Ujar Ren sambil merentangkan kedua tangannya.


Zinnia semakin merona. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk melihat apa ada orang lain selain mereka.


Setelah memastikan keadaan aman, Zinnia segera menyambut dan merangsek ke dalam pelukan Ren. Tapi hanya sebentar. Soalnya ia takut ada orang lain yang melihat.


“Kok udah?” Protes Ren yang belum puas memeluk Zinnia.

__ADS_1


“Nanti ada yang lihat. Malu.”


“Biarin aja. Kan udah kubilang. Supaya mereka tau kamu pacarku. Dan gak ada yang berani godain gadis cantik ini lagi.” Ujar Ren. Ia kembali menarik lengan Zinnia dan menenggelamkannya kedalam pelukannya.


Zinnia ingin memberontak dan menolak perlakuan itu. Tapi tubuhnya berkata lain. Ia malah menikmati dekapan Ren yang hangat.


Setelah puas, Ren baru melepaskan pelukannya. Itupun setelah terdengar suara ramai yang terdengar dari ujung koridor.


“Zinnia!!” Pekik Esta yang sudah terbalut kebaya manis berwarna biru. Senada dengan pelaminan dan dekorasi pesta yang sempat di lihat Zinnia sebelumnya.


“Tante.” Ujar Zinnia yang tersenyum kepada Esta.


“Ya ampun, kamu cantik banget. Tante fikir tadi Ren lagi selingkuh sama cewek lain. Rupanya kamu. Padahal tadi Tante udah siap mau jewer telinganya.” Seloroh Esta.


“Hahahahaha.” Zinnia tertawa sambil melirik kepada Ren. Sementara Ren nampak terkejut dengan ucapan ibunya itu.


“Mama kok gitu sih? Aku tuh setia, Ma.” Dengus Ren.


“Hahahahaa. Iya, maaf deh. Baru dateng apa gimana?” Tanya Esta pada Zinnia.


“Iya, Tante.”


“Sama siapa? Papa Mama datang juga, kan?”


“Katanya datang, Tante.”


Esta mengangguk. Ia memang sengaja mengundang keluarga Zinnia untuk lebih mengenal mereka. Lagipula Zinnia adalah kekasih Ren.


Sementara ibu Zinnia, hanya menganggap kalau itu adalah undangan karna Navya bekerja di perusahaan mereka. Tidak berfikir kalau Zinnia punya hubungan spesial dengan putra sulung FD Corp itu.


“Ya udah, di enakin aja ya. Tante mau ke depan dulu. Mau nyapa keluarga yang datang. Ren, jagain Zinnia awas kalau di tinggal-tinggal.” Ancam Esta sebelum meninggalkan mereka.


Ren hanya terkekeh saja mendengar ancaman ibunya. Kemudian ia malah melingkarkan tangannya ke pundak Zinnia dan merangkulnya.


“Mana mungkin aku tinggalin cewek secantik ini. Bisa gak tenang aku nanti.” Gumam Ren kemudian. Dan Zinnia mendengar semuanya.


“Ya ampun, Kak. Aku lupa.” Ujar Zinnia sambil menepuk keningnya sendiri.


“Kenapa?”


“Kadonya masih ada di mobil Navya.”


“Kirain kenapa. Ya udah ayo. Aku temenin ambil kadonya.”

__ADS_1


Dan keduanya lantas berjalan kembali ke dalam ballroom untuk mencari Navya. Untungnya gadis itu masih ada disana bersama dengan teman-temannya. Zinnia lantas meminta kunci mobil untuk mengambil kado yang ia tinggalkan. Tentu saja dengan di temani oleh Ren yang tidak mau melepaskan genggamannya sedikitpun.


__ADS_2