
Di keluarga Ren, mereka sama sekali tidak peduli dengan latar belakang orang lain. Bagi mereka, semua manusia sama baiknya walaupun punya sisi buruk masing-masing. Terlebih Esta. Ia mengajari anak-anaknya untuk tidak serta merta menghakimi orang tanpa tau penyebab pastinya.
Ren dan Zinnia sedang duduk di tepian kolam sambil menyantap mi cup di tangan masing-masing. Sesekali mereka mentertawakan kelakuan Rai yang terus menerus menggoda istrinya hingga kadang-kadang membuahkan pukulan di bahunya.
“Kelihatan kalau Om sayang banget sama Tante...” Desis Zinnia.
“Emang. Papa sayang banget sama Mama. Soalnya dulu Papa harus berjuang buat dapetin Mama.” Jelas Ren.
“Romantis banget.”
“Seumur hidupku, aku belum pernah liat Papa marah sama Mama. Tapi entah juga pas di belakangku. Tapi kayaknya kemungkinannya kecil, soalnya Papa bahkan gak pernah ninggiin suara sama Mama.”
Beruntung sekali Esta mempunyai suami seperti Rai, fikir Zinnia. Sangat berbeda dengan ayahnya yang sudah berapa kali menikah diam-diam di belakang ibunya. Pun ibunya, yang sudah entah berapa banyak kekasihnya di luaran sana.
Kedua orangtua Zinnia sangat berantakan. Tapi tidak banyak orang yang tau kalau pernikahan mereka sudah banyak retaknya. Hanya Zinnia, Navya, dan beberapa keluarga dekat saja yang tau. Mereka masih tinggal di bawah atap yang sama hanya karna sebuah status dan tuntutan sosial karna pekerjaan.
“Malah ngelamun.” Ren menyenggol lengan Zinnia karna gadis itu sepertinya sedang memikirkan hal lain.
Sebenarnya, Ren tidak suka membahas tentang keluarga dengan Zinnia. Ia tau sedikit banyak akan menyakiti gadis itu. Tapi ia tetap tidak bisa mengabaikannya saat Zinnia menguliknya.
“Kenyang, Kak.” Ujar Zinnia setelah melihat ke arah cup mi yang masih berisi setengahnya. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa bosan memakan mie itu.
Zinnia meletakkan cup mienya di sampingnya. Ia sudah tidak berniat untuk menghabiskannya lagi.
“Calon Kak Ren nanti pasti gak jauh-jauh dari Tante Esta..” Kata Zinnia sambil memaksakan senyumannya. “Soalnya kan, kata orang, kalau cowok itu cari istri yang mirip mamanya.”
“Gak juga. Aku bahkan gak pernah kefikiran sampe kesana. Siapapun nanti jodohku, aku udah ikhlas nerimanya. Gak harus kayak Mama. Karna setiap orang berhak hidup dengan caranya sendiri.”
Zinnia semakin yakin, kalau calon yang di maksud oleh Ren pastilah gadis yang sangat baik sikapnya.
Dan tiba-tiba Zinnia merasa iri dengan sosok yang sedang ada di dalam bayangannya saat ini. Ia iri karna Ren nampaknya begitu menyayangi calonnya itu.
“Kita udahan, yuk. Tangan Mama udah keriput, ini.” Ujar Esta yang baru saja naik dari air.
Ren dan Zinnia mengangguk. Kemudian menyetujui untuk menyudahi liburan mereka kali ini. Lagipula, hari sudah lewat tengah hari.
*****
__ADS_1
Ren menghentikan mobilnya di halaman villa untuk membiarkan semua penumpangnya turun. Baru setelah itu ia kembali memajukan mobil masuk ke dalam garasi.
Zinnia melenggang ke arah samping villa setelah melihat Ramadhan yang tengah sibuk membersihkan rumput di sekitar tanaman hias yang ada di sana. Gadis itu langsung berjongkok di samping Ramadhan yang tidak menyadari kedatangannya.
“Kampret!” Pekik Ramadhan yang terkejut dengan sosok Zinnia di sebelahnya. Dadanya sudah naik turun menahan jantung yang hampir saja melompat keluar.
“Sialan kamu, Zinnia. Bilang-bilang dong kalau datang!” Dengus Ramadhan yang masih kesal dengan Zinnia.
“Hhehehehe. Kirain kamu udah tau kalau ini aku. Lagi ngapain sih, serius amat?”
“Lagi semedi.”
Zinnia mencibiri Ramadhan karna tidak menjawab pertanyaannya. Tapi ia kembali melihat-lihat tanaman yang ada disana.
“Ini buah apa? Aku gak pernah lihat.” Tanya Zinnia sambil memegangi buah yang mirip rambutan namun ukurannya sedikit lebih besar dan berwarna hijau.
“Rambutan.” Jawab Ramadhan sekenanya.
Pasti ini rambutan varian baru, fikir Zinnia.
“Enak?”
“Jangan di ma......” Ramadhan tidak berhasil menyelesaikan kalimatnya karna sudah terlambat.
“Hemm.. Gak enak. Apa karna masih mentah?” Tanya Zinnia dengan terus mengunyah buah itu dan menelannya.
“Hei! Kenapa kamu makan itu?!!” Pekik Ramadhan yang tiba-tiba menjadi panik sendiri. Ia langsung merampas sisa buah itu dari tangan Zinnia dan memelototi gadis itu. Karna yang dimakan oleh Zinnia itu adalah buah kecubung. Buah yang bisa menyebabkan mabuk dan berhalusinasi jika dimakan.
Zinnia hanya melongo saja sata dimarahi oleh Ramadhan. Ia menatap pria itu dengan tatapan yang sayup dan tidak fokus.
“Hehehehehehe.” Zinnia malah tertawa setelah melihat wajah Ramadhan yang mulai peyot ke kiri. Lantas iapun menurunkan kepalanya ke kiri.
“Zinnia!!” Panggil Ramadhan yang mulai merasa tidak enak.
Dari dalam, Ren mendengar teriakan Ramadhan. Dan ia bergegas untuk keluar dan melihat apa yang terjadi.
“Kenapa, Dhan?” Tanya Ren.
__ADS_1
“Itu... Zinnia...” Tunjuk Ramadhan kearah Zinnia yang sedang berlari tunggang langgang mengejari bebek angsa peliharaan Mang Bardi.
“Mbak April!!! Jangan lari!! Kita foto dulu!!! Aku penggemar beratmu!!!” Pekik Zinnia yang masih mengejari angsa.
Sepasang angsa coklat itu nampak ketakutan dan hendak melawan kepada Zinnia. Namun setelah melihat Zinnia yang lebih agresif daripadanya, angsa itu justru berlari menghindari Zinnia.
“Kenapa, dia?” Tanya Ren heran.
“Zinnia gak sengaja makan kecubung, Den.” Jelas Ramadhan.
“hah?! Kok bisa?”
Ramadhan hanya bisa mengerutkan keningnya saja. Tidak tau harus menjawab apa.
“Zinnia!!!” Panggil Ren yang langsung mengejar Zinnia untuk menghentikan gadis itu. Tapi entah kenapa langkah kaki Zinnia kali ini lebih gesit dari sebelumnya.
Esta dan Rai yang mendengar keributan itu juga langsung keluar untuk melihat. Begitu juga dengan Mang Bardi dan istrinya. Mereka semua langsung ternganga melihat dua orang yang sedang mengejari angsa di ladang samping.
“Mereka itu kenapa, Dhan?” Tanya Rai.
“Zinnia gak sengaja makan buah kecubung, Pak.” Jelas Ramadhan.
“Lhah? Kok bisa? Terus itu Ren juga makan?”
Ramadhan menggelengkan kepala. “Enggak, Bu. Itu si Aden cuma mau nyusul Zinnia aja.”
“Mbak April!!!” Pekik Zinnia lagi. Ia masih mengejari ‘April Lavinge’. Idolanya yang sangat ingin ia temui. “Foto dulu!!!”
“Ya ampun. Hahahahahahaha.” Esta tidak bisa menahan diri dengan kelakuan Zinnia. Begitu juga dengan yang lainnya.
“Mbak April!! Jangan lari!!!”
Kelakuan Zinnia benar-benar diluar dugaan. Selalu ada hal yang mengejutkan dari gadis itu hingga membuat mereka tertawa terpingkal-pingkal. Sikap Zinnia sama sekali tidak bisa di prediksi.
Melihat Zinnia yang seperti itu, tidak ada yang menyangka kalau gadis itu menyimpan setumpuk luka di hati dan kenangannya. Dalam bahtera yang ia naiki, layarnya sudah terkoyak dan terombang ambing tanpa arah. Tidak ada yang mengemudikan bahtera itu. Bahkan pemilik bahtera yang merupakan ayah dan ibunyapun, sudah tidak peduli kemana angin akan membawa mereka. Entah alam akan menepikannya ke daratan, atau justru menenggelamkannya kedasar samudera kehidupan, tidak ada yang tau. Zinnia hanya berusaha bertahan seorang diri dengan seluruh kemampuan yang ia miliki.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1
*like sama komennya ya wargaaa...