Metalmorfosis

Metalmorfosis
BAB 70. Jurus Belas kasih. Pukulan Telak.


__ADS_3

Zinnia masih sibuk dengan ajang balas dendamnya. Ia terus melemparkan umpan kepada Fandi yang ternyata masih belum mengingatnya. Dalam hati ia tertawa terbahak-bahak.


“Kalau boleh, saya ingin memperkenalkan mereka berdua. Apa boleh, Pak?” Tanya Fandi yang seperti mendapat angin segar dalam menjodohkan cucunya. Dapat anak pejabat. kan lumayan.


“Kalau anaknya gak keberatan sih kami juga gak keberatan, Pak.” Jawab Arsa sumringah.


Bukan apa. Sudah lama Fandi mendesak mereka menjodohkan Ren dengan Navya. Arsa tidak setuju karna masih ingin putri kebanggannya itu mengejar ambisinya. Sebuah keuntungan jika Fandi menawari perjodohan dengan Zinnia.


“Kamu mau gak jadi pacarnya cucuku?” Tanya Fandi kemudian.


Zinnia terkekeh pelan dengan mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Hampir saja ia terbahak mendapat pertanyaan itu.


“Kalian makan aja dulu. Saya mau ngobrol sama anak cantik ini.” Fandi mengusir Arsa dan Hanafi. Ia punya maksud terselubung yang di tertawai oleh Zinnia. Karna tujuannya sudah jelas.


Sepeninggalnya Arsa dan Hanafi, Fandi mengajak Zinnia untuk duduk. Dan Zinnia tetap mengikuti permainannya.


“Jadi siapa namamu tadi?” Tanya Fandi memulai aksinya.


“Nashira, Kek.” Jawab Zinnia dengan bernada seanggun mungkin.


“Umurmu sekarang berapa?”


“25 tahun.” Zinnia menjawab wawancara menggelikan itu dengan terus mengembangkan senyuman.


“Masih muda. Tapi gak apa. Gak jauh-jauh banget dari cucuku. Udah kerja?”


“Udah, Kek.”


“Oh ya? Kerja dimana?” Fandi nampak semakin antusias


mendengarnya.


“Di PT Jaya.”


“PT Jaya? Perusahaan apa itu?”

__ADS_1


“Perusahaan bidang makanan, Kek. Saya manajer langsung pimpinannya.” Zinnia bercerita seolah ia bekerja di perusahaan yang besar. Ia benar-benar belum puas mengerjai Fandi.


Fandi nampak mencari-cari nama PT Jaya didalam memorinya. Tapi seberapapun ia mencari, ia tetap baru mendengar nama PT Jaya.


“Kakek mungkin belum tau. Soalnya itu perusahaan baru.” Zinnia beralasan lagi.


Dalam hati, Zinnia merasa geli sendiri dengan tingkahnya itu. Sebenarnya ia takut jika Ren melihat mereka dan tau ia sedang mengerjai kakeknya. Tapi dorongan untuk membalas dendam itu tidak bisa ia singkirkan. Dan pula, ia tidak ingin membuang kesempatan emas itu. Kurang ajar memang, tapi masa bodo.


“Kakek harap semoga kamu suka sama cucu Kakek, ya. Soalnya Kakek udah capek cariin dia jodoh. Kakek minta tolong, tolong luluhkan hati cucu Kakek.” Mohon Fandi kemudian.


“Kakek tenang aja. Aku punya pesona tersendiri. Dan cucu Kakek pasti klepek-klepek sama aku nanti.”


“Hahahahha. Bagus itu.” Fandi nampak sangat senang.


“Tapi, memangnya cucu Kakek gak punya pacar?”


“Untuk sekarang gak ada. Makanya itu Kakek frustasi mikirin anak satu itu. Adiknya aja udah mau punya anak. Dia malah asyik main-main aja. Pacaran gak jelas. Terakhir kakek kenalin sama anaknya Pak Gubernur juga dia nolak. Udah abis akal Kakek.” Rengek Fandi. Ia sedang mengeluarkan jurus belas kasih. Berharap Zinnia akan kasihan dan memihaknya.


Sungguh. Rasanya sangat menggelikan. Sepertinya Zinnia sudah tidak tahan untuk melanjutkan sandiwara ini. Hatinya terus menggelitik dan mendesaknya untuk tertawa.


“Oh, itu cucu Kakek. Ganteng kan?” Tanya Fandi menunjuk ke arah Ren yang sedang berjalan kearah mereka. Menatap serius kepada keduanya. Sekilas, Zinnia bisa melihat kilatan kemarahan di mata Ren.wajahnya serius dan sangar. Bahkan keningnya sampai mengkerut segala.


Fandi yang melihat adegan itu hanya bisa menatap bingung kepada keduanya.


“Kakek ngomong apa sama dia?” Tanya Ren lagi. Sementara Fandi masih belum mengerti dengan situasinya.


“Kak...” Lirih Zinnia.


“Kalian udah kenal?” Tanya Fandi bingung.


Sementara Ren mengernyit heran dengan pertanyaan sang kakek. “Dia ini pacar aku, Kek.” Kata Ren.


Dan akhirnya Fandi ternganga tidak percaya. Ia menelisik wajah Zinnia yang di poles sedikit itu dengan seksama. Dan ia nampak menghela nafas ketika menyadari siapa Zinnia. Lantas ia menatapi Zinnia dari ujung kepala hingga ujung kaki.


“Pacar yang kamu bawa ke rumah sakit kemarin itu?” Fandi ingin memastikan.

__ADS_1


“Iya.”


Wajah Fandi seketika memerah. Ia malu sekaligus merasa konyol. Menatap marah kepada Zinnia.


Sebenarnya Fandi merasa sangat malu kepada Zinnia. Bagaimana ia tidak malu setelah semua yang dia katakan kepada gadis itu? Itu merupakan sebuah pukulan telak untuk Fandi.


“Kenalin, Kek. Aku Zinnia. Pacarnya Kak Ren. Anaknya Bu Arsa dan Pak Hanafi. Yang punya bibit bagus dan latar belakang hebat.” Seloroh Zinnia kemudian. Menatap puas karna bisa membalaskan kekesalannya waktu itu.


“Kamu....” Fandi sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Bahkan untuk bangun dari duduknyapun, lututnya rasanya lemas.


“Sekedar saran, Kek. Tolong jangan suka menilai orang dari penampilannya sebelum tau seperti apa dalamnya.” Ujar Zinnia kemudian.


Fandi ternganga. Ia merasa seperti sedang di permainkan oleh gadis itu. Ia merasa seperti sedang di pukuli habis-habisan oleh Zinnia. Gadis pirang yang sangat ia benci kemarin. Dan hari ini, ia memohon untuk mendapatkan cucunya. Harga dirinya seperti sedang terbanting dengan sangat keras. Membuatnya malu tak terkira.


“Ayo. Ajak Ren kemudian menarik dan menggenggam tangan kekasihnya itu pergi dari hadapan sang kakek. Meninggalkan Fandi yang hanya bisa ternganga dengan wajah keriputnya yang memerah malu.


Ren mengajak Zinnia untuk berfoto bersama dengan keluarganya. Mereka nampak sangat akrab. Hal itu membuat Arsa dan Hanafi sangat terkejut. Ternyata putri sulungnya itu mempunyai hubungan spesial dengan putra


sulung Rai dan Esta. Padahal sebelumnya Arsa fikir, Navyalah yang spesial sebagai bawahan Ren. Ternyata dia salah. Mereka di undang bukan karna Navya, tapi karna Zinnia.


“Uuuh. Calon mantu Tante ini cantik banget sih.” Seloroh Esta saat mereka masih berada di atas pelaminan.


“Aku ngerasanya aneh, Tan.”


“Mana ada aneh. Tambah cantik, iya. Ya kan Nak?” Tanya Esta kepada Ren.


“Pasti dong, sayang. Gak lihat kamu dari tadi matanya Ren udah mau lepas ngelihatin Zinnia?” Rai ikut berseloroh.


“Cewek secantik ini, buruan di halalin, Bang. Soalnya banyak yang ngincer.” Timpal Ranu kemudian.


Sementara Zinnia hanya bisa tersenyum sipu mendapat pujian itu. Dan suasana di atas pelaminan nampak hangat dan membahagiakan.


“Jangan lama-lama ya, Mbak. Biar anakku ada temennya nanti.” Ternyata Mia juga ikut berseloroh.


“Udah, ah. Pacarku jadi malu di gangguin terus begini.” Ujar Ren yang kemudian menarik Zinnia menyingkir dari pelaminan. Mengembangkan senyuman bahagianya sambil melewati para tamu undangan yang hadir.

__ADS_1


Ren mengajak Zinnia keluar dari ballroom. Karna semakin banyak tamu yang hadir membuat suasana sedikit riuh.


Zinnia melihat kepada Fandi dan tersenyum saat mereka melewati pria itu. Jelas ia sedang menampakkan kepuasannya karna sudah berhasil mengerjai Fandi. Memang kurang ajar. Dan Zinnia menyadari hal itu. Untungnya itu berhasil membuat rasa kesalnya kepada Fandi menghilang.


__ADS_2