
Ren membelokkan mobil ke sebuah restoran bergaya timur tengah. Ia segera memarkirkan mobilnya di tempat parkir.
“Yuk turun. Kita makan disini aja.” Ajak Ren sambil melepas sabuk pengaman yang melilit di perutnya.
Zinnia keluar dari mobil kemudian menutup pintu mobil. Ren datang dan langsung menggenggam tangan Zinnia dengan mesra. Tidak ada kecanggungan yang terasa. Seperti sudah sering melakukannya saja.
Berbeda dengan Ren, Zinnia sedang dipenuhi ladang bunga di hatinya. Tapi ladang itu terasa canggung dan membuatnya malu. Ia hanya menundukkan kepalanya saja sambil terus mengikuti kemana Ren membawanya.
“Mau duduk dimana?” Tanya Ren.
“Disana aja.” Tunjuk Zinnia ke sebuah meja yang berada di pojok ruangan.
Setelah mereka duduk, seorang pelayan menghampiri dan manawarkan buku menu kepada mereka.
Zinnia sedang menimbang-nimbang makanan apa yang akan ia pesan. Karna semua nampak sangat lezat di matanya.
Akhirnya, Zinnia memesan nasi kebuli. Dan Ren sengaja mengikutinya. Iapun memesan menu yang sama dengan Zinnia.
Selama makan, tidak ada yang berbicara. Zinnia masih merasa canggung kepada Ren yang terus-menerus mencuri pandang padanya. Membuat hatinya semakin berdebar saja.
“Kak, jangan lihatin aku terus.” Protes Zinnia tanpa berani melihat ke arah Ren. Ia setia menatapi piring kosong bekas makannya.
Ren terkekeh kecil. Saat ini ia benar-benar sangat ingin mencubiti pipi Zinnia. Rasanya gemas seakli.
Senyuman dan rasa gemas itu muncul karna perasaan bahagia yang sedang melanda Ren. Kalau mengingat drama kecemburuan Zinnia, ia merasa sangat lucu sekali. Ia bahkan tidak sempat berfikir ke arah sana. Tidak pernah mengira kalau ternyata Zinnia merasa cemburu karna kesalah fahaman ucapannya.
“Abis ini mau langsung pulang apa mau mampir kemana dulu?” Tanya Ren.
“Langsung pulang aja, Kak. Kak Ren kan juga capek pastinya. Semalam juga Kak Ren kurang tidur karna jagain aku.” Padahal, Zinnia ingin terus berada di dekat pria itu untuk waktu yang lama.
“Aku gak ngantuk kok. Kan sekarang udah punya pacar. Jadi ngantuknya udah hilang.” Seloroh Ren membuat Zinnia kembali tersipu malu.
“Idihh,, pamer.. Hehehehe.”
“Selagi ada, ya di pamerin. Daripada dianggurin.”
“Iya deh, iya. Tante udah sampe belum ke rumah istrinya Ranu?”
“Kayaknya belum. Tapi gak tau juga.”
“Penasaran sama istrinya Ranu.”
“Gak lama lagi juga bakalan ngunduh mantu di sini. Nanti aku
kenalin kamu sama mereka.” Janji Ren.
Zinnia tersenyum dan mengangguk. “Udah yuk, Kak.” Ajak Zinnia.
__ADS_1
Sebenarnya mereka sudah selesai makan sejak tadi. Hanya saja
Ren sengaja mengulur waktu agar mereka bisa lebih lama berduaan.
Ren dan Zinnia sudah berada di dalam mobil. Dan mobil sudah mulai melaju meninggalkan halaman restoran
“Kita keliling-keliling dulu sebentar ya..” Ajak Ren.
“Cieee,, yang gak mau pisah sama pacarnya..” Seloroh Zinnia. Sekarang ia bisa mengimbangi candaan Ren.
“Kelihatan jelas yaa?”
“Banget.”
“Hehehehe.”
Mobil berhenti saat lampu APILL berwarna merah. Sambil menunggu, Ren mengedarkan pandangannya ke arah samping. Dimana terdapat sebuah mobil suv berwarna hitam namun dengan kaca yang terang. Jadi terlihat jelas apa yang sedang dilakukan oleh para penumpang di dalamnya.
“Zin, lihat deh.” Panggil Ren dengan masih menatap ke arah samping.
“Apa?” Zinnia mengikuti arah pandang Ren sambil memajukan tubuhnya.
Zinnia ternganga melihat pemandangan yang ada di dalam mobil tersebut. Disana, sepasang manusia sedang melakukan adegan berciuman. Nampaknya mereka sama sekali tidak peduli kalau ada yang melihat mereka.
“Yang cewek agresif banget ya, kayak seseorang semalam.” Sindir Ren.
“Udah dong ngejeknya. Aku kan gak sadar, Kak. Kenapa malah di bahas terus, sih?” Kesal Zinnia.
“Mau coba waktu kesadaran penuh, gak?”
“Mau.” Jawab Zinnia spontan.
Ren sama sekali tidak menduga jawaban Zinnia. Ternyata gadis itu gamblang juga. Ia sempat lupa sifat Zinnia yang terbiasa berterus terang dengan apa yang difikirkan.
Sekarang, wajah Ren yang gantian berubah merona. Kilasan balik tentang sebuah rasa nikmat yang semalam sempat ia kecap, kembali memenuhi ingatannya. Dadanya berdesir dan perutnya terasa geli. Seolah ada banyak kupu-kupu yang sedang terbang disana.
Zinnia hanya memperhatikan wajah Ren yang kini fokus kedepan. Entah apa yang sedang di fikirkan pria itu. Sehingga ia tidak menyadari kalau lampu APLILL sudah berubah hijau.
“Kak. Jalan. Itu lampunya udah hijau.” Ujar Zinnia yang ternyata mengejutkan Ren. Pria itu nampak gelagapan dan langsung menginjak pedal gas perlahan.
“Mikirin apa, sih? Malah ngelamun gitu?”
“Mikirin bibirmu. Sambil mikirin tempat yang enak buat ciuman. Katanya minta cium?” Balas Ren.
Sebenarnya pembahasan itu hanyalah gurauan semata. Zinnia hanya bercanda dan sebatas menggoda Ren karna ia sudah kalah malu saat pria itu membahas ciumannya. Dan Ren hanya ingin membalas candaan yang di lontarkan Zinia padanya. Ia senang menggoda gadis itu.
Senyuman Ren bahkan belum menghilang saat ia mengangkat ponsel yang sejak tadi berbunyi itu. Itu adalah telfon dari Iwan, sopir pribadi Fandi.
__ADS_1
“Iya, Wan?” Sapa Ren setelah memencet tombol di kemudinya.
“Pak? Bapak dimana?” Tanya Iwan dengan nada ketakutan.
“Lagi di jalan, kenapa?”
“Pak Fandi, Pak. Tadi tiba-tiba pingsan gak sadar. Jatuh di kamar mandi.”
“Hah? Terus sekarang gimana?”
“Ini udah saya bawa ke rumah sakit, Pak. Tapi beliau belum sadar.”
“Di rumah sakit mana?”
Iwan menyebutkan nama rumah sakitnya.
“Aku kesana sekarang.” Dan sambungan telfonpun berakhir.
Zinnia yang juga ikut mendengarkan percakapan itu hanya bisa menatap khawatir kepada Ren. Pria itu kini nampak bingung. Ia segera membelokkan mobil ke arah sebaliknya.
“Kita ke rumah sakit dulu, gak apa-apa, kan? Kakekku masuk rumamh sakit.”
“Iya. Gak apa-apa.” Jawab Zinnia. Ia masih teringat dengan Kakek Ren yang ia temui waktu Ren mentraktirnya makan di restoran waktu itu.
“Maaf ya, kita gak jadi jalan-jalan.” Sesal Ren.
“Gak apa-apa, Kak. Gak usah di fikirin. Kan memang gak ada rencana. Masih ada waktu lain. Memangnya Kakeknya Kak Ren sakit apa?”
“Biasa, sakit tua. Udah komplikasi. Ada gejala stroke, darah tinggi, diabetes, kolesterol, jantung juga. Yang paling parah jantungnya sebenernya. Tapi gak pernah mau kalau di suruh operasi.”
“Kenapa gak mau?”
“Katanya percuma. Udah tua. Udah tinggal nunggu mati. Daripada mati di meja operasi, mending ngabisin waktu bersama istri dan anak cucu. Padahal lebih sering duduk di kursi roda ketimbang jalan kesana kemari.” Ren terdengar seperti sedang menggerutu karna kondisi sang Kakek.
Zinnia agak terkejut dengan penjelasan Ren. Yang ia lihat, Fandi masih sangat sehat. Tidak nampak kalau pria itu sakit.
“Aku janji nanti ajak kamu ke tempat yang bagus.”
“Nge-date?”
“Ya iya lah.”
“Hehehehehe...”
Ren kembali fokus mengemudikan mobil. Sebenarnya ia juga mengkhawatirkan kondisi Kakeknya itu.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
*sebelum sekrol ke bawah, yukk like sama komen dulu...