Metalmorfosis

Metalmorfosis
BAB 62. Menangis Dalam Diam Adalah Hal Yang Menmyakitkan.


__ADS_3

“Ya udah , kalau gak enak gak usah dimakan. Nanti malah sakit perut.” Dengus Zinnia. Ia masih berpura-pura kesal. Padahal lucu saat melihat Ren mengerucutkan wajahnya.


“Emang gak ku makan lagi.” Ren benar-benar tidak ingin bersikap ‘baik’ kepada kekasihnya itu.


“Hehehehehe. Ya maaf. Padahal aku udah ngingat sebaik mungkin cara-cara yang di kasih tau sama Tante Esta.”


“Kamu perlu kursus lagi sama Mama. Anggap aja pelatihan sebelum jadi istriku. Haha.” Ren tertawa sumbang.


“Hahahahahahahha.” Zinnia juga tidak bisa menahan tawanya. Sepertinya Ren benar-benar sangat mengharapkannya untuk menjadi istrinya.


Mereka berdua memang sama-sama berharap untuk menikah. Hanya saja Zinnia masih harus mengurus hal-hal terlebih dahulu. Setidaknya, saat ia menikah dengan Ren, ia ingin menjadi istri yang bisa mendukung Ren sepenuhnya. Kasarannya, tidak malu-maluin statusnya sebagai istri direktur utama FD Corp.


“Oh, iya. Di tanyain Mama tadi.”


“Tante udah pulang?”


“Udah, kemarin. Mama pesen, kalau ada waktu lusa disuruh ke rumah.”


“Ngapain?”


Ren mengangkat bahunya. “Gak tau. Pengen ngobrol sama calon mantu, kali.” Selirih Ren.


Zinnia ternganga. Calon mantu?


“Kenapa bengong begitu?”


“Kak Ren gak cerita soal kita jadian kan, sama Tante?”


Ren terdiam. Ia hanya mengu lum sedikit senyuman.


“Kak Ren cerita sama Tante?!” Teriak Zinnia mengejutkan Ren.


“Ya kenapa emangnya? Aku tuh gak biasa nyembunyiin apapun dari Mama.”


“Ya ampun, Kak. Aku kan malu jadinya.”


“Kenapa malu?”


“Iiih.” Dengus Zinnia.


“Lusa sepulang kerja kita mampir kerumah ya.” Bahas Ren lagi.


Zinnia jadi terdiam. Ia benar-benar malu bertemu dengan Esta saat ini. Entah kenapa ia merasa belum siap mempublikasikan hubungannya dengan Ren kepada keluarga pria itu.


“Tante bilang apa, Kak?” Selidik Zinnia.


“Bilang apa? Gak bilang apa-apa?”


“Dia gak marah gitu kak Ren pacaran sama aku?”


“Ya enggak, lah. Kenapa juga Mama harus marah? Yang ada Mama malah seneng pas denger kita pacaran.”

__ADS_1


“Masak, sih?”


“Kamu ini kenapa?” Ren tau kalau Zinnia sedang merasakan sesuatu hal yang kurang mengenakkan.


Zinnia terdiam. Ia tidak berani menyampaikannya kepada Ren atas apa yang ada di fikirannya sekarang ini.


Jujur, Zinnia merasa Rendah diri. Terlebih mengenai perselingkuhan ayahnya. Entah kenapa hal itu membuat hatinya mencelos. Ia malu kepada Ren dan keluarganya tentang kebobrokan keluarganya.


“Gak apa-apa. Ya udah. Besok lusa aku kesana.”


“Hari ini mau ngapain aja?”


“Gak ada rencana. Palingan tiduran di rumah.”


“Daripada tiduran doang, kita jalan-jalan yuk.”


“Emangnya Kak Ren gak banyak kerjaan?” Tanya Zinnia sambil melirik ke arah meja kerja Ren yang di tumpuki oleh berkas-berkas.


“Gampang itu. Ayo.” Ren langsung berdiri dan menyambar jasnya dari gantungan.


Zinnia hanya mengekori saja sampai di tempat parkir. Ren lantas membukakan pintu mobil untuk kekasihnya itu.


“Mau kemana kita?” Tanya Ren.


“Kok malah tanya aku? Kan Kak Ren yang ngajak keluar?”


“Ya mungkin kamu kepengen pergi ke suatu tempat, gitu.”


“Ehhmmm... Dufan.”


“Seumur-umur aku belum pernah pergi ke Dufan. Aku pengen naik wahana-wahana yang ada disana.”


Belum pernah pergi ke Dufan? Seperti itulah kira-kira tatapan Ren pada Zinnia.


Ternyata ada orang yang belum pernah pergi ke Dufan. Terlebih anak orang kaya seperti Zinnia. Hati Ren jadi pias mendengarnya.


“Okelah. Ayo kita puas-puasin main disana.” Ujar Ren kemudian.


Zinnia berhenti di depan pintu masuk Dufan dengan memandang ke arah depan. Tatapan antusias nampak memancar dari netranya. Banyaknya pengunjung yang berlalu lalang membuatnya merekahkan senyuman bahagia.


“Seseneng itu?” Tanya Ren yang baru kembali dari membeli minuman.


“Iya.” Jawab Zinnia tanpa malu.


Seketika jiwa anak-anak Zinnia bergejolak. Bermain disini adalah hal yang dulu sempat ia impikan. Tapi apalah daya ia tidak punya ‘waktu’ untuk datang.


“Mau main apa dulu?”


“Halilintar.” Jawab Zinnia cepat.


“Emang gak takut?”

__ADS_1


“Gak tau sih. Soalnya belum di coba.” Santai sekali Zinnia menjawabnya.


Ren ternganga dengan jawaban Zinnia. Bagi gadis itu, harus dirasakan dulu, baru akan tau ia takut atau tidak.


Zinnia dan Ren sudah mengantri untuk menaiki wahana halilintar. Wahana roller coaster yang melengkung membentuk lingkaran itu nampak menakutkan. Apalagi ditambah dengan suara jeritan-jeritan yang terdengar dari pengunjungnya. Seharusnya itu sudah cukup bagi Zinnia untuk menebak apakah wahana itu menakutkan atau tidak.


Tapi dasarnya Zinnia. Ia malah terkekeh melihat orang-orang yang baru saja turun dari wahana itu dengan wajah yang pucat pasi. Sebagiannya malah nampak memegangi dadanya dengan bahu yang naik turun.


“Yakin mau naik? Belum terlambat buat mundur.” Bisik Ren. Jujur, ia lumayan tidak menyukai wahana ini. Bukan takut, ia hanya pusing mendengar orang-orang di sekitarnya berteriak tak karuan.


“Enak aja mundur. Aku makin bersemangat, Kak.”


“hufhh,,”


Sekarang tibalah giliran Zinnia dan Ren untuk naik. Setelah petugas memastikan semua penumpang aman, barulah wahana itu mulai melaju perlahan.


“Waaaaaaaaa!!!!!!!!” Pekik Zinnia. Ternyata ia menyukai sensasi adrenalin yang tercipta dari wahana itu. Ia berteriak sambil tertawa.


Sementara Ren hanya diam saja menikmati wahana itu sambil menahan telinga yang sudah hampir pecah karna teriakan dari Zinnia.


“Kak Ren tadi kenapa?”  Tanya Zinnia setelah mereka turun dari wahana halilintar.


“Kenapa apanya?”


“Kak Ren takut, ya? Kok diem aja?”


“Gak takut. Biasa aja.” Jawab Ren. Baginya, ia lebih takut melihat luka lecet di tubuh Zinnia ketimbang harus berputar-putar di halilintar.


“Yang bener??” Goda Zinnia.


“Ya bener. Buat aku itu gak ada sensasi sama sekali. Biasa aja.”


Karna adrenalin Ren hanya akan berpacu saat melihat airmata yang meleleh di pipi kekasihnya itu.


“Naik apa lagi?”


“Aku mau naik semuanya pokoknya. Abis ini, ontang anting.”


Dan begitulah seterusnya. Zinnia menjajal semua wahana yang memacu adrenalin itu. Gadis itu tidak nampak takut sama sekali. Dan Ren tetap menemaninya. Berjaga-jaga kalau terjadi apa-apa dengan kekasihnya itu.


“Zinnia?” Panggil Ren setelah turun dari kora-kora.


“Hem?”


“Emangnya kamu gak capek gitu? Teriak-teriak sampai suaramu abis begitu?”


“Seru tau, Kak. Pas teriak itu tuh rasanya kayak semua beban di sini lepas.” Jawab Zinnia dengan suara yang sudah serak. Ia menunjuk bagian dadanya.


Ya, bisa berteriak dan mengeluarkan semua beban berat dihatinya, Zinnia senang bukan kepalang. Setidaknya untuk saat ini, hatinya merasa lega.


Suaranya serak tidak masalah. Itu tidak sakit sama sekali. Yang lebih sakit adalah saat ia harus menahan suara padahal airmatanya sudah deras mengalir. Di tambah dengan luka lebam akibat cubitan sang ibu di pahanya.

__ADS_1


Menangis dalam diam adalah hal yang paling membuat dadanya terasa ingin meledak. Perasaan sesak yang memenuhi rongga dadanya menekan jantungnya hingga menimbulkan rasa sakit disana. Dan itu rasanya sangat tidak nyaman. Dan sakit.


BERSAMBUNG...


__ADS_2