
“Kamu istirahat aja ya. Aku mau mandi dulu.” Ujar Ren saat Zinnia sudah melepaskan pelukannya. Ia membantu istrinya itu untuk berbaring kemudian menyelimutinya.
Sebelum pergi, Ren mengecup kening istrinya dengan hangat. “Istirahatlah.”
Selesai mandi, Ren melihat Zinnia yang sudah benar-benar terlelap di ranjang dengan posisi yang masih sama. Ia tersenyum kemudian mengahmpiri istrinya itu.
Ren hanya mengenakan handuk sebatas pinggang. Hingga tubuh bagian atasnya bebas terkespos. Rambutnya basah hingga menetesi pundak dan dada bidangnya. Ia memperhatikan wajah Zinnia lekat-lekat. Kemudian perlahan mengusap bibir ranum gadis itu dengan ibu jarinya.
Zinnia terhenyak dan langsung membuka mata saat merasakan ada tetesan air yang jatuh di bibirnya. Ia melihat Ren yang juga nampak terkejut karna ia tiba-tiba menbuka mata.
“Oh, maaf. Kamu kaget?”
“Airnya netes di bibirku.” Keluh Zinnia.
“Hehehehe. Sini aku bersihin.” Ujar Ren.
Tapi bukannya melap menggunakan handuk yang di pegangnya, Ren justru menempelkan bibirnya di bibir Zinnia dan melu matnya lembut.
“Emh.” Lirih Zinnia yang terbawa arus permainan lidah Ren yang sudah menelusup ke dalam mulutnya. Mengajak lidah Zinnia untuk menari-nari di dalam mulut gadis itu.
Luma tan Ren semakin aktif. Ia menelusupkan tangannya ke tengkuk Zinnia dan menekan dirinya hingga semakin merangsek kepada gadis itu.
Desa han-desa han Zinnia membangkitkan sesuatu di area bawah. Kini, Ren sudah tidak perduli lagi kalau rambut basahnya masih menetes dan semakin membasahi wajah istrinya.
Udara di sekitar mereka seolah menipis. Tapi itu tidak cukup untuk menghentikan aksi yang semakin memanas itu.
Dan kini Zinnia juga sudah merangkulkan kedua tangannya ke belakang leher pria itu. Ia membalas dan berusaha mengimbangi lum atan Ren di bibirnya. Dia juga cukup berpengalaman dalam hal ini.
Untuk sesaat, Ren melepaskan pagu tannya. Menatap intens ke dua manik Zinnia yang berbinar. Membelai wajah istrinya itu kemudian kembali mendaratkan kecupan di seluruh wajah Zinnia. Ia menyapu hampir seluruh bagiannya.
Kini, bibir Ren tengah menyapu bagian leher jenjang sang istri dan meninggalkan beberapa tanda kepemilikan di sana.
“Ah!” Pekik Zinnia pelan saat merasakan sakit akibat hesapan Ren di lehernya. “Sakit, Kak.”
“Tapi enak?” Sambung Ren. Dan Zinnia mengangukkan kepalanya. Membuat Ren tersenyum dan kembali melanjutkan aksinya.
__ADS_1
Kini, Ren sudah menjelajahi bagian bawah dagu istrinya. Dia seperti ingin merasakan setiap inci bagian dari kulit Zinnia dan tidak ingin melewatkan secuilpun.
Ren menarik wajahnya dari bawah dagu Zinnia. Ia kemudian menatap bagian dada Zinnia dengan tangan yang berusaha membuka kancing baju Zinnia.
Zinnia hanya terdiam dan menerima semua perlakuan Ren. Tidak ada alasan bgianya untuk menolaknya. Dirinya, tubuhnya kini sudah menjadi hak Ren sepenuhnya dan Ren berhak melakukan apapun pada tubuhnya.
Dua benda itu kini sudah menyembul keluar dari cangkang pembungkusnya. Nampak kenyal dan menggoda. Perlahan, Ren mengusap puncaknya yang sudah menonjol itu dengan jemarinya. Membuat Zinnia kembali mele nguh dan mende sah. Merasakan geli yang menjalar di sekujur tubuhnya.
“Kak, ada Mama sama Papa di bawah.” Bisik Zinnia.
“Memangnya kenapa?”
“Malu, Kak.”
“Ngapain malu? Mereka pasti ngerti.”
“Justru itu aku malu. Karna mereka ngerti makanya aku jadi malu. Emh...”
Ren tidak membiarkan Zinnia berbicara banyak. Ia segera membuat istrinya itu terdiam saat ia melu mat dan mere mas dua milik Zinnia.
Zinnia terhenyak saat ada yang meraba bagian intinya. Membuat tubuhnya panas dingin tidak karuan. Ia ingin menarik tangan Ren, tapi dia tidak berani. Ia tidak ingin menghalangi Ren mendapatkan hak atas tubuhnya.
Hanya butuh beberapa detik bagi Ren untuk melucuti pakaian yang di kenakan istrinya. Setelahnya, dia juga melepas handuk yang melingkar di pinggangnya itu.
“Woah!” Pekik Zinnia tertahan saat Ren mengarahkan tangannya ke benda milik pria itu. Bahkan, Zinnia berusaha untuk menarik tangannya kembali namun Ren menahannya. Pria itu kembali mengarahkan tangan Zinnia ke miliknya.
“Di sayang, dong. Masak cuma di sentuh gitu?” Protes Ren yang menopang tubuhnya di atas tubuh istrinya.
“Malu, Kak...” Jujur Zinnia. Dia benar-benar sangat malu sekarang. Karna ini adalah kali pertama ia melakukan hal ini.
“Ini punyamu. Ngapain malu?”
Ren mangajari Zinnia untuk melemaskan tangannya. Dan ia tersenyum saat istrinya itu sudah mahir hanya dalam beberapa detik saja.
Ren menjatuhkan diri ke samping dan memaksa tubuh Zinnia untuk menghadap padanya. Ia kembali melu mat bibir istrinya itu. Semakin lama, semakin menuntut dan Zinnia jadi sulit mengimbanginya.
__ADS_1
Sementara Zinnia masih belum berani melepaskan tangannya dari bawah Ren.
“Kak Ren pengen banget ya?” Tanya Zinnia saat mereka jeda untuk mengambil nafas.
Ren segera menganggukkan kepalanya. Pandangan matanya dipenuhi nafsu.
Dengan secepat kilat, Ren sudah berada di bagian pangkal paha istrinya.
Zinnia terkejut bukan main saat merasakan suhu panas yang tiba-tiba melu mat bagian intinya. Rasa nikmatnya melebihi saat tangan Ren yang berada di sana. Ren terus menghisap dan tidak mempedulikan tubuh istrinya yang sudah menggelengjang tak karuan. Zinnia bahkan sampai menjambak rambut Ren dengan sangat kuatnya.
Setelah puas melahap bagian itu, Ren segera memposisikan dirinya untuk penyatuan sempurna mereka.
“Ah!” Pekik Zinnia saat ujung milik Ren melesak masuk kedalam dirinya. Ia segera menutup mulutnya sendiri dengan sangat kuat. Menahan rasa sakit yang tidak terperi dibagian sana. Sementara Ren masih harus fokus merubuhkan beberapa benteng lagi.
“Sakit?” Tanya Ren. Ia jadi tidak tega saat melihat wajah istrinya yang mengkerut.
“Sakit.”
“Masih tahan, gak? Kalau gak tahan kita lanjut besok lagi---”
Blus.
Tiba-tiba Zinnia menarik pinggang suaminya dengan kuat sehingga mereka menyatu dengan sempurna.
Ren terhenyak dan tidak bisa menahan diri untuk tidak berteriak lirih. Bergitu juga dengan Zinnia. Keduanya sama-sama berteriak saat merasakan penyatuan itu terjadi.
Sudah kepalang tanggung kalau akan di lanjutkan besok lagi. Jadi Ren segera melakukan bagiannya. Membuat istrinya mengerang kesakitan sekaligus nikmat akibat gerakannya.
Ren menjatuhkan tubuhnya di atas Zinnia dan memeluknya dengan sangat erat. Mereka sudah melepaskannya bersama-sama. Menyisakan rasa lelah yang tidak terperi. Ia kemudian mengecupi wajah istrinya yang sudah di penuhi oleh keringat itu.
Sementara Zinnia, nyawanya seolah menghilang separuh hingga membuat dadanya naik turun akibat kelelahan. Keduanya lantas tertawa saat saling menatap satu sama lain.
Zinnia kembali mengerang kesakitan setelah Ren mencabut miliknya kembali. Kini, rasa perih kembali menjalari seluruh bagian intinya. Bahkan untuk bergerak saja, ia merasa pangkal pahanya akan patah.
*
__ADS_1
Pagi ini hareudang ya warga... haha.