
Minggu kedua bekerja.
Udara Ibukota sore ini sangat terik. Zinnia berjalan masuk ke dalam rumahnya dengan lengan kaus yang di singsingkan sampai memperlihatkan ketiaknya. Ia merasa sangat gerah sekali dan ingin segera bersantai di bawah pendingin udara.
Karna hari ini adalah hari minggu, ayah dan ibunya sedang berada di rumah dan sedang bersantai di ruang keluarga. Bercengkerama dengan di selingi tawa sesekali.
“Aku pulang.” Zinnia mengumumkan kehadirannya. Berharap mendapat sambutan baik.
Tapi yang ada ia hanya mendapat senyuman singkat dari sang ibu. Apa yang sebenarnya ia harapkan dari mereka?
Zinnia tak lantas menghampiri mereka. Ia tak ingin ‘mencari muka’ kepada kedua orang tuanya. Akhirnya ia langsung naik dan masuk ke dalam kamarnya.
Zinnia menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Melentangkan tubuhnya sambil memandangi wajah April Lavinge yang bertengger di langit-langit kamarnya. Mencoba memejamkan mata sebentar untuk mengusir lelah.
Suara perutnya yang gemerucuk membuatnya memaksa tubuhnya untuk bangun. Ia menyeret langkahnya masuk ke dalam kamar mandi.
Selesai mandi, Zinnia turun dan pergi ke dapur untuk makan. Ternyata disana, keluarganya tengah berkumpul untuk makan malam bersama.
Zinnia langsung duduk di kursi makannya tanpa permisi. Melirik ke arah Navya yang tengah asyik menggerogoti sup buntut kesukaannya.
Dentingan sendok dan garpu mengiringi makan malam mereka. Dengan sesekali Navya menceritakan pencapaiannya dalam pekerjaan di kantornya. Dan tentu saja, hal itu akan membuahkan beberapa pujian untuk gadis cantik itu.
Apa, kalau aku menceritakan pekerjaanku, papa sama mama akan memujiku? Sebersit fikiran yang melintas di benak Zinnia.
“Ma? Pa? Aku udah kerja, lho.” Pamer Zinnia.
“Kerja apa?” Tanya Arsa.
“Kerja di gerobak baksonya Pak Jaya. Bantu Pak Jaya jualan bakso.”
Tak ada tanggapan. Bahkan Hanafi hanya menghela nafas pelan.
“Jadi kamu tiap hari pulang sore itu karna udah kerja?” Arsa mencoba memberi apresiasi kepada putri sulungnya itu.
__ADS_1
“He-em.” Zinnia mengangguk semangat. Ia senang sekali karna sepertinya ibunya tertarik dengan pekerjaannya.
“Kakak kapan mau berhenti kerja disana?” Tiba-tiba Navya berujar.
“Kenapa aku harus berhenti?”
“Aku malu, Kak sama temen-temenku.”
“Tapi kan mereka gak tau siapa aku.”
“Nanti kalau ketahuan, gimana? Mau di taruh mana mukaku? Masak iya aku bilang kalau cewek pirang yang jualan bakso itu Kakakku?”
Deg!
Sakit sekali hati Zinnia mendengarnya. Namun ia tetap berusaha untuk memangkas bibit-bibit emosi yang mulai tumbuh di dadanya.
“Aku gak pernah ganggu kamu, ya.”
“Memang enggak. Apa Kakak tau, setiap kali aku ke kantor aku ngerasa was-was, gimana kalau bos dan rekan-rekanku tau tentang Kakak? Aku jadi gak konsentrasi kerja.”
“Kalau menurut Papa, lebih baik kamu cari kerjaan yang lain aja, Zinnia. Yang lebih enak. Biar sekalian adikmu juga nyaman kerjanya.”
Klotak!
Zinnia meletakan sendok dan garpunya ke piring yang makanannya baru setengah ia makan.
“Kenapa aku harus gitu? Aku udah nyaman sama kerjaanku. Baru kali ini lho aku kerja, Pa. Gak bisa apa Papa dukung aku sekali ini aja?” Zinnia sudah terpancing emosi. “Kamu juga. Kenapa mesti malu punya Kakak kayak aku? Memangnya aku ini alien?” Kekesalan Zinnia beralih kepada Navya.
“Zinnia! Kok malah jadi marah-marah gitu sih? Kan cuma di bilangin.” Arsa membela suaminya. “Kasihan kan adikmu. Dia sampai gak fokus kerja. Nanti kalau Navya di pecat gara-gara kamu, gimana?”
“Kok gara-gara aku sih, Ma? Memangnya aku salah apa?”
“Kamu memang gak salah. Tapi coba ngertiin posisi adikmu. Kasihan dia. Coba aja kamu bisa kayak dia.”
__ADS_1
“Kalau orang lihat ini, mereka akan berfikir kalau aku bukan anak kandung kalian.”
“Zinnia!!” Teriak Hanafi. “Dikasih tau baik-baik kok malah marah.”
Zinnia juga tak kalah kesal. Ia bangkit dari duduknya dan bersiap meluncurkan bom bunuh diri di hadapan keluarganya.
“Baik-baik? Ini yang Papa bilang baik-baik? Sekali aja kalian ada di pihakku. Kalian dukung apapun keputusan aku. Bukan Navya, Navya, dan Navya yang selalu kalian bela. Aku ini anak kalian bukan?! Apa anak pungut?! Hah?!”
“Zinnia! Jaga mulutmu!” Pekik Arsa.
“Cuma sekali. Sekaliiiii aja, Ma, Pa, kalian bangga sama aku. Kalian suport aku. Peluk aku dengan kasih sayang. Aku juga pengen di sayang sama Papa dan Mamaku sendiri.” Air mata Zinnia sudah mengaliri kedua pipinya. Menatap pias kepada satu-persatu anggota keluarganya yang hanya menatap heran padanya.
“Aku juga pengen banggain Mama sama Papa. Aku juga pengen punya satu aja keunggulan kayak Navya. Aku juga pengen dapet pujian dari kalian. Bukan cuma di banding-bandingin sama pencapaian Navya. Aku juga udah bekerja keras buat kalian bangga. Huhuhuhuhuhu.”
“Zinnia...? Kamu ini ngomong apa sih?” Ujar Arsa menatap heran kepada Zinnia.
Zinnia sudah tidak sanggup untuk lama berada di sana. Ia lantas pergi setelah menyambar ponsel dari meja makan. Terus pergi keluar rumah. Berjalan dan terus berjalan menyusuri jalanan manapun yang ia temui. Ia berjalan menuju ke arah rumah Joham dengan terus sesenggukan menangis.
Malam memberi banyak keuntungan untuk Zinnia. Karna jadi tidak banyak orang yang memperhatikannya karna gelap.
Zinnia sudah jauh berjalan. Padahal jarak rumahnya dengan rumah Joham cukup jauh. Kalau berkendara saja memakan waktu 15 menitan. Dan ini Zinnia berjalan kesana. Kakinya sampai lecet kena sepatu.
Zinnia mengetuk-ngetuk pintu rumah Joham. Tapi tidak ada tanggapan. Pun lampu di rumah Joham tidak ada yang menyala. Sepertinya Joham tidak ada di rumah sekarang. Apa dia masih di kantor? Batin Zinnia.
Zinnia mencoba menghubungi ponsel Joham. Namun setelah beberapa kali menelfon, tetap tidak bisa tersambung.
Perasaan Zinnia semakin pias. Ia tidak tau harus kemana. Kalau ia pergi ke kantor Joham, itu lebih jauh lagi dari sini. Naik ojek? Ia tidak membawa uang sama sekali. Dan saldo E-money-nyapun sedang kosong melompong belum sempat di to-up. Mau pulang? Ia sedang kesal.
Akhirnya Zinnia nekat untuk berjalan menuju ke arah kantor Joham walaupun itu mungkin bisa memakan waktu satu jam-an bahkan lebih. Karna ia sama sekali tidak punya tujuan lain lagi sekarang.
Zinnia sudah setengah jam berjalan. Dan jaraknya dari kantor Joham masih terlalu jauh. Tapi ia tidak putus semangat. Kini rasa sedihnya sudah tergantikan oleh rasa lelah yang terasa menghunjami kedua kakinya.
Kekecewaan Zinnia belum berakhir. Sesampainya di kantor Joham, ternyata sudah sepi dan tidak ada satupun orang lagi. Hatinya seperti terbakar kecewa dan rasa marah. Tapi ia tidak tau harus marah pada siapa untuk melampiaskannya. Ia mencoba untuk menghubungi Joham lagi, tapi tetap tidak tersambung.
__ADS_1
Tiba-tiba ia teringat dengan Ren. Ia mencari nomor ponsel Ren di ponselnya. Yang baru ia ingat adalah, ia sama sekali belum meminta nomor ponsel dari pria itu.
Lengkap sudah kesedihan Zinnia malam ini. Hatinya semakin terkoyak. Ia terduduk di emperan toko dan memangis sejadi-jadinya. Tidak peduli kalau banyak orang yang melihat ngeri padanya.