Metalmorfosis

Metalmorfosis
BAB 22. Tidak Punya Hak, Tapi Merasa Kesal.


__ADS_3

Joham menghentikan sepeda motornya di halaman parkir gedung FD Corp. Siang ini, ia ada jadwal rapat dengan direktur utama perusahaan itu untuk membicarakan tentang proyek kerjasama mereka.


Bersama dengan Marko, pria itu lantas berjalan menuju ke loby gedung. Disana ternyata mereka sudah di tunggu oleh Navya. Gadis cantik itu langsung menyambut Joham dengan senyuman manisnya.


“Selamat datang Kak Joham, Kak Marko.” Sapa Navya.


“Waahhh. Semakin hari, kamu semakin cantik aja, Navya. Jantungku deg-deg serrr ngelihatnya.” Seloroh Joham tanpa malu.


Navya hanya tersenyum saja menanggapi. “Ayo kita ke atas. Udah di tunggu sama Pak Ren.”


Joham, Marko dan Navya  lantas masuk ke dalam lift. Saat berhenti di lantai 21, mereka lalu keluar dan langsung berjalan menuju ke ruangan yang biasa digunakan untuk rapat.


Ren menyambut mereka dengan senyuman ramah dan menyalami mereka. Kemudian ia mempersilahkan Joham dan Marko untuk duduk di kursi.


Disana, sudah ada tim 2 yang juga akan mengikuti rapat itu.


Sebelum rapat di mulai, Joham meminta ijin untuk menelfon seseorang. Baru setelah ia selesai menelfon, ia kembali ke tempat duduk dan rapatpun di mulai.


Pembahasan berjalan dengan baik. Karna kedua belah pihak memang sudah menyiapkan materi mereka dengan lebih dulu. Tidak banyak hal yang harus di perbaharui dalam kontrak kerja sama itu.


Ren mengulurkan tangan ingin berjabat tangan dengan Joham. Pria itu lantas menyambut uluran tangan dari Ren.


“Terimakasih banyak Pak Joham. Saya mengharapkan yang terbaik.”


“Sama-sama, Pak Ren. Kami akan melakukan yang terbaik untuk proyek ini. Terimakasih karna sudah mempercayakan proyek ini kepada kami.”


“Karna saya percaya dengan pilihan Navya.”


Sekitar pukul 2 siang mereka sudah menyelesaikan rapat. Joham dan Marko pamit untuk kembali ke kantor. Sebagai rasa hormatnya untuk tamu, Ren mengantarkan mereka sampai ke lobi.


“Ga, kosongkan jadwalku sore ini. Aku mau pulang. Capek.” Perintah Ren yang kemudian kembali ke ruangannnya.


Joham meminta Marko untuk kembali ke kantor tanpa dirinya. Karna ia harus menjemput Zinnia. Dengan melajukan sepeda motornya, Joham menuju ke alamat yang sudah di kirimkan oleh Zinnia.


Sekitar pukul 3 lewat, Joham sudah berhenti di depan sebuah rumah mewah. Ia nampak bingung kalau-kalau ia salah membaca alamat. Sekali lagi Joham melihat ponselnya. Dan benar. Ini adalah alamat yang diberitahu oleh Zinnia.


Akhirnya Joham menelfon Zinnia dan memberitahu kalau ia sudah sampai.


“Jin!” Ekik Joham ketika melihat Zinnia keluar dari gerbang rumah mewah itu.

__ADS_1


Dibelakangnya, seorang wanita paruh baya berjalan mengikuti Zinnia.


“Joo!” Zinnia berjalan ke arah Joham. “Joo, kenalin. Ini Tante Esta.” Zinnia mengenalkan Esta kepada Joham. Pria itu segera turun dari sepeda motornya.


Joham segera menyalami Esta dengan sopan. Tak lupa ia memperkenalkan diri kembali.


Joham mengambil helm dari dalam Jok motornya untuk kemudian memakaikannya kepada Zinnia. Seperti biasa, ia akan memukul puncak helem itu agar pas terpasang dikepala Zinnia.


“Heheheh. Makasihh..”


Dari kejauhan, Ren datang dengan di antarkan oleh Ariga. Pria itu hanya memperhatikan saja keakraban yang terjalin antara Zinnia dan Joham. Ia mengernyit karna ternyata Zinnia mengenal Joham.


Ia teringat dengan nama ‘Joo-ku’ di ponsel Zinnia. Dan ternyata itu adalah Joham.


“Lho? Itu kan Pak Joham. Kok bisa kenal sama Zinnia?” Gumam Ariga di balik kemudinya. “Mereka kelihatan akrab. Apa pak Joham itu pacarnya Zinnia?”


Ren tidak menggubrisnya. Ia hanya diam saja.


“Kalau gitu aku pamit dulu ya, Tan.” Ujar Zinnia kepada Esta.


“Iya, hati-hati ya, Zinnia.”


“Kak. Aku mau pamit. Aku pulang dulu.” Ujar Zinnia kepada Ren.


“Ya.” Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Ren. Pria itu nampak sedang kesal dan malah melengos dan langsung masuk ke dalam rumahnya. Tidak peduli kalau Esta melihatnya dengan heran juga. Ia juga tidak peduli dengan Joham yang ada disana.


Zinnia heran dan tidak mengerti kenapa sikap Ren seperti sedang marah padanya. Ia berbalik dan menghampiri Joham lagi.


“Itu tadi Pak Ren dari FD Corp, kan?” Tanya Joham yang ternyata sudah memperhatikan sejak tadi.


“Iya. Kok kamu tau?”


“Aku baru dari kantornya. Kami baru selesai rapat terus aku kesini jemput kamu.”


“Proyek kerja sama yang dibilang Navya waktu itu?” Tebak Zinnia. Dan Joham mengangguk.


“Kok kamu bisa kenal sama dia?” Selidik Joham. Ia lumayan terkejut dengan kedekatan Zinnia dan keluarga Ren.


“Gak usah kepo. Udah ayo. Buruan.” Zinnia menepuk punggung Joham dan memaksanya untuk segera melajukan sepeda motornya

__ADS_1


Sementara Ren langsung masuk kedalam kamarnya. Setelah melepas jasnya, ia masuk kedalam kamar mandi. Mematut dirinya di kaca washtafel dalam waktu yang lumayan lama.


Ren sedang berfikir, kenapa ia merasa sangat kesal dengan Zinnia? Ia merasa tidak suka melihat Zinnia diperlakukan dengan begitu manis oleh Joham. Memangnya apa hak dia hingga mempunyai perasaan kesal seperti itu? Wajar saja Joham memperlakukan Zinnia seperti itu karna Joham adalah kekasih Zinnia. Seharusnya dia tak perlu kesal seperti ini.


Tapi entahlah. Ren tidak bisa merayu hatinya. Ia berusaha mengusir rasa kesalnya dengan menyiram tubuhnya di bawah guyuran shower.


Selesai mandi dan berganti baju, Ren segera turun. Di dapur, ia bisa melihat ibunya yang sedang menikmati kue bika kesukaannya. Ia tersenyum dan langsung mendekati Esta.


“Wah... Ada kue bika.” Ujar Ren yang langsung menyomot sepotong kue dan langsung memasukkannya kedalam mulutnya.


“Kok udah pulang, Nak?”


“Capek, Ma. Mau istirahat.”


“Gak makan?”


“Belum laper, Ma. Nanti aja. Waahhh. Kue bikinan Mama memang yang paling enak.” Puji Ren sambil kembali mengambil potongan kue dan melahapnya.


“Itu buatan Zinnia.”


Ren mematung. Tidak jadi melanjutkan suapan terakhir yang hampir masuk ke dalam mulutnya. Ia justru melemparkan kembali sisa kue itu ke atas piring.


“Pantesan. Rasanya asin. Gak enak. Ih.” Dengus Ren kesal.


“Lha? Tadi kamu bilang kuenya enak.” Esta heran dengan tingkah putranya itu.


“Beda sama kue buatan Mama yang udah terjamin rasanya.” Ren berucap sambil mencibir ke arah piring.


“Hmmmm... Gitu, ya...” Seloroh Esta sambil menahan senyum.


Esta mengerti kenapa Ren merasa kesal. Ia jadi ingin menggoda putranya itu.


“Pacarnya Zinnia ganteng juga, ya. Badannya kekar. Mana ramah juga.” Seloroh Esta. Ia sedang memancing ‘keributan’.


“Kekar apaan, Ma? Kerempeng begitu. Besaran juga otot Ren ini.” Ren menepuk otot lengannya yang Ia tonJolkan.


“Kamu lihat gak tadi? Pas cowoknya masangin helm ke Zinnia. Wiihhh, romantisnya...” Esta tidak berniat untuk berhenti.


Dan lagi, Ren hanya mencibir saja kemudian meninggalkan ibunya itu. Membuat Esta tertawa terpingkal-pingkal.

__ADS_1


__ADS_2