Metalmorfosis

Metalmorfosis
BAB 29. Mendung Yang Tak Kunjung Mendatangkan Hujan.


__ADS_3

Keluarga Ren baru saja selesai makan malam. Kemudian dilanjutkan dengan mengobrol ringan sambil minum teh di ruang keluarga. Kebanyakan obrolan itu adalah mengenai acara ngunduh mantu Ranu dan Mia, istrinya yang akan di laksanakan tidak lama lagi.


“Kamu ikut gak, Nak?” Tanya Esta ketika bahan obrolan sudah sampai di acara pesta pernikahan Ranu yang akan di gelar minggu depan di kota kelahiran istrinya.


“Ren banyak banget kerjaan, Ma. Kayaknya Ren gak bisa ikut, deh. Gak apa-apa kan ya? Kan udah ada Om Akash sama Tante Leka juga.”


“Masalah kerjaan kan bisa di pending dulu. Emangnya kamu gak pengen ikut, gitu?” Rai menimpali.


“Pengen sih, Pa. Tapi ya mau gimana lagi. Kakek ikut, Ma?”


Esta menggeleng. “Enggak. Kakekmu kan lagi gak sehat. Katanya males ngerepotin kita disana nanti.”


“Oh ya, Nak. Besok lusa Mama sama Papa mau ke villa. Kemarin Mama udah janji sama Zinnia mau ngajak dia. Nanti kamu tolong bilangin sama Zinnia ya?”


Membahas Zinnia membuat Ren menaikkan sebelah alisnya. Teringat dengan kejadian tadi sore yang penuh drama.


“Kenapa gak Mama aja yang telfon?”


“Mama lupa minta nomornya.” Esta beralasan.


“Ren punya nomornya. Sebentar ya, Ren ambil hape dulu di kamar.” Ujar Ren kemudian beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamarnya


Ren masuk ke dalam kamarnya dan mencari ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidur begitu saja. Ia mengernyit saat melihat ada sebuah pesan masuk dari Zinnia. Kemudian ia membalasnya dengan singkat.


“Oke.”


Ren membawa ponselnya kembali ke ruang santai. Kemudian mengirimkan nomor Zinnia ke ponsel ibunya.


“Mama suka deh, sama Zinnia. Dia gadis yang periang. Awalnya Mama fikir dia masih belasan tahun karna sikapnya masih kekanak-kanakan. Rupanya udah 25 tahun umurnya.” Celetuk Esta.


“Mama kenapa jadi ngomongin Zinnia, sih? Kayak gak ada topik lain aja. Dia itu udah punya pacar, ngapain juga masih di bahas terus?” Dengus Ren mencoba mengusir topik itu agar Zinnia tidak jadi bahan perbincangankeluarganya.


“Ya kan mama cuma asal ngomong aja. Emangnya gak boleh?”


“Mama pasti modus.” Tebak Ren.

__ADS_1


“Hahahahaha. Engak kok. Siapa yang modus? Ya kan Pa?” Esta melemparkan tatapan kepada Rai.


Rai hanya melongo saja karna ia tidak begitu memperhatikan apa yang istrinya bicarakan.


“Hah? Apa?” Tanya Rai bingung.


“Ishhh.” Esta memukul lengan suaminya pelan. Ia kesal karna Rai masih kurang tanggap seperti dulu.


“Au!” Pekik Rai pura-pura kesakitan.


“Mama cuma mau mengingatkan. Sama siapapun kamu deket, tolong di jaga anak perempuan orang. Jangan di macem-macemin.”


“Mama ini ngomong apa, sih? Siapa yang macem-macemin siapa?”  Tanya Ren heran.


Bukan apa. Esta tidak ingin putranya terjerumus kedalam hal-hal tidak baik seperti yang pernah ia dan suaminya lakukan dulu. Sudah cukup pengalaman menyakitkan itu. Ia tidak ingin putranya merusak gadis lain. Karna ia sangat faham bagaimana rasanya di cemooh dulu. Sesekali rasa sakitnya bahkan masih terasa hingga sekarang.


“Mama gak usah khawatir. Mama sama Papa udah berhasil mendidik putra kalian ini dengan baik. Ren gak mungkin ngerusak anak gadis orang, Ma. Kan Mama tau sendiri Ren gimana? Selama ini bukan Ren yang menggoda. Tapi mantan-mantan Ren tuh yang ngebet punya anak dari Ren.”


“Hush. Kamu ini ngomongnya....” Hardik Esta.


“Hahahahaha.” Rai ikut terkekeh juga. Padahal ia masih belum faham pembicaraan mereka karna ia sedang sibuk membaca laporan di tabletnya.


“Jangan sampai ya, Nak.”


“Iya, mama sayang. Ren gak mungkin sampai segitunya. Ren udah dewasa, bukan anak remaja labil yang tunduk sama nafsu.”


Esta tersenyum senang mendengar jawaban itu.


Setela menjadi orangtua, ia bisa merasakan kekhawatiran karna punya anak laki-laki. Mungkin yang ia rasakan adalah sama dengan apa yang di rasakan oleh kebanyakan orang tua di luar sana. Baik yang punya anak laki-laki maupun anak perempuan. Ia takut kalau anaknya menjadi perusak. Karna itu ia berusaha mendidik kedua putranya dengan baik walaupun itu bukanlah hal yang mudah.


“Tapi Mama masih penasaran, sebenernya apa yang terjadi sama Zinnia malam itu?”


“Ren juga gak tau, Ma. Ren gak berani bahas masalah itu apalagi nanyain dia. Ren takut Zinnia tersinggung nanti.”


“Biarin aja, lah. Dia pasti punya alasan kenapa gak bilang sama kita. Bukan ranah kita ikut campur. Yang penting kita udah nolongin dia.” Kali ini ucapan Rai nyambung dengan topik pembicaraan. Membuat Esta dan Ren menatapnya sambil mengernyit

__ADS_1


“Apa? Papa kan cuma ngomong..”


“Ren mau istirahat dulu ya, Ma, Pa.” Pamit Ren yang kemudian beranjak dan pergi ke kamarnya. Meninggalkan Rai dan Esta yang masih melanjutkan obrolan ringan mereka.


Ren merebahkan tubuhnya di dalam selimut. Mencoba memanggil rasa kantuknya dengan bantuan musik sendu yang melantun pelan.


Namun bukannya rasa kantuk yang datang, justru wajah tanpa dosa milik si ayam cemani yang hinggap di ingatannya.


“Pacaran yuk, Kak.”


Kalimat itu terus berulang di kepalanya. Membuat Ren langsung mengacak rambutnya dengan kasar.


“Bisa-bisanya dia ngajak aku pacaran padahal dia udah punya pacar? Dasar ayam cemani playgirl.” Dengus Ren lirih.


Namun tidak bisa di pungkiri, kalau ia juga merasa senang dengan tawaran itu.


Zinnia gadis yang lucu. Gadis yang hanya apa adanya di depannya. Bertingkah semestinya tanpa mempedulikan latar belakang Ren. Tidak pernah berusaha bersikap manis untuk mendapat pengakuan darinya. Gadis langka, yang sepertinya penuh dengan luka.


Bukan Ren sok mengerti akan kehidupan Zinnia. Tapi ia bisa merasakan kalau kecerian gadis itu hanyalah sebuah kamuflase untuk menutupi dirinya yang sebenarnya. Ia yakin ada luka yang sedang di sembunyikan oleh Zinnia di balik sikapnya yang kekanak-kanakan dan selalu ceria.


Kalau melihat sekilas, mungkin orang akan berfikir kalau hidup Zinnia penuh dengan kenyamanan karna dia selalu nampak bahagia. Tapi saat melihat lebih dekat kedalam netra gadis itu, Ren seperti bisa mendapati sebuah tatapan pias penuh kesedihan di sana.


“Ah.. Kenapa aku jadi mikirin dia, sih?” Dengus Ren pada dirinya sendiri.


Ren menambah volume musik untuk mengusir bayangan Zinnia dari kepalanya. Ia berharap itu ampuh untuk memanggil kantuknya. Tapi yang ada mata Ren justru semakin terbelalak. Rasa kantuk yang tadi sudah hampir datang, sekarang malah menghilang entah kemana.


Akhirnya Ren memilih untuk ke luar dan duduk di teras balkonnya. Menikmati pemandangan mendung yang menyelimuti seluruh langit ibukota. Mendung yang tak kunjung mendatangkan hujan itu membuat udara terasa lebih lembab. Mengikiskan hati yang ragu akan sebuah rasa. Menyelipkan bayangan yang sangat ingin ia usir dari benaknya namun sangat sulit di lakukan.


“Hhhuuuuuhhhhffff..”


**********


haloo hai,, warga.. udah hari senin lagi.. gak terasa ya,,


kalau kalian masih punya tiket vote, boleh dong di sedekahkan buat Zinnia.. biar dia semakin semangat hidupnya.. hehehehehe.

__ADS_1


likenya jangan lupa,, komentarnya juga... tapi maaf kadang gak bisa bales komenan kalian. tapi tetep aku baca kok... makasih yaaa semangatnya...


__ADS_2