
Navya Kumala. Di hidupnya hanya ada karier dan pekerjaan. Ia tidak mau mengenal pria atau apapun yang berhubungan dengan hal yang membuang-buang waktunya. Satu-satunya hal yang ia kejar adalah kesuksesan.
Ia selalu menjaga keanggunanya dengan baik. Itulah yang menunjang otak cerdasnya. Dan teman-temannya menyukainya karna hal itu.
Ia terkejut saat Zinnia dengan penampilan ‘biasa’nya muncul sebagai tukang bakso. Seketika rasa kesalnya berkumpul di dalam hati. Ia akan malu kalau teman-temannya ataupun direktur mereka tau kalau itu adalah kakaknya.
“Ayam cemani, ngapain disini?” Tanya Ren mengejutkan Navya. Ia mengerutkan kening mendengar kata ‘ayam cemani’. Apa maksudnya?
“Ayam cemani?” Gumam mereka.
“Aku kerja disini, Kak.” Jawab Zinnia.
Kak? Navya semakin mengernyit heran. Menatap Zinnia dan Ren bergantian. Sementara Ren nampak mengernyitkan kening juga. Heran dengan jawaban Zinnia.
“Oh, iya. Uangnya Kak Ren nanti aku bayar kalau aku udah gajian. Oke?” Zinnia berkata sambil tersenyum manis. Tidak peduli kalau orang-orang yang ada disitu menatapnya heran.
Zinnia kembali untuk mengambil sisa bakso yang harus ia antarkan. Selebihnya, ia kembali sibuk membantu Pak Jaya melayani pembelinya.
Di tempatnya, berkali-kali Ren nampak memperhatikan kearah Zinnia yang sibuk kesana kemari mengantarkan bakso ataupun mengemasi mangkuk kotor kemudian mencucinya.
Bukan apa, Zinnia adalah anak orang kaya. Kenapa ia malah berjualan bakso? Itulah yang terlintas di kepala Ren saat ini.
Ren baru sadar kalau karyawannya sedang menatapnya penuh tanya. “Apa?” Tanya Ren.
“Bapak kenal sama dia?” Tanya Ariga yang juga diselimuti rasa penasaran. “Emangnya dia punya hutang sama bapak? Tapi bentar, aku kayaknya pernah ketemu sama cewek itu, deh. Dimana, ya...” Ariga mulai memutar ingatannya mencari sosok Zinnia di kepalanya.
“Udah gak usah bawel.” Hardik Ren pada Ariga.
“Bapak jual ayam cemani?” Tanya yang lain.
“Ngapain juga aku jual ayam cemani? Emangnya aku gak ada kerjaan, apa?” Dengus Ren.
“Ya tadi bapak bilang ayam cemani. Aku kira bapak jual ayam cemani. Kalau bapak jual, aku mau beli. Buat obat.”
Ren hanya mendengus kesal. Kenapa mereka malah jadi membahas ayam cemani?
Ren hanya spontan memanggil Zinnia dengan sebutan ayam cemani karna Zinnia suka sekali berpakaian hitam-hitam.
“Udah buruan dihabisin. Kalau yang mau tambah juga boleh.” Ren mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Selesai menghabiskan makanan mereka, Ariga segera membayar makanan mereka. Selanjutnya, semua orang kembali ke kantor.
Tanpa sepengetahuan yang lain, Navya diam-diam kembali untuk menemui Zinnia. Ia langsung menarik lengan kakaknya itu untuk menjauh dari gerobak bakso.
“Apa, sih Nav?” Tanya Zinnia kesal.
“Kenapa kakak bisa kerja disini?” Tanya Navya curiga.
“Memangnya kenapa? Emang cuma kamu aja yang boleh kerja? Aku juga mau.”
“Ya tapi gak di depan kantorku juga, kan. Kalau temen-temenku tau, gimana? Jangan buat aku malu.” Cecar Navya.
“Ya aku gak tau kalau itu gedung FD Corp. Tenang aja. Gak akan ada yang tau.” Jawab Zinnia santai. Padahal dalam hatinya ia kesal setengah mati.
Memangnya kenapa kalau rekan-rekan Navya tau dia kakaknya? Semalu itukah Navya dengan dirinya? Memangnya dia aib apa sampai ditutup-tutupi keberadaannya?
Sebenarnya, hati Zinnia selalu sakit saat Navya memperlakukannya seperti itu. Ia tidak muluk-muluk mengharapkan penghormatan dari adiknya itu. Ia hanya ingin Navya tidak merendahkannya dan menghargainya sebagai seorang kakak.
Seumur hidup, Navya tidak pernah memperlakukannya sebagai seorang kakak. Ia memang dipanggil ‘kakak’. Tapi itu hanyalah sebutan kosong yang tak berarti sama sekali.
“Awas aja kalau kakak bilang sama ornag-orang kalau kita saudaraan.” Ancam Navya.
“Gak akan! Aku juga gak mau kali, dibanding-bandingin disini sama kamu. Udah cukup dirumah aja.” Dengus Zinnia yang mulai kesal.
“Enggak. Belum.”
“Jin!!!!!” Pekik sebuah suara yang sangat familiar di telinga.
Dari kejauhan, nampak Joham yang baru turun dari sepeda motornya langsung berlari kecil mendekati Zinnia dan Navya.
“Eh, ada Navya rupanya. Hai Navya...” Sapa Joham dengan lembut. Membuat Zinnia jijik mendengarnya.
“Hueekkk.”
“Hai juga kak Joham. Pas banget. Tadinya pulang kerja aku mau mampir ke kantornya kak Joham.” Ujar Navya.
“Mampir ke kantorku? Tumben? Kangen ya sama aku?”
“Bukan kangen. Tapi ada proyek besar buat kak Joham.”
__ADS_1
“Oh ya? Proyek apa tuh?” Joham jadi penasaran.
“Nanti aja jelasinnya. Sekalian ketemu sama bos aku. Yang jelas ini proyek bernilai milyaran.”
Mata Joham membulat mendengar angka itu. “Wahhh. Makasih banyak ya, Navya. Gak nyangka kamu masih kepikiran sama aku. Jadi tambah sayang deh sama kamu.” Goda Joham.
Navya hanya tersenyum saja. “Ya udah kalau gitu. Aku pamit mau balik kerja lagi.”
Zinnia tidak menggubris. Ia hanya mengikuti punggung Navya dengan ekor matanya.
“Ngapain kesini?” Tanya Zinnia kepada Joham.
“Penasaran sama tempat kerjamu. Gimana? Enak, gak?”
“Lumayan. Gak buruk juga ternyata. Cuma ya itu, lumayan capek. Hihihihihi.”
“Ya namanya juga kerja, Jin. Mana ada yang gak capek. Orang tidur aja badannya bisa pegel-pegel.”
Zinnia mencibiri Joham.
“Semoga betah ya, Jin. Kalau perlu apa-apa, jangan sungkan-sungkan telfon aku ya, bakal calon kakak ipar.”
“Mulai.” Ejek Zinnia.
“Kan kamu lihat tadi. Ternyata selama ini Navya itu perhatian sama aku. Buktinya, proyek senilai milyaran di kasih ke aku yang cuma perusahaan batita ini. Duhh,, Jin. Jantungku berdegup kencang. Tolongin.”
“Kalau cuma mau ngoceh, pergi sana. Ganggu orang kerja aja.” Dengus Zinnia yang mulai kesal. Ia mulai berbalik untuk meninggalkan Joham.
“Iya, iya. Yang udah punya kerjaan. Jadi bukan pengangguran paling bahagia di bumi lagi dong.”
“Aku penjual bakso paling bahagia di dunia. Hahahahaha.”
“Dasar. Udah uzur tapi kelakuan masih kayak bocil.”
Zinnia menjulurkan lidah untuk mengejek Joham. Tanpa mereka sadari, sepasang bola mata terus memperhatikan kepada mereka dari balik kaca gedung lantai 21.
Ren sedang mengantungkan kedua tangannya di saku celana. Menatap kepada dua manusia yang nampak kecil di sekitar trotoar jalan depan gedung perusahaannya. Dari rambut yang terang itu ia bisa tau kalau itu adalah Zinnia. Si gadis ayam cemani.
“Oh, iya. Aku baru inget. Dia itu kan, Pak. Pencopet itu?” Ujar Ariga yang sudah mengingat siapa Zinnia.”Anak wakil menteri kok mau-maunya jualan bakso? Aneh banget.”
__ADS_1
“Memangnya kenapa kalau dia jualan bakso? Kalau dia anak wakil menteri terus gak boleh jualan bakso, gitu? Memangnya apa yang salah sama jualan bakso?” Tiba-tiba Ren jadi setengah sewot kepada Ariga. Ia berjalan kembali ke mejanya dan duduk di kursi.
Ariga hanya bisa mengatupkan mulutnya saja melihat Ren yang seperti tidak terima dengan ucapannya. Entah bagian mana yang salah, tapi ia merasa kalau Ren sedang kesal padanya.