Metalmorfosis

Metalmorfosis
BAB 77. Rasa Malu Telah Mengalahkannya.


__ADS_3

“Lancang sekali kamu?” Roni berkata dengan nada mengancam.


“Maaf, Bang. Tadi Bapak nyuruh saya buat bersihin kamar Abang.” Lutut Zinnia sudah gemetar. Ia takut dengan tatapan Roni dengan mata yang memerah.


Roni bergeming. Ia terus menatap Zinnia dengan kemarahan.


“Ini kamarku. Kalau gak ku suruh, kamu gak perlu bersihin.”


“Maaf, Bang.”


Zinnia merasa mendapat celah untuk pergi dari kamar itu setelah Roni berjalan masuk ke dalam kamarnya.


Sambil mencengkeram erat sapu di tangannya, Zinnia melipir di pinggir tembok dan berjalan menuju keluar kamar.


“Mau kemana kamu?” Tanya Roni yang sudah memegang pergelangan tangan Zinnia.


Zinnia sungguh terkejut bukan main. Ia menatap takut kepada pria itu.


“Tadi di suruh bersihin kamar Bapak, Bang.” Zinnia berusaha sekuat mungkin untuk menahan getaran di suaranya. Ia tidak ingin ketakutannya terbaca oleh Roni.


Untuk beberapa saat Roni hanya menatapnya. Kemudian baru melepaskan tangannya.


Zinnia bisa bernafas lega setelah Roni melepaskan tangannya. Ia segera berlari turun ke bawah dan masuk ke kamar Pak Burhan.


Lama sekali Zinnia duduk di pinggir tempat tidur Pak Burhan. Tubuhnya masih bergidik ngeri saat mengingat tatapan liar milik Roni.


Hufhhh.


Ia berusaha untuk mengatur nafas demi menenangkan hatinya.


Ren, ia teringat dengan Ren. Sejak semalam ia sudah melupakan pria itu. Hatinya terasa sakit saat menyadari kusulitannya untuk memaksa dirinya. Sebenarnya ia ingin pergi kepada Ren. Ia ingin berlari dan bersandar di bahu Ren. Tapi rasa malu telah mengalahkannya.


Bayangkan saja, dua kali ia harus di hadapkan dengan kondisi yang meruntuhkan harga dirinya. Mungkin ia masih bisa bertahan kalau tidak ada Ren saat itu. Tapi keberadaan Ren, semakin membuatnya hancur.


Mengingat tatapan terkejut Ren kemarin, ia merasa seolah tidak punya tempat berlari lagi. Ia bisa melihat kilasan keraguan di netra Ren kemarin.


Wajar kalau Ren mulai meragukan dirinya. Siapa yang mau punya istri dengan keluarga yang sudah rusak dan hancur begitu? Hanya menyisakan rasa malu untuk Ren kalau mereka benar-benar menikah.


Terlebih, Ren berasal dari keluarga baik-baik. Dirinya merasa kecil saat memikirkannya lagi.


Zinnia memegangi dadanya yang nyeri. Perlahan tetesan air mata mengalir di pipinya. Ia menoleh dan memandangi pantulan dirinya di cermin kamar pak burhan.


Kacau, sungguh kacau.

__ADS_1


Zinnia memegangi sakunya yang berisi uang hasil menjual ponsel. Kalau ada waktu, mungkin besok, ia harus menghubungi Ren dan memberitahu keadaannya. Ia merasa harus melakukan itu walaupun hatinya di bumbung perasaan malu.


“Zinnia!!” Panggil Roni dari kamarnya.


“Ya Bang!” Jawab Zinnia.


“Bersihin dulu kamarku!” Teriak Roni lagi.


Zinnia mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar Pak Burhan. Sejak tadi dia hanya duduk saja dan tidak melakukan apapun disana.


“Iya, Bang. Sebentar.”


“Cepetan!”


Paksaan itu membuat Zinnia langsung bangkit dan berjalan ke lantai atas. Disana, dia bisa melihat Roni yang tengah bersedekap di pintu dengan menatapnya tajam.


“Jangan lama. Mana bajuku?”


“Lagi di jemur, Bang. Mau di ambilin?”


“Gak usah. Biar aku aja. Kamu beresin kamarku.” Perintah Roni kemudian.


Zinnia hanya mengangguk. Melirik kepada Roni saat pria itu melewatinya dan menuju ke atap untuk mengambil kemejanya.


Zinnia segera masuk dan mulai melakukan pekerjaannya. Dia fokus membersihkan kasur. Kali ini, ia tidak lagi melihat obat-obatan dan alatnya di atas meja. Tapi aroma kamar itu benar-benar membuatnya pusing dan mual.


“Zinnia, bisa minta tolong?” Suara Roni mengejutkan Zinnia. Dia sontak menoleh ke belakang yang ternyata Roni sudah duduk di pinggir tempat tidurnya. Entah kapan pria itu masuk, Zinnia tidak menyadarinya.


“Apa, Bang?” Tanya Zinnia mengernyit. Ia memandangi Roni yang hanya mengenakan kolor pendek dan kemeja putihnya.


“Kayaknya aku masuk angin, deh.” Ujar Roni sambil mengusap area perutnya.


“Mau aku belikan obat?”


Roni menggeleng. “Tolong ambilkan minyak kayu putih aja itu di laci.” Tunjuk Roni ke arah meja.


Zinnia segera mengambil apa yang di minta Roni. Setelah mendapatkannya, ia segera menghampiri pria itu dan memberikan botol minyak kayu putih itu kepadanya.


“Tolongin dong.” Ujar Roni kemudian sambil menyingkap kemejanya ke atas hingga memperlihatkan perutnya yang buncit.


Tentu saja Zinnia terkejut. Ia langsung memundurkan langkahnya hingga punggungnya mentok ke dinding. Menatap heran kepada Roni.


“Cepetan.”

__ADS_1


“Bang. Aku gak bisa, Bang.” Tolak Zinnia yang sudah mulai merasa risih.


Mendengar penolakan itu, Roni kembali menurunkan bajunya. Lantas ia berdiri dan menghampiri Zinnia dengan tatapan anehnya.


“Sini!” Hardik Roni sambil menyambar botol minyak dari tangan Zinnia. Lantas pria itu menumpahkan separuhnya ke telapak tangannya sendiri.


Hal yang selanjutnya terjadi membuat Zinnia terhenyak bukan main. Roni tiba-tiba menyingkap kaus yang di kenakan Zinnia dan menempelkan tangannya di perut Zinnia.


“Begini. Begini.” Ujar Roni dengan mengusap perut Zinnia kasar.


“Bang. Udah, Bang.” Zinnia memaksa tubuh Roni menjauh. Roni sampai terjengkang ke atas kasur.


Dada Zinnia naik turun akibat nafasnya yang sedang tersengal. Menatap Roni yang juga sedang menatapnya marah. Pria itu nampak sangat marah kepada Zinnia.


Tidak ingin membuang kesempatan, Zinnia segera berlari keluar dari kamar Roni.


“Aaahhh!!!” Pekik Zinnia saat tiba-tiba rambutnya di jambak oleh Roni dengan sangat kuat.


“Berani-beraninya kamu dorong aku?! Hah?!!” Roni benar-benar marah.


“Maaf, Bang. Aku gak sengaja.” Zinnia memilih jalan aman untuk meredakan emosi Roni. Ia berusaha melepaskan tangan Roni dari rambutnya. “Tolong lepasin, Bang.” Mohon Zinnia lagi.


“Kamu harus di kasih pelajaran.” Roni berkata dengan geram. Dia kemudian melepaskan jambakannya kemudian mendorong tubuh Zinnia hingga ke pagar tangga. “Udah di kasih makan tapi kamu ngelunjak, ya?! Hem?!!” Roni gantian mencengkeram leher Zinnia hingga membuat gadis itu kesulitan  bernafas.


“Bb bb ba ng.” Zinnia berusaha melepaskan diri. Namun cengkeraman tangan Roni terlalu kuat.


Saat ini yang ada di fikrian Zinnia adalah, dia belum ingin mati. Apalagi dengan cara tragis dengan di cekik oleh majikannya sendiri.


“Aaaaaaa!!!!!” Teriak Roni yang kesakitan namun masih tidak melepaskan cengeramannya di leher Zinnia.


Zinnia berfikir, daripada menghabiskan tenaga untuk memberontak melepaskan diri, lebih baik dia membalas saja pria itu. Zinnia mencengkeram kuat bagian kema luan Roni hingga memelintir dan meremasnya dengan seluruh tenaganya. Dia bahkan menariknya sampai pria itu melepaskan tangannya dari leher Zinnia.


Baru setelah lepas, Zinnia juga melepaskan serangannya. Melihat kepada Roni yang terus mengerang kesakitan sambil memegangi kema luannya.


Tatapan Roni semakin buas. Pria itu lantas kembali maju untuk menyerang Zinnia. Untung dengan cepat Zinnia bisa menghindar ke samping.


Bruukk!!


Terdengar suara keras saat Roni terjungkal ke lantai bawah dengan kepala yang membentur meja makan. Seketika, waktu Zinnia terasa berhenti setelah melihat darah mengalir deras dari kepala pria itu. Ia berjalan perlahan menghampiri Roni yang sudah terkapar tak sadarkan diri.


Ding-dung.


Seseorang membunyikan bel rumah dari luar.

__ADS_1


Dengan setengah sadar, Zinnia tetap berjalan untuk membukakan pintu.


BERSAMBUNG...~~~~


__ADS_2