
“Udah bangun?” Tanya Ren yang baru kembali ke dalam kamar. Ia langsung menghampiri Zinnia yang duduk di tepian tempat tidur.
“Udah dari tadi.” Jawab Zinnia singkat.
“Gimana keadaanmu? Masih pusing? Atau mual?”
“Udah gak apa-apa.” Zinnia langsung bangkit dan berjalan menuju ke kamar mandi tanpa melihat kepada Ren yang berdiri di sampingnya.
“Mau kemana?”
“Cuci muka.”
Di dalam hati, Zinnia sedang mengutuki sikapnya yang tidak profesional dalam berteman. Entah kenapa ia merasa sudah menampakkan sisi cemburunya kepada Ren, yang harusnya tidak ia lakukan.
Sementara Ren duduk di sofa sambil menunggu Zinnia keluar dari kamar mandi. Ia seperti bisa merasakan sikap Zinnia yang berubah dingin padanya. Gadis itu seperti sedang marah tapi Ren tidak merasa telah melakukan kesalahan.
Otak Ren seolah dipaksa untuk mengingat lembutnya bibir padat Zinnia yang sempat ia rasakan semalam.
Setelah selesai mencuci muka, Zinnia kembali keluar. Ia hanya melirik singkat kepada Ren kemudian duduk kembali di tempat tidur.
“Turun yuk. Sarapan dulu. Abis itu kita balik ke Jakarta.” Ajak Ren kemudian berdiri.
Zinnia mengikuti langkah kaki Ren dengan diam. Dalam fikirannya sedang memutar kenangan samar tentang semalam. Ia tidak yakin dengan ingatannya itu tapi ia malu bertanya kepada Ren.
Konsentrasi Zinnia terpecah. Benarkah ia mencium Ren semalam?
Buk!
Zinnia menabrak Ren yang sudah berhenti untuk menarik kursi makannya. Pria itu berbalik kemudian menatap Zinnia dengan bingung. Begitu juga dengan Zinnia. Ia mendongak dan menatap dengan wajah yang merona.
“Mikirin apa sih? Sampai gak fokus begitu?” Tanya Ren.
Namun Zinnia hanya memanyunkan bibirnya kemudian berjalan ke arah depan Ren dan duduk disana.
Di atas meja, sudah terhidang berbagai menu lauk untuk sarapan mereka berdua. Saat Ren sedang menyendokan lauk ke atas piringnya, ponselnya berbunyi. Itu adalah telfon dari ibunya.
“Ya, Ma?” Sapa Ren.
“Gimana Zinnia? Udah baikan?” Esta langsung menanyakan
keadaan Zinnia.
“Udah. Ini kami lagi sarapan. Mama udah berangkat?”
“Lagi di bandara. Jagain Zinnia ya, Nak. Jangan sampai makan buah kecubung lagi...” Seloroh Esta dari seberang.
“Hahahahahaha. Iya..”
“Jadi kamu hari ini gak ngantor?”
__ADS_1
“Udah bilang sama Ariga buat kosongin jadwal hari ini.”
“Ya udah, gak apa-apa sekali-kali libur. Oke kalau gitu, kami berangkat dulu, ya. Itu pesawatnya udah dateng.” Pamit Esta kemudian.
“Iya, Ma.... Hati-hati disana.” Pesan Ren.
Dihadapan Ren, Zinnia hanya sesekali melirik kepada pria itu sambil menyuapkan makanan ke mulutnya. Fikirannya sedang kacau. Ia malu menanyakan tapi tidak tahan untuk tidak bertanya kepada Ren.
Jadi, setelah Ren menutup sambungan telfon dengan ibunya, Zinnia mulai mengangkat wajahnya dan menatap Ren dengan intens.
“Tante udah berangkat?” Zinnia memulai perbincangan.
“Baru mau berangkat.”
“Ooh..”
Dan suasana menjadi canggung kembali.
Ada dua hal yang ingin di tanyakan oleh Zinnia kepada Ren. Pertama, tentang wanita yang datang ke villa tadi. Dan yangkedua, kebenaran tentang ingatannya sudah mencium Ren semalam. Ia bahkan sampai lupa tentang alasan kenap awajahnya babak belur.
“Kak?”
“Hem?” Ren mengangkat wajahnya melihat kepada Zinnia. “Apa?”
“Semalam aku mimpi aneh banget. Tapi jangan ketawa, ya.” Zinnia memperingatkan sebelum bercerita. Ia memilih untuk tidak menanyakan perihal wanita calon istri Ren karna sepertinya itu terdengar tidak sopan dan membuatnya semakin canggung.
“Mimpi apa emangnya?”
Uhuk! Uhuk!! Uhuk!!
Ren keselek mendengar penuturan Zinnia. Jadi semalam Zinnia sadar sudah menciumnya? Fikir Ren.
“Tapi itu cuma mimpi. Jadi jangan di anggap serius ya...”
“Mimpi?” Ren mengerjap-ngerjapkan matanya. Jadi sebenarnya semalam dia sadar apa enggak, sih? Bathin Ren.
“Lucu banget ya.. Maaf ya, Kak. Mimpiku gak sopan banget. Hehehehe.”
Ren ternganga sambil menggaruk sebelah alisnya yang tidak gatal. “Enak gak ciuman sama aku?” Gumam Ren.
“Hah? Maksudnya?”
“Di mimpimu, enak gak ciuman sama aku?”
“Kak Ren apaan sih. Jangan buat aku malu dong, Kak.” Protes Zinnia memasang wajah kesal.
“Lhah kok jadi ngambek? Kan kamu yang mimpi. Aku cuma nanya doang padahal.” Ren berkilah.
Sekelebat bayangan rasa manis bibir ranum Zinnia mulai melayang-layang di kepalanya. Tanpa diminta netranya langsung menyapu bibir Zinnia yang sedang mengunyah itu.
__ADS_1
“Jadi kita pulang jam berapa, Kak?”
“Bentar lagi. Kamu udah bener-bener sehat, kan?”
Zinnia mengangguk mantap. “Aku udah gak apa-apa. Jadi gak enak akunya. Gara-gara aku Kak Ren sampai bolos kerja.”
“Ya udah lah. Ngapain di fikir sampai kesana. Buruan habisin makananmu.”
Di sisa sarapan itu hanya ada dentingan sendok dan piring yang terdengar. Zinnia sudah merasa setengah lega setelah melihat reaksi Ren yang nampak biasa saja setelah ia menceritakan tentang ciuman. Sekarang ia yakin kalau yang ia ingat itu benar-benar mimpi.
Tapi masih ada yang mengganjal dihatinya, yaitu tentang wanita calon istri Ren tadi pagi. Tiba-tiba ia ingin melihat wanita itu lagi. Ia masih penasaran apa yang membuat Ren jatuh cinta pada wanita itu.
Memang saat ia melihatnya sekilas saja, ia bisa tau kalau wanita itu pastilah wanita hebat yang setara dengan Ren. Dari penampilannya saja sudah membuktikan anggapan itu. Entah kenapa Zinnia jadi minder sendiri.
“Bengong! Udah belum?” Ren mengejutkan Zinnia yang sejak tadi hanya menatapi piring kosong sambil memainkan sendok di tangannya.
“Oh? Udah.” Jawab Zinnia.
“Yaudah, buruan beresin barang-barangmu, kita pulang sekarang aja, ya...”
Zinnia melirik jam tangannya. Sudah jam 9 lewat ternyata. Ia kemudian bangkit dan naik ke kamarnya untuk membereskan barang-barangnya. Yang ia tidak tau, ternyata Ren mengikutinya di belakang.
“Sini, duduk.” Ajak Ren yang sudah duduk di sofa dan menepuk sofa disebelahnya.
“Kenapa?” Zinnia menatap curiga.
“Udah, sini.” Ren memaksa dengan tatapan. Dan lagi, Zinnia hanya menurut saja kemudian duduk di samping Ren.
Ren membuka botol salep di tangannya kemudian beralih kepada Zinnia. “Lihat sini.”
Kini Zinnia mengerti apa yang akan di lakukan oleh pria itu.
Perlahan, Ren mulai mengoleskan salep ke beberapa luka di wajah Zinnia. Gadis itu sebentar-sebentar mengernyit perih saat jari telunjuk Ren mengenai lukanya.
Pandangan mereka bertemu. Zinnia bisa merasakan nafasnya tercekat dan tubuhnya tiba-tiba mematung tak bisa bergerak. Apalagi saat wajah Ren perlahan lebih dekat kepadanya. Sekelumit ingatan tentang mimpi semalam mulai muncul kembali dan membuat hatinya semakin berdebar tak terkendali.
Buk!! Zinnia menolak tubuh Ren menjauh dengan tiba-tiba. Ren sampai terjungkang ke belakang dengan menatap heran kepada Zinnia.
“Apa sih?”
“Kak Ren jangan deket-deket. Gak boleh!” Tegas Zinnia.
“Kenapa emangnya? Itu belum selesai, sedikit lagi.”
“Kak Ren sadar gak sih kalau kakak itu gak boleh ngelakuin ini?”
“Ngelakuin apa? Maksud kamu apa sih?”
“Kak Ren gak boleh perhatian sama aku. Kak Ren buat hatiku terus berdebar. Ngeselin tau gak! Udah punya calon juga. Sini! Aku bisa sendiri!” Hardik Zinnia yang kemudian menyambar salep dari tangan Ren dan pergi masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Meninggalkan Ren yang hanya bisa ternganga seraya berusaha mencerna ucapan Zinnia.
BERSAMBUNG...