
“Kenapa, Kak?” Tanya Zinnia saat Ren sudah masuk ke dalam mobil.
“Ini kena ranting.” Jawab Ren sambil menunjukkan belakang lehernya kepada Zinnia.
“Ya ampun. Berdarah gitu, Kak. Ayo ke apotik kita cari obat.” Paksa Zinnia.
Ren setuju. Karna memang lehernya terasa sangat perih.
Zinnia mencari alamat apotik yang buka 24 jam di ponselnya. Setelah menemukannya, ia segera memberitahu Ren alamatnya.
Ren menghentikan mobil di depan sebuah apotik 24 jam.
“Aku aja yang beli, Kak. Kak Ren tunggu disini.” Paksa Zinnia yang langsung keluar dari mobil saat Ren bahkan belum sempat menyanggahnya.
Beberapa saat kemudian, Zinnia sudah kembali dengan membawa sekantung obat-obatan untuk Ren. Ia segera masuk kembali ke dalam mobil.
“Sini, Kak. Aku bantu obatin lukanya.” Tawar Zinnia. Ia mengaduk isi plastik untuk mencari salep luka dan plasternya.
Ren menyampingkan tubuhnya dan memberikan tengkuknya kepada Zinnia. Gadis itu segera menyalakan lampu kabin kemudian membuka salep.
Pertama, ia mengoleskan salep luka ke leher Ren. Kemudian ia meniup-niupnya untuk membuat salep cepat meresap. Zinnia sama sekali tidak menyadari akibat dari perbuatannya itu.
Ren sedang menahan diri dengan mencengkeram pahanya. Hembusan nafas Zinnia di tengkuknya membuat seluruh tubuhnya meremang seketika. Sesaat ia menyesal telah membiarkan Zinnia membantunya.
Ada bagian dalam dirinya yang terangsang dengan tiupan kecil itu. Ia merasa bulu kuduknya pasti sudah berdiri semua. Ren menahannya dengan menggigit bibirnya sedikit.
“Udah.” Sela Ren yang langsung menarik diri menjauh dari Zinnia.
“Belum selesai, Kak. Plasternya belum di tempel.” Zinnia menarik paksa Ren untuk kembali mendekat padanya.
Nampaknya, Ren masih harus menahan cobaan itu sedikit lagi. Ia hampir tidak bisa menahan diri saat kulit tangan Zinnia bersentuhan dengan kulit tengkuknya. Ren sampai menghela nafas dan memejamkan matanya kuat-kuat demi mengusir deguban aneh yang kini tengah mendominasi dadanya.
“Udah, Kak.” Ujar Zinnia dengan santainya. Ia kembali membereskan salep dan plaster kemudian mengembalikannya ke dalam plastik.
Zinnia tercekat saat tiba-tiba Ren melepas sabuk pengamannya kemudian menjatuhkan diri ke hadapannya. Membuat Zinnia terus meringsut ke sandaran kursi.
Tatapan Ren saat itu, jelas sekali seperti tatapan pria dewasa yang sedang menginginkan sesuatu yang memuaskan. Tatapan yang terus menusuk ke dalam netra Zinnia dan mengobrak abrik perasaan gadis itu.
Zinnia mengaitkan kedua tangannya ke dadanya untuk membuat jarak antara Ren dan dirinya. Sementara Ren terus mendesak tubuhnya sampai benar-benar meringsut di kursi.
Sreett!
__ADS_1
Ren menarik tuas kursi sehingga membuat Zinnia setengah terbaring. Gadis itu semakin meringsut. Berbagai macam fikiran kotor sedang berseliweran di kepalanya.
Sementara Ren terus menekan tubuhnya kepada Zinnia. Perlahan, ia bahkan memegangi sebelah pipi Zinnia dengan hembusan nafas yang menderu.
“K-Kak Ren m-mau ng-ngapain?” Tanya Zinnia setengah takut dan setengah berharap.
“Makanya, jangan mancing-mancing.” Lirih Ren dengan suara dalam. Ia terus menatap intens ke dalam netra Zinnia. Membelai pipi gadis itu dengan ibu jarinya
KRUCUKK.. KRUCUKKK..
Ren tak menggubris suara itu.
KRUCUKKK....
“Kak?” Lirih Zinnia. Rupanya ia sudah terbuai dengan belaian Ren.
“Hem?”
“Aku laper.” Ujar Zinnia tidak pada waktunya.
Ren terperangah sesaat. Namun kemudian ia tersenyum lucu dan sedikit terkekeh kecil.
Cup.
Momen lucu yang mendebarkan itu sudah berakhir tanpa hasil.
“Mau makan?” Tawar Ren.
Zinnia melirik jam tangannya. “Udah jam segini, emangnya masih ada restoran yang buka?” Zinnia ragu.
“Sebentar, ya.” Ujar Ren yang kemudian menelfon seseorang.
“Lagi dimana? – buatkan aku makan malam buat 2 orang, ya. Lima belas menit lagi aku sampai.” Kemudian Ren langsung mematikan ponsel begitu saja. Ia menoleh kepada Zinnia yang sedang menatapnya heran.
“Siapa, Kak?”
“Koki.”
“Koki?”
Ren hanya tersenyum saja kemudian kembali melajukan mobilnya. Sementara Zinnia sedang di serang rasa penasaran yang menggebu.
__ADS_1
“Katanya laper. Aku telfon koki di hotel untuk buatkan makan malam buat kita.”
“Hah???!” Zinnia ternganga. Ren sampai berbuat sejauh itu demi menurutinya. “Uluhhh... Romantisnya pacarku..” Puji Zinnia.
Hotel yang mereka tuju merupakan hotel anak perusahaan FD Corp. Jadi tentu saja tidak ada yang berani menolak permiantaan Ren. Termasuk koki hotel yang sedikit akrab dengannya.
Ren menghentikan mobil begitu saja di depan loby. Kemudian ia memberikan kunci kepada parkir valet yang segera memindahkan mobilnya ke tempat parkir.
“Ayo.” Ajak Ren menyodorkan tangan agar Zinnia menyambutnya.
Dengan senyuman lebar, Zinnia langsung menyambut tangan Ren yang kemudian menggenggamnya dengan sangat erat. Lantas keduanya langsung berjalan masuk ke dalam loby.
Zinnia menghentikan langkahnya seketika. Senyumannya juga langsung menghilang entah kemana. Tatapannya lurus menatap sepasang pria dan wanita yang sedang berjalan dengan mesra sambil tertawa bahagia. Wanitanya menggandeng erat lengan si pria yang sudah berumur paruh baya itu. Si pria bahkan sempat mengecup pipi si wanita sekali.
“Kenapa?” Tanya Ren heran. Ia kemudian mengikuti arah pandang Zinnia. Ia juga bisa melihat pria dan wanita yang kini juga sedang menatap kepada mereka yang sedang berjalan dari arah dalam hotel.
“Papa?” Lirih Zinnia hampir tak bersuara.
Hanafi juga nampak sangat terkejut dengan kehadiran putri sulungnya itu secara tiba-tiba. Iapun menghentikan langkah dengan menatap Zinnia penuh khawatir. Atau takut?
Mendengar ucapan Zinnia, Ren segera mengerti situasinya. Apalagi yang ia lihat ada pria dan wanita yang baru keluar dari kamar hotel. Fikirannya langsung tertuju kepada satu hal. Ia kemudian maju dan menghalangi pandangan Zinnia. Ia memaksa gadis itu untuk menatapnya.
“Lihat aku.” Ujar Ren.
Zinnia tidak menggubris. Ia justru menggeser Kakinya ke samping dan kembali menatap ayahnya yang sedang bersama kekasihnya. Atau istrinya? Entahlah, Zinnia tidak tau.
Zinnia memang sudah tau tentang sifat busuk ayahnya itu. Hanya saja saat ini ia sedang bersama dengan Ren. Benar-benar bukan waktu yang tepat untuk memergoki perselingkuhan ayahnya tersebut.
Hanafi berjalan mendekati putri sulungnya itu dengan tatapan ketakutan karna sudah di pergoki olehnya.
“Zinnia?” Panggil Hanafi dengan lembut. Baru kali ini Zinnia mendengar ayahnya memanggilnya dengan lembut seperti itu.
Tapi justru panggilan itu terdengar sangat menyeramkan sekaligus menyakitkan bagi Zinnia.
Perasaan malu kini sudah membumbung di dalam hatinya. Menutupi semua rasa bahagia yang baru saja ia rasakan. Ia bahkan tidak lagi berani menatap kepada Ren yang masih berdiri memunggungi ayahnya.
Zinnia menatap marah. Sangat marah. Sampai keningnya mengerut dengan pandangan laser yang tertuju kepada ayahnya. Ia menggeretakkan giginya kuat-kuat pertanda ia sedang merasa sangat marah seakrang.
“Zinnia..” Panggil Hanafi lagi. “Ini gak seperti yang kamu lihat.” Ujar Hanafi mengkonfirmasi tindakannya.
Padahal hal itu justru membuat Zinnia mencibir jijik kepada ayahnya. Secara tidak langsung, sanggahan itu membuktikan kebenaran atas situasi tersebut.
__ADS_1
Zinnia melengos kepada ayahnya. Kemudian ia langsung membalikkan badan dan berlari mengambil langkah seribu meninggalkan loby hotel begitu saja.
BERSAMBUNG...