Metalmorfosis

Metalmorfosis
BAB 61. Orang Yang Tepat Untuk Sandaran Luka.


__ADS_3

Kemunculan pesan di pagi hari itu membuat semangat Zinnia kembali full. Ia terus mengembangkan senyuman. Suasana hatinya sedang membaik.


‘selamat pagi cintaku. Semangat hari ini ya. Love you.’


Raut wajahnya berubah cerah. Secerah sinar matahari pagi yang menembusi asap polutan ibukota hari ini.


Hari ini adalah hari liburnya bekerja. Ia sudah meminta ijin kepada Pak Jaya dan berkata kalau ia sedang kurang enak badan.


Padahal, bukan tubuhnya yang sedang sakit. Tapi perasaannya. Untungnya Pak Jaya tidak pernah mempermasalahkan sikap Zinnia yang sering bolos kerja itu.


Kondisi rumah sudah sepi. Ibunya mungkin sudah pergi ke kantor. Begitu juga dengan ayah dan adiknya. Hanya tinggal Zinnia dan Lida saja yang masih nampak membereskan bekas masakannya.


“Mau sarapan, Non?” Tawar Lida.


“Gak laper, Mbak.” Jawab Zinnia asal. “Mbak, punya bahan-bahan buat kue, gak?”


“Kue apa?”


“Bika.”


“Non Zinnia mau buat kue bika?”


Zinnia mengangguk.


“Beli aja udah, Non.”


“Ini tuh buat orang yang spesial, Mbak.”


“Idiihh. Gitu toh. Ada sih. Tapinya Mbak gak bisa bantuin, non. Soalnya mau ke pasar.”


“Gak apa-apa, Mbak. Siapin aja bahannya.” Pinta Zinnia kemudian.


Selesai membereskan alat masak, Lida segera menyiapkan bahan-bahan yang diminta oleh Zinnia.


“Makasih, Mbak.”


“Sama-sama, Non. Tapi beneran bisa kan bikinnya? Kan Non Zinnia gak pernah bikin kue sebelumnya.”


“Tenang aja, Mbak. Banyak tutorialnya. Lagian aku udah pernah bikin kok.” Jelas Zinnia sambil tersenyum.


Sebenarnya Lida merasa khawatir dengan meninggalkan Zinnia sendirian di rumah seperti itu. Tapi ia harus berbelanja untuk kebutuhan karna sebagian besar stok barang di rumah sudah habis.


Zinnia berencana membuatkan kue bika kesukaan Ren. Ia berusaha mengingat-ingat cara pembuatan yang pernah diajari oleh Esta. Sebagian lagi, ia menggabungkan ingatannya dengan melihat tutorial di aplikasi berbagi video.


Setelah berkutat dengan kue, pukul sebelas lewat akhirnya Zinnia sudah berhasil menyelesaikan satu kue. Ia merasa puas dengan hasilnya. Penampakannya sudah bagus walaupun sedikit gosong. Ia yakin kalau rasanya juga tak kalah dengan penampilannya.

__ADS_1


Zinnia membungkus kue itu dengan hati-hati dan memasukkannya ke dalam kotak. Ia juga memberi sentuhan pita berwarna pink sebagai pemanis.


Setelah mandi dan berganti pakaian, Zinnia segera meluncur menuju ke FD Corp dengan menggunakan taksi.


Zinnia memang lebih nyaman bepergian dengan menggunakan taksi. Padahal di rumah ada mobil yang tidak terpakai. Tapi dasarnya Zinnia tidak bisa mengemudi.


Sebelum masuk ke gedung FD Corp, Zinnia menyempatkan diri untuk menyapa Pak Jaya yang nampak sibuk melayani pelanggan.


“Lho, Zinnia? Katanya sakit?”


“Udah  mendingan, Pak.”


“Mau kemana? Mau kesini apa gimana?”


“Mau ada urusan di sana, Pak.” Jawab Zinnia sambil menunjuk ke arah gedung FD Corp.


“Ooh.”


“Kalau gitu aku permisi dulu ya, Pak.” Pamit Zinnia kemudian. Ia lantas pergi meninggalkan Pak Jaya.


Sebelumnya, Zinnia sudah mengirimkan pesan kepada Ren kalau ia akan berkunjung. Dan Ren sudah memberitahu staf resepsionis tentang hal itu. Jadi saat Zinnia menghampiri meja resepsionis, ia segera di minta untuk langsung naik ke atas.


“Hai, Zinnia.” Sapa Ariga mengangkat tangan ramah kepada Zinnia.


“Hai juga. Kak Ren ada?”


Zinnia hanya mengangguk dan tersenyum kemudian membuka pintu lebar itu dengan perlahan.


Saat melongokkan kepala, Zinnia bisa melihat kalau Ren sedang duduk di singgasananya dan fokus membaca dokumen di atas meja.


Dengan sengaja Zinnia masuk dengan perlahan. Ia mengendap-endap seperti pencuri.


“Kak?” Sapa Zinnia saat ia sudah berada di depan meja Ren.


Ren yang mendengar suara orang yang di rindukannya itu langsung mendongak. Matanya berbinar begitu melihat Zinnia yang berdiri dan sedang tersenyum padanya.


“Hei. Kok bisa tiba-tiba ada disini?” Tanya Ren yang langsung berdiri dari kursinya dan menghampiri Zinnia.


“Lhah? Kan tadi aku udah kasih tau Kakak.”


“Ya kirain sore datengnya. Gak taunya sekarang.” Ujar Ren. Pria itu kemudian merengkuh tubuh Zinnia ke dalam pelukannya. Mendekapnya erat sekali.


Setelah Ren melepaskan pelukannya, pria itu lantas mengajak Zinnia untuk duduk di sofa. Kemudian Zinnia meletakkan kotak kue buatannya ke atas meja.


“Apa itu?”

__ADS_1


“Aku buat kue bika buat Kak Ren.” Ujar Zinnia sambil membuka kotaknya.


“Kue bika?”


Aroma legit langsung menyeruak dari balik kotak yang terbuka. Memenuhi rongga hidung Ren dan langsung membangkitkan rasa laparnya. Tapi lama-kelamaan, aroma itu berubah dan semakin di dominasi oleh aroma gosong.


“Wah. Harumnya enak banget.” Puji Ren. Ia meneliti bentukan kue yang sepertinya lain dari yang sering di buat oleh ibunya.


Dengan semangat 45 Zinnia mengiris kue itu dan memberikannya kepada Ren.


Ren mengernyit. Entah kenapa ia seperti bisa mencium bau gosong yang semakin menyengat dari kue itu. Mau menolak, tapi ia sudah terlanjur memuji.


Oke, baiknya di coba dulu. Batin Ren.


Ren membolak balikkan potongan kue yang ia pegang. Dan benar saja, bagian bawahnya nampak menghitam bekas gosong. Membuat Ren mengernyit dan merasa tidak tega untuk memakannya.


“Kok gosong begini?” Protes Ren.


“Jangan di lihat tampilannya, Kak. Hitam begitu kan malah eksotis.” Bela Zinnia.


Bukan Zinnia tidak tau kalau kuenya itu gosong. Sejak di rumah juga ia sudah tau kalau kue hasil buatannya itu gosong. Hanya saja ia merindukan Ren dan tidak punya alasan lain untuk bertemu dengannya. Jadilah ia terpaksa membungkus kue itu dan membawanya. Hitung-hitung sebagai buah tangan. Haha.


Ren nampak tidak tega untuk melahap kue itu. Tapi ia lebih tidak tega setelah melihat ekspresi harapan yang tersirat di wajah Zinnia. Akhirnya Ren terpaksa memakan kue itu.


Ren mengernyit saat kue itu memasuki mulutnya. Rasanya aneh sekali. Terlalu manis ditambah dengan rasa pahit akibat gosong. Sungguh sebuah perpaduan rasa yang tidak sepatutnya melewati Lidahnya.


Zinnia mengikuti ekspresi Ren yang nampak sedang memaksa diri untuk menelan kue bika itu. Dari sana ia tau kalau pastilah rasanya sangat tidak enak.


“Kenapa, Kak?”


“Gak enak.” Jujur Ren.


Zinnia ternganga. Walaupun ia sudah menduganya, tapi ia tetap tidak menyangka kalau Ren akan mengatakannya segamblang itu. Membuatnya malu saja. Dan rasa malu itu berubah menjadi rasa kesal setengah mati. Jadilah Zinnia merengut kepada Ren.


“Gak boleh marah. Daripada aku bohong terus bilang enak. Lebih baik jujur, kan?” Ren membela diri. Ia tau Zinnia sedang menahan kesal padanya.


“Ya tapi gak harus sejujur itu juga kali. Kak Ren ngeselin ih.” Dengus Zinnia.


“Hahahahahahaha. Tapi untungnya makannya di temenin kamu. Mungkin itu yang buat kuenya rasanya manis dan legit.” Goda Ren.


“Sukanya gombal.”


“Yang penting kamu suka. Gombal seumur hidup juga aku iya aja.” Seloroh Ren.


Akhirnya, sesungging senyuman perlahan muncul di bibir Zinnia. Ia memang tidak tahan saat Ren menggodanya seperti itu. Sebuah pertanyaan muncul, apakah Ren adalah orang yang tepat untuk ia harapkan menjadi sandaran lukanya?

__ADS_1


Semoga saja.


BERSAMBUNG...


__ADS_2