
Zinnia sedang ternganga menatap layar ponselnya di meja makan. Bahkan sendok yang hampir masuk ke mulutnya, hanya membeku di depan bibirnya saja.
“Apa ini?” Gumam Zinnia tidak percaya. Ia terus menggeser-geser galeri foto-foto yang terdapat di ponselnya.
Ia baru tau kalau galerinya hampir penuh dengan fotonya yang sedang memeluk angsa. Seketika ingatan Zinnia melayang ke kejadian kemarin. Tapi seberapa jauhpun ia mengingat, ia tetap tidak bisa mengingat apa yang terjadi kemarin.
“Kenapa, Non?” Tanya lida.
Zinnia segera menutup ponselnya dan meletakkannya ke atas meja.
“Gak apa-apa, Mbak.” Sela Zinnia. Ia malu mengakui tingkah konyolnya.
Sepertinya, Zinnia harus bertanya kepada Ren tentang apa yang terjadi kemarin lusa padanya. Karna pria itu tidak menjelaskan apapun padanya. Pun ia memang tidak bertanya sampai sekarang.
Kemarin, Zinnia terlalu sibuk dengan kecemburuannya sehingga lupa untuk bertanya kenapa wajahnya penuh luka.
“Mbak, aku pergi dulu, ya...” Pamit Zinnia yang langsung menyambar tasnya dari kursi. Bahkan ia lupa untuk menyelesaikan sarapannya terlebih dahulu.
Lida yang hendak berteriak mengingatkanpun, sudah tidak punya kesempatan karna Zinnia sudah menghilang dari pandangannya.
Sesampainya di tempat kerja, ternyata Pak Jaya sudah datang dan sedang mengatur kursi.
“Pagi,, Pak.” Sapa Zinnia.
“Pagi, Zinnia. Udah dateng?”
“Iya, Pak.”
Dan setengah hari itu Zinnia habiskan dengan melamun. Memikirkan apa sebenarnya yang sudah ia lakukan kemarin lusa di villa? Tiba-tiba sebuah perasan tidak enak muncul di hatinya.
Apa ia mengacaukan liburan keluarga Ren?
Astaga, ia pasti sudah mengacaukannya.
Zinnia menghubungi Ren tapi pria itu tidak mengangkat ponselnya. Membuat hatinya semakin merasa panik sendiri.
Dari kejauhan, nampak segerombolan orang datang. Disana juga ada Navya. Tapi saat melihat Zinnia, gadis itu langsung berhenti dan pergi entah kemana. Meninggalkan teman-temannya yang semakin mendekat ke gerobak Pak Jaya.
Guratan dari tatapan Navya membuat Zinnia kesal. Sepertinya adiknya itu masih marah padanya karna ia dekat dengan Ren. Bagaimana nanti kalau Navya tau kalau ia sudah berpacaran dengan Ren? Apa Navya akan semakin marah padanya?
Setelah sudah agak sepi dari pengunjung, Zinnia meminta ijin kepada Pak Jaya. Ia tidak mengatakan kalau ia ingin menemui Ren. Ia hanya bilang akan pergi ke suatu tempat.
Perlahan, Zinnia masuk ke dalam lobi gedung FD Corp. Ia menghampiri resepsionis dan bertanya keberadaan Ren.
__ADS_1
“Maaf, Kak. Pak Ren lagi rapat.” Jelas resepsiois itu.
Sepertinya Ren sangat sibuk sehingga tidak mengangkat telfonnya.
Baru saja Zinnia hendak pergi meninggalkan gedung, muncul Ariga yang berpapasan dengannya.
“Zinnia!” Panggil Ariga. Pria itu nampak berlari kecil untuk menghampiri Zinnia.
“Darimana? Nganter bakso?” Tanya Ariga.
Zinnia menggeleng. “Engggak. Mau ketemu sama Kak Ren.”
“Oh.. Pak Ren lagi rapat.” Ujar Ariga kemudian melihat jam tangannya. “Bentar lagi selesai. Tunggu di atas aja. Ayo.” Ajak Ariga.
Zinnia mengikuti langkah kaki Ariga di belakang pria itu.
“Tunggu di dalem aja. Aku lihat Pak Ren sebentar.” Pamit Ariga sambil membukakan pintu ruangan Ren kepada Zinnia.
Zinnia masuk kemudian duduk di sofa. Sedangkan Ariga pergi ke ruang rapat untuk memberi tahu Ren kedatangan Zinnia.
Senyum simpul muncul di bibir Ren saat Ariga memberitahunya kalau Zinnia sedang menunggunya di ruangannya. Dengan segera ia mengakhiri rapat itu dan bergegas kembali ke ruangannya. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kekasihnya.
Zinnia sedang sibuk melihat-lihat kembali kumpulan foto di galeri ponselnya. Tiba-tiba ia menjadi malu sendiri jika membayangkan apa yang sudah ia lakukan sehingga foto-foto itu tersimpan di ponselnya.
Saat pintu ruangan Ren terbuka, Zinnia segera mendongak dan melihat siapa yang datang. Ia melemparkan senyuman kepada Ren.
“Udah lama?” Tanya Ren sambil menutup pintu. Ia berjalan terus ke depan Zinnia kemudian melentangkan kedua tangannya.
Zinnia menatap heran kepada Ren. “Kak Ren ngapain?” Ia mengernyit.
“Bukannya kamu kesini karna kangen sama aku? Sini,, peluk.” Ren terlalu percaya diri. Ia tersenyum berharap Zinnia akan menghambur ke dalam pelukannya.
“Enggak, kok. Aku kesini itu mau nanya ini.” Zinnia berdiri dan menunjukkan ponselnya kepada Ren.
Ada kerutan di bibir Ren. Ia kesal dengan jawaban Zinnia. Akhirnya ia menurunkan kedua tangannya dengan harapan yang sia-sia.
Zinnia terkekeh lucu melihat Ren yang merengut. Saat tangan Ren sudah turun sempurna, ia lantas menghambur ke pelukan pria itu dan melingkarkan tangan ke pinggang Ren.
Ren yang kembali melambungpun, ikut tersenyum. Ia mengeratkan pelukan Zinnia dan menenggelamkan wajah gadis itu ke dadanya sambil mengelus belakang kepalanya.
“Aku udah kangen dari kemaren.” Lirih Zinnia.
Sebuah senyuman lebar sedang tersungging di bibir Ren. Ia merasakan deguban rindu di dadanya. Dan ternyata, ia setulus ini menyayangi Zinnia.
__ADS_1
Ren melepaskan pelukannya kemudian menangkupkan kedua tangannya di pipi Zinnia ia sedikit menekan pipi itu hingga bibir Zinnia mengerucut. Menatap netra gadis itu untuk memberitahu ketulusan yang ia rasakan dan dalamnya perasaan yang ia punya.
Cup!
Zinnia terbelalak saat Ren mengecup bibirnya sesaat. Waktu sepersekian detik itu mampu membawa Zinnia mengangkasa.
“Uuuhh. Gemes banget aku tuh sama kamu.” Ujar Ren yang sudah melepaskan tangannya dan berganti mengacak puncak kepala kekasihnya.
Ren menarik tangan Zinnia untuk duduk di sofa. Sementara Zinnia sedang terpaku karna aksi Ren yang tiba-tiba mengecupnya. Ada sebuah perasaan bergejolak yang menuntut untuk di perlakukan lebih. Membuat angan akan fikirannya melayang dan membayangkan hal-hal yang tidak seharusnya ia inginkan.
“Kenapa sama fotonya?” Ren membuka pintu lamunan Zinnia dan membawa kesadarannya kembali.
“Ehm.. Kok aku bisa foto sama angsa?” Tanya Zinnia dengan polosnya.
“Hahahahahahaha. Kenapa baru tanya sekarang? Telat banget pertanyaan kamu tuh.” Protes Ren sambil terkekeh.
“Aku baru buka galeri tadi pagi, Kak. Kaget banget aku pas lihat kok banyak foto begini?”
“Itu bukan sembarang foto. Emangnya kamu gak inget kalau kamu lagi foto sama Avril? Mbak Avrill!!! Mbak Avril!!” Ejek Ren menahan tawa.
“Apa sih?”
“Beneran gak inget?” Selidik Ren.
Tentu saja Zinnia tidak mengingatnya. Karna setelah ia bangun, hal yang pertama ia lihat adalah Ren yang sedang tertawa-tawa bersama Sinta dan memantik api kecemburuannya. Ia bahkan sudah tidak mengingat lagi kenapa wajahnya punya banyak luka lecet.
“Emangnya aku ngapain?”
“Udah, gak usah di inget-inget. Nanti kamu malu sendiri.”
“Kak Ren ih! Ngeselin.” Dengus Zinnia.
“Udah makan?” Ren mengalihkan pembicaraan.
“Udah, tadi. Kak Ren udah makan?”
“Belum. Sibuk rapat jadi sampai lupa makan siang.”
“Sesibuk itu ya? Pantesan di telfonin gak di angkat.”
“Kamu telfon?” Ren kaget dan langsung teringat kalau ia meninggalkan ponsel di meja kerjanya. Lantas ia berjalan ke meja kerjanya dan mengambil ponselnya.
Benar saja, terdapat beberapa panggilan tak terjawab dari Zinnia. Dua panggilan dari kakeknya dan satu panggilan dari ibunya. Sementara terdapat juga tiga panggilan dari nomor baru yang ia tidak tau millik siapa.
__ADS_1
“Maaf, ya. Hapeku ketinggalan di meja. Jadinya gak tau kalau kamu telfon.” Sesal Ren yang sudah kembali duduk di samping Zinnia. Ia membelai kepala kekasihnya itu dengan lembut.
Kelembutan yang mengalirkan perasaan hangat ke dalam hati Zinnia. Kehangatan yang perlahan mampu mencairkan kerasnya batu yang sudah membeku di hatinya.