Metalmorfosis

Metalmorfosis
BAB 81. Tidak Dalam Kondisi Bisa Memilih.


__ADS_3

Satu hari sebelum Hanafi di pindahkan ke lapas, Ren dan Zinnia melangsungkan akad nikah di sebuah ruangan di kantor KPK.


Tidak ada hingar bingar kebahagiaan. Tidak ada pesta, dan tidak ada suasana yang meriah.


Ini benar-benar jauh dari pernikahan yang di dambakan oleh Zinnia. Semua rencana pernikahannya dengan Ren kini sudah runtuh dan hancur berkeping-keping.


Tidak apa. Kini ia sudah mempasrahkan diri dengan keadaan. Ia masih bersyukur karna Ren tetap mau menerimanya beserta kekurangannya yang menggunung. Dia tidak dalam kondisi bisa memilih sesuka hati.


Bersama mereka di ruangan itu ada Esta, Rai, Joham, Navya, Pras, Citra dan Fandi. Dan beberapa orang dari kantor urusan agama.


Sedangkan Arsa, sudah kalah malu hingga tak berani lagi keluar dari umah adiknya yang ada di luar kota. Karna rumah yang mereka tinggali di Jakarta telah disita oleh pihak KPK. Berikut dengan harta benda atas nama Hanafi.


Walaupun Fandi sedikit keberatan dengan apa yang sudah terjadi di keluarga Zinnia, keluarga yang diagung-agungkannya. Tapi ia tetap tidak bisa menolak keinginan Ren untuk menikahi Zinnia.


Tidak ada gaun indah terurai yang membalut tubuh Zinnia. Hanya riasan tipis beserta lipstik berwarna pink yang memoles wajahnya.


Begitupun dengan Ren, pria itu hanya mengenakan kemeja putih  dan celana hitam karna ia baru kembali dari kantor.


Ren menjabat tangan Hanafi dengan berusaha mengatur nafasnya yang seolah merasa tercekat di tenggorokan. Ucapan Hanafi bahkan hampir tidak terdengar di telinganya.


“Saya terima nikahnya Zinnia Nashira binti Hanafi dengan mas kawin tersebut, tunai.”


Semua orang yang ada di ruangan itu nampak menghembuskan nafas lega.


Mahar yang di berikan Ren pada Zinnia tidak banyak, hanya 50 gram emas murni yang berupa kalung.


Tangan Ren gemetar saat ia menautkan kalung itu ke leher gadis yang kini sudah sah menjadi istrinya itu. Ia terhenyak saat melihat ada buliran airmata yang jatuh di pipi Zinnia.


Ren terdiam setelah berhasil mengaitkan kalung di leher Zinnia. Menatap intens kepada wanita yang menundukkan kepalanya itu.


Perlahan, Ren menangukup pipi Zinnia dan menghapus jejak aliran airmata disana.


“Makasih, Zinnia. Jangan nangis.” Bisik Ren.


Sebenarnya bukan hanya Zinnia yang menangis. Tapi Esta dan Navya ikut meneteskan airmata. Navya sedih karna harus melihat kakaknya yang tidak bisa melaksanakan pernikahan impiannya.


Sementara Esta, menangis bangga dengan putra sulungnya yang dengan besar hati menerima Zinnia dengan segala kekurangannya. Ia bangga karna sudah berhasil membesarkan putranya dengan sangat baik hingga Ren tumbuh menjadi pribadi yang dewasa pemikiran dan budi perbuatannya.


Rai yang melihat istrinya sesenggukan, menggenggam tangan istrinya itu kemudian melemparkan senyumanya. Seolah ia tau apa yang sedang Esta rasakan saat ini.


“Aku yang makasih sama Kak Ren. Dan maaf aku harus jadi bebanmu seumur hidup.”

__ADS_1


“Sstttt. Gak boleh ngomong begitu. Aku bahagia.” Lirih Ren yang masih menangkupkan tangan di pipi Zinnia.


Ren mendekatkan wajahnya dan mengecup kening Zinnia lama. Ia memejamkan matanya untuk menyesapi setiap perasaan bahagia yang tengah dirasakannya. Dan ia ingin Zinnia merasakannya juga.


Rombongan kelaurga sudah kembali lebih dulu dari gedung itu. Hanya tinggal Ren yang sedang menunggui Zinnia yang masih berbincang dengan ayahnya.


“Maafin Papa, Zinnia. Kamu harus menikah dalam keadaan begini.”


Zinnia mengernyit melihat mata ayahnya yang berair. Ternyata Hanafi benar-benar menyesali perbuatannya. Tapi apa gunanya sekarang saat dia sudah kehilangan semua aset dan nama baik yang dimilikinya.


Zinnia tidak menjawab permintaan maaf ayahnya. Dia hanya terus menatap pria paruh baya yang nampak lelah itu dalam-dalam.


Hatinya masih belum mampu untuk sekedar memaafkan ayahnya. Entahlah, rasa sakit akibat di abaikan terlalu lama itu sudah membuat hatinya kebal akan perasaan maaf untuk Hanafi.


“Zinnia harap, Papa bisa berubah lebih baik.” Ujar Zinnia pada akhirnya.


Ren yang berdiri tak jauh dari Zinnia kemudian mendekat karna melihat mereka sudah selesai bicara. Ia merangkul pundak istrinya itu dan tersenyum kepada Hanafi.


“Kami pulang dulu, Pa. Kami akan berkunjung lain kali.” Ujar Ren pada Hanafi.


“Terimakasih banyak, Ren. Papa titip Zinnia sama kamu, ya. Sayangi dia. Karna dia gak pernah dapat kasih sayang dari kami.”


Ren menganggukkan kepala kemudian mengajak Zinnia untuk pergi ke mobil mereka. Sementara Hanafi kembali di bawa petugas masuk ke dalam gedung.


Ariga segera melajukan mobil menuju ke rumah keluarga Ren.


Sepanjang jalan, Zinnia hanya terdiam dengan menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya. Sementara Ren tak melepaskan genggamannya sedikitpun dari tangan istrinya.


Di ruma, Esta dan Rai sudah menunggu kedatangan mereka. Begitu juga dengan Navya yang datang bersama dengan Joham untuk mengantar pakaian milik kakaknya itu.


Saat Esta menyuruh Navya untuk masuk, gadis itu menolak dengan alasan masih banyak pekerjaan yang harus dia lakukan. Esta tidak memaksa. Karna ia mengerti kondisi Navya yang pastinya sibuk mengurusi masalah keluarganya dan pekerjaannya sekaligus.


“Ayo sayang, kita masuk.” Ajak Esta kepada Zinnia.


“Ma, Pa, kami ke atas dulu ya.” Pamit Ren dengan mengajak serta istrinya.


Esta dan Rai mengangguk. “Istirahat aja kalau capek.” Esta mengusap punggung menantunya itu dengan hangat.


“Iya, Tante. Eh, Ma...”


Ren mengajak Zinnia masuk ke dalam kamarnya. Zinnia nampak sangat lelah sehingga ia mendudukkan gadis itu di tepi ranjang dan berjongkok di hadapannya. Menggenggam tangan Zinnia di pangkuan gadis itu.

__ADS_1


“Capek?” Tanya Ren. Ia mendongak menatap wajah istrinya yang sayu.


Zinnia mengangguk perlahan.


“Mau tidur?”


Zinnia menoleh melihat tempat tidur. “Enggak.”


“Tadi katanya capek?”


“Capek, tapi aku gak mau tidur.”


“Lha kenapa?”


“Nanti Kak Ren ngapa-ngapain aku.” Jujur Zinnia.


Ren ternganga mendengar jawaban Zinnia. Kemudian ia terkekeh lucu sambil mencubit pelan hidung istrinya.


“Ya ampun. Aku gak bakalan ngapa-ngapain kamu.”


“Bohong. Selama ini Kak Ren selalu curi-curi kesempatan pas aku lengah.”


“Itu karna kamu belum jadi milikku. Sekarang kamu udah jadi milikku jadi udah pasti kamu gak bakalan kemana-mana. Jadi, aku bisa ngapa-ngapain kamu kapan aja. Hehehee.”


“Tuh, kan.”


“Hehehehehehe.”


Ren bangun dan berdiri. Dia hendak pergi tapi tidak jadi karna Zinnia kini melingkarkan tangannya di pinggang pria itu dengan sangat erat. Gadis itu bahkan menenggelamkan wajahnya di perut suaminya.


“Mancing-mancing gini tapinya gak mau di apa-apain.”


Zinnia hanya terdiam. Ia semakin mengeratkan perlukannya


Ren hanya tersenyum senang kemudian mengelusi bagian belakang kepala istrinya lembut. Perlahan, ia bisa mendengar isak tangis Zinnia.


“Kok malah nangis?”


“Aku bahagia. Tapi juga malu sama Kak Ren.”


“Malu kenapa lagi?”

__ADS_1


“Aku malu bayangin Kakak ngapa-ngapain aku.” Rengek Zinnia kemudian.


“Hahahahahahahha.” Ren tidak bisa menahan tawanya akibat jawaban istrinya itu.


__ADS_2