Metalmorfosis

Metalmorfosis
BAB 73. Pribadinya Masih Jauh Dari kata Dewasa.


__ADS_3

Zinnia tersenyum menyambut Ren yang sudah menunggu di depan rumahnya. Hari ini, Ren berjanji akan menemani Zinnia untuk mendaftar paket kesetaraan.


“cantiknya...” Puji Ren saat Zinnia masuk ke dalam mobilnya.


“Pacar siapa dulu dong. Hhehehehe.”


“Pacarku, lah.”


“Hihihihi. Aku jadi gak enak selalu ganggu Kak Ren. Padahal Kak Ren banyak banget kerjaannya.”


“Demi kamu. Jadi awas aja kalau kamu sampai ngilang.”


“Emangnya aku mau ngilang kemana, Kak? Aku gak punya tujuan lain selain Kak Ren.”


“Aduh!” Pekik Ren tiba-tiba. Ia memegangi dadanya dan wajahnya mengkerut. Seperti sedang menahan sakit.


“Kenapa, Kak?” Zinnia diserang rasa panik.


“Aduh, jantungku.”


“Kenapa?” Zinnia ikut memegangi dada Ren.


“Deg-degan karna kamu.”


PLAK!


Zinnia menghadiahi Ren sebuah pukulan di lengan. Ia mendengus kesal kepada kekasihnya itu.


“Hahahahahaha.” Ren kembali fokus ke jalan raya.


“Nakutin tau! Aku kira Kak Ren kenapa-napa. Ngeselin.” Zinnia merepet sejadi-jadinya.


“Tapi beneran lho, hatiku itu selalu berdebar tiap sama kamu.”


“Ya awas aja kalau sampai berdebar pas sama cewek lain.” Dengus Zinnia.


“Ya gak dong. Aneh-aneh aja.”


Ren menghentikan mobilnya di sebuah gedung. Kemudian mereka masuk dan Ren membantu Zinnia mengurus segala keperluan untuk mengikuti ujian paket kesetaraan.


Ujian akan di adakan dua bulan lagi. Dan selama itu Zinnia di sarankan untuk belajar semaksimal mungkin.


“Tenang aja. Aku bakalan bantuin kamu. Nanti aku sewakan tutor yang paling bagus buat kamu.” Janji Ren.


Zinnia mengangguk. Kini mereka sudah dalam perjalanan pulang.


“Mau nonton dulu, gak?” Tawar Ren.


“Boleh. Nonton apa?”


“Kita lihat nanti.” Ujar Ren.


Zinnia tersenyum senang. Sudah lama sekali dia tidak menonton di bioskop. Terakhir dia pergi beberapa waktu yang lalu bersama dengan Joham. itu sudah lama sekali.

__ADS_1


Ren memarkirkan mobil di basement gedung pusat perbelanjaan. Kamudian keduanya keluar. Ren meraih tangan Zinnia kemudian menggenggamnya erat.


“Mau beli cincin sekalian?”


“Cincin? Buat apa?”


“Kan aku mau ngelamar kamu nanti kalau kamu udah lulus ujian.”


“Ih. Gak romantis banget sih.”


“Kok gak romantis? Aku itu mau ngelamar langsung sama Papa dan Mamamu, lho. Kurang romantis gimana coba?”


Zinnia hanya terkekeh saja. Dia benar-benar tidak bisa mengharapkan hal seperti itu dari Ren. Pria itu kurang peka. Maunya yang langsung-langsung aja.


“Boleh. Tapi nanti aja. Nonton dulu.”


“Siap. Hehehehe.”


Zinnia dan Ren sedang terpaku menatapi satu persatu poster film yang sedang tayang di bioskop. Mereka bingung memilih. Karna semua nampak bagus.


“Aku pengen nonton semuanya.” Gumam Zinnia.


“Gak cukup waktu. Pilih yang mana dulu.”


Zinnia kembali berfikir. Ia benar-benar bingung memutuskan.


“Yang ini, gimana?” Ren menunjuk salah satu film horor yang sedang booming saat ini.


“Bolehlah.” Ujar Zinnia setelah menimbang sebentar.


Zinnia hanya menurut. Ia terus menatapi punggung Ren yang kekar itu berdiri mengantri untuk membeli tiket. Dan Zinnia masih terus memperhatikan saat pria itu membeli pop corn dan dua gelas minuman bersoda. Hingga Ren nampak kesulitan membawanya.


“Sini aku bantu.” Ujar Zinnia yang langsung menyambar cup pop corn dari tangan Ren.


Pintu teater sudah di buka. Dan Ren segera mengajak Zinnia untuk masuk. Setelah mendapatkan nomor kursinya, keduanya langsung duduk.


Musik di awal pembukaan film terdengar menggema dan menakutkan. Suara gamelan mendominasi telinga. Menimbulkan aura mistis di telinga. Tapi Zinnia merasa biasa saja.


“Gak takut?” Bisik Ren.


“Takut kenapa?”


“Musiknya aja udah serem.”


“Serem darimana? Buatku biasa aja. Gamelan itu unik, bukan serem.”


Ren hanya manggut-manggut saja.


Sampai pertengahan film, Zinnia nampak biasa-biasa saja. Dia malah merasa sedikit bosan karna dia sudah tau jalan ceritanya dari cerita yang ia baca. Gadis itu terus mengunyah pop corn sambil sesekali menenggak minumannya.


Sudah berkali-kali Zinnia menguap. Kini ia menyandarkan kepalanya di bahu Ren sambil terus mengunyah camilan. Sementara beberapa penonton sudah ada yang histeris ketakutan.


“Kak aku ngantuk...” Bisik Zinnia.

__ADS_1


“Tidur aja. Filmnya gak seru, ya?”


“Seru sih. Tapi aku udah pernah baca ceritanya.” Ujar Zinnia. Ren mengusap kepala kekasihnya itu dengan lembut.


Suasana kembali hening antara Ren dan Zinnia. Di sela rasa kantuk yang menderanya, Zinnia memaksa kelopak matanya untuk tetap terbuka.


Perlahan, Zinnia mulai larut mengikuti alur film di layar. Dengan kelopak mata yang setengah terbuka, ia berusaha fokus menonton.


“Aaaaa!!! Aaaaaa!!!! Aaaaaa!!!!” Pekik Zinnia tiba-tiba. Suara teriakannya paling keras di antara para penonton yang lain. Membuat dia menjadi pusat perhatian.


Zinnia terkejut bukan main saat terlihat sosok penampakan nenek-nenek dengan wajah menyeramkan dan mata yang memutih. Tanpa sadar, ia sampai mencengkeram paha Ren dengan sangat kuatnya.


Nafas Ren terasa berhenti di tenggorokan. Hayalan tentang keromantisan yang pernah ia lihat di film, buyar seketika. Padahal tadi dia membayangkan kalau Zinnia ketakutan, gadis itu akan bersembunyi di pundaknya atau malah memeluknya. Bukan malah mencengkeram pahanya dengan sangat kuat seperti ini.


“Auh!” Pekik Ren kesakitan. Pahanya terasa pedas.


“Hufh, hufh, hufh.” Zinnia berusaha mengatur ritme pernafasannya. Ia masih belum sadar kalau ada paha yang memerah karna ulahnya.


“Aduh, maaf, Kak.” Ujar Zinnia setelah menyadari tangannya berada dimana. “Sakit?”


“Enggak. Cuma kayak di gigit semut. Satu koloni.” Seloroh Ren.


Zinnia mengusapi paha Ren dengan menatap khawatir kepada pria itu.


“Udah. Jangan disini.” Bisik Ren menghentikan tangan Zinnia.


Zinnia melepaskan tangannya dan kembali mengusap paha Ren. Benar-benar cobaan mematikan. Batin Ren.


“Udah. Udah gak sakit lagi.” Kali ini Ren memaksa tangan Zinnia dan langsung memeganginya. Gadis itu benar-benar tidak tau kalau usapannya itu telah membangunkan sesuatu.


“Maaf.” Zinnia masih menyesal. Tapi ia masih tidak faham dengan Ren yang sedang blingsatan.


“Iya, udah. Udah gak apa-apa, kok.” Ren beralasan. Padahal jantungnya hampir meledak karna di penuhi oleh libido.


Film telah berakhir. Semua penonton sudah meninggalkan studio. Ren dan Zinnia juga sudah keluar dari sana.


“Tadi katanya gak takut.”


“Gak takut. Cuma kaget pas tiba-tiba pada teriak. Aku jadi ikut kaget.” Zinnia beralasan. Dia malu mengakui kalau tadi dia memang benar-benar ketakutan.


“Hahaha. Gak takut  tapi pahaku jadi korban.”


“Udah ku bilang Kak. Aku tuh cuma kaget. Bukan takut.”


“Haha. Iya, iya. Cuma kaget.”


“Kok Kak Ren gak percaya sih?”


“Aku percaya.”


“Tapi Kak Ren senyum gitu. Berarti gak percaya.” Zinnia jadi kesal dan mendengus.


Ren mengernyit. Ia berfikir kalau di ladeni, bisa panjang urusannya. Karna ia sangat memahami kalau pribadi kekasihnya itu masih jauh dari kata dewasa seperti gadis-gadis seumurannya. Yang bisa dia lakukan hanya mengalah.

__ADS_1


“Iya, cantik. Udah jangan ngambek.” Ren menggenggam tangan Zinnia untuk meredakan kekesalan gadis itu.


BERSAMBUNG...


__ADS_2