Metalmorfosis

Metalmorfosis
BAB 60. Senyum Pesakitan, Menandakan Hati Yang Sudah Terkoyak-Koyak.


__ADS_3

“Kak Ren gak mau masuk dulu?” Tanya Zinnia. Ia sedang berada di dalam mobil Ren yang sudah berhenti di depan rumahnya.


“Enggak deh, kapan-kapan aja.”


“Makasih ya Kak udah di bantuin. Udah di anterin juga.”


“Sama-sama. Inget yang aku bilang tadi, ya. Kalau ada apa-apa, telfon aku.” Ujar Ren memandang kekasihnya dengan perasan tidak rela.


Zinnia mengangguk. Sebelum keluar dari mobil, Zinnia menghadiahi Ren sebuah kecupan di pipi pria itu.


Wajah Ren sudah merona. Ia tidak mau melepaskan genggaman tangannya. “Udah, buruan turun. Langsung istirahat ya.”


“Kak?”


“Hem?”


“Gimana aku mau turun kalau kakak gak mau lepasin aku?” Ujar Zinnia.


“Hehehehehe. Gimana dong. Aku masih berat lepasin kamu.”


“Hahahahaha. Besok udah ketemu lagi.”


Dengan perasaan berat hati, Ren terpaksa melepaskan tangannya. Menatap pias kepada kekasihnya yang sudah menutup pintu mobil dan mulai menjauh darinya.


Zinnia yang tau kalau Ren belum pergi, membalikkan tubuhnya. Ia melemparkan senyuman kepada Ren kemudian melambaikan tangannya. Dan Ren menyambutnya dengan bunyi klakson sebelum melajukan mobilnya kembali.


Sepeninggal Ren, Zinnia hanya mematung saja di depan pintu rumahnya. Tangannya bahkan enggan untuk memutar knop pintu yang ada di hadapannya itu.


Tangannya gemetar saat mengingat apa yang sudah dilaluinya semalam. Tidak cukup ia bertengkar dengan Navya, harus ditambah memergoki perselingkuhan ayahnya pula. Hancur sudah perasaan Zinnia sampai berkeping-keping.


Satu hal yang menjadi keberuntungannya adalah, kepercayaan yang Ren berikan padanya. Hal itu sedikit banyak mampu menguatkan hatinya untuk melangkah masuk kedalam ‘wahana’ keluarga itu.


Ya, Zinnia menganggap kalau rumah itu merupakan sebuah wahana bertema ‘keluarga berantakan’. Rumah mewah dan megah itu tidak pernah sekalipun memberikan kenyamanan apalagi kehangatan padanya.


Rumah mewah dan megah itu, hanya meninggalkan rasa sakit dan luka yang membuat hatinya  membatu. Sialnya, ia tidak bisa meninggalkan wahana itu bahkan hanya untuk sekedar menghibur kesakitannya dan menormalkan detak jantungnya.


Sejauh apapun ia melarikan diri, ia akan berakhir di rumah itu.


Bukan rasa frustasi lagi yang di rasakan oleh Zinnia. Frustasi sudah menjadi makanan sehari-harinya. Ia juga sudah bersahabat dengan rasa sakit.


Zinnia menghentikan langkahnya di ujung tangga saat melihat ibunya baru saja keluar dari dalam kamar. Ia bisa melihat kilatan petir kemarahan yang nampak dari tatapan sang ibu. Dan benar saja,

__ADS_1


PLAK!!!


Zinnia langsung di sambut oleh sebuah tamparan di pipinya. Perih, bukan pipi, tapi hatinya.


“Kenapa kamu bisa pulang?!” Bentak Arsa.


“Apa?”


“Harusnya kamu itu meringkuk aja di penjara dan gak usah pulang. Gak puas-puasnya bikin malu keluarga. Mau jadi apa sih kamu, Zinnia?!” Arsa berkata dengan nada frustasi. Seolah ia sudah kehabisan akal untuk menertibkan putri sulungnya itu.


Zinnia melengos. Ada sesungging senyum pesakitan yang muncul di sebelah bibirnya. Menatap tajam kepada sang ibu lantas berlalu pergi. Tidak peduli kalau ibunya pasti sedang merasa tidak terima dengan sikapnya itu.


Rasa sakitnya sudah tidak bisa di ibaratkan dengan kata-kata lagi. Ia lelah. Sungguh lelah. Ia ingin semua ini berhenti. Tapi tidak tau bagaimana caranya.


Dengan wajah lesu, Zinnia membuka pintu kamarnya. Ia terkejut saat mendapati Navya yang sedang duduk di sofa di kamarnya. Ia berusaha untuk tidak mempedulikan keberadaan adiknya itu.


Zinnia melemparkan tasnya begitu saja ke atas tempat tidur. Lantas iapun merebahkan tubuhnya dengan posisi terlentang.


Tidak di duga, Navya yang melihat itu langsung berdiri dan menghampiri kakaknya.


“Apa? Aku udah gak ada tenaga lagi buat berantem sama kamu.” Lirih Zinnia. Ia sedang memejamkan matanya.


“Kamu ini kenapa, Nav? Kalau mau ngejek, ngejek aja. Aku dengerin.”


Terdengar Navya menghela nafas pelan. Ia sedang berperang melawan ego dan gengsinya saat ini.


“Kakak baik-baik aja?” Lirih Navya pada akhirnya.


Mendengar pertanyaan itu, membuat Zinnia langsung duduk dan terbelalak kepada Navya. Ia menyapu setiap ekspresi yang ada di wajah adiknya itu.


“Kamu ini kenapa? Malah bikin takut.” Kata Zinnia yang kembali merebahkan tubuhnya.


“Aku dengar semalam Kakak di kantor polisi.”


“Apa urusanmu?”


“Maaf, Kak.”


Dan Zinnia kembali melebarkan matanya. Menatap langit-langit kemudian kembali duduk. Melihat tajam kepada Navya.


“Kamu ini mau mati apa gimana? Katanya kalau orang mau mati itu ngomongnya ngelantur.”

__ADS_1


“Aku gak tau. Selama ini aku gak pernah sekalipun berfikir buat ada di posisi Kakak. Aku gak tau kalau ternyata Kakak ngerasain sakit. Aku fikir Kakak bandel tanpa sebab. Maafin aku, Kak. Aku sama sekali gak bermaksud buat jadi lebih unggul dari Kakak.”


Navya tidak menyalahkan siapapun. Dia tidak menyalahkan perlakuan kedua orangtuanya. Dia juga tidak sedang mencari pembenaran atas sikapnya selama ini. Ia hanya tulus ingin meminta maaf kepada Zinnia. Hatinya telah terbuka dan ia telah bisa melihat seluruh rasa sakit kakaknya itu.


Zinnia hanya menatap dalam kepada adiknya. Ia sedang menebak-nebak apa kira-kira yang sedang direncanakan oleh Navya. Seumur hidup, baru kali ini ia mendengar omong kosong tentang permintaan maaf itu keluar dari mulut Navya. Ia tidak ingin serta merta percaya. Navya pasti sedang merencanakan sesuatu. Adiknya itu pasti sedang mentertawakanya dalam hati.


“Keluar.” Tegas Zinnia dengan nada memaksa. Ia kembali merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur.


Navya tidak berani memberontak. Ia tau apa yang sedang di fikirkan oleh Zinnia. Memang terlihat aneh saat ia tiba-tiba meminta maaf. Kata yang tidak pernah ia ucapkan kepada kakaknya itu.


Navya memilih mundur dan keluar dari kamar Zinnia dengan perlahan. Ia juga menutup pintu kamar itu pelan.


Zinnia mengernyit heran. Ada sesuatu yang tidak beres dengan Navya. Ia yakin itu.


Suara ponsel yang berbunyi membuat Zinnia segera merogoh tas kecilnya. Ia fikir itu adalah Ren dan ia sempat tersenyum sebelum membaca nama Joham yang muncul disana. Senyumnya tiba-tiba menghilang.


“Apa?” Lirihnya malas.


“Jin? Kamu gak apa-apa? Kamu baik-baik aja?”


“Kenapa?”


“Aku denger kamu kasus lagi semalam?”


“Tau darimana?”


“Navya.”


“Hhhhuuuffh.” Zinnia menghela nafas kesal. Entah kenapa ia menjadi canggung dengan Joham.


Sekarang, antara Zinnia dan Joham ada Navya. Hal itulah yang membuat Zinnia merasakan kecangungan bahkan untuk sekedar bercerita tentang masalah semalam. Yang padahal sudah biasa ia ceritakan, sebelum keadaan berubah.


“Wahh. Sekarang udah ada yang ngadu sama kamu, ya.” Sindir Zinnia. Ia sedang sensitif saat ini.


“Jin? Kok ngomongnya begitu?”


“Udahlah. Aku mau istirahat. Jangan ganggu.” Ujar Zinnia yang langsung mematikan sambungan telfon dan melemparkan ponsel ke sembarang arah.


Sejujurnya, ada rasa berat saat ia harus bersikap seperti itu kepada Joham. Tapi ia benar-benar merasa kesal. Ia sedang sensitif atas apapun yang terlihat dan terdengar olehnya.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2