
“Kak, aku tunggu di sini aja, ya.” Pinta Zinnia menunjuk kursi yang berderet di depan ruangan VIP rumah sakit.
“Ikut masuk aja. Yuk. Kalau kamu nunggu di luar, fikiranku jadi kebelah jadi dua. Mikirin Kakek, sama mikirin kamu juga.”
Yang dibicarakan Ren ada benarnya. Zinnia tidak mau menambah beban fikrian pria itu. Tapi, ia merasa malu bertemu dengan kakek Ren. Ia masih mengingat tatapan tidak suka Fandi saat pertama bertemu waktu itu.
“Ya udah.” Zinnia mengalah. Tidak mau berdebat dengan masalah sepele seperti ini, batinnya.
Akhirnya Zinnia tetap mengikuti Ren masuk ke dalam ruangan VIP itu.
Disana, nampak seorang pria Renta yang tengah terbaring di atas tempat tidur dengan seorang wanita tua yang duduk di sampingnya. Di sofa, juga ada dua wanita paruh baya yang sedang duduk disana. Masing-masing sedang fokus menatap khawatir ke arah ranjang.
“Tante.” Panggil Ren.
Kedua wanita itu kompak melihat kepada Ren. Mereka adalah kedua putri Fandi dari istri keduanya.
“Ren? Kamu udah datang?”
Ren hanya terus melenggang mendekati ranjang setelah mengangguk kepada kedua tantenya itu. Ia melihat neneknya juga nampak mengkhawatirkan keadaan suaminya.
“Gimana keadaan Kakek, Nek?”
“Tadi udah sempet sadar. Tapi sekarang tidur lagi.”
“Apa kata dokter?”
“Jantungnya kambuh.”
Ren hanya menghela nafas saja. “Papa udah di kabarin?”
“Gak usah heboh. Papamu lagi sibuk disana. Gak usah dikasih tau.” Suara Fandi yang serak membuat Ren langsung melihatnya.
“Kek...”
__ADS_1
Untuk sesaat, Ren melupakan Zinnia yang berdiri canggung di dekat sofa. Ia baru duduk setelah salah satu tante Ren mempersilahkannya.
“Kakek udah gak apa-apa. Cuma butuh istirahat aja.” Tegas Fandi keras kepala.
“Ma, kita makan dulu, yuk. Mama kan belum makan siang.” Ajak putri Fandi.
“Bentar lagi...”
“Nenek makan dulu aja. Biar aku yang jagain disini.” Tawar Ren.
Dan beberapa saat berlalu stelah istri dan kedua putri Fandi meninggalkan kamarnya. Hanya tinggal Ren yang duduk disampingnya dan Zinnia yang masih duduk di sofa tanpa berani mengucap sepatah katapun.
“Kek, Kakek harus dioperasi.”
“Kamu ini sama bawelnya sama Nenekmu. Kamu kan tau sendiri kecil kemungkinan kakek bisa sembuh walaupun dioperasi.”
“Ya tapi kan seenggaknya kita berusaha buat sembuh, Kek.”
“Alahh,, udah lah. Kakek gak mau ngelakuin hal yang percuma. Buang-buang waktu aja.” Fandi memang sangat keras kepala. Sifatnya itu tidak berubah bahkan setelah ia keluar dari hotel prodeo.
“Oh, iya.” Ren bangkit dan menjemput Zinnia. Gadis itu ikut berdiri di samping Ren dan mengangguk hormat kepada Fandi.
Fandi mengernyit. Ia mengingat Zinnia. Gadis pirang yang dibawa Ren ke restoran tempo hari. Dan ia masih tidak begitu menyukai penampilan gadis yang terkesan urakan itu. Tidak ada anggun-anggunnya sama sekali.
“Ngapain kamu bawa dia kesini?” Gumam Fandi.
“Kek? Kok ngomong begitu?” Protes Ren tidak terima. Sementara Zinnia semakin menciut karna suasana di dalam ruang VIP itu berubah mencekam. Padahal ruangan itu sangat hangat sebelumnya.
“Kak, aku keluar dulu sebentar, ya. Ada telfon.” Zinnia mengutarakan alasan yang menurutnya masuk akal untuk meninggalkan ruangan itu.
Zinnia tidak menunggu ijin dari Ren. Ia hanya terus berbalik dan berlalu keluar dari ruangan. Ia kemudian duduk di bangku di luar ruangan Fandi. Ia berbohong hanya agar bisa keluar dari ruangan itu.
Ren hanya bisa menatap punggung Zinnia yang menjauh darinya. Ada rasa tidak tega dan tidak terima melihat kakeknya memperlakukan Zinnia seperti itu. Ia sakit hati.
__ADS_1
“Apa harus kakek bersikap begitu sama pacar aku, Kek?” Ren segera melayangkan protesnya kembali.
“Kamu ini. Dicariin pacar gak ada yang pas. Giliran nyari sendiri, malah modelanya begitu. Kamu ini gimana sih, Ren? Cari pacar itu ya yang sesuai sama latar belakang kamu. Bukan malah milih cewek gak jelas begitu.” Gerutu Fandi.
“Yang kakek lihat itu cuma luarnya aja. Lagian berapa kali Ren bilang kalau kakek gak usah ikut campur soal sama siapa aku pacaran. Gak bakalan ngaruh sama Kakek. Aku yang ngejalanninnya aja ngerasa nyaman kok. Kenapa Kakek yang repot?”
“Kakek itu cuma gak mau kamu salah milih, Ren. Kamu itu wajahnya FD Corp. Ada tanggung jawab besar di pundakmu dan kamu harus jaga nama baik perusahaan yang udah susah payah Kakek bangun.”
“Kakek lupa? Siapa yang udah bangunin FD Corp setelah kakek hancurin dulu? Papa sama aku. Kan Kakek udah janji gak bakalan mengulik kehidupan pribadiku? Daripada Kakek pusing mikirin aku pacaran sama siapa, mending Kakek mikirin buat operasi.”
“Kakek memang gak peduli kamu mau pacaran dan nikah sama siapa. Tapi ya di lihat-lihat dong. Gak sama sembarang cewek juga. Kakek takut kamu salah pilih...”
“Gak ada yang menjamin aku salah pilih atau enggak, Kek. Difikir gampangnya aja. Kalau pilihanku salah, ya tinggal diperbaiki kan? Bukan berarti harus di buang.”
“Ren...”
“Kakek mau tetep bahas ini?” Pertanyaan Ren mengandung ancaman. Dan Fandi menyadari itu. Jadilah pria itu terdiam saja dan membuang pandangannya ke luar jendela.
Fandi menghela nafas perlahan. Ren sama keras kepalanya seperti dirinya dan Rai. Cucunya itu bahkan sama memberontaknya seperti ayahnya. Tidak suka di atur apalagi di kekang dengan hal yang sudah jelas bukan urusan orang lain.
Fandi tidak boleh mencampuri urusan pribadi Ren. Itu adalah syarat mutlak yang di ajukan Rai saat merayu putra sulungnya itu untuk menjadi penerus FD Corp. Dan saat itu, Fandi langsung menyetujuinya. Itu adalah upaya Rai untuk melindungi putra sulungnya. Ia sangat tahu kalau sifat Fandi tidak akan berubah semudah membalikkan telapak tangan.
Maka dari itu, Fandi tidak bisa memaksakan kehendaknya seperti ia memaksa Rai dulu. Ia juga tidak bisa terlalu banyak mendebat keputusan Ren terlebih tentang kehidupan pribadinya. Karna ia tidak ingin di tinggalkan lagi oleh anak dan cucunya.
Tapi tetap, ia merasa berat hati saat Ren dekat dengan gadis yang dirasa tidak selevel dengan mereka. Walaupun ia tau kalau ia tidak punya kesempatan untuk memaksakan Ren, tapi ia masih berusaha memperingatkan cucunya itu dan menyusupkan keinginan di antaranya.
“Kalau Kakek masih tetep mau bahas ini, aku keluar aja.” Tegas Ren. Ia langsung berbalik tanpa berkata apa-apa lagi. Dan Fandipun tidak melarang ataupun menolak ucapan Ren. Ia hanya terus menatap keluar jendela. Membiarkan cucunya pergi dari ruangannya.
Ren berdiri setelah menutup pintu ruangan Fandi. Ia melihat Zinnia yang sedang duduk di bangku sambil bermain ponsel. Gadis itu nampak sesekali tersenyum. Sepertinya ia sedang berkirim pesan entah dengan siapa.
Hati Ren pias melihatnya. Bahkan saat Zinnia sedang tersenyum seperti itupun, ia sedih melihatnya. Karna ia tahu betul, apa yang sebenarnya di rasakan oleh gadis itu.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
*yuk,, cus like sama komennya...