Metalmorfosis

Metalmorfosis
BAB 33. Hati Yang Pias Dan Penuh Rasa Iri.


__ADS_3

“Lho? Mana Zinnia?” Tanya Rai yang sedang menyeruput teh di balkon lantai dua villa.


“Noh.” Tunjuk Ren ke arah Zinnia yang masih sibuk membantu memetik teh dengan sesekali bergaya saat hendak di foto oleh Ramadhan.


Di tempat yang tidak jauh dari mereka, nampak Esta yang juga sedang berjalan menghampiri.


“Kenapa gak di temenin?”


“Udah ada Ramadhan yang nemenin. Kayaknya Zinnia lebih nyaman sama dia.” Ujar Ren yang mengambil duduk di sebelah papanya.


“Kenapa gitu? Kalian berantem?” Tanya Rai.


Ren menggeleng. “Enggak.”


“Mau Papa kasih tau tempat romantis buat ngedate, gak? Dulu Papa sama Mama ngedate di tempat itu.” Tawar Rai.


“Dimana, Pa?”


“Daerah Puncak Pass. Disana, tempatnya bagus.” Ujar Rai kemudian sambil menerawang jauh. Pandangannya tertuju kepada Esta yang nampak sedang mengobrol dengan Zinnia.


“Kayaknya itu tempat keramat ya, Pa? Tempat yang berkesan buat Papa.”


“Disana, Papa menyadari perasaan Papa yang sebenarnya sama Mamamu. Tapi masih belum berani ngungkapinnya. Masih gengsi.”


“Jiah. Papa pernah gengsi juga?” Ejek Ren.


“Ya pernah lah.”


Rai menceritakan kisahnya bersama dengan Esta saat mereka mengunjungi puncak pass dulu. Ia bahkan masih mengingat perjuangannya untuk mendapatkan ikat rambut dari lotre dan memberikannya untuk Esta.


“Waahh. Kayak gitu Mama bilang Papa romantis? Gak banget.” Gumam Ren.


“Itu bisa di bilang romantis pada jamannya.” Elak Rai.


Kedua anak dan ayah itu lantas melanjutkan obrolan mereka dengan saling di selingi tawa.


Hubungan antara keluarga Rai memang sangat dekat. Tidak ada rahasia diantara mereka yang perlu di simpan. Mereka saling menjaga kekurangan dan membagi kelebihan masing-masing. Maka dari itu, baik Ren maupun Ranu, tidak pernah merasa canggung untuk menceritakan hal apapun kepada kedua orang tua mereka.


Jika ada masalah, Ren dan Ranu selalu meminta pendapat dari ayah dan ibunya. Terlebih jika itu menyangkut dengan hal yang serius.


Di  tempat yang berbeda, Esta dan Zinnia juga sedang asyik mengbrol. Kali ini tidak ada Ramadhan disana karna pemuda itu sudah pergi.


Dua wanita beda generasi itu sedang duduk di bawah kursi panjang dari papan yang ada di bawah pohon akasia.

__ADS_1


“Kenapa gak di temenin sama Ren?” Tanya Esta


“Gak, Tante. Kak Ren gak seru.” Jujur Zinnia.


“Gak seru?”


Zinnia mengangguk.


Esta mengerti apa maksud Zinnia. Memang putranya itu kurang tanggap dalam hal perempuan. Itulah yang membuat barisan para mantannya mundur pelan-pelan setelah melihat sikap Ren yang cenderung acuh.


“Ini kebun punya Tante, ya?”  Tanya Zinnia.


“Bukan. Kebun ini punya uyutnya Ren.”


“Ooh..”


“Keluarga tante selalu menyempatkan waktu buat kesini. Meluangkan waktu buat kumpul keluarga.”


Zinnia mengangguk. “Iya, Kak Ren pernah cerita.”


Rasa iri itu perlahan muncul di dalam hati Zinnia. Betapa indahnya memiliki keluarga yang harmonis seperti ini? Batin Zinnia.


Sedangkan keluarganya, boro-boro harmonis, saat makan bersamapun, akan berujung pada pertikaian tak berguna.


“Enaknya keluarga tante. Beruntung jadi kak Ren.” Lirih Zinnia tanpa dia sadari. Hatinya pias penuh rasa iri.


“Kak Ren pernah berantem gak, Tan?”


Esta menggeleng. “Gak pernah.”


“Hah?! Seriusan? Sampai sekarang agk pernah berantem sekalipun?!” Zinnia tidak percaya. Mana ada orang yang tidak pernah bertengkar?


“Dari kecil anak-anak Tante gak pernah bertengkar sama orang lain. Bahkan Ren sama Ranu aja gak bernah saling bertengkar. Mereka saling melengkapi dan membantu satu sama lain.” Jelas Esta. Ada sorot kebanggaan yang terpancar dari netranya.


“Waahhh.” Zinnia benar-benar tidak percaya.


Rasa iri itu terus membumbung di hati Zinnia. Ren tidak pernah bertengkar dengan adiknya. Sangat berbeda dengan pengalaman yang ia alami selama hidupnya. Yang tidak pernah punya hal baik antara dia dan Navya. Mereka selalu bertikai bahkan untuk masalah yang sangat sepele sekalipun.


“Tapi yang paling banyak ngalah ya, Ren. Kalau Ranu, anaknya sedikit bandel. Waktu kecil suka buat gara-gara sama kakaknya. Tapi untungnya Ren anaknya ngalahan. Jadi gak sampe bertengkar apa gimana. Ren itu, sekalipun gak pernah bantah Mama sama Papanya. Tapi beda cerita kalau sama kakeknya. Hahahahaha.” Esta nampak sangat bahagia menceritakan tentang Ren.


“Masak sih, Tan?”


“Iya. Soalnya kakeknya itu selalu maksa buat jodohin Ren. Padahal Ren paling gak suka di paksa-paksa masalah jodoh. Dia punya rencananya sendiri. Kalau sama kami, dia selalu nurut. Karna Tante sama Om juga menghormati apapun pilihannya. Beda dengan dulu waktu dia masih kecil. Kalau sekarang kan, dia udah dewasa. Udah bisa menentukan yang salah dan yang benar.”

__ADS_1


“Beruntung banget punya orang tua kayak Om dan Tante.” Ujar Zinnia. Ada buliran air yang siap jatuh di sudut matanya yang berusaha ia tahan mati-matian.


“Beruntung itu relatif, Zinnia. Tergantung orang yang melihatnya. Karna di balik keberuntungan itu, pasti ada cerita yang menyakitkan dalam prosesnya. Kamu juga beruntung kok, Zinnia. Kamu masih punya keluarga. Sementara di luaran sana, banyak yang sudah tidak punya keluarga lagi bahkan saat mereka masih kecil.”


Beruntung? Apa dia termasuk orang yang beruntung tumbuh di tengah keluarga yang berantakan? Dari luar memang nampak seperti ia tumbuh di keluarga yang sempurna tanpa celah. Tanpa ada orang yang tau kalau mereka tidak seakur itu.


Bahkan kedua orangtuanya masing-masing punya simpanan. Dan masing-masing saling menyembunyikan. Tidak pernah ada kata damai di dalam rumah. Selalu di penuhi oleh teriakan, pertengkaran, cacian, makian, dan saling merendahkan satu sama lain.


Apa bisa di bilang ia beruntung jadi anak mereka? Andaikan anak bisa memilih orang tua....


“Zinnia lagi ngambek sama Ren?” Tebak Esta mengalihkan pembicaraan. Ia bisa merasakan air muka Zinnia yang berubah mendung dan tatapanya yang sudah berawan.


“Enggak, Tante. Kenpa Tante berfikir begitu?” Tanya Zinnia heran.


“Hehehehe. Enggak apa-apa, sih. Cuma nebak aja. Soalnya kalian kayak lagi bertengkar, gitu.”


“Enggak kok, Tan. Kami gak bertengkar.”


“Pasti kamu lagi sebel ya, sama Ren? Ren emang gitu, kadang-kadang acuhnya gak ketulungan. Gak peka sama cewek. Tapi kadang-kadang, perhatiannya minta ampun.”


“Enggak, Tan. Aku gak sebel. Kak Ren baik sama aku. Ngomong-ngomong, Tan. Pasti mantan pacarnya Kak Ren cantik-cantik ya, Tan?” Tiba-tiba Zinnia jadi penasaran.


“Ehmm. Cantik sih. Tapi diantara mereka, gak ada yang di seriusin sama Ren.”


“Kenapa gitu, Tan?”


“Tante juga gak tau mau tuh anak apa? Umur udah segitu, tapi belum punya pasangan yang di seriusin. Makanya kakeknya ngebet pengen dia nikah secepatnya.”


“Tapi Kak Ren udah punya calon lho, Tan. Tadi dia bilang sama aku.” Ujar Zinnia membocorkan rahasia Ren.


“Hah? Masak?” Esta tidak percaya. Karna yang dia tau, Ren punya perasaan khusus kepada Zinnia.


“Iya. Emangnya belum di kenalin sama Tante?”


Esta menggeleng. Ia menatap Zinnia tidak percaya. Gadis itu sedang menundukkan wajahnya sambil memainkan ujung kukunya.


“Tapi Zinnia suka, kan? Sama Ren?” Tebak Esta. Membuat Zinnia langsung salah tingkah dan menatap kepada Esta.


“Enggak, Tan. Ya ampun. Zinnia anggap Kak Ren sebagai kakak aja. Gak lebih. Lagian kan, Kak Ren udah punya calon.”


Esta mengelus-elus punggung Zinnia sambil tersenyum. Ia teringat dengan kesalah pahaman Ren mengira Zinia sudah punya kekasih. Dan kali ini, justru Zinnia yang mengira Ren sudah punya calon istri.


Astaga, enaknya diapain anak dua ini? Batin Esta.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


*Jangan lupa like sama komentarnya yaaa.... Dan kalau ada typo tolong kasih tau aku biar ku perbaiki...okayy?


__ADS_2