
Ren, dan kedua orang tuanya duduk di sofa di kamar Ren, mereka sedang menunggui Zinnia.
“Pacarmu, Ren?” Tanya Rai memecah keheningan.
Ren yang tadinya sedang memantau harga saham di tabletnya, jadi langsung menoleh kepada ayahnya. Kemudian ia beralih kepada ibunya yang mempunyai tatapan yang sama.
“Bukan, Pa. Cuma temen.” Jawab Ren.
“Temen kok perhatiannya sampai segininya.” Celetuk Esta.
“Beneran temen, Ma...” Ren mencoba meyakinkan ibunya.
“Iya, iya. Temen. Kita percaya, kok.” Ujar Rai memberi kode kepada istrinya.
“Mama sama Papa istirahat aja. Udah malem. Biar Ren yang jaga disini.”
“Mama gak percaya sama kamu. Entar anak gadis orang kamu apa-apain, lagi.” Celetuk Esta.
“Mama parno, ih. Mana mungkin aku ngapa-ngapain dia.” Dengus Ren.
“Bener?”
“Ma.....”
“Hehehehehe. Iya, iya. Mama percaya kok sama kamu. Karna kamu kan anak Mama. Ya udah, kami istirahat dulu. Jagain Zinnia. Jangan di apa-apakan.” Esta kembali mengingatkan.
“Ya ampun. Mama.”
Rai dan Esta tetap terkekeh saat keluar dari kamar Ren.
Ren masih fokus pada tabletnya. Namun lama-lama ia menguap juga. Tubuhnya tidak bisa di ajak untuk terjaga lebih lama lagi. Ia melirik jam dinding dan waktu sudah menunjukkan pukul 2 dinihari. Akhirnya ia merebahkan tubuhnya di sofa.
Zinnia memicingkan matanya yang bengkak akibat terlalu banyak menangis semalam. Silau karna cahaya matahari yang masuk menembus kaca membias memenuhi kamar itu. Ia lantas bangun dan duduk di atas ranjang. Ia masih belum menyadari keberadaannya. Ia fikir ia sedang di kamarnya.
Hal pertama yang Zinnia lihat adalah sosok Ren yang sedang tidur bersedekap di sofa di depan tempat tidur. Ah, sepertinya dia harus segera mengumpulkan kesadarannya kalau tidak ingin berhalusinasi melihat Ren di kamarnya.
Zinnia merenggangkan otot-ototnya untuk membuat tubuhnya rileks. Sambil menguap, ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Dan ia baru menyadari kalau itu bukanlah kamarnya. Zinnia menjadi sangat bingung.
“Oh, Zinnia udah bangun?” Suara Esta yang baru masuk ke dalam kamar mengejutkan Zinnia. Ia mengernyit kepada wanita paruh baya itu.
“Tante siapa?”
Esta tersenyum. Ia meletakkan nampan berisi air putih hangat ke atas nakas lalu menyodorkan tangannya.
__ADS_1
“Salam kenal ya, Zinnia. Aku Esta. Mamanya Ren.” Ujar Esta memperkenalkan diri. Ia menoleh kepada Ren yang masih tidur di sofa.
Zinnia memandangi Esta dengan bingung. Banyak sekali pertanyaan yang muncul di benaknya saat ini.
“Jadi ini dirumahnya Kak Ren?” Gumamnya.
Esta mengangguk. “Sekarang kamu lagi di kamarnya Ren. Kamu gak inget semalem Ren bawa kamu kesini?”
Zinnia mencoba mengumpulkan ingatannya. Tapi hanya sampai ia bertemu dengan Ariga. Selebihnya, ia tidak ingat apapun lagi.
“Zinnia gak inget, Tante.”
“Ya udah. Sekarang minum ini. Biar seger.” Esta menyodorkan gelas air hangat kepada Zinnia.
“Makasih banyak, Tante.” Lirih Zinnia.
“Ya ampun. Udah siang kok masih tidur nih anak.” Gerutu Esta yang menghampiri Ren di sofa. Sementara Zinnia masih mengumpulkan kesadarannya dan hanya memperhatikan saja.
“Nak? Bangun udah siang, lho. Gak ke kantor?”
Ren bergeming. Sepertinya ia sedang terlena di alam mimpi.
“Ren?” Kali ini Esta mengguncang tubuh putranya sampai Ren terbangun.
Ren nampak kaget saat mendapati ibunya ada di hadapannya. Ia langsung terduduk dan mengerjap-ngerjapkan mata.
“Udah siang. Gak ke kantor?”
Ren melihat ke arah Zinnia yang terduduk di atas tempat tidur dan juga sedang menatapnya.
“Jam berapa ini?”
“Udah setengah 8. Buruan bangun. Betar lagi Ariga dateng kamu belum siap-siap.”
“Iya, Ma.”
Esta beralih dari sisi Ren. “Tante keluar dulu, ya. Sarapannya udah siap, nanti langsung turun aja ya. Tante tunggu di bawah.” Ujarnya pada Zinnia.
Zinnia mengangguk. “Iya, Tante.”
Sepeninggal Esta, Ren segera bangun dan berjalan mendekati Zinnia. Duduk di tepi ranjang sambil menatapi wajah Zinnia yang membengkak.
“Gimana keadaanmu?” Tanya Ren.
__ADS_1
“Udah mendingan, Kak.”
“Kakimu? Masih sakit? Harus di olesi salep lagi.”
Zinnia melirik ke arah kakinya yang memang nampak terluka. Kemudian kembali menatap Ren.
“Makasih Kak Ren. Udah bantuin aku. Ngomong-ngomong ini kausnya siapa? Besar banget.” Ujar Zinnia memperhatikan kaus berwarna coklat yang menempel di tubuhnya.
“Kausnya Mbak Sur. Soalnya cuma baju dia yang pas sama kamu. Udah sana bangun. Cuci muka apa mandi.” Perintah Ren.
Zinnia hanya tersenyum dengan memamerkan deretan gigi-giginya. Kemudian ia turun dari tempat tidur.
“Aku cuci muka aja. Hehehehehe.”
Zinnia nyengir saat berjalan. Luka di kakinya terasa perih saat di gerakkan. Tapi ia memaksanya saja.
Tak berapa lama Zinnia sudah keluar dari kamar mandi. Ia mendapati Ren yang masih menunggunya untuk gantian menggunakan kamar mandi.
“Kalau udah, ke bawah aja. Langsung sarapan. Aku mau mandi dulu.” Ujar Ren yang langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Zinnia mengikuti saran Ren. Ia lantas keluar kamar dan turun ke lantai satu.
Sesampainya di ujung tangga, Zinnia nampak kebingungan untuk mencari ruang makan. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Rumah itu sangat luas hingga ia tidak bisa menebak dimana letak dapur. Bahkan lebih luas dari rumahnya.
“Zinnia, sini!” Panggil Esta dari arah kanannya. Ia menoleh dan langsung menghampiri Esta.
Esta mengajak Zinnia menuju ke ruang makan. Disana sudah ada Rai yang sedang menyeruput kopinya sambil membaca koran. Kegiatan khas para pria paruh baya ala-ala.
“Ini, suami Tante. Papanya Ren.” Esta memperkenalkan Rai.
Zinnia segera menghampiri Rai dan menyalaminya.
“Gimana? Udah baikan?” Tanya Rai sambil melipat koran dan menaruhnya ke atas meja di hadapannya.
“Udah, Om. Makasih Om, Tante, udah ijinin aku nginap di sini.”
“Gak apa-apa. Tante seneng kamu udah gak apa-apa. Sini duduk. Kita tunggu Ren dulu sebentar.” Ujar Esta.
Suasana rumah yang menyenangkan dan keluarga yang menghangatkan. Bahkan Zinnia bisa merasakannya walau baru kesan pertama.
Merasakan auranya, sepertinya di rumah ini tidak ada yang berteriak meninggikan suaranya. Apalagi pakai acara tampar menampar. Ia tidak menemukan jejak emosi di sana. Bahkan Rai dan Esta nampak mengobrol dan bercanda ringan penuh cinta.
Sangat berbeda dengan rumahnya. Selalu di hiasi dengan teriakan dan tamparan. Bahkan ayah dan ibunya juga sering saling berteriak tak terkendali.
__ADS_1
Keluarga Ren keluarga hebat. Apalagi sikap Esta yang penuh kehangatan. Ia ingin punya ibu seperti Esta. Berdosakan jika ia berharap begitu? Apa itu berarti ia tidak bersyukur dengan keluarganya?
Entahlah. Zinnia hanya menginginkan suasana hangat ini adadi rumahnya. Melihat ayah dan ibunya saling melempar canda dan gurauan. Bersama dengan dirinya dan juga adiknya. Tidak ada makian. Tidak ada pembedaan. Tidak ada banding-bandingan. Dan yang pasti, tidak ada teriakan dan tamparan. Semuanya membaur dalam kenyamanan rengkuhan yang di sebut, keluarga.