
Zinnia sedang berganti pakaian di dalam kamar mandi. Ia mematut dirinya di depan cermin dengan pakaian yang sudah menempel di tubuhnya.
Atasan berwarna peach dan dipadu dengan celana abu-abu dominan gelap. Sangat kontras dengan warna rambutnya yang menyala.
Zinnia merasa sangat tidak nyaman dengan warna itu. Ia tidak suka warna terang begitu.
Tok. Tok. Tok.
Terdengar pintu kamar mandi di ketuk.
“Zinnia! Belum selesai?” Teriak Ren dari luar kamar mandi.
“Bentar, Kak!”
Zinnia menghela nafas sebentar kemudian kembali memperhatikan pantulannya di cermin. Entahlah, ia merasa kurang percaya diri dengan penampilannya kali ini. Tapi ia terpaksa memakainya.
Zinnia keluar dari kamar mandi dengan wajah tertunduk malu. Ia tidak berani melihat reaksi Ren saat melihat dirinya dalam warna lain selain hitam.
“Udah?” Tanya Ren yang bernada biasa saja.
Zinnia mendongak kepada Ren. Ia menelisik setiap ekspresi wajah Ren yang bisa ia baca. Dan ia menghela nafas lega setelah tidak menemukan kecurigaan disana.
Padahal, Ren sedang menahan degub jantungnya yang di luar batas. Zinnia sangat cantik mengenakan warna itu. Walaupun nampak kontras dengan rambut pirangnya. Tapi itu tertutupi oleh wajahnya yang putih bersih dengan bibir tipisnya.
“Aneh gak, Kak?” Tanya Zinnia malu.
Ren menggeleng. “Enggak, kok. Apanya yang aneh?”
“Hehehehehe. Aku gak biasa pakai beginian. Gak nyaman.” Jujur Zinnia.
“Dinyamanin aja.”
Bel pintu kamar berbunyi. Ren segera membukakan pintu. Dan masuklah seorang pegawai hotel dengan mendorong troly berisi makanan di atasnya. Pegawai itu langsung meletakkan troly di samping sofa.
“Ayo, makan dulu. Kamu pasti belom makan kan?” Tawar Ren.
Zinnia hanya mengikuti ajakan Ren saja. Ia lantas duduk di salah satu sofa sementara Ren menurunkan makanan ke atas meja. Pria itu juga mengiriskan daging steak untuk kekasihnya.
Zinnia terus menatapi wajah Ren yang sedang mengiris steak di depannya. Ia tersenyum saat merasakan debaran hatinya yang sedang berpacu. Membuat wajahnya menjadi merona.
“Ini, dimakan dulu.” Ren meletakkan steak yang sudah ia potong ke hadapan Zinnia.
Zinnia melahap makanan itu dengan lahap. Perutnya memang sedang kelaparan. Ia menyantap makanan itu seperti orang yang sudah seharian tidak makan.
__ADS_1
“Mau nambah?”
Zinnia langsung mengangguk. Dan Ren segera memberikan steak bagiannya kepada Zinnia.
“Kakak mana?”
“Aku gak laper. Baru makan.” Padahal Ren berbohong. Sejak kemarin juga dia tidak teringat untuk makan karna terlalu sibuk mengkhawatirkan Zinnia. Tapi senyuman itu, membuat Zinnia yakin dengan ucapannya.
“Beneran?” Tanya Zinnia.
“Iya, bener. Abisin aja.”
Kebohongan Ren tidak terbaca oleh Zinnia. Gadis itu langsung melahap steak bagian Ren sampai habis tak bersisa.
Selesai makan, keduanya lantas duduk santai di sofa. Ren masih menatapi wajah Zinnia dengan intens. Masih nampak bekas bentol-bentol bekas gigitan nyamuk.
“sini, deket.” Ujar Ren sambil menepuk sofa di sampingnya. “Diobatin dulu itu gatalnya.”
“Udah gak gatal, Kak. Cuman bentolnya aja.”
“Udah sini.” Paksa Ren.
Dan Zinnia tidak berani membantah. Rasanya sudah cukup ia membuat pria itu khawatir. Dan ia tidak ingin menambah suasana menjadi tidak enak untuk mereka berdua.
Ren nampak serius mengoleskan salep gatal di wajah Zinnia. Membuat wajah mereka dalam jarak yang sangat dekat.
Selesai mengobati bagian wajah, Ren beralih ke tangan Zinnia. Disana juga terdapat beberapa bentol dan Ren segera mengoleskan obat disana.
“Aku fikir tadi Kak Ren marah sama aku.” Gumam Zinnia memecah keheningan. Kini alur nafasnya sudah kembali
normal setelah wajah Ren menjauh darinya.
“Mau marah tapinya gak tega. Semalem kenapa malah pergi gitu aja sih?” Akhirnya Ren melayangkan protesnya.
Zinnia tidak menjawab. Ia malah menundukkan wajahnya dalam-dalam. Menyesal karna sudah membuka percakapan itu.
“Kamu gak tau kan kalau aku hampir gila mikirin kamu? Fikiran-fikiran aneh muncul di kepalaku. Ya ampun Zinnia.... Hhhhhh.” Ren menatap lekat kepada Zinnia yang masih belum berani mengangkat wajahnya.
“Maaf, Kak...” Hanya itu yang berani di ucapkan oleh Zinnia.
“Ini yang terakhir, ya. Aku bisa gila beneran nanti.”
Zinnia diam. Ia sedang menahan tetesan airmata yang sudah bergelayut di pelupuk matanya. Ia bahkan tidak berani berkedip karna takut air itu akan tumpah.
__ADS_1
“Aku malu, Kak.”
“Malu kenapa?”
“Malu karna Kak Ren harus ngelihat papaku yang kayak gitu.” Lirih Zinnia kembali.
“Memangnya apa yang harus dimalukan?”
Pertanyaan itu membuat Zinnia langsung mengangkat wajahnya. Menatap Ren dengan penuh tanya.
“kenapa kamu yang harus malu? Kan bukan kamu yang selingkuh? Bukannya yang harusnya malu itu papamu? Gak usah di ambil pusing. Aku gak masalah dengan hal itu. Apa kamu takut aku bakalan ninggalin kamu setelah tau soal papamu? Gitu?”
Ya, Zinnia memang berfikir begitu. Ia malu dan takut kalau Ren akan meninggalkannya karna keburukan yang ada pada keluarganya.
“Kamu gak usah mikir yang aneh-aneh. Aku gak bakalan ninggalin kamu cuma karna masalah sepele kayak gini.” Ujar Ren yang kini sudah gantian mengolesi bentol di Kaki Zinnia. Ia mengangkat Kaki Zinnia ke atas pahanya.
Sepele? Apa masalah ini terlihat sepele bagi Ren? Bathin Zinnia. Entah kenapa ia malah jadi mencelos mendengarnya. Apa Ren tidak terlalu santai dengan masalah ini?
Ren sudah selesai mengolesi kaki Zinnia. Ia menurunkan kakinya kemudian menatap lurus kepada gadis itu.
“Kamu gak perlu malu sama aku, Zinnia. Aku sayang sama kamu apa adanya. Aku gak ngelihat apa yang ada di sekitar kamu. Aku cuma mau fokus sama kamu tanpa peduli sama hal-hal di sekililing kamu yang gak berguna.” Ujar Ren dengan mimik wajah super serius.
Ren lantas memajukan tubuhnya hingga menempel dengan Zinnia. Ia merengkuh kepala gadis itu dan menenggelamkannya ke dadanya.
“Aku bakalan nikahin kamu supaya kamu gak neko-neko lagi. Biar aku bisa jagain kamu 24 jam nonstop.”
Zinnia langsung mengangkat kepalanya dan menatap sambil mengernyit kepada Ren.
“Kenapa? Gak mau?”
“Kok ngelamarnya begini sih, Kak? Gak romantis banget tau.” Dengus Zinnia. Membuat Ren ternganga.
“Hah? Udah kayak gini kamu masih mau yang romantis? Udah gak sempet mikir yang romantis aku tuh.”
Buk.
Zinnia memukul pelan dada Ren. Membuat Ren berpura-pura kesakitan sambil memegangi dadanya. Lantas kedunyapun langsung terkekeh bersama.
“Aku gak akan jawab sekarang. Jujur aku belum berfikir ke arah sana, Kak. Masih banyak hal yang harus aku selesaikan sebelum berfikir serius ke pernikahan. Salah satunya soal ijazah SMA-ku. Seenggaknya aku harus lulus SMA kalau mau jadi nyonya FD Corp. Hehehehehe.”
Ren mengangguk. Ia membenahi rambut Zinnia dan menyelipkannya ke belakang telinga.
“Iya. Aku dukung apapun maumu. Dan aku bakalan bantu kamu nanti. Tapi jangan lama-lama. Soalnya ubanku udah mulai tumbuh. Hahahahahaha.”
__ADS_1
Zinnia kembali terkekeh mendengar selorohan Ren itu. Ia lantas meghambur lagi ke dada bidang pria yang menawarkan sejuta kenyamanan itu.
BERSAMBUNG.