Metalmorfosis

Metalmorfosis
BAB 67. Masih Belum Terbiasa Dengan Perubahan Sikap Yang Tiba-Tiba.


__ADS_3

Hari pernikahan ranu sudah tiba. Acara akan di selenggarakan di ballroom hotel FD Corp dari jam 10 pagi. Tamu undangan akan di bagi dalam dua sesi. Siang, dan malam hari.


Bahkan matahari masih enggan untuk muncul. Tapi Zinnia sudah sibuk di dalam kamarnya. Menatapi dan melihati satu-persatu pakaiannya. Dan saat ini ia baru merasa menyesal karna tidak punya satupun gaun yang bisa ia gunakan untuk pergi ke pesta.


Tok, tok, tok.


Terdengar suara pintu kamarnya di ketuk. Padahal pintu itu tidak tertutup dengan sempurna.


Zinnia menoleh ke arah pintu untuk melihat siapa yang mengetuknya. Disana, telah berdiri Navya dengan melongokkan kepala terlebih dahulu.


“Boleh masuk?” Tanya Navya.


Zinnia mengernyit heran. Sebenarnya perubahan sikap Navya membuatnya sedikit canggung. Ia sudah terbiasa dengan sikap ketus dan cueknya Navya. Melihat Navya bersikap sopan begini, membuat Zinnia masih tidak percaya.


Navya masuk begitu saja saat melihat Zinnia yang sudah kembali sibuk dengan isi lemarinya.


“Ya ampun. Udah ku kira Kakak bakalan bingung milih baju.” Navya berdecak di belakang Navya.


“Kalau cuma mau ngejek mending keluar sana.”


“Nah.” Ujar Navya menyodorkan sebuah paper bag kepada kakaknya.


Walaupun mengernyit heran, tapi Zinnia tetap menerimanya. Didalamnya berisi gaun tanpa lengan dengan motif bunga dominasi warna pink-putih.


“Apa ini? Kamu nyuruh aku pakai ini?”


“Terus Kakak mau kesana pakai kaus dan celana hitam? Yang bener aja. Gak usah protes. Buruan mandi terus pakai gaun itu. Abis itu kita ke salon.” Paksa Navya.


“Ngapain lagi ke salon? Gak mau, ih.”


“Kak, nanti disana bakalan ketemu sama keluarga besarnya Pak Ren lho. Emangnya Kakak gak malu gak dandan?”


“Kalau cuma dandan sendiri juga bisa.”


“Bukan cuma dandan. Itu rambut di itemin. Biar Pak Ren makin klepek-klepek.” Ujar Navya yang kemudian berbalik hendak pergi dari kamar itu.


Zinnia menatap jijik kepada punggung Navya yang sudah menjauh. Sungguh menggelikan mendengar Navya berseloroh seperti itu. Bulu kuduknya sampai berdiri mendengarnya. Ah, Zinnia masih belum terbiasa dengan perubahan sikap adiknya itu.


Zinnia membentangkan gaun yang ia pegang dan memperhatikannya dengan seksama. Gaun itu sangat cantik. Tapi apakah akan terlihat bagus saat ia pakai?

__ADS_1


Dan lagi, Zinnia teringat dengan ucapan Navya. Ia memang akan bertemu dengan Ren dan keluarga besarnya. Setidaknya ia tidak ingin terlihat biasa di hadapan mereka. Ia ingin terlihat istimewa untuk Ren di hari bahagia itu.


Setelah mandi, Zinnia mengenakan gaun pemberian Navya. Ia mematut dirinya di depan cermin dan sedang mengagumi dirinya sendiri. Ia baru sadar, kalau ia terlihat lebih cantik dalam balutan warna yang berbeda. Wajahnya terlihat lebih segar dan cerah.


“Kak buruan! Nanti telat!” Teriak Navya dari lantai bawah.


Zinnia segera menyambar tas kecil yang di belikan Ren tempo hari. Memasukkan berbagai kartu dan ponsel ke dalamnya. Kemudian ia bergegas turun dan menemui Navya.


“Ayo.” Ajak Navya lagi.


Zinnia mengikuti dengan diam. Entah kenapa ia sangat menurut kepada adiknya itu.


“Berangkat sekarang?” Tanya Arsa yang baru keluar dari kamarnya.


“Iya, Ma. Mau ke salon dulu. Mama berangkat kapan?”


“Mama sama Papa agak siangan aja.” Jawab Arsa. Ia sama sekali tidak tertarik untuk berkomentar mengenai pakaian Zinnia.


Zinnia diam saja. Ia tau, kalau ayahnya belum pulang ke rumah selama dua hari ini.


“Yaudah kalau gitu. Kami berangkat dulu, Ma.” Ujar Navya cepat-cepat sebelum ibunya itu protes kenapa mereka berangkat bersama.


Navya segera melajukan mobilnya menuju ke salon langganannya. Matahari baru saja merangkak naik. Bahkan sepagi ini jalanan ibukota sudah mulai dipadati oleh kendaraan.


Sesampainya di salon, Navya segera memarkirkan mobil dan mengajak Zinnia turun.


Butuh waktu hampir dua jam untuk mengubah total penampilan Zinnia. Kini warna rambutnya sudah kembali ke warna semula. Make up tipis terpoles sempurna di wajahnya dengan sentuhan lipstik berwarna pink di bibirnya. Zinnia benar-benar menjelma menjadi gadis yang sangat cantik. Bak nona muda putri dari keluarga kaya yang sebenarnya.


Bahkan Zinnia sendiri menatap takjub ke pantulan dirinya di cermin. Ia seperti tidak mengenali dirinya yang seperti itu. Ia seperti orang yang berbeda dengan rambut hitam yang ditata semanis mungkin. Apalagi dengan sentuhan pita rambut kecil yang semakin mempermanis penampilannya.


“Nah, gini kan cantik.” Puji Navya setelah memperhatikan kakaknya dari atas kepala hingga ujung kaki. “Udah gak kayak ayam cemani lagi.”


“Ayo.” Ajak Zinnia kemudian setelah melirik jam tangannya.


Seperti sebelumnya, Navya mengemudikan mobil dan Zinnia diam di sampingnya. Kesunyian itu membuat Zinnia mengantuk. Apalagi ia sedang membayangkan bagaimana nanti orang-orang akan melihatnya.


“Masih sama Joham?” Zinnia membuka suara.


“Ya masih, dong. Kenapa?”

__ADS_1


“Gak apa-apa. Cuma nanya aja. Awas kalau kamu mainin dia.” Ancam Zinnia.


“Siapa yang mainin sih, Kak? Aku juga serius sayang sama Kak Joham. Aku lagi mikirin gimana cara ngasih tau Mama biar gak kena marah. Menurut kakak gimana? Kasih tau apa enggak?”


Zinnia tidak mau berkomentar. Ia malas mengurusi urusan percintaan adiknya itu. Ia malah hanya mengangkat bahu saja.


“Papa kita, enaknya di apain?” Gumam Zinnia.


Ini memang bukan waktu yang tepat untuk membahas masalah keluarganya. Tapi Zinnia tetap ingin membahasnya. Karna hubungannya dengan Navya sudah lumayan membaik, tidak ada salahnya ia bertukar pendapat dengan adiknya itu.


Navya menghela nafas setelah mendengar ucapan Zinnia. Ia juga sudah muak dengan ini semua.


“Sebenernya aku masih malu sama Kak Ren dan keluarganya.”


“Kenapa?” Tanya Navya seraya menoleh sebentar.


“Malam itu, aku mergoki Papa sama selingkuhannya pas lagi sama Kak Ren.”


“Hah?!!” Navya nampak sangat terkejut mendengarnya. Tiba-tiba ia juga jadi malu sendiri dengan Ren.


“Kok keluarga kita begini banget, ya? Apa yang salah?” Gumam Zinnia sambil menebarkan pandangannya ke luar jendela.


Navya terdiam. Ia merasa ikut andil dalam memburuknya hubungan antara keluarganya.


“Maaf, Kak.” Lirihnya kemudian.


Zinnia tidak menggubris. Ia hanya terus memperhatikan jalanan yang mereka lewati.


Entahlah, apa keluarganya bisa lebih hancur dari pada ini? Apa hubungan mereka akan membaik? Angan-angannya untuk memiliki hubungan yang baik dengan orang tuanya, apakah bisa terwujud?


Zinia sangat merindukan sosok ayah dan ibunya. Dalam arti orangtua yang sebenarnya. Bukan hanya dalam status saja. Ia juga membutuhkan pengakuan dari ayah dan ibunya. Bukankah itu hal yang sudah seharusnya ia dapatkan dari mereka tanpa di minta?


Rasa sakit itu masih ada dan tetap berada di tempatnya. Sebaik apapun Ren mmeperlakukannya, sehangat apapun esta memeluknya, tapi mereka hanyalah orang luar yang tidak punya hubungan darah dengan dirinya. Rasanya tentu tidak senyaman kehangatan dari orangtuanya sendiri.


BERSAMBUNG.


*Warga.. Maaf sebelumnya, mungkin kedepannya hanya bisa up satu episode saja. Ada hal yang harus di kerjain di dunia nyata. Tapi kalau ada waktu banyak buat nulis tetep akan di up lebih dari satu. Mohon pengertiannya ya warga.


Jangan lupa vote, like sama komennya ya. Ratenya juga... Lop yu warga.

__ADS_1


Salam PiEl.


__ADS_2