Metalmorfosis

Metalmorfosis
BAB 36. Keindahan, Tersenyum Kepada Matahari.


__ADS_3

Hari masih sangat gelap. Udara pagi hari yang dingin membuat Zinnia betah membungkus dirinya dalam selimut. Ia bahkan bergeming saat mendengar ketukan di pintu kamarnya. Malas sekali rasanya mau bangun dan membuka pintu. Kehangatan pelukan selimut membuatnya ingin berlama-lama berada di alam mimpi.


Namun ketukan itu tak kunjung berhenti walaupun ia sudah mengabaikannya. Jadilah ia menyeret langkahnya untuk membuka pintu.


Walau dengan mata yang setengah terbuka, Zinnia membuka pintu kamarnya. Ia bisa melihat kalau Ren sedang berdiri di depannya dan menatapnya serius.


“Katanya mau lihat sunrise? Buruan cuci muka.” Ujar Ren kemudian.


“Ya ampun, Kak. Masih gelap lho. Ntar aja yaaa...” Zinnia berdalih dan hendak menutup pintu kamarnya kembali. Namun Ren keburu menahannya.


“Lhah. Gimana sih? Bentar lagi mataharinya udah mau terbit.”


“Tapi masih ngantuk, Kak...” Rengek Zinnia.


“Buruan cuci muka. Atau mau aku bantu cuci muka?” Tanting Ren.


“Hufh!” Zinnia mendengus kesal karna merasa Ren mengganggu tidurnya.


“Cepetan. Aku tunggu disini.” Paksa Ren kemudian.


Masih dengan kesadaran yang belum kembali sepenuhnya, sepanjang jalan menuju ke bukit bekalang villa, Zinnia terus menguap tanpa henti. Rasanya ingin sekali ia menjatuhkan tubuhnya ke tanah begitu saja.


Ren dengan sigap memantau Zinnia. Takut kalau-kalau gadis itu terpeleset dan jatuh. Sedangkan di belakang mereka, Ramadhan juga mengikuti sambil membawa sekotak makanan. Untung saja jarak bukit tak terlalu jauh dan banyak di terangi oleh lampu taman sehingga memudahkan mereka berjalan kesana.


Zinnia mengeratkan selimut kecil yang membungkus tubuhnya kemudian duduk di sebuah saung beratap daun kelapa. Di depan saung itu, sudah terdapat api unggun yang di buat oleh Ramadhan tadi.


Besarnya api unggun tak mampu membuat udara dingin menghilang. Membuat rasa kantuk Zinnia kembali datang dan ia mulai sulit mengendalikan kepalanya.


“Makanannya aku taruh di sini ya, Den.” Pesan Ramadhan sebelum pergi meninggalkan mereka.


“Makasih, Dhan.” Ujar Ren.


Sambil membenahi beberapa kayu bakar, Ren melirik ke arah Zinnia yang sepertinya masih mengantuk. Beberapa kali kepala Zinnia hampir terjatuh namun masih bisa ia tahan. Membuat Ren tersenyum lucu melihatnya.


Selesai membenahi kayu bakar, Ren mengambil duduk tepat di samping Zinnia yang masih berusaha mengumpulkan kesadarannya.


“Masih lama gak Kak?” Tanya Zinnia.


“Bentar lagi.”


Ren terkekeh saat Zinnia menguap untuk yang ke sekian kalinya.


“Masih ngantuk?” Tanya Ren.

__ADS_1


Zinnia hanya mampu menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawabannya.


Rasa kantuk Zinnia sudah tak bisa ia tahan. Ia sudah sepenuhnya takluk pada buaian kehangatan api unggun. Tanpa ia sadari, kepalanya mulai terjatuh ke pundak Ren.


Ren nampak agak terkejut. Namun ia kemudian tersenyum lucu sambil menoleh ke pada Zinnia yang bertengger nyaman di pundaknya. Ia membiarkan gadis itu puas memanfaatkan pundaknya yang menganggur itu. Ia bahkan membenahi posisinya perlahan untuk menjaga keseimbangan Zinnia.


Melihat wajah Zinnia sedekat itu, membuat hati Ren terus berdebar tak karuan.


Sejujurnya, Ren sedang menelisik jauh ke dalam hatinya untuk mengambil keputusan tentang kemana ia akan membawa hubungannya dengan Zinnia. Kali ini, ia tidak ingin salah mengambil keputusan. Ia memang menyukai Zinnia. Tapi ia belum sepenuhnya mengenal siapa gadis itu.


Cahaya keemasan mulai muncul dari balik bukit di ufuk timur. Ren ingin membangunkan Zinnia walupun sebenarnya ia tidak tega melakukannya.


Perlahan Ren mengguncang bahu Zinnia untuk membangunkan gadis itu. Zinnia menggeliat perlahan. Namun belum membuka matanya.


“Zinnia... Bangun. Itu mataharinya udah muncul.” Bisik Ren yang bahkan suaranya itu tidak terdengar oleh semut sekalipun.


Ren membasahi bibir dengan lidahnya, kemudian berusaha membangunkan Zinnia kembali.


“Zinnia?!” Kali ini suara Ren sedikit keras.


“Hemm...”


“Bangun. Itu mataharinya udah muncul.” Ujar Ren sambil memaksa tubuh Zinnia untuk duduk dengan tegak.


“Zinnia?” Panggilnya lagi.


“Iya, aku udah bangun.” Ujar Zinnia yang mengusap wajahnya. “Wahhh.” Ujar Zinnia saat melihat semburat jingga yang sudah muncul di hadapannya. Tiba-tiba rasa kantuknya mulai menghilang dan digantikan dengan tatapan takjub luar biasa.


“Gak foto?” Tanya Ren.


“Ah, hapeku. .ketinggalan di kamar.” Kata Zinnia setelah meraba ke arah saku celananya.


“Ya udah, pake hapeku aja. Sekalian nanti aku kirim sama yang kemarin.” Tawar Ren.


Zinnia mengangguk dan tersenyum senang. Ia melepas selimutnya kemudian menaruhnya di bangku di dekatnya. Dan ia segera berpose di hadapan Ren dengan latar belakang sunrise yang indah.


Ren senang sekali menjadi fotografer dadakan untuk Zinnia. Gadis itu nampak sangat bahagia dengan terus mengembangkan senyumannya.


“Udah ah, Kak.”


“Lho kok udah?”


“Udah cukup fotonya. Aku mau menikmati sunrise lagi.” Ujar Zinnia yang langsung kembali ke tempat duduknya semula.

__ADS_1


Ren hanya patuh saja mengikuti gadis itu dan kembali duduk di sampingnya. Ia menyodorkan beberapa bungkus camilan yang dibawakan Ramadhan tadi kepada Zinnia.


Zinnia memakan keripik pisang sambil terus menikmati landscape lukisan alam yang tiada duanya itu. Melihat cahaya jingga itu, membuat hatinya menghangat. Kehangatan yang seolah menyingkirkan semua bagian luka yang bersarang di dalamnya. Tanpa sadar, Zinnia mulai tersenyum kepada matahari.


“Kak Ren!” Lirih Zinnia tanpa mengalihkan pandangannya.


“Hem?” Jawab Ren yang langsung menoleh kepada Zinnia.


“Makasih ya, udah diajakin kesini. Pemandangannya bagus banget. Kenangan ini bakalan aku simpan di dalam ingatanku selamanya.” Ujar Zinnia kemudian. Nada suaranya terdengar sedih.


“Sama-sama. Kapanpun kamu mau kesini lagi, bilang aja.”


“Makasih juga udah baik banget sama aku. Aku beruntung bisa kenal sama kakak dan keluarga Kak Ren.”


“Kamu kenapa? Sakit? Kok ngomongnya aneh gitu?” Ren mengernyit.


Zinnia menoleh dan menatap Ren dengan serius. Membuat Ren semakin mengernyitkan keningnya.


“Hehehehehe. Cuma bilang makasih aja kok di bilang aneh, sih.”


“Ya abisnya. Kayak orang mau pergi kemanaa gitu.”


‘Aku gak pergi kemana-mana, Kak. Aku akan disini aja. Aku cuma akan menghapus perasaanku sama Kak Ren. Supaya nanti bisa tersenyum di depan Kak Ren saat Kak Ren bersanding di pelaminan.’


“Ya kan nanti udah mau pulang. Dan pastinya kita bakalan sibuk sama kegiatan masing-masing. Kak Ren sibuk tanda tangan proyek, aku sibuk ngelayanin pelanggan baksoku. Hahahahahaha.”


“Hehe. Kalau kamu capek kerja di Pak Jaya, aku bisa kasih kamu kerjaan di kantor.” Tawar Ren.


Zinnia menoleh kepada Ren. Ia menatap lurus ke netra pria itu kemudian menggelengkan kepalanya.


“Gak suah, Kak. Aku udah nyaman kerja di Pak Jaya. Lagian mau kerja apa aku di kantor?”


“Kalau kamu mau, aku bisa carikan posisi buat kamu.”


“Nepotisme. Hehehehe. Makasih tawarannya.” Seloroh Zinnia.


“Hahahahahaha. Tapi aku tetep gak mau ganggu kalau memang kamu nyaman sama kerjaan yang sekarang.”


Zinnia kembali menganggukkan kepala dan tersenyum sebagai jawaban pasti akan tawaran Ren. Ia sudah berniat menjauh dari Ren. Mana mungkin ia menerima tawaran pekerjaan yang membuatnya semakin dekat dengan pria itu. Itu namanya menyakiti hati sendiri. Lagipula, ia mungkin tidak akan sanggup melihat Ren berjalan dengan wanita lain.


Sungguh aneh. Baru kali ini Zinnia sakit hanya dengan membayangkannya saja. Padahal selama ini, ia tidak peduli kalau pacarnya bahkan berselingkuh darinya. Tapi kenapa dengan Ren berbeda?


BERSAMBUNG...

__ADS_1


*Jangan lupa like sama komentarnya yaaa....


__ADS_2