
“Yuk aku antar kamu pulang.” Ajakan Ren mengejutkan Zinnia. Gadis itu langsung mendongak kepada Ren yang ternyata sudah berdiri di hadapannya.
“chatingan sama siapa sih, serius amat?” Tanya Ren lagi.
“Sama Joham. Hehehe.”
“Hemmm...” Ren mengernyit.
“Dia nanyain Navya. Katanya dari kemarin telfonnya gak diangkat.” Zinnia buru-buru menjelaskan situasinya. Ia tidak ingin membuat Ren salah faham lagi tentang kedekatannya dengan Joham. Mulai sekarang, dia harus bisa menjaga perasaan kekasihnya itu. Cieee,, kekasih...
“Ayok.”
Zinnia mengangguk dan bangun dari duduknya.
Seperti biasa, gadis itu tidak menampakkan kesedihannya sedikitpun. Sekalipun ia sangat tersinggung dengan ucapan Fandi tadi.
Di remehkan oleh orang lain memang hal yang biasa baginya. Tapi statusnya yang kini menjadi kekasih Ren, dan orang yang merendahkannya adalah kakek dari kekasihnya itu sendiri, membuat hati Zinnia lumayan mencelos.
Kalau biasanya ia tidak peduli, berbeda dengan kali ini. Karna kekasihnya kali ini adalah pria dengan latar belakang yang tidak bisa dianggap remeh.
“Aku kok kefikiran sama Navya, ya?” Gumam Ren tiba-tiba saat mereka sudah berada di dalam mobil yang melaju membelah jalanan padat.
“Kenapa Navya?”
“Dia gak bakalan marah kan sama kamu? Aku keingat waktu kemarin itu pas kita mau berangkat ke puncak. Kayaknya Navya gak terima gitu.”
“Kak Ren gak usah ngelakuin apa-apa, ya? Please...” Mohon Zinnia.
Zinnia tidak ingin melibatkan Ren dalam urusan keluarganya. Ia malu, malu karna keluarganya begitu berantakan.
“Dia gak akan marah ke kamu, kan?”
“Udah biasa dia marah sama aku kalau gak sesuai keinginannya. Aku gak masalah. Pokoknya kak Ren diem aja.”
Dari ketegasan nada bicara Zinnia, Ren tau, kalau kekasihnya itu tidak ingin ia ikut campur masalahnya dengan Navya. Dia tidak akan mendesak Zinnia. Lagipula, Ren rasa, itu masih belum berada di ranahnya untuk ikut campur urusan keluarga Zinnia.
“Iya, aku gak akan ikut campur.” Janji Ren pada akhirnya.
Zinnia menghadiahi Ren dengan senyuman manis.
Mobil Ren sudah berhenti di depan rumah Zinnia. Namun setelah 10 menit berlalu, Zinnia tidak kunjung turun dari dalam mobil. Ada rasa berat untuk berpisah saat mereka baru saja mendeklarasikan perasaan masing-masing.
“Mau muter komplek sekali?” Tawar Ren yang juga merasakan hal yang sama.
__ADS_1
Zinnia mengangguk setuju.
Dan Ren kembali melajukan mobil untuk memutari kawasan komplek perumahan itu. Ia sengaja melajukan mobil dengan sangat perlahan. Membunuh waktu yang sedang berjalan agar berhenti sehingga ia bisa menikmati kebersamaan bersama Zinnia.
Namun anehnya, selama ‘perjalanan’ itu, tidak ada yang bersuara. Mereka sama-sama hanya terdiam dan larut dalam fikriannya masing-masing.
Dan, ‘perjalanan’ mereka sudah berakhir. Mobil Ren sudah kembali berhenti untuk ke dua kalinya di depan rumah Zinnia.
“Ahhh. Rasanya aku berat banget mau pulang.” Gumam Ren pada akhirnya.
“Sama. Aku juga. Masih pengen dekat Kak Ren.”
“Hehehe. Gimana, dong?”
“Mending Kak Ren pulang sana. Kan capek nyetir kesana-kesini hampir seharian. Lagian besok juga udah ketemu lagi di kantor.”
Ren mengangguk. Ia memang merasa lelah. “Ya udah. Nanti aku telfon yaa...”
“Oke...” Zinnia membuat tanda dengan jempolnya.
Cup.
Ren terhenyak saat bibir Zinnia mendarat di pipi kirinya. Ia menoleh kepada wanita itu dengan wajah yang merona. Tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
“Hehehehehe. Udah sana. Aku turun dulu. Itu Pak Tio udah ngelihatin curiga dari tadi.” Tunjuk Zinnia kepada securitynya yang memang sedang memantau mobil yang mencurigakan itu.
Zinnia membuka pintu dengan wajah yang juga memerah. Entah kenapa ia baru merasa malu setelah mengecup pipi Ren.
“Aku pulang, ya?” Pamit Ren dengan berat hati.
“Hati-hati, Kak.”
Ren mengangguk. Ia menjalankan mobil dengan memencet klakson sekali. Sementara Zinnia melambaikan tangannya mengantarkan kepergian kekasihnya itu.
“Soreee Pak Tioo...” Sapa Zinnia dengan riangnya.
“Sore juga, non. Kayaknya ada yang lagi bahagia, nih.” Goda Pak Tio.
“Hehehehehe. Keliahtan banget ya, Pak?”
“Banget..”
Zinnia kemudian melenggang meninggalkan Pak Tio dengan senyuman merekah yang menghiasi bibirnya.
__ADS_1
Jatuh cinta tetaplah jatuh cinta. Rasanya sama seperti saat Zinnia jatuh cinta kepada mantan-mantan kekasihnya dulu. Tidak ada yang istimewa. Sama-sama mendebarkan hati. Hanya bedanya, kali ini Zinnia merasa ada rasa rendah diri dan malu yang muncul berbarengan dengan perasaannya.
“Darimana sih kamu? Dua hari gak pulang ke rumah?” Tanya Arsa yang baru muncul dari dapur.
“Dari puncak, Ma...” Jawab Zinnia dengan senyuman yang masih bergelayut di bibir tipisnya.
“Ngapain ke puncak?”
“Kan kemarin Zinnia udah pamit sama Mama pas mau berangkat itu.” Zinnia memberitahu. Hatinya pias menyadari kalau ternyata ibunya tidak mendengarkan ucapannya.
“Ohh..” Jawab Arsa asal.
“Papa mana, ma?”
“Belum pulang.”
“Zinnia mau ke kamar dulu ya, Ma. Mau mandi.” Pamit Zinnia lagi. Ada rasa kasihan kepada ibunya yang dipermainkan oleh ayahnya sendiri. Tapi, bukannya Arsa tidak tau kalau suaminya diam-diam sudah menikah lagi. Mereka hanya saling menyembunyikan padahal sudah semua orang tau. Sudah rahasia umum di keluarganya.
Arsa hanya mengangguk dengan wajah datar. Sementara Zinnia mulai menapaki anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya.
Sebenarnya Zinnia heran dengan sikap ibunya. Karna ia fikir ibunya akan memarahinya perihal hubungannya dengan Ren. Karna biasanya, Navya pastilah sudah mengadu kepada ibunya kalau Zinnia dekat dengan atasannya di kantor itu. Tapi sepertinya Navya tidak memberitahu apa-apa kepada ibunya.
“Hahhhhhh...” Zinnia melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Memejamkan mata untuk kembali mengenang dan menikmati momen kebersamaannya bersama dengan Ren hari ini.
Membayangkan senyum manis Ren yang selalu terlempar padanya, membuat hati Zinnia semakin berbunga-bunga saja.
Ting!
Sebuah pesan masuk ke ponselnya. Dan secercah senyuman kembali merekah di bibir Zinnia. Ia segera membaca pesan dari Ren itu.
‘Lagi ngapain?’
‘Lagi tiduran, Kak. Mau mandi. Kok bisa chatingan? Emangnya udah sampe rumah?’
‘Belum. Lagi berhenti di pom bensin. Ya udah, mandi sana. Nanti kalau udah sampe rumah aku telfon.”
‘Oke.. Hati-hati yaa.’
Zinnia tidak bsia membendung perasaan bahagianya hanya dengan membaca pesan itu. Astaga, ia seperti bocah ABG yang baru pertama jatuh cinta. Tapi dasarnya jatuh cinta sanggup membawa orang terbang menembus kebahagiaan tersendiri. Seperti yang sedang dialami oleh Zinnia saat ini.
Perasaan bahagia terus membawanya melambung tinggi ke angaksa. Seolah menyamarkan dan menghapus semua luka yang selama ini mengendap di hatinya. Menutupi dengan serpihan-serpihan debaran yang mulai mengusir endapan rasa sakit itu. Menimbulkan senyuman yang terus mengembang di bibir Zinnia.
Tanpa terasa, sebuah kenyamanan membuat Zinnia memejamkan mata. Ia tertidur dengan senyuman yang masih setia mengembang di bibirnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...