
Sudah seminggu Zinnia bekerja di bakso Pak Jaya. Dia menyukai pekerjaannya. Kesibukannya mampu membunuh rasa bosannya. Ternyata, bekerja rasanya semenyenangkan ini.
Dan sudah seminggu pula Ren dan Ariga menjadi pelanggan VIP dadakan di sana. Selama makan siang, Ren dan sekeretarisnya itu akan datang dan memesan bakso. Entah kenapa Ren jadi suka makan bakso belakangan ini.
Ariga tidak keberatan. Selama dia di bayari.
Tapi siang ini, Ren tidak nampak datang untuk makan bakso. Hanya Ariga saja yang datang tergopoh-gopoh setengah berlari menghampiri Zinnia.
“kak Ren, mana?” Tanya Zinnia.
“Bisa minta tolong anterin bakso buat Pak Ren?” Tanya Ariga tanpa menjawab pertanyaan Zinnia.
“Memangnya Kak Ren kenapa? Biasanya makan disini.”
“Pak Ren lagi banyak kerjaan. Gak sempet keluar. Dia cuma pesen bakso dan minta kamu antar ke ruangannya. Bisa?”
Zinnia melihat kepada Pak Jaya. Pria pruh baya itu mengangguk setuju.
“Oke.” Jawab Zinnia.
Dan Ariga segera melesat pergi kembali ke dalam gedung.
Lima menit kemudian, Zinnia sudah berjalan masuk ke dalam gedung. Ia menghampiri resepsionis untuk menanyakan ruangan Ren. Karna dia sudah lupa saat waktu itu ia kesana bersama dengan selvi.
Resepsionis memberitahu Zinnia kalau ruangan Ren ada di lantai 21. Dan gadis itu segera membawa nampan berisi mangkuk bakso, botol saus dan kecap, serta semangkuk kecil sambal dan sebungkus kerupuk di atasnya.
Saat ia hendak masuk ke dalam lift, ia melihat kalau Navya juga ada disana, tapi Zinnia tidak mempedulikannya. Begitu juga dengan Navya. Mereka seperti tidak saling mengenal.
Aroma gurih bakso kuah menyeruak memenuhi lift. Beberapa orang nampak mendengus kesal karna pakaiannya jadi berbau. Tapi beberapa orang nampak biasa saja.
Lift berhenti di lantai 21. Samar-samar ia mengingat arah ruangan Ren dan ia berjalan menyusuri koridor.
Ariga segera menyambutnya dengan senyuman. Dan Zinnia meletakkan nampan ke atas meja Ariga.
“Bisa minta tolong anterin sekalian ke dalam? Soalnya aku lagi sibuk banget ini.” Pinta Ariga memohon.
Zinnia kembali mengangkat nampan itu. Lalu ia berjalan menuju ke arah ruangan Ren.
Tok, tok, tok.
“Masuk.” Terdengar perintah dari dalam.
Zinnia melongokkan kepalanya ke dalam ruangan Ren. Pria itu, sedang berkutat dengan tumpukan berkas-berkas. Nampaknya ia sedang sibuk.
“Baksonya aku taruh di meja ya, Kak?” Ujar Zinnia dengan meletakkan bakso ke atas meja sofa tamu.
Ren melihat ke arahnya sebentar. “Tunggu disitu!” Perintah Ren kemudian.
Zinnia menatap Ren bingung. Kenapa ia disuruh menunggu? Batinnya.
“Nanti kamu harus bawa balik mangkuknya, kan? Tunggu aku makan sebentar.” Ujar Ren yang berjalan ke arah sofa.
__ADS_1
Zinnia hanya mengangguk saja. Kemudian ia duduk di hadapan pria itu.
Ren mulai meracik baksonya dengan saus dan kecap, serta sambal. “Kamu udah makan?” Tanyanya di sela-sela mengunyah.
Zinnia menggeleng. “Belum.”
“Kok belum? Udah jam 2 lho ini.” Tanya Ren setelah melihat jam tangannya.
“Belum laper, Kak. Lagian bosen makan bakso terus. Nanti aja aku makan di rumah pas pulang.”
Ren hanya mengangguk-angguk saja.
“Oh iya, kak. Ini.” Zinnia mengulurkan uang pecahan 20 ribu dari saku celananya. Menyodorkannya kepada Ren.
“Aku mau sekalian bayar hutangku sama Kak Ren. Makasih ya udah di pinjemin uang.”
“Gak usah di balikin juga gak apa-apa. Cuma 20 ribu ini.” Ren menolak dengan halus.
“Ih, gak bisa gitu lah. Hutang tetep aja hutang berapapun nominalnya. Dan wajib di bayar.” Zinnia masih menunggu Ren untuk menerima uang itu.
“Hemph.” Ren tersenyum dengan sangat manisnya. Kemudian ia menerima uang itu dan memasukannya ke dalam saku kemejanya.
Zinnia juga ikut tersenyum kepada Ren. Ia senang karna Ren mau menerima uang itu.
“Kak, aku boleh lihat-lihat, gak?” Pinta Zinnia. Dia penasaran dengan keadaan ruangan Ren.
“Boleh.”
“Kak Ren suka lukisan?”
“Gak juga.”
“Tapi disini banyak lukisan.”
“Itu semua hadiah dari rekan bisnis. Ada yang dari mantan pacar.”
“Pantan pacar? Pasti mantannya Kak Ren banyak.”
“Gak banyak. Masih bisa di hitung dengan jari.”
“Tapi jari kita ada sepuluh, Kak. Dua puluh sama kaki. Berarti mantan Kak Ren ada sekitar 20?”
“Enak aja. Kamu kira aku cowok apaan?” Dengus Ren.
“Hehehehe.”
Zinnia kembali berjalan mendekati meja kerja Ren. Ia bisa melihat beberapa foto yang di bingkai indah di sana. Salah satunya, foto Ren remaja bersama dengan keluarga. Perlahan, Zinnia mengambil foto itu dan mengamatinya.
“Ini Papa sama Mamanya kak Ren?”
Ren menoleh kepada Zinnia. Ia sudah menyelesaikan makanannya dan berjalan menghampiri Zinnia. Ia ingin melihat apa yang sedang di tanyakan oleh gadis itu.
__ADS_1
“Iya. Itu Mama sama Papaku.”
“Kalau ini?” Tanya Zinnia yang kini sudah mengambil figura lain yaitu foto Ren dengan Ranu.
“Itu, Ranu. Adikku. Sekarang tinggal di Jogja.”
“Ini dimana fotonya? Pemandangannya bagus banget.”
“Itu di daerah puncak. Di kebun teh Omnya Papa.”
“Waahh. Kayaknya seru ya disana.”
“Belum pernah kesana?”
Zinnia menggeleng. “Belum.”
“Ya udah. Kapan-kapan kalau ada waktu kita kesana.” Janji Ren.
“Beneran?” Zinnia nampak antusias. Apalagi saat Ren menganggukkan kepalanya. “Makasih banyak Kak. KAK Ren baik. Gimana nanti kalau aku malah jatuh cinta sama Kak Ren?”
Ren ternganga. Ia menoleh kepada gadis yang berdiri di sampingnya itu. Sementara Zinnia hanya fokus sambil tersenyum memandangi foto di tangannya.
“Ya mau gimana lagi...” Gumam Ren.
“Hah? Kak Ren bilang apa?”
“Enggak bilang apa-apa.”
“Kak Ren akrab ya sama Ranu?”
“Ya seakrabnya adek sama kakak, ya begitu. Dulu kami sering bercanda bareng, main bareng, tidur bareng, bahkan sampai bertengkar juga. Waktu udah dewasa dan sibuk sama kerjaan masing-masing, jadi jarang ngumpul.”
“Hubungan kalian seru.” Lirih Zinnia.
Hatinya sedang merasa iri. Iri dengan kedekatan Ren dengan adiknya. Ia bisa merasakan kalau hubungan itu sangat hangat dan menyenangkan.
Zinnia tidak pernah mempunyai hubungan sehangat itu dengan keluarganya. Terutama adiknya. Ada batasan yang tidak terlihat antara dia dan Navya. Zinnia kalah dalam hal apapun. Dari segi penampilan, kecerdasan, bahkan pola fikir dan kasih sayang yang di terima.
Entah kenapa hatinya menjadi perih saat mendengar kisah Ren dan Ranu. Ia ingin seperti mereka. Dan tak terasa air mata sudah meleleh di sebelah pipi Zinnia. Untungnya dia segera menyadari itu dan langsung
mengusapnya kemudian segera mengembalikan figura ke tempatnya. Ia segera kembali berjalan untuk menghindar dari kecurigaan Ren.
“Kamu nangis? Kenapa?” Tanya Ren dengan memegang lengan Zinnia dan membuat gadis itu berbalik menghadapnya.
Zinnia menundukkan wajahnya. Malu menatap Ren.
“Kamu sakit? Apa yang sakit?” Tanya Ren khawatir.
Kali ini, Zinnia mendongakkan kepalanya. Menatap lurus ke netra Ren yang pias.
“Disini. Sakit banget.” Lirih Zinnia dengan menunjuk ke arah jantungnya.
__ADS_1
Ren mengernyit tidak mengerti. Masalahnya gadis itu menjawabnya dengan senyuman lebar padanya. Ren kembali menangkap kelebatan luka di netra Zinnia. Entah mana yang harus ia percaya. senyuman Zinnia, atau tatapannya.