
Athia Germian, putri satu-satunya alias pewaris resmi dari Germian Group. Oleh sebab itulah, Athia tumbuh menjadi gadis yang manja. Kecantikannya diagung-agungkan banyak orang hingga disebut sebagai primadona akademi. Akan tetapi, sebuah rumor mengatakan bahwa Milaine jauh lebih cantik darinya membuat hatinya terbakar rasa iri.
Kemudian pada hari ini, Athia menghasut semua orang untuk mulai melakukan pembullyan terhadap Milaine. Tanpa dia ketahui, seberapa menakutkannya Milaine kala ia marah akibat terusik. Kini Athia tersentak saat mendengar Milaine bersuara. Dingin dan penuh intimidasi, itulah yang dirasakan Athia.
“Apa yang sedang kau bicarakan? Apakah kau mencoba untuk memfitnahku? Tolong ketahui di mana posisimu saat ini,” balas Athia mencoba membalikkan fakta.
Milaine mengambil napas sembari melepas blazernya yang basah. Sekarang seluruh mata membulat sempurna ketika melihat begitu jelas penampakan bentuk tubuh Milaine.
“Jangan-jangan kau berpikir aku kemari tanpa mempersiapkan apa pun? Aku sudah tahu siapa kau dan kaulah yang harus mengetahui di mana posisimu sekarang. Mencoba merundung calon pewaris Lysander Group, apa kau berupaya menggali kuburanmu sendiri?”
Athia menggigit bibir menahan kegeraman terhadap Milaine. Dibanding tubuhnya yang datar tanpa lekukan, di hadapan Milaine dia bagaikan tanaman layu tanpa daya tarik. Perlahan dia pun bangun dari tempat duduk. Gertakan Milaine tak membuatnya gentar sedikit pun, baginya Milaine bukanlah apa-apa dan mudah untuk dia tundukkan.
“Lalu kenapa kalau kau berasal dari Lysander Group? Keberadaanmu tidak lebih dari sekedar aib yang dilahirkan dari seorang pelayan. Tidak ada sesuatu yang patut dibanggakan darimu. Ditambah lagi kau baru saja keluar dari rumah sakit jiwa. Aku heran kenapa Eleutheria masih saja menerima gadis gila sepertimu,” ujar Athia menghardik Milaine.
Milaine melangkah menghampiri Athia. Pesona sang primadona akademi langsung terbanting di samping Milaine. Kemudian gadis itu mendekatkan kepalanya ke samping telinga Athia seraya menyeringai.
“Germian Group tidak bisa dijadikan perbandingan dengan Lysander Group, perusahaan nomor satu di negara Helsper. Kau tahu? Meskipun aku membunuhmu, keluargamu tidak bisa menututku karena bagaimana pun aku ini adalah putri sah dari CEO Lysander Group. Pahami maksudku sebelum aku hantam kepalamu ke sudut dinding.”
Bisikan Milaine membuat sekujur badan Athia gemetar, ancamannya sungguh nyata adanya. Namun, Athia menegarkan hatinya serta berusaha terlihat kuat di depan Milaine.
“Kurang ajar! Beraninya kau mengancamku!”
Athia mengayunkan tangan hendak menampar wajah Milaine. Sebelum itu terjadi, Milaine lebih dulu menangkap pergelangan tangan Athia. Cengkraman jemari Milaine menyababkan Athia sontak terpekik kesakitan.
“Arrghhh! Lepaskan tanganku!” ronta Athia.
Milaine merekahkan senyum puas. “Athia, aku bukanlah gadis lemah yang tidak bisa bela diri. Aku ini jauh lebih gila dari yang kau bayangkan.”
__ADS_1
Milaine menyentak tangan Athia sampai membuat gadis lemah itu terjerembab ke permukaan lantai. Athia tampak syok, perasaannya campur aduk tak karuan. Nyaris saja Milaine membuat tangan Athia patah.
“Sekali lagi kau mencoba merundungku, aku hempaskan tubuhmu dari lantai lima gedung akademi. Tidak hanya kau, bahkan semua orang di kelas ini akan mendapatkan akibat yang sama jika kalian berani macam-macam denganku,” ancam Milaine menyorot tajam satu persatu penghuni kelas.
Setelah itu, Milaine berputar badan ke luar kelas dan berencana untuk mengganti seragamnya menjelang masuk kelas. Seusai Milaine menghilang dari pandangan mereka, suasana kelas menjadi hening tak bersuara. Tidak sedikit dari mereka yang tak mengindahkan peringatan dari Milaine. Hal itu disebabkan oleh posisi Milaine di keluarga Lysander dianggap tak lebih tinggi dari mereka.
“Keterlaluan sekali dia mengancam kita. Apakah kalian akan diam saja melihat anak pelayan rendahan itu berlagak berkuasa di kelas ini? Aku sarankan kepada kalian untuk melawan sebelum dia semakin menjatuhkan kita,” ucap Athia kembali menghasut seisi kelas.
***
Milaine berjalan sendirian di sepanjang koridor gedung akademi. Dari arah berlawanan, Luke melambaikan tangan menghampiri Milaine. Namun, ekspresi sumringahnya segera berubah masam saat mendapati tubuh Milaine basah akibat guyuran air tadi.
“Nona, apakah ada seseorang yang merundung Anda?” tanya Luke bermimik dingin.
“Tidak usah khawatir, hanya ada seseorang yang iseng padaku.”
“Mari saya bantu Anda ke ruang ganti pakaian.”
Luke membawa Milaine menuju ruang ganti pakaian. Tidak lupa ia membelikan seragam baru untuk Milaine. Dia juga membantu Milaine mengeringkan sekaligus menata rambut gadis itu kembali.
“Tolong katakan kepada saya jika ada seseorang yang mencoba merundung Anda, Nona. Saya sendiri yang akan mengatasinya,” tutur Luke.
“Jangan kotori tanganmu untuk membunuh manusia tidak berguna. Aku lebih senang melihatmu menghunuskan senjata ke para pembunuh yang mengincar nyawaku.”
Meski Milaine menjawab seperti demikian, Luke tidak menerimanya begitu saja. Seusai menata rambut Milaine, dia langsung pergi menyelidiki apa gerangan yang terjadi terhadap Milaine.
‘Tidak peduli dari keluarga mana, siapa pun yang mengusik Nona Milaine harus dihukum mati!’ gerutu Luke.
__ADS_1
Hingga di hari berikutnya, sebuah berita mengejutkan berhasil menggemparkan penjuru akademi. Ketika pulang dari akademi kemarin, Athia mengalami kecelakaan mobil. Untungnya Athia hanya mendapatkan luka ringan, tetapi sayangnya sopir pribadinya tewas dalam kecelakaan tersebut.
“Hei, Luke! Apa kau melakukan sesuatu pada mobil Athia?” tanya Milaine disertai tatapan penuh selidik.
“Tidak, saya tidak melakukan apa pun. Sungguh, saya sedikit terkejut mendengar berita kecelakaan itu.”
Milaine melihat mata Luke berbicara jujur soal hal itu. Dia memang tidak melakukan apa pun terhadap Athia sebab ia baru mengetahui pelaku perundungan Milaine adalah gadis bernama Athia.
“Lalu siapa yang melakukannya? Tidak mungkin ini adalah kecelakaan biasa.”
Ada banyak pertanyaan bermunculan di kepala Milaine karena dia melihat sendiri ke lokasi kejadian kecelakaan tersebut. Dia juga pergi mengamati mobil yang ditumpangi Athia. Pihak kepolisian mengatakan bahwa ada seseorang menyabotase kecelakaan itu.
***
Di saat berbarengan, seorang pria muda berambut pirang memperhatikan pergerakan Milaine dari atas balkon akademi. Dia menggunakan teropong untuk memperpendek jarak pandangnya. Bahkan, sudah sepuluh menit berlalu, tak sedikit pun ia melepaskan tatapannya dari perempuan berparas cantik tersebut. Albern Emanuel adalah nama pemuda itu, ia merupakan calon pewaris dari Emanuel Group.
“Semakin dilihat Milaine semakin cantik,” gumam Albern tiada henti memuja Milaine.
Kemudian sesosok pria datang menghampiri Albern.
“Tuan Muda, rencana mencelakai Nona Athia berhasil dilakukan. Saya juga sudah menyingkirkan segala bentuk barang bukti,” ujar pria itu.
Albern tersenyum puas, dialah yang telah membuat Athia terbaring di rumah sakit. Kecelakaan itu sengaja dia sabotase demi melampiaskan kemarahannya terhadap Athia.
“Kerja bagus! Mulai sekarang tanpa menunggu perintah dariku, kalian singkirkan saja orang yang mencoba mengganggu hidup Milaine,” kata Albern tegas.
“Baik, Tuan Muda. Namun, bolehkah saya tahu alasan mengapa Anda tidak membunuh langsung Nona Athia?”
__ADS_1
“Tidak seru membunuh wanita itu dengan mudah. Sebaiknya siksa dia perlahan-lahan agar merasakan neraka dunia sebelum menuju jalan kematian,” pungkas Albern.