Milaine Sang Gadis Pewaris

Milaine Sang Gadis Pewaris
Sisi Mengerikan Arthyn


__ADS_3

Fiona melempar kudapan yang diberikan Milaine untuk Nigel. Kala itu, Milaine tengah duduk di teras paviliun. Fiona tanpa berucap apa-apa langsung melemparkan sekotak puding ke kepala Milaine. Sontak gadis itu bangkit dari tempat duduk. Rambut serta bajunya kotor akibat tumpahan puding.


"Jangan pernah memberi Nigel makanan seperti ini lagi! Apa kau mau membuat Adikmu cepat mati?!" Fiona berteriak murka.


Milaine menyeringai. Padahal itu bukan puding dengan bahan murah. Dia membeli puding yang mengandung bahan-bahan aman dan dia sudah menanyakannya kepada Gizdo untuk memastikan bahwa Nigel tidak masalah mengonsumsinya.


"Puding ini bukan puding sembarangan! Aku tidak memberikan puding yang mengandung bahan berbahaya. Lagi pula Gizdo bilang ini aman, jadi di mana salahnya?!"


Milaine membalas kemarahan Fiona. Dia jauh lebih marah dibanding Fiona karena wanita itu telah membuang makanan yang dibeli sepenuh hati dan penuh pertimbangan oleh Milaine.


"Aku tidak peduli! Siapa tahu kau memasukkan sesuatu yang mencurigakan. Aku tidak mau Nigel sampai masuk rumah sakit lagi," ujar Fiona.


"Kenapa kau terus menempatkan rasa curigamu kepadaku?! Memang kau pikir aku bisa membunuh saudaraku sendiri?! Tolong jangan membuatku menjadi serba salah. Aku sudah muak berurusan denganmu."

__ADS_1


Hubungan mereka sudah lewat dari kata buruk. Hubungan anak dan Ibu sudah hancur sejak awal. Kini semakin hancur saat Fiona terus menerus mencari kesalahan Milaine.


"Mau sampai kapan kau bertahan di sini? Sebaiknya memang kau tidak usah kembali ke kediaman ini. Aku tidak sudi melihatmu terus menerus berdekatan dengan Nigel."


Milaine memilih untuk menutup telinga. Dia pun beranjak pergi meninggalkan Fiona sendirian.


"Hei, mau ke mana kau?! Aku belum selesai berbicara!" teriak Fiona memanggil Milaine.


"Aku tidak mau berbicara denganmu. Lebih baik kau bicara saja dengan tembok," jawab Milaine kian membuat Fiona jengkel.


Di suatu ruang tersembunyi di balik mansion, terlihat Arthyn sedang menyeka pisaunya yang berlumuran darah. Ruangan tersebut gelap dan hanya bermodal lampu berwarna merah.


Terdengar rintihan seorang wanita di sisi lain ruangan.

__ADS_1


"Tidak bisakah kau diam? Kepalaku sakit mendengarmu merintih tidak jelas." Arthyn menggertak wanita itu agar berhenti meringis.


Sayangnya, wanita tersebut masih saja merintih. Terpaksa Arthyn bangkit dari tempat duduk lalu menghampiri wanita itu.


Tampak sesosok wanita terbujur di atas ranjang dalam kondisi kaki dan tangan terikat. Wajahnya dipenuhi luka sayatan. Tubuhnya pun tidak diselimuti sehelai benang. Pakaiannya telah dicabik dan dirusak oleh Arthyn.


"Padahal kau cantik, tetapi kenapa kau tidak membangkitkan hasratku? Sial! Sia-sia saja aku membawamu kemari."


Arthyn memang selalu melakukan ini kepada banyak wanita. Dia menculik dan menyiksa para wanita di ruangan ini. Hanya demi melihat apakah wanita itu bisa membangkitkan hasratnya atau tidak. Namun, rupanya tiada satu pun wanita yang sanggup membuatnya bergairah.


"Milaine ... hanya gadis itu satu-satunya yang bisa membuatku bergairah. Sialan! Gadis itu sulit sekali aku tangkap," gerutu Arthyn.


Kemudian Arthyn bergerak ke depan sebuah papan putih. Di sana terdapat banyak sekali foto Milaine yang diambil dari berbagai arah. Tidak sedikit dari foto tersebut memperlihatkan secara jelas lekuk tubuh Milaine.

__ADS_1


"Kapan kau akan menjadi milikku? Ah, aku memang harus melakukan sesuatu sebelum kau direbut orang lain. Ya, aku ingin kau sepenuhnya berada di sisiku. Lihat saja, aku yakin nanti kau bertekuk lutut di bawah kakiku."


__ADS_2