
Perkataan Nigel sangat menusuk ke hati Fiona. Pertama kali seumur hidup Nigel cukup lancang berbicara padanya. Terlebih lagi Nigel membela Milaine mati-matian. Dia yang terlalu menyayangi sang Kakak hanya ingin perjuangan Kakaknya dihargai sedikit oleh Fiona.
"Aku tidak pernah memintanya untuk melindungiku. Dia secara sukarela ingin melindungiku, jadi itu bukan salahku tidak menghargai setiap apa pun yang dia lakukan," balas Fiona.
Nigel sontak memalingkan pandangan ke arah lain. Fiona terlalu mementingkan ego, dia tidak pernah mau memikirkan bagaimana perasaan Milaine setiap kali berhadapan dengannya.
"Ya, Ibu memang tidak memintanya, tetapi setidaknya aku ingin Ibu paham bagaimana posisi Kakak. Menjadi dirinya tidaklah mudah, Kakak selalu salah di mata Ibu. Biar aku tebak, pasti Ibu juga menyalahkan Kakak atas kecelakaan yang menimpaku kan?!"
"Dia memang patut disalahkan. Kenapa dia malah membiarkanmu pulang sendirian hari itu?! Memangnya dia ke mana? Bukankah dia sendiri yang ingin melindungimu?! Jika tau seperti itu, aku akan mengirim seseorang untuk mengawalmu setiap hari."
Nigel ingin rasanya menertawakan pemikiran Fiona perihal Milaine. Tiada sedikit pun penghargaan atas usaha Milaine dalam melindunginya. Bermandi darah, luka, dan air mata. Sebesar itulah usaha Milaine supaya dia tetap aman ke mana pun itu.
"Pada hari itu aku sendiri yang meminta supaya Kakak tidak pulang bersamaku," ungkap Nigel.
"Apa? Kau—"
"Sudahlah, aku tidak mau berbicara lagi dengan Ibu. Sebaiknya, Ibu keluar dari sini. Aku tidak suka mendengar Ibu selalu menyalahkan Kakak setiap waktu."
Pada akhirnya, Nigel merajuk. Fiona tampak sedih begitu Nigel berani mengusirnya.
"Nigel, dengarkan Ibu dulu. Ibu—"
"Pergi dari sini! Aku ingin sendiri."
Fiona pun terpaksa keluar dari ruang rawat. Dia tidak mau memperburuk suasana hati Nigel. Tatkala dia menutup pintu masuk, Milaine datang bersama Luke untuk melihat kondisi Nigel.
"Mau apa kau kemari?!" Fiona menyambutnya dengan sangat tidak ramah.
"Aku mau menjenguk Nigel. Ada apa? Kau tidak memperbolehkanku masuk?" jawab Milaine ketus.
"Iya, kau tidak boleh masuk bertemu Nigel. Aku sangat tidak suka kau berada di sekitar putraku."
Milaine memutar bola mata malas. Milaine tak mempedulikannya. Dia menyelonong masuk begitu saja ke ruangan Nigel.
"Hei, Milaine! Aku sudah bilang kau tidak boleh masuk!" Fiona hendak menarik paksa Milaine keluar dari ruang rawat Nigel, tetapi langkahnya ditahan oleh Luke.
__ADS_1
"Nyonya, tolong biarkan Nona sekali saja melihat Tuan Muda Nigel. Jangan usir Nona, bagaimana pun beliau adalah Kakak kandung Tuan Muda Nigel," ujar Luke kesal.
"Beraninya kau menghalangiku! Apa kau lupa siapa aku?!"
"Saya tahu Anda adalah Nyonya Fiona, istri dari Tuan Besar Lysander. Namun, majikan saya hanyalah Nona Milaine, jadi status Anda tidak berpengaruh sama sekali terhadap saya."
Fiona terdiam, dia bingung harus menjawab apa lagi karena dia kalah dari Luke. Memang dia tidak punya wewenang memerintah Luke sebab sejak awal, Luke adalah pengawal pribadi Milaine. Jadi, yang bisa memerintah Luke hanyalah Milaine seorang.
"Dasar sialan! Kalian semua sama saja." Fiona pun memilih pergi meninggalkan Luke dan mengurungkan niatnya mengusir Milaine dari sini.
Luke mengembuskan napas lega. Sekarang dia bisa sedikit lebih santai setelah Fiona pergi.
Sementara itu, Milaine sedang berbicara dengan Nigel di dalam ruangan. Ekspresi Nigel sumringah ketika melihat Milaine menjenguknya.
"Bagaimana sekarang kondisimu? Apakah masih ada bagian tubuh yang sakit?" tanya Milaine.
Nigel menggeleng cepat. "Tidak, Kak. Aku sudah jauh lebih baik sekarang."
"Syukurlah. Aku membawa puding kesukaanmu."
Milaine memberikan enam kotak puding kepada Nigel. Dia rela mengantri panjang demi mendapatkan puding favorit Nigel.
Milaine mengelus kepala sang Adik sambil berucap, "Rahasiakan ini dari Ibu. Kau masih sakit, mungkin Ibu takkan mengizinkanmu makan puding sebelum pulih sepenuhnya."
"Iya, Kak. Aku akan merahasiakannya."
Melihat Nigel bisa ceria seperti ini sudah cukup melegakan hati Milaine. Dia selalu gelisah setiap saat memikirkan nasib Nigel ke depannya. Bayangan kematian yang selalu menghantuinya setiap detik terkadang mendatangkan rasa takut di hati. Dia takut meninggalkan Nigel di dunia sendirian dan takut mati tepat sebelum berhasil meraih kursi ahli waris.
"Nigel, apa kau bertengkar dengan Ibu?" Milaine tiba-tiba mengajukan pertanyaan.
"Iya, Ibu menyebalkan karena dia selalu menyalahkan Kakak. Padahal Kakak sudah berkorban banyak, tetapi di mata Ibu, Kakak selalu salah."
Nigel terlihat sebal. Dia selalu membela Milaine setiap kali mendengar Fiona mulai menyumpahi Milaine untuk mati.
"Kau anak yang berani. Aku takkan memarahimu karena kau bertengkar dengan Ibu. Kakak juga tidak masalah kalau Ibu selalu menyalahkan atau menyumpahiku karena aku sudah tidak peduli lagi. Yang terpenting Adikku bisa hidup dengan nyaman tanpa ada masalah," tutur Milaine.
__ADS_1
Senyum Milaine tersirat sendu. Selayang pandang Milaine yang tersenyum kaku menyembunyikan segala kesedihan di hatinya.
"Selagi ada Kakak, aku bisa hidup dengan bahagia dan nyaman. Maka dari itu, Kakak juga harus bahagia. Jangan terlalu paksakan diri Kakak menanggung semua masalah sendirian."
Milaine terkekeh mendengar Nigel berlagak seperti orang dewasa.
"Hahaha. Iya, aku paham itu. Adikku sekarang sudah beranjak dewasa. Aku sangat bahagia melihatmu ceria. Setelah keluar dari sini, mari kita pergi jalan-jalan hanya berdua saja."
"Benarkah hanya berdua saja?" Betapa bahagianya Nigel mendengar ajakan Milaine.
"Iya, hanya berdua saja," jawab Milaine.
"Kalau begitu, aku akan memulihkan diri dengan sangat cepat supaya bisa pergi berdua saja dengan Kakak. Aku sangat menantikannya," ujar Nigel sangat bersemangat.
"Ya, aku juga sangat menantikannya."
Selepas itu, mereka bercerita banyak hal. Nigel memang lebih sering berbicara jika bersama Milaine dibanding bersama Fiona. Sang Ibu cenderung kaku dan suka sekali mengatur sehingga membuatnya menjadi tidak nyaman kalau berbicara dengan Fiona.
Sesudahnya, Dokter meminta Milaine untuk menyudahi pertemuannya dengan Nigel sebab Adiknya harus melakukan beberapa pemeriksaan lagi. Milaine akhirnya berpamitan pulang kepada Nigel.
"Kak, besok datang ke sini lagi, kan?" tanya Nigel.
"Iya, besok aku akan datang lagi."
Di saat Milaine keluar dari ruang rawat, dia menghela napas panjang. Luke sedari tadi menunggu di depan langsung menghampiri Milaine.
"Bagaimana, Nona? Apakah Anda sudah selesai menemui Tuan Muda?" Luke bertanya kepada Milaine.
"Sudah, ayo kita pulang sekarang. Masih banyak hal yang harus kita lakukan."
"Baik, Nona."
Luke selalu berjalan di belakang Milaine. Hal ini membuat Milaine sedikit tidak nyaman.
"Luke, tidak bisakah kau berjalan sejajar denganku?" Milaine menoleh ke arah Luke.
__ADS_1
"Sejajar dengan Anda? Itu terdengar sedikit tidak sopan. Mana mungkin saya—"
"Jangan menolak!" Milaine menarik tangan Luke dan membawa tubuh pria itu berjalan di sampingnya. "Begini kan lebih bagus."